Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 73– Kabur dari Bahaya



"Ah, jejaknya berhenti di sini." Tanaka berhenti. Ia tak menemukan bekas gesekan tanah lainnya di manapun. Tepat di depan mereka ada sebuah tebing curam yang tinggi. Di lain tempat yang tak jauh dari mereka, Zai juga menemukan jejak kaki hewan.


"Apa kita muncul dari sini?" tanya Takana.


"Lebih tepatnya dari atas sana." Tanaka menunjuk ke puncak tebingnya.


"Eh? Jatuh dari ketinggian itu kita masih hidup?"


"Kemungkinan kita jatuhnya ke pepohonan. Jadi bisa meredakan rasa sakitnya."


"Tetap aja kepalaku terluka, tau!" Dylan menunjuk-nunjuk ke luka di kepalanya. Lalu Takana kembali mengelap bekas darah di kepala darlingnya.


Untuk saat ini mereka tidak tahu harus ke mana. Takana ingin berkeliling tempat itu. Tapi Dylan ingin kembali kepada kakaknya. Jadi sekarang tujuan mereka adalah berkeliling dunia itu sekalian mencari jalan kembali ke dunia asalnya.


"Hei, aku menemukan sungai!" Zai berteriak dari balik pohon memanggil teman-temannya yang lain. Tanaka, Takana dan Dylan pun mengikuti Zai. Sampai akhirnya mereka tiba di sungai yang dimaksud.


"Asik! Sumber mata air!" Takana langsung menghampiri sungai itu dan menengadahkan tangannya untuk mengambil air sungai dan meminumnya.


Sementara Dylan membersihkan luka di kepalanya dengan air tersebut. Setelah itu, ia meminum air sungai itu juga. Lalu tak sengaja, ia melihat Tanaka buang air kecil di sampingnya.


Dengan cepat Dylan langsung memuntahkan air sungainya, lalu memukul Tanaka dengan keras. "Uhuk! Sialan kau!"


Tanaka membelakangi Dylan, lalu merapihkan celananya. Lalu setelah itu ia kembali menghadap ke Dylan yang lebih pendek dengan tatapan polos tak bersalah. "Eh apa? Aku udah gak tahan dari tadi."


Saat Dylan ingin membalasnya, tiba-tiba Takana berteriak dari belakang Dylan. Ia memanggil Dylan dan Tanaka untuk melihat apa yang ia temukan. Kedua lelaki itu pun mengikuti Takana. Ternyata dari balik semak itu, sudah ada Zai yang berjongkok di depan tebing yang dekat dengan air terjun.


Namun bukan itulah yang ingin Takana tunjukkan. Tapi beberapa pulau terbang yang ada di tengah-tengah danau di bawah sana. Terlihat sangat indah dari tempat mereka berdiri. Tapi Tanaka tahu kalau tempat itu bukanlah tempat yang aman.


"Sebaiknya kita pergi dari sini." Tanaka berbalik badan, meninggalkan tempatnya.


Takana yang bingung pun bertanya, "Eh ada apa, Onii-chan?"


"Pulau itu adalah kawasan Bangsa Elang. Kita bisa jadi santapan enak untuk mereka jika tertangkap." Jawab Tanaka, lalu menarik tangan adiknya untuk segera pergi dari sana. Mereka semua pun meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan mengikuti aliran sungai, berharap menemukan sesuatu yang berguna.


...****************...


Hingga hari menjelang malam, mereka berempat masih belum menemukan apapun selain pohon aneh yang tumbuh tanpa buah. Takana mulai mengeluh lapar. Untung saja di tas yang ditemukan Tanaka masih ada beberapa buah-buahan. Mereka pun beristirahat di pinggir sungai untuk makan dan minum.


Namun Dylan merasa tidak kenyang hanya dengan memakan buah-buahan. Jadi ia pun menghampiri hilir sungai. Terdapat kolam yang luas, tapi tidak begitu dalam.


"Kira-kira di sini ada ikannya gak, ya?" tanya Dylan.


"Kau mau ikan?" Tanaka berdiri dari tempatnya. Ia mengeluarkan katana miliknya, lalu masuk ke dalam sungai. "Aku akan tangkepin untukmu. Ini mudah."


"Ah oke ..." Saat Dylan pikir-pikir, tidak ada alat memasak di tempat itu. Jadi ia membutuhkan kayu bakar untuk membuat api sekalian sebagai bahan penerangan. "Kalau begitu, aku akan mencari kayu bakar."


"Aku mau ikut! Ikut!" Takana berdiri, lalu menghabiskan buah apel sampai tak tersisa. Dylan tentu mengizinkannya ikut untuk menemaninya. Jadi mereka pun pergi. Zai memperingati mereka berdua untuk tidak pergi terlalu jauh. Takana dan Dylan hanya mengangguk, lalu pergi.


"Apa gak papa kita biarin mereka pergi?" tanya Zai pada Tanaka yang masih sibuk mencari ikan-ikan yang berenang.


