
____________________________________________
****
Aku kembali masuk ke dalam rumahku. Dari depan pintu belakang rumah, aku bisa melihat beberapa manusia aneh yang sedang makan di atas meja yang kotor di dekat dapur itu. Mereka selalu tertawa dan tersenyum saja. Mereka bisa bercanda bersama. Terkadang, aku juga merasa iri dengan sikap periang mereka.
Eh! Aku hanya suka dengan ekspresi mereka yang bisa senyum saja. Bukan karena sikapnya, loh! Mereka itu kalau sudah ceria, suka kelewatan!
Sudahlah, aku akan menaruh piringku ke wastafel dan mencuci tanganku sampai bersih agar kuman-kuman yang tertular dari mereka bertiga (Takana, Kak Fely dan Tanaka) itu bisa hilang.
Lalu, setelah mencuci tangan, aku mematikan kerannya. Aku tidak beranjak dari sana. Aku terdiam dulu. Lalu, tak lama kemudian, secara tidak sengaja aku menyentuh bibirku sendiri. Sedikit menggerakkannya. Aku akan mencoba untuk senyum. Bagaimana tampangku jika aku tersenyum? Pasti jelek!
BRAK!
"Nah, gitu dong! Haha...."
Aku terkejut. Secepatnya, aku langsung menengok ke belakang. Si Tanaka itu tiba-tiba saja menggeprak meja makan dengan keras. Setelah itu ia kembali tertawa. Semuanya juga begitu. Mereka pasti sedang bercanda. Terlihat menyenangkan, tapi sayang aku tidak bisa gabung dengan mereka.
GUBRAK!
Eh?! Tak lama setelah Tanaka menggeprak mejanya, tiba-tiba saja meja itu kembali terbelah menjadi dua. Semua makanan yang ada di atas meja jadi terjatuh ke lantai. Berantakan dan sayang sekali, makanan itu sudah tidak bisa dimakan lagi karena sudah tercampur kotoran dan cairan putih lengket yang kusebut dengan Lem yang berserakan di lantai. Mereka bertiga terdiam. Tapi, tak lama mereka kembali tertawa lagi.
"Dasar. Apanya yang lucu, coba?" gumamku sambil beranjak dari depan wastafel.
Takana melirikkan matanya ke arahku yang sedang berjalan cepat menuju kamar itu. Ia berhenti tertawa, lalu beranjak dari kursinya.
Aku menganggap kalau mereka bertiga itu memang sudah tidak waras. Tapi, tetap saja aku iri dengan ekspresi mereka yang bisa tersenyum itu.
Aku ingin sekali bisa tersenyum seperti dulu lagi. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak bisa tersenyum. Hmm..., mungkin kalau aku banyak berlatih, aku pasti akan bisa untuk tersenyum. Baiklah kalau begitu!
Di dalam kamar, aku menghadapkan tubuhku ke depan cermin besar yang tertempel di lemari bajuku. Aku akan bercermin sambil melatih bibirku agar bisa mengeluarkan sebuah kembangan dari gerakan bibir yang kusebut dengan senyum.
"Biasanya, orang tersenyum itu..., bagaimana, ya? Seperti ini?" gumamku sambil memainkan bibirku.
Ah! Tidak bisa. Aku tidak bisa senyum. Kenapa sulit sekali? Dulu, aku bisa senyum. Tapi kenapa sekarang tidak bisa? Dulu, aku tersenyum itu karena apa, ya?
"Ah! Sudahlah. Aku tidak bisa tersenyum! Apa yang akan membuatku tersenyum?! Tolong beritahu aku, cermin!" bentakku pelan pada cermin yang ada di depanku sambil mengetuk pelan cermin itu. Tadinya aku ingin memukul cermin itu, tapi takut pecah.
KRIIEEETT....
"Eh?"
Mataku melirik ke arah lain dari cermin itu. Di cermin, aku bisa melihat pintu kamarku terbuka sendiri, lalu ada kaki seseorang di depan pintu.
