
Jeanne membawa Kenzie ke rumah sakit dan berupaya menemukan nomornya Alona, namun gagal. Ia pun hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan dokter selama 2 jam.
"Aku tidak menemukan nomor Alona dalam ponsel Kenzie. Tidak ada riwayat telepon atas nama Alona maupun nama-nama lainnya. Bagaimana aku menghubungi gadis itu?" gumam Jeanne.
Dokter keluar dari ruangan tersebut, disusul oleh para perawat yang membawa tubuh Kenzie ke ruang rawat inap.
"Dok, dokter? Apa yang terjadi padanya? Dia—dia baik-baik saja, 'kan?" tentu saja Jeanne panik.
Kekhawatiran Jeanne membuat dokter tak tega mengatakan yang sesungguhnya. Dokter membingungkan wali dari Kenzie datang terlebih dahulu, baru beliau akan mengatakan diagnosa yang sudah keluar.
Setelah kedatangan Nyonya Brenda, dokter barulah mengatakan apa yang dialami Kenzie. Kejadian yang menimpa Kenzie, bukanlah perkara mudah.
"Tuan Kenzie mengalami kebutaan. Matanya terluka karena ada serpihan kaca yang masuk ke kornea matanya," ungkap dokter.
Tentu saja pernyataan dokter membuat Nyonya Brenda dan Jeanne tercengang. Apa yang dialami cucunya, Nyonya Brenda merasa bersalah karena telah memaksanya menikah, padahal sudah tahu jelas jika cucunya telah memiliki wanita pilihannya sendiri.
Sementara itu, Alona pulang dengan basah kuyup. Berjalan dengan pandangan yang menunduk dan tidak menyapa adiknya yang sudah menyambutnya di depan pintu.
"Kak?"
Panggilan Lisa terabaikan.
"Kak, baru pulang?" tanya Lisa. "Hmm, kenapa Kakak basah kuyup seperti ini? Apa Kakak hujan-hujanan?"
Masih terabaikan pertanyaan dari Lisa.
"Aku akan menyiapkan air panas untukmu," langkah kaki Lisa terhenti atas penolakan kakaknya.
"Tidak perlu!" tolak Alona.
Alona masih menundukkan kepala. "Aku bisa terbiasa mandi dengan air dingin. Kamu istirahatlah dulu, setelah mandi aku juga akan istirahat," katanya.
"Tapi, Kak—" Lisa masih keras kepala.
"Tidak!" tegas Alona.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam untukmu," lanjut Lisa.
"Kubilang tidak perlu, Lisa. Apa kamu tidak mengerti juga?!" sentak Alona.
Bentakan Alona membuat sang adik tercengang. Bagaimana tidak, Alona jarang sekali memarahi Lisa sampai membentak seperti itu.
"Ingat, Lisa. Malam ini aku sedang ingin sendiri. Bilang kepada orang rumah terutama kamu ... Jangan ada yang menggangguku, mengerti?" gertak Alona.
Lisa mengangguk pelan.
Alona pun membanting pintu kamarnya dan membuat Lisa menangis. Asisten rumah tangga saja sampai memeluk Lisa karena saat itu Lisa benar-benar ketakutan.
Semalaman Alona juga tidak keluar dari kamar. Dia terus saja mengurung diri di kamarnya. Pada saat itu pun, gadis muda ini baru menyadari cintanya pada Kenzie sangat besar.
***
Sewaktu Jeanne dan Nyonya Brenda melihat kondisi Kenzie yang sudah siuman dari pingsannya. Matanya masih tertutup perban.
"Kenzie," panggil Jeanne lirih.
"Untuk apa kamu kemari?" ketus Kenzie.
"Aku dan nenek datang untuk melihat kondisi," jawab Jeanne. "Hei, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya.
"Kenzie, bicaralah padaku. Kenapa kamu hanya diam saja? Kami juga ingin tahu bagaimana keadaanmu sekarang," lanjut Jeanne.
"Kenzie," Nyonya Brenda menyentuh bahu Kenzie.
Amarah Kenzie masih menguasai hatinya. Ia memilih untuk diam daripada ucapannya nanti akan melukai hati neneknya, juga teman masa kecilnya.
Melihat cucunya yang terus diam, membuat Nyonya Brenda nekat memancing emosinya lagi. "Kenzie, apa kamu yakin tidak mau menerima perjodohan yang sudah mendiang kedua orang tuamu tentukan ini?" tanyanya.
