I Choose You!

I Choose You!
Calon Istri Tuan Muda Kenzie



Jam pulang sekolah berdering. Semua siswa terlihat berkumpul di depan gerbang. Saat itu, terlihat juga Alona sedang bingung mondar-mandir disana. Ia berusaha menerobos siswa lain supaya bisa melihat apa yang terjadi.


"Ada apa? Apa yang kalian lihat?" Alona sangat penasaran.


"Entahlah, aku juga tahu. Tidak terlihat jelas dari sini," jawab siswa yang Alona tanyai.


Begitu bisa menerobos, Alona terkejut bukan kepalang. Dia melihat mobilnya Kenzie sudah terparkir tepat di depan gerbang sekolah. Ditambah lagi Kenzie juga berdiri persis di samping pintu mobilnya.


"Kak Kenzie?" sebut Alona lirih.


'Untuk apa dia datang kemari dengan percaya diri seperti itu?' batin Alona mulai tertekan lagi.


Begitu melihat Alona sudah menatapnya, Kenzie langsung berjalan mendekati Alona dan kemudian menyapanya dengan santai.


"Sudah pulang?"


"Ayo, kita pulang," ajak Kenzie dengan gaya.


Alona mengalah tidak tahu harus merespon Kenzie seperti apa lagi. Kedatangan Kenzie membuat siswa tengah berkumpul di depan gerbang jadi berbual.


"Itu siapanya Alona, ya?"


"Entah, mobilnya sangat mewah. Pasti harganya mahal sekali," celetuk yang lain.


Di sela-sela bualan para siswa yang tanda tanya dengan siapa pria tersebut, si licik Natasha memanfaatkan keadaan.


"Kan, apa yang aku katakan itu benar. Alona ini menjadi simpanan sugar daddy. Kalian saja yang tidak percaya padaku dan malah mengintimidasiku," ujar Natasha.


Benar-benar Natasha menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan harga diri Alona. Banyak siswa yang mulai percaya padanya karena tidak ada pembelaan diri dari Alona sendiri.


"Kenapa Alona hanya diam saja. Akhir-akhir ini dia sangat aneh," tanya salah satu teman sekelas Alona yang sebelumnya membela.


"Sudah aku katakan dengan jelas, bukan? Pria itu adalah sugar daddy nya Alona, kalian kenapa tidak percaya sih sama aku," Natasha masih saja sewot.


"Bukan maksud kami tidak percaya padamu, Natasha. Semua itu karena kamu memang percayanya dengan Alona, bukan kamu!" Siswa itu masih saja kekeh membela Alona.


Membuat Natasha semakin kesal saja dengan Alona. Dia melanjutkan fitnah dan juga tuduhan-tuduhan lainnya pada Alona di depan Kenzie.


Sungguh Kenzie tidak terima dengan ucapan Natasha itu. Kenzie harus berurusan dengan gadis menyebalkan seperti Natasha hanya karena telah mengganggu gadisnya.


"Jaga ucapanmu itu. Aku belum pernah menikah, usiaku memang mungkin terpaut cukup jauh dari Alona. Tapi Alona bukanlah simpanan, dia calon istriku di masa depan," tegas Kenzie.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzie membuat siswa yang berada di gerbang sana menjadi tercengang. Mereka mengagumi Kenzie yang begitu terus terang mengungkap identitasnya. Ketika ingin bicara lagi, Alona langsung menutup bibir Kenzie dan mengajaknya pulang.


"Cukup, jangan hiraukan mereka lagi. Ayo, sebaiknya kita segera pulang. Kakak masuk mobil," Alona menarik lengan Kenzie dan mengajaknya masuk ke mobil.


Semua siswa masih terkejut dengan pernyataan Kenzie yang mengakui bahwa dirinya adalah calon suami dari Alona. Tak banyak dari mereka yang memilih untuk diam dan juga mendukung apa yang sudah menjadi keputusannya Alona. Tapi tak sedikit juga yang memberikan cap buruk kepada Alona karena belum lulus sekolah saja sudah ada calon suaminya.


"Apa kalian mendengarnya tadi? Kalau nambah kan sudah memiliki calon suami yang jauh itu adanya," Natasha kembali memanfaatkan keadaan.


"Hmm, pria itu memang tampan, kaya raya dan juga sangat memikat. Tapi tidak kusangka saja Alona bisa seperti itu," sambung gadis itu dengan puas.


***


Suasana di mobil menjadi hening ketika Kenzie selesai mengatakan apa yang dia ingin katakan. Mengakuinya sebagai istri di masa depan? Alona malah tidak menyukai cara Kenzie tersebut. Itu sangat membuat Alona jadi tidak nyaman.


"Bisakah lain kali jangan seperti itu lagi? Kumohon padamu, aku tidak bisa lagi menerima kebaikanmu dalam bentuk apapun," Alona memecah suasana hening.