Aku yakin, pasti itu Takana lagi yang sedang mengintip!
Secepatnya, aku menghampiri pintu itu. Lalu, aku langsung menarik pintunya. Seketika, seseorang yang ada di depan pintu itu pun terkejut. Ternyata dugaanku benar. Itu si Takana yang sedang mengintip sambil menguping diriku dari depan kamar.
"Apa yang kau lakukan di sini?! Sudah kubilang untuk tidak masuk ke kamarku lagi!" bentakku padanya.
"Ah, maaf. Maafkan aku! Aku hanya ingin bermain denganmu." Takana sedang mencari alasan sepertinya.
"Kenapa kau tidak bermain dengan kedua kakak-kakak itu saja?"
"Hmm..., mereka sedang sibuk membereskan meja makan." Jawab Takana jujur. Ya, kali ini dia memang berkata jujur. Saat kulihat, Tanaka dengan Kakakku memang sedang membereskan dapur yang sudah mereka buat berantakan.
"Ya sudah, mainlah ke tempat lain, sana! Pergi, pergi!" usirku sambil menutup pintu kamarku kembali.
Tapi, saat pintu kamarnya ingin menutup rapat, tiba-tiba saja tangan Takana muncul di celah pintu dan menahannya. "Dylan-san! Aku bisa membantumu." Bisik Takana dari depan pintu.
Aku tersentak. Lalu, kembali membuka pintu kamarku lagi. Terlihat, Takana yang masih berdiri di depan pintu. Aku mengerutkan keningku. "Membantu untuk apa? Aku tidak butuh bantuannmu. Pergilah!"
"Aku tahu Dylan-san sedang membutuhkan bantuan untuk membantu mengembalikan senyuman Dylan-san yang hilang, kan?" tanya Takana cepat. Seketika, aku membesarkan mataku.
****
Chapter 29: [ Senyuman dan masa lalu ]
****
Aku terkejut. Bagaimana Takana bisa tahu kalau aku ingin bisa tersenyum seperti dulu? Oh, mungkin saja dia mendengarkan ku berbicara dengan cermin.
"Ayo, Dylan-san! Aku akan membantumu." Ujar Takana lagi. "Aku tidak sabar melihat Dylan-san tersenyum. Pasti lebih cakep!" Takana mendekat padaku. Aku memandang wajahnya yang sedang memasang senyum khas-nya itu.
"Cish! Tidak usah. Aku kan tidak meminta bantuannmu!" tegasku.
"Dylan-san tidak memintanya, tapi aku sendiri yang ingin membantu Dylan-san. Kumohon..., biarkan aku membantu Dylan-san! Aku mau membantu. Aku mau menolong Dylan-san. Kumohon... kumohon.... kumohon...." Takana merengek padaku sambil menarik-narik tanganku.
Apa boleh buat! Aku terima saja. Ini bukan karena aku ingin diajarkan untuk tersenyum dari Takana. Tapi karena aku sudah muak mendengar ocehan dan rengekannya padaku. Risih sekali!
Aku mengangguk cepat sambil menarik paksa tanganku dari genggaman Takana. "Iya! Iya! Kau boleh membantuku!"
Seketika tubuh Takana kembali ceria lagi. Dia melebarkan senyumnya itu sampai terlihat giginya. Senyum yang manis. Tapi kalau aku yang tersenyum seperti itu, apa yang akan terjadi pada wajahku nanti.
"Ayo!" Aku kembali melirik ke Takana. "Katanya mau bantu aku. Ayo katakan apa rencana mu untuk membantuku?"
"Mudah sekali! Pertama, Dylan-san aku cium dulu, sini!" Takana memegang kedua pipiku dengan tangannya, lalu menarik kepalaku mendekat dengannya.
Seketika mataku melebar cepat. Aku pun langsung melepaskan tangan Takana dariku, lalu menjauh darinya dengan cepat. "Takana kau gila! Bodoh! Tidak waras!" bentakku. "Kenapa kita harus berciuman lagi?!"