Setelah melihat bayangan ikan, Tanaka langsung menusukkan katananya ke dalam air. Lalu kembali mengangkatnya dan ternyata dapat. "Yeay! Aku dapet ikan!"


"Kau dengerin aku ga, sih?!"


"Denger, kok! Biarin mereka pergi. Kalau ada apa-apa, kita tinggal susul mereka aja." Tanaka melempar ikan hasil tangkapannya ke Zai. Zai menangkapnya, lalu mencari wadah untuk menyimpan ikan tersebut. Tapi karena tidak menemukan apapun, jadi ia memakai tas temuannya saja untuk sementara.


Setelah itu Zai berdiri dan menepuk-nepuk celananya. "Aku bantu tangkepin ikan, deh."


"Memangnya kau bisa?"


"Ya bisa, lah!"


Zai beranjak dari tempatnya lalu menghampiri kolam. Saat ia ingin masuk ke air, tiba-tiba tubuh Zai mengeluarkan cahaya biru. Begitu juga dengan Tanaka. Keduanya terheran dan saling menatap. Secara perlahan, mereka pun menghilang bersama pecahan cahaya biru tersebut.


...****************...


Tanaka membuka mata dan melihat dirinya sudah berada di sebuah ruangan. Objek pertama yang ia lihat adalah sebuah tempat tidur dan jendela. Lalu seseorang yang ia lihat di hadapannya ada Shikoo.


"Eh, aku kembali?" Tanaka melihat sekeliling. Lantai yang ia injak terdapat lingkaran sihir. Lalu di sampingnya juga ada Zai. Tapi ia tidak melihat Dylan dan Takana.


"Hah ..." Shikoo terlihat kelelahan dan tubuhnya ingin tumbang. Tapi Asuka langsung memeluk tubuh kecilnya itu. Ternyata semuanya berkumpul di ruang kamar yang tak lain adalah kamarnya Shikoo. Hanya Irvan, Bell dan Leaa saja yang tidak ada di sana.


"Loh? Hanya kalian berdua? Adikku ke mana?" tanya Fely cepat setelah menyadari kalau adiknya tidak muncul di dalam lingkaran sihir yang dibuatnya.


Tanaka menoleh ke segala arah dan terkejut. "Oh iya! Takana juga gak ada!"


"Sebelumnya mereka berdua pergi bersama untuk mencari kayu bakar." Ujar Zai.


"Apa jangan-jangan, mereka masih ada di dunia Beast?!"


"Eh di mana? Di mana???" Fely mengguncangkan tubuh Tanaka untuk meminta jawaban lelaki itu dengan segera. "Katakan, di mana adikku?!"


"Di–dia masih di Dunia Beast." Jawab Tanaka lalu menyentuh kedua pundak Fely untuk menenangkannya. "Adikku juga ada di sana. Sebenarnya apa yang telah kalian lakukan?"


"Tenagaku tidak cukup ..." Ujar Shikoo dengan napas terengah-engah. Ia sudah tidak kuat jika memakai kekuatan teleportasinya lagi. Bisa-bisa hal itu akan menyakiti dirinya jika terus dipaksa.


"Jadi karena hal itu kau hanya bisa mengembalikan adikku?" tanya Tanaka, lalu menghampiri Shikoo yang sedang dipeluk Asuka.


"Kau kira menggunakan kekuatan itu sama mudahnya dengan membunuh seekor ayam, huh?!" Seketika penampilan Shikoo berubah menjadi Kuroo seutuhnya. Lelaki itu mendorong Tanaka dengan kasarnya. "Tolong jangan memaksa adikku terlalu keras!"


"E–eh iya. Maaf, bang!" Tanaka menyatukan kedua tangan, lalu mundur ke belakang.


"Jadi sekarang bagaimana dengan adikku?" tanya Fely dengan nada yang lemah lembut. Tapi Kuroo tetap mengeluarkan suaranya dengan keras.


"Kau tunggulah adikmu sampai kembali! Mereka berdua laki-laki, kan? Pasti kuat kalau cuma untuk bertahan hidup di dunia lain!"


"Masalahnya adikku itu pemula, tau!" Fely jadi balas membentaknya.


"Percayalah kalau adikmu itu bakal kuat!" Kuroo tetap membalasnya, lalu menunjuk-nunjuk ke Fely. "Kau tidak ingin adikmu kenapa-kenapa. Begitu juga denganku! Jika kalian memaksa adikku untuk mengeluarkan kekuatannya, dia bisa terluka!"


"Ugh, maaf." Fely menunduk, lalu sedikit mundur dari Kuroo.


Kuroo melipat tangan ke depan, lalu melirik ke arah lain. "Huff, tenanglah kalian berdua. Bukan kalian doang kok yang pernah kehilangan adik." Kuroo pun menghilang dan sekarang penampilannya menjadi seperti Shiroo seutuhnya. Sosok itu bersandar di pundak Asuka.