"Aku mengatakan itu atas dasar bahwa aku menyukaimu. Jadi Dimana letak kesalahannya?" Kenzie begitu ceplas-ceplos.


Mendengar kata suka membuat alun-alun langsung melihat ke arah Kenzie. Pria kaya nan Tampan itu tak pernah bisa Alona tebak bagaimana karakter yang sesungguhnya.


"Suka?" tanya Alona.


Kenzie melirik ke arah Alona sekejap. "Itu ... beri aku waktu." ucapnya.


"Wahai Tuan Kenzie yang terhormat, sudah cukup semuanya. Jangan memberi aku beban lagi atas kebaikan yang kamu lakukan untukku. Aku sudah sangat berterima kasih karena Kakak mau menerima aku dan juga adikku," kata Alona dengan menyatukan tangannya.


"Tahukah kamu? Aku semakin tidak sanggup untuk melunasi semua kebaikanmu, Tuan Kenzie. Aku mohon, jangan seperti ini lagi," tukas Alona, dia mengakhiri permintaannya dengan tetesan air mata.


Melihat reaksi Alona membuat Kenzie tersinggung. Dia hanya diam, tak mendengarkan apapun yang Alona katakan di bagian akhir karena tahu awalnya sudah tertolak. Sebenarnya Kenzie sendiri menyukai dan mencintai Alona, hanya saja dia masih belum memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, atau kamu akan menyesalinya," Kenzie sampai memperingati seperti itu.


"Hari ini aku ada pekerjaan untukmu. Kamu bilang kamu tidak ingin numpang di rumahku selamanya. Jadi aku sudah mendapatkan pekerjaan yang pantas untukmu," imbuh Kenzie.


Sebenarnya kejutan itu ingin Kenzie berikan ketika makan siang. Tapi rupanya keadaannya tidak baik, jadi dengan terpaksa Kenzie mengatakannya saat itu juga.


"Oh, tentu saja. Apa pekerjaan itu? Aku tidak ingin merepotkanmu, aku bisa mencari pekerjaan sendiri, Kak Kenzie, terima kasih sebelumnya." Alona mengatakan itu dengan nada sinis.


Gadis itu sedang merajuk tanpa disadari. Tapi Kenzie tetap tidak bisa marah meski Alona begitu ketus padanya. Dia memberikan alamat cafe yang baru beberapa bulan lalu dibuka.


Tak hanya itu saja, Kenzie juga memberi gitar baru yang ada di jok belakang mobilnya. Semua itu Kenzie ketahui jika Alona sangat menyukai alat musik yang satu itu.


"Apa ini? Dan gitar ini untuk apa?" Alona semakin tak mengerti.


"Itu alamat cafe yang baru di buka. Disana aku lihat masih membutuhkan vokalis untuk mengisi acara live musiknya. Gitar itu, aku membelinya spesial untukmu. Bahkan ada tanda tangan idolamu juga disana," jelas Kenzie dengan detail.


"Kamu bisa mencari uang menggunakan gitar itu. Segera lunasi hutangmu, dan pergi dariku. Lebih cepat, lebih baik," Kenzie mengatakan itu karena sedang emosi.


"Aku tidak akan merepotkanmu lagi, Kak Kenzie. Hmm, biarkan aku mencari pekerjaanku sendiri. Pasti aku akan segera me ...." belum juga Alona melanjutkan ucapannya, Kenzie menghentikan mobilnya.


Alona jadi bingung kenapa Kenzie menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.


"Turun," pinta Kenzie, pelan.


"A-apa?" Alona masih loading.


"TURUN!" sentak pria kaya itu.


BLAM!


Alina turun dari mobil mewah Kenzie dengan wajah kebingungan.


Bruummmm...


Suara laju mobil Kenzie meninggalkan Alona di pinggir jalan.


"Sialan! Dia meninggalkan aku?" Alona baru sadar jika dirinya telah ditinggalkan begitu saja.


"Haih, aku harus jalan kaki? Rumah yang aku tempati saat ini lebih jauh dari rumah sebelum ..."


Aghhrrrr!"


Alona terpaksa harus jalan kaki dari jalan itu sampai ke rumah. Gadis itu terus ngomel saja. Tak disadari jika hanya karena Kenzie, Alona bisa kembali ke sifat sebelumnya yang ceria dan mudah mengomel.


Ketika terus mengumpat tentang Kenzie, kebetulan saja motor Leon melewati Alona dan menawarkan tumpangan.


"Lona!" panggil Leon dengan berteriak.


Motor Leon berhenti tepat di depan Alona.


"Kok, kamu jalan kaki sih? Bukannya tadi di jemput sama calon suami kamu, ya?" tanya Leon.


"Dia bukan calon suamiku!" Alona mengelak dengan tegas.