"Kan jika kita berciuman, aku akan bisa memasuki tubuh Dylan-san." Ujar Takana santai.
"Memasuki tubuhku?" Aku menelengkan kepalaku.
"Iya. Aku bisa masuk ke dalam tubuh Dylan-san. Nah, saat itulah aku bisa mengendalikan tubuh Dylan-san dan otomatis aku juga bisa membuat Dylan-san tersenyum." Jelas Takana.
"Merepotkan sekali. Aku ingin diriku sendiri lah yang melakukannya! Bukan kau! Aaaaa! Pergi kau dari kamarku! Keluar sana!" bentakku geram sambil mendorong Takana keluar dari kamarku. Lalu dengan cepat aku membanting pintu kamarku. Setelah itu, aku menempelkan kepalaku ke pintu sambil menunduk. Yang kutatap kali ini adalah kaki dan lantai rumahku saja.
Takana bodoh, ah! Haduh..., entah kenapa aku jadi kesal padanya. Dia sudah baik hati ingin membantuku, tapi caranya tidak sesuai dengan keinginanku. Berciuman? Ah, sudahlah!
Aku duduk termenung di bawah pintu. Sekarang aku tidak tahu caranya untuk merubah diriku menjadi seperti dulu lagi....
****
"Dylan-san...." Aku bergumam pelan di depan pintu kamar Dylan-san. Aku ingin masuk lagi ke dalam kamarnya, tapi aku takut dia akan mengusirku lagi. Ah, apa tindakanku tadi telah membuatnya marah lagi?
"Takana? Apa yang kamu lakukan di sana?" Aku tersentak kaget. Sepertinya aku mengenal suara orang yang memanggilku itu. Dengan cepat, Aku pun berbalik badan. Ternyata itu suara Onii-chan yang berjalan menghampiriku. Benar kan dugaanku.
"O, Onii-chan...?"
"Kau sedang apa?" tanya Onii-chan lagi.
"Ah, Boku...." (Aku....)
"Ada apa Takana-Chan? Apa ada masalah? Wajahmu terlihat masam sekali."
"Onii-chan! Hanashitai koto ga arimasu!" (Kakak, aku ada sesuatu untuk dibicarakan!)
"Hai. Nani?"
"Tapi jangan di sini." Aku berbisik padanya. Onii-chan pun mengangguk. Lalu, kami berdua akhirnya berjalan menjauh dari kamar Dylan-san.
****
Aku dan Onii-chan duduk di halaman belakang. Kami tetap saja menganggap halaman belakang rumah Dylan-san itu adalah En-gawa. Karena halaman belakangnya mirip sekali dengan rumah di Jepang. Aku melihat keadaan luar rumah. Di luar turun hujan rintik-rintik. Tapi, awannya masih terlihat gelap.
"Jadi Takana? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Onii-chan mengejutkanku.
"Itu. Ini soal Dylan-san." Aku menjawabnya.
"Ada apa dengannya?" Onii-chan lebih mendekat lagi ke diriku sampai akhirnya kami duduk berdempetan.
"Dylan-san mau bisa tersenyum. Tapi dia tidak tahu caranya. Bagaimana, dong?" Aku membesarkan mataku menatap Onii-chan yang ada di sampingku ini.
"Hmm..., tersenyum itu mudah. Dia hanya harus seperti ini saja. Mmm...." Onii-chan menunjukkan senyumnya itu. Tapi, senyum yang terpaksa.
"Aku tahu senyum itu memang mudah. Tapi, bagi Dylan-san senyum itu sulit sekali." Aku menggeleng pelan. Ah, aku jadi pusing sendiri, kan.
"Hmm..., senyum bisa diundang dengan dipertemukannya suatu hal yang menyenangkan dengan diri kita. Jika diri kita sudah merasa senang dan bahagia, maka otomatis senyuman itu akan terbentuk dengan sendirinya di wajah manis kita." Jelas Onii-chan sambil memasang senyum paksanya yang sama seperti tadi. Aku menahan tawa karena melihat ekspresinya yang lucu itu. Karena tidak bisa menahannya, tanpa sengaja aku pun tertawa kecil.
