Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 61– Oni di Kota



Saat di rumah sakit, Fely berlari di lorong karena ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ethan yang sedang dirawat di sana. Sebelumnya, lelaki itu mendapat luka serius dari serangan Fely saat mereka bertarung di atas apartemen.


Kalau seandainya, Fely tau kalau Oni itu telah merasuki Ethan, mungkin wanita itu akan mencari cara lain untuk menghentikannya selain memakai cara kekerasan. Walau begitu, semua telah terjadi. Yang penting sekarang Ethan dan gadis kecil itu bisa selamat.


Ia akhirnya tiba di depan pintu kamar rawat Ethan dan si gadis kecil. Sebelum masuk, ia mengetuk pintu, lalu membukanya. Tapi setelah melihat isi ruangan, pemandangan mengerikan lah yang dilihatnya.


Di dalam ruangan itu, Fely menemukan tiga mayat orang dewasa yang tergeletak bersimbah darah di lantai. Yang membuat Fely ingin muntah adalah keadaan mayat tersebut yang terlihat tanpa kepala.


Tak hanya itu, ia juga tidak menemukan keberadaan Ethan dan si Gadis Kecil. Tempat tidur mereka kosong dan hanya terdapat bercak darah dan bekas telapak tangan kecil. Fely mundur ke belakang untuk menjauh dari ruangan itu. Tapi tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya dari samping. Karena mendadak, Fely jadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Ia merasa keberatan karena orang itu menindih tubuhnya. Saat kembali membuka mata, Fely dikejutkan oleh mayat tanpa kepala dan langsung menyingkirkan mayat tersebut dari hadapannya. Ia kembali berdiri dan tadinya ingin berlari. Tapi sebelum itu, ia melihat seseorang yang berdiri di ujung lorong.


Ia tersentak saat melihat sesosok Oni dengan bentuk yang aneh berdiri di lorong tersebut. Tak hanya itu. Sosok manusia yang berdiri di depan Oni Itu ternyata adalah Ethan. Setelah mata mereka bertemu, lelaki itu mengarahkan tangannya ke depan dan seketika Oni besar dengan tinggi 2 meter lebih itu pun langsung berlari menghampiri Fely dengan empat tangannya.


Dari tangannya, Fely langsung mengulurkan beberapa benang merah dan menangkap salah satu tangan si Oni. Makhluk itu terjatuh setelah benang yang menjebak tangannya ditarik oleh Fely. Setelah itu, Fely membenturkan tubuh makhluk itu ke tembok sampai tembus tersebut hancur.


Oni tidak akan kalah hanya dengan serangan seperti itu. Jadi Fely memutuskan untuk lari menjauh dan tidak akan terkecoh dengan sosok yang menyerupai Ethan. Ia tidak percaya pada sosok tersebut.


Sambil berlari, Fely merogoh tasnya lalu mengambil ponsel. Ia menghubungi adiknya untuk meminta bantuan. Lalu tak lama, ia mendengar beberapa suara teriakan lainnya dari dalam gedung rumah sakit. Ia juga merasakan ada beberapa aura aneh di dekatnya. Ternyata Oni di sana tidak hanya ada satu/dua ekor. Tapi ada lebih.


"Aku tidak tahu mereka ada di mana saja. Mayat-mayat tadi pasti adalah ulah mereka." Batin Fely sambil terus berlari di lorong. Ia akan kembali ke pintu keluar rumah sakit. Ia sadar kalau sebagian besar skillnya tidak bisa digunakan untuk bertarung. Jadi Fely memutuskan untuk melarikan diri. Ia tidak berani bertarung sendirian kalau lawannya banyak. Jadi ia akan menunggu bantuan tiba, sambil mengevakuasi orang lain yang masih berada dalam gedung tersebut.


...****************...


Saat di rumah, Dylan langsung keluar kamar begitu ia mendapat telepon dari kakaknya. Ia memberitahu keadaan darurat yang ia terima dari kakaknya kepada Oniroshi di rumahnya. Seketika setelah itu, Asuka langsung memerintahkan semua muridnya untuk segera pergi menolong Fely di rumah sakit.


Zai dan Lea mengangguk paham. Lalu mereka pun segera pergi melewati pintu luar. Sementara Asuka dan Divan membekukan diri mereka menjadi kristal es dan kemudian kristal itu pecah dan menghilang bersama dirinya juga.


Takana sudah menunggu Dylan di depan pintu. Mereka berdua akan pergi bersama dan kali ini, untuk pertama kalinya, Dylan akan ikut bertarung untuk menyelamatkan kakaknya.


Untuk mempercepat langkahnya, Dylan akan pergi dengan menggunakan sepeda yang sudah ia ambil dari garasi. Tidak mungkin ia akan berlari sampai ke rumah sakit. Bisa-bisa tenaganya keburu habis sebelum bertarung.


Dylan mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa. Melewati jalan raya dan sesekali melewati trotoar jalan saat terjadi kemacetan di sana. Sementara Takana mengikuti Dylan dari belakang dengan melompat dan berlari di atas gedung.


Saat sudah dekat dengan rumah sakit, Dylan tidak bisa lewat karena kerumunan warga yang ramai di sana ingin melihat keadaan bangunan tersebut. Beberapa mobil polisi juga terparkir di sana.


Dylan memasuki sebuah gang dan memarkirkan sepedanya di sana. Lalu muncul Takana yang jatuh dari atas. Mereka saling berpegangan tangan, lalu Takana mengucapkan, "Mazeru" untuk melakukan Teknik Penggabungan Jarak Jauh.


Keadaan jadi sama seperti tadi. Kini mata Dylan berubah menjadi warna biru sepenuhnya. Sama seperti Takana. Itu berarti, kekuatan mereka telah bersatu dan Takana sudah siap untuk bertarung. Ia pun kembali ke atap bangunan, