
Tidak lama setelah itu, seorang Ibu-ibu berusia sekitar 45 tahun menghampiri mereka berdua. Ternyata Ibu itu adalah pengurus rumah milik Kenzie yang tak berpenghuni itu. Ia juga memberikan kunci rumah kepada Alon.
"Ini pasti Nona Alona dan adiknya, ya?" sapa ibu itu.
Alona membalas sapaan beliau. "Eh, iya. Ibu ini—"
"Perkenalkan, nama saya Maria dan ini anak saya—Venus," ibu itu memperkenalkan diri. "Panggil saja saya dengan sebutan Bibi Maria." imbuhnya.
Jika sebelumnya Bibi Maria ini akan bekerja sendiri di rumah itu, kali ini anak beliaulah yang akan menemani dan melayani Alona serta adiknya di rumah tersebut.
"Maksud Bibi gimana, ya?" tanya Alona. "Jika Venus kerja dengan kita ... bagaimana dengan gajinya?" imbuhnya.
"Pokoknya Nona Alona tenang saja. Semuanya sudah diurus oleh Tuan Kenzie" ucap Bibi Maria. "Ayo, Venus. Kamu tolong antar Nona kita ke kamarnya masing-masing," lanjut Bibi Maria memerintah putrinya sendiri.
"Iya, Bu," sahut Venus.
Masih loading dengan apa yang terjadi saat itu membuat Alona dan Lita hanya diam dan mengikuti sepasang ibu dan anak itu. Kebaikan Kenzie benar-benar membuat Alona tak mampu berpikir jernih.
"Yang sebelah sini kamarnya Nona Alona, lalu yang di sana kamarnya Nona Lita. Masing-masing diantara kalian sudah memiliki pakaian di lemari. Jadi kalian tidak perlu khawatir lagi tentang pakaian," kata Venus, menunjukkan satu-satu kamar mereka.
"Wah," Lita takjub.
"Mari Nona Lita, saya akan antar Nona ke kamar," ajak Venus.
Alona masih berdiam diri. Masih bertanya-tanya mengapa kamarnya berada di bawah, sementara kamar adiknya berada di atas. Tapi Alona tidak memikirkan semua itu terlalu mendalam. Baginya mendapatkan tempat tinggal saat ini adalah suatu anugerah yang patut disyukuri.
"Biarlah ... Sudah takdir juga akan menjadi seperti ini. Sebaiknya aku fokus untuk mencari uang supaya aku bisa segera membawa Lita pergi dari rumah ini dan membayar semua bentuk kasih dari Kak Kenzie.' batinnya.
***
Malam itu malam yang indah bagi Lita, ia tidak pernah menyangka akan tinggal di rumah bagus dengan pakaian yang sangat indah itu. Menikmati kasur yang begitu empuk dan juga suasana kamar yang sangat indah.
"Ayah dan ibu pasti bahagia melihatku bahagia disini. Kamar ini bahkan ruasnya sama dengan rumah lamaku. Hm, aku jadi rindu ayah dan ibu," gumam Lita, memandangi seluruh ruangan kamarnya.
Berbeda dengan Alona yang duduk sendirian di sofa ruang tamu. Ia masih mencari-cari pekerjaan yang bisa dikerjakan setelah pulang sekolah.
"Haih, susahnya cari kerja part time gini. Yang ada cuma cuci piring saja! Huft, itu pun juga waktunya malam banget pulangnya. Gaji juga tidak sesuai," gumam Alona.
"Ini juga ada rawat lansia. Tapi lansianya laki-laki, Ibu dulu pernah menjadi TKW dan menjaga lansia laki-laki, tapi malah dilecehkan. Aku jadi takut, skip lah!"
Ketika Alona tengah subuh dengan ponsel layar pecahnya, tiba-tiba Kenzie datang dan membuat gadis itu terkejut sampai ponselnya jatuh untuk kesekian kalinya lagi.
"Sedang apa sih?" bisik Kenzie.
"Sudahlah, ambil saja kartunya dan buang ponselnya. Aku sudah membelikan ponsel baru untukku," Kenzie memberikan kantong berisikan ponsel baru.
Alona menatap Kenzie. "Sampai kapan? Sampai kapan kamu seperti ini padaku? Aku sudah cukup berhutang budi sangat banyak padamu, Kak," katanya.
"Jujur saya tidak ingin menambah hutang lagi. Sudah cukup, sudah cukup ke bagian Kakak untukku. Maka kita saja baru mengenal, bagaimana bisa aku menerima pemberianmu yang tiba-tiba seperti ini," Alona sedih dibuatnya.
"Ck, kamu ini kenapa sih? Aku cuma ingin membantumu, aku tulus, Alona!" seru Kenzie.
"Iya, aku tahu kalau Kakak begitu tulus membantuku. Tapi ini sudah cukup, sangat cukup karena kakak sudah memberikanku tempat tinggal yang luar biasa," ucap Alona.
"Kakak memberiku dua orang pelayan di rumah ini. Memberi kami pakaian yang sudah kami lihat dan itu cantik-cantik sekali. Aku berterima kasih atas itu. Bisakah cukup sampai di sini saja, jangan sampai menambah hutangku lagi padamu, kak!" tutur Alona.
Kenzie sedikit terluka dengan ucapan Alona. Dia tersinggung karena Alona seperti tidak mau dibantu olehnya. "Kenapa kamu menolak kebaikanku, Alona!" desisnya, mencengkram erat tangan Alona.
"Lepaskan aku!" Alona mulai meronta ketika Kenzie menggenggam arah tangannya dan bahkan wajahnya saja sampai hanya selisih tiga jari dari wajah Alona.
"Kalau kamu mau masa depan adikmu terjamin, tolong jangan menolak. Aku bisa membuat kalian sukses dimasa depan tanpa jaminan apapun. Mengapa kamu menolak?" desis Kenzie, melepaskan tangan Alona.
"Aku memang bukan Tuhan. Tapi aku yakin, aku bisa membuatmu menjadi orang yang lebih dari ini di masa depan. Tapi aku juga bisa membuat kalian berdua menjadi debu yang bertebangan tanpa arah di bumi ini, paham?" Kenzie memalingkan wajahnya.
Perlakuan Kenzie membuat Alona semakin bingung. Pemaksaannya memang mengarah kebaikan. Tapi caranya dengan memaksa itu yang membuat Alona sedikit tidak bisa terima. Alona semakin bingung sikap mana yang Kenzie miliki sebenarnya.
"Terima!" Kenzie memberikan sebuah kartu nama.
"Ingat, besok setelah pulang sekolah kamu datang ke rumahku. Jangan sampai terlambat, aku paling tidak suka jika harus menunggu," ujarnya.
"Jangan egois, adikmu masih membutuhkan masa depan yang cerah. Pikirkan dengan baik, sebelum bertindak. Selamat malam dan selamat beristirahat." Kenzie pergi.
Menerima perlakuan itu membuat Alona ingin sekali berteriak. Dia juga tidak tahu apa yang pria kaya itu inginkan. Sekejap seperti malaikat tidak bersayap, lalu sekejap berubah menjadi iblis berdarah dingin. Alona ingin lari dari semua itu, karena menurutnya hutangnya kepada Kenzie sudah terlalu banyak. Bahkan dari awal pun gadis itu ingin menolak semua kebaikan Kenzie, namun tidak bisa ia lakukan.
Kini, demi masa adiknya dia harus rela melakukan apapun. Hanya satu keinginan Alona saat itu, yakni bisa melihat adiknya sekolah tinggi dan menjadi orang yang sukses. Sementara itu, Alona juga sudah berjanji pada dirinya sendiri akan fokus mencari pekerjaan paruh waktu lagi.
'Kak Kenzie, sebaik apapun dirimu ... Aku memang tidak bisa menolak semua kebaikan meskipun dengan paksaan sekalipun. Tapi aku tidak mengerti mengapa kamu begitu baik padaku? Padahal kita baru saja mengenal satu sama lain.' batin Alona pasrah.
Ternyata, Lita mendengar semua percakapan antara Kenzie dengan kakaknya ketika di rumah tamu. Lita merasa sedih karena kakaknya harus menanggung sendirian beban hidupnya. Belum lagi beban hidup kakaknya sendiri.
"Kakak sangat bodoh! Kenapa dia mau dipaksa hanya karena Kak Kenzie menggunakan aku sebagai alasannya?" gumam Lita.
Lita berjalan menuju ruang tamu dan memeluk kakaknya dari belakang.
"Loh, Lita? Kamu belum tidur? Kenapa tiba-tiba memeluk kakak seperti ini?" Alona terkejut dengan kehadiran adiknya yang tiba-tiba memeluknya.