Aku pun menghentikan tawaku, lalu mengangguk pelan. "Hmm..., benar juga. Tapi, apa yang Dylan-san sukai, ya?"
"Dia mah semuanya suka aja, sih!"
Aku dan Onii-chan terkejut saat melihat ada Onee-chan yang tiba-tiba saja datang dan membisikkan sesuatu pada kami berdua. Kak Fely tertawa kecil. Lalu, Aku dan Kak Tanaka memberikan Sedikit ruang untuk Kak Fely duduk di tengah.
"Kalian sedang membicarakan tentang Dylan? Memangnya ada masalah apa dengan adikku?" tanya Onee-chan sambil menengok ke kanan kirinya.
"Begini, Apa Onee-chan pernah melihat Dylan-san tersenyum?" tanyaku sedikit ragu.
Onee-chan berpikir sejenak sambil memejamkan matanya. Lalu tak lama kemudian, dia kembali membuka mata dan langsung menengok ke arahku lagi. Dia menjawab, "Pernah, kok! Malah, sering."
"Eh, benarkah? Kapan terakhir kali Onee-chan melihat dia tersenyum?" tanyaku lagi. Aku penasaran banget.
"Aku tidak ingat. Sudah lama sekali."
"Baiklah kalau begitu, beritahu kami saja. Sejak kapan Dylan jadi anak yang pemurung seperti itu?" Onii-chan kembali membuka mulutnya.
Onii-chan sembarangan saja kalau ngomong. Aku menatap tajam ke arahnya. "Dylan-san bukan anak yang pemurung!" bentakku. "Dia cuma cuek dan tidak bisa senyum saja."
"Ah, iya itu maksudku. Sejak kapan?" Mata Onii-chan kembali melirik ke Onee-chan.
Onee-chan tersentak. Ia sedikit menundukkan kepalanya. "Dia jadi seperti itu sejak kehilangan kedua orang tuanya." Onee-chan akhirnya menjawab.
"Oh. Dia pasti merasa kehilangan sekali, ya?" Onii-chan mengangguk paham.
"Iya. Begitu juga dengan diriku." Kata Kak Fely.
"Maaf kalau aku berkata seperti ini. Aku masih penasaran. Kenapa orang tua Onee-chan bisa meninggal?" tanyaku ragu. Onii-chan ku tersentak, lalu ia pun memukul pundakku lalu menegurku pelan, "Takana-Chan!"
"Tidak apa-apa. Ini memang sudah waktunya aku cerita tentang masa laluku yang kelam pada kalian. Masa laluku, sama seperti masa lalu Dylan. Kami memiliki perasaan yang sama." Onee-chan kembali berbicara setelah diam sejenak. Ia masih menundukkan kepalanya itu.
Onee-chan memulai ceritanya. "Ayah dan Ibu bekerja di rumah sakit yang sama. Berprofesi sebagai seorang dokter. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan mobil. Saat masih di rumah, sekitar belasan tahun yang lalu. Aku lupa. Intinya, pada saat sebelum orang tuaku kecelakaan, Dylan yang masih kecil, merengek ingin pergi ke taman hiburan. Tapi sayangnya, kedua orang tuaku harus cepat ke rumah sakit karena pekerjaan. Jadi, Dylan tidak bisa pergi. Tapi, Ibu dan Ayah sudah berjanji pada Dylan kalau mereka akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan mereka lebih cepat lagi demi mengajak Dylan pergi ke tempat yang ia mau. Nah, pada saat itulah Dylan senang sekali."
"Lalu, setelah itu apa yang terjadi?" tanyaku dan Onii-chan penasaran. Kok kita jadi sama-sama seperti ini, ya?