"Hah ..." Asuka mengelus-elus kepala Shiroo lalu berkata, "Kita biarkan Shiroo istirahat dulu sampai tenaganya pulih betul. Kalian jangan cemas. Dylan dan Takana pasti akan baik-baik aja."


...****************...


"Aku rasa segini cukup." Tanaka telah mengumpulkan kayu. Lalu ia menoleh untuk memeriksa Dylan. "Bagaimana denganmu, Dylan-san?"


"Aku juga udah. Ayo kita kembali sebelum gelap." Dylan mengangkat kayu yang ia perlukan, lalu ia pergi duluan kembali ke hilir sungai. Takana mengikutinya dari belakang. Ia memunculkan dua bola api terbang ke depan jalan sebagai penerangan.


Namun saat kembali, mereka tak melihat Tanaka dan Zai di manapun. Keduanya mengira kalau Tanaka dan Zai pergi untuk mencari makanan. Dylan meletakkan kayunya, begitu juga dengan Takana.


"Mereka akan segera kembali, kan?" gumam Takana.


Dylan memeriksa tas. Ia menemukan satu ikan mentah di dalam sana. Hanya satu. lalu ia celingak-celinguk mencari jejak dari kedua temannya. "Aneh ... bukannya mereka bilang akan tunggu di sini?"


"Ja–jadi Onii-chan telah menghilang? Dia gak mungkin ninggalin kita, kan?" tanya Takana yang mulai cemas.


"Gak mungkin juga sih ..." Dylan bergumam. Ia menatap langit. Matahari telah terbenam. Takana masih menggunakan bola apinya sebagai penerangan tempat itu.


Srek srek ....


Dylan dan Takana langsung menoleh begitu mendengar suara tapak kaki yang menginjak rerumputan. Dylan mendekati Takana lalu berbisik padanya. "Matikan apinya."


"Eh, kenap–" Belum saja bertanya, tiba-tiba keluar sesosok makhluk dari dalam semak di dekat mereka. Reflek karena terkejut, Takana dan Dylan tak sengaja berteriak. Mereka menjauhi makhluk itu.


"Ung ... ung ...."


Saat diperhatikan, ternyata makhluk itu bukanlah hewan buas. Dylan dan Takana melihatnya seperti sosok kambing kecil yang terluka karena rambutnya terdapat bercak darah.


Dengan berani, Dylan mendekati makhluk itu dan mencoba untuk menyentuhnya. Tapi baru saja menyentuh rambut lembut makhluk itu, tiba-tiba Takana merasakan sesuatu yang datang dengan cepat. Lalu tiba-tiba muncul sebuah anak panah yang menancap di depan Takana.


Takan dan Dylan terkejut dengan kehadiran senjata tersebut. Dengan cepat, Takana mengajak Dylan untuk lari. Tapi Dylan tetap terdiam. Ia memandang makhluk itu dengan iba, lalu ia menggendong makhluk tersebut dan membawanya lari bersama Takana.


"Ke–kenapa kau bawa-bawa makhluk itu?" tanya Takana sambil berlari. Lalu ia mengeluarkan dua bola api biru sebagai penerangan jalan agar mereka dapat melihat dalam kegelapan hutan.


"A–aku gak tau. Aku hanya kasihan pada dia!" jawab Dylan cepat. Lalu tiba-tiba ada anak panah lagi yang menancap di pohon depan mereka berdua. Dylan dan Takana berbelok. Mereka tidak tahu ingin ke mana, yang penting sekarang lari dulu.


Dylan menoleh ke belakang sambil lari. Tapi ia tetap memerhatikan jalan di depannya. Di belakangnya sangat gelap. Bahkan ia tidak tahu makhluk apa yang sedang mengejarnya.


Dylan kembali melihat jalan. Ia melirik ke arah bola api yang dibawa Takana dan langsung memiliki ide. "Takana. Arahkan bola api itu ke arah lain. Itu bisa menarik perhatian makhluk yang mengejar kita."


"Ah ide bagus, Dylan!"


"Ssstt!! Jangan keras-keras."


"Ups!" Takana menjentikkan jari, lalu seketika dua bola apinya itu langsung mengarah ke arah lain. Sedangkan Takana dan Dylan berlari menjauhi bola api itu. Tak jauh dari sana, mereka berhenti sejenak dibalik pohon.


Sesuai dugaan Dylan, suara tapak kaki dari makhluk yang mengejarnya itu semakin menjauh. Kemungkinan besar mereka mengejar cahaya tersebut. Jadi sekarang adalah kesempatan Dylan dan Takan untuk mencari tempat yang lebih aman.


Disaat keadaan sudah aman, mereka pun kembali berlari. Tak lama, Takana berhenti karena melihat sesuatu. Dirinya pun menepuk-nepuk pundak Dylan. "Dylan-san. Aku melihat cahaya dari sana."


"Apa kita samperin aja?" Dylan juga melihat cahaya tersebut.


"Ayo. Tapi hati-hati."


*


*


*


To be continued –