"Lihatlah Jeanne menggunakan perasaanmu, dia adalah gadis yang baik. Dia juga menantu yang cocok untuk keluarga kita, Kenzie," lanjut Nyonya Brenda.
"Nek, sudahlah ..." sampai Jeanne tidak enak hati Nyonya Brenda kembali membahas hal itu lagi.
Wajah Kenzie mengarah ke Nyonya Brenda yang duduk disebelahnya. "Mata saya saja bermasalah, bagaimana mungkin saya bisa merasakan itu? Lagi pula, setelah kondisiku seperti ini, saya tidak ada niatan untuk menikah!" ungkapnya.
Bahasa formal itu membunuh karakter nenek dan cucu diantara keduanya. Nyonya Brenda pun jadi bungkam.
"Kalian pergilah, saya ingin sendiri saat ini," usir Kenzie.
Jeanne tidak tahu jika Kenzie akan semarah itu. Wanita itu meminta perawat khusus Nyonya Brenda untuk mengajaknya ke luar lebih dulu. Setelah itu, barulah Jeanne bicara dengan Kenzie dari hati ke hati.
"Kenzie, kamu berhak marah. Tapi apakah baik jika kamu memperlakukan nenek seperti ini?" Jeanne pun tak tahan dengan situasinya.
"Sejak awal memang aku ingin menolak perjodohan ini. Tapi aku tidak tega dengan kondisi nenekmu, Ken. Apalagi sekarang aku sudah tahu, jika kau memiliki seseorang yang mengisi hatimu," ucap Jeanne.
"Lalu, aku harus bagaimana lagi? Apakah aku ingin tetap memaksa keadaan? Tidak, Ken!"
Jeanne juga tidak menyangka jika Kenzie bisa jatuh cinta dengan gadis yang hampir 2x lipat lebih mudah dari Kenzie sendiri. Tidak munafik jika selama mereka bersama, salah satunya tidak memiliki perasaan.
Yah, Jeanne sesungguhnya pernah suka pada Kenzie. Namun rasa itu tidak pernah berkembang menjadi cinta.
"Baiklah, Aku akan mencoba menghubungi Alona. Dia belum tahu jika kamu kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sampai mengalami kebutaan," ujar Jeanne.
"Apa kamu sengaja ingin membuat Alona semakin menjauh dariku, hah!" Kenzie mencegah Jeanne mengabari kekasih kecilnya itu.
"Ken! Aku harus apa sekarang?" sulut Jeanne.
"Aku sudah sangat bersabar padamu. Bahkan kekasihmu saja tidak ingin kamu beri kabar, bagaimana jika dia semakin salah paham padamu? Bukankah itu akan semakin membuat kalian saling menjauh?" sambung Jeanne.
Awalnya memang Kenzie sangat berharap Alona berada disisinya selama ia berada di rumah sakit. Tapi setelah berpikir kembali, kenzi tidak bisa melibatkan Alona dalam keadaan dirinya yang saat ini tidak sempurna.
"Apa maksudmu, Ken?" tanya Jeanne heran.
"Kau pikir Alona bukan gadis yang hanya bisa menerima seseorang itu dalam keadaan yang sempurna saja," ujar Jeanne.
"Aku mungkin belum mengenalnya lebih jauh. Aku juga baru pertama kalinya kemarin itu melihatnya. Tapi dari pandangan mataku, dia adalah gadis yang sangat baik," lanjutnya.
"Dia sangat menghargai sebuah hubungan. Aku sangat yakin, sungguh sangat yakin jika dia tetap bisa menerimamu dalam keadaan apapun!" Jeanne sampai gemas dengan teman masa kecilnya itu.
Tetap saja. Bagaimana bersikeras Jeanne dalam meyakinkan Kenzie untuk tetap menghubungi Alona benar-benar tidak bekerja. Kenzie ini adalah orang yang memiliki prinsip hidup sangat disiplin. Apa yang sudah ia tetapkan, pasti harus dilakukan.
"Jangan pernah kamu melakukan apa yang tidak aku sukai, Jean," perintah Kenzie.
"Sekarang aku ingin dia fokus mengejar cita-citanya menjadi seorang penyanyi. Aku ingin dia menjadi superstar dan mengirim Lisa ke sekolah yang jauh lebih baik lagi." lanjut pria itu.
Jeanne tidak menyangka jika Kenzie memiliki sisi seperti itu. Wanita ini sampai heran dengan sikap baru yang Kenzie miliki.
'Selama ini, aku belum pernah melihatnya bertindak semulia ini. Dia benar-benar mencintai gadis itu. Aku ingin sekali membantu mereka bersatu, tapi—"