"Orang tuaku bekerja dengan sangat giat pada hari itu. Dan di rumah, aku melihat Dylan bahagia sekali. Dia selalu memegang janji Ibu dan ayah pada dirinya. Dia terus menunggu Ibu dan Ayah pulang ke rumah. Lalu, saat sore harinya, Dylan dapat telpon. Saat itu, aku yang mengangkat telponnya. Ditemani dengan Dylan juga yang ada di sampingku. Kami senang sekali saat itu. Karena yang menelpon itu adalah Ibu kami. Beliau akan pulang. Saat itu, dia sedang bersama ayah di dalam mobil. Tapi, saat itulah detik-detik kami kehilangan orang tercintaku dengan adikku, Dylan."
"Jadi, kalian berdua tidak bisa pergi ke taman hiburannya?" tanyaku.
"Iya. Di telpon lah kami bisa mendengar suara lembut Ibu kami untuk yang terakhir kalinya. Dylan sangat sedih sekali saat mendengar kabar duka. Lalu, setelah pemakaman orang tua kami, seketika Dylan langsung menjadi anak yang pemurung dan suka sekali mengurung diri di dalam kamar untuk menangis. Sampai akhirnya, aku sendiri tidak bisa menenangkannya. Berhari-hari dia tidak makan. Padahal setiap hari aku selalu membujuknya untuk keluar kamar, tapi tetap saja dia tidak mau. Sampai akhirnya, Dylan jatuh sakit. Sejak saat itu, fisiknya menjadi lemah. Karena depresi yang berat dan kekurangan gizi, Dylan jadi mengidap Anemia Sel Sabit. Dan sampai sekarang, dirinya masih mengidap penyakit itu dan dia juga sering sakit-sakitan sekarang."
"Oke, oke..., coba pelan-pelan saja bicaranya. Kau perlu nafas. Jangan buru-buru. Kau terlalu bersemangat sekali." Ujar Onii-chan dengan tawa kecilnya. Memang, sih.... Dari tadi, Onee-chan bercerita terlalu cepat sampai dia sendiri kewalahan, tuh!
Onee-chan pun terdiam sejenak. Lalu, karena penasaran, aku dan Onii-chan pun kembali bertanya, "Apa yang terjadi setelah itu?"
"Ya..., semenjak Dylan sakit, aku terpaksa harus mencari kerja untuk menyembuhkan dirinya. Aku kerja di rumah sakit bekas Orang tuaku bekerja. Aku juga berprofesi menjadi dokter. Tapi sayangnya, aku harus meninggalkan Dylan sendirian di rumah. Untungnya, dia masih bisa merawat dirinya sendiri." Onee-chan kembali mendongak. Ia menatap langit yang masih terlihat mendung itu. Awan hitam terlihat melayang cepat karena hembusan angin. Mungkin sebentar lagi, cahaya matahari akan kembali menyinari bumi.
Ia (Onee-chan ) melanjutkan perkataanya. "Kalau bukan karena bantuan dari Takana, mungkin aku sudah tidak ada di sini dan Dylan juga akan merasa lebih menderita."
"Iya, sama-sama, Onee-chan!" Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Memangnya, apa yang telah terjadi padamu, Fely-chan?" tanya Onii-chan.
"Ya. Entahlah. Belum lama ini, ada orang asing telah berhasil membunuh diriku dengan racun. Sebenarnya, aku sudah mati. Tapi, berkat Takana, aku dapat hidup kembali di dunia. Terlahir kembali menjadi seorang Oniroshi." Jelas Onee-chan.
BRUK!
"Eh?!"
Kami bertiga terkejut saat mendengar suara benda yang jatuh. Serontak, kami pun langsung menengok ke belakang dan terkejut. Karena, di depan pintu dapur itu, kami melihat tubuh Dylan-san yang sudah tergeletak lemas di lantai. Onee-chan membesarkan matanya, dia terlihat panik.
Lalu dengan cepat, kami pun menghampirinya. Ia sudah tidak bergerak dan tangan kanannya itu masih memegang dadanya. Apa yang telah terjadi pada Dylan-san?!
To be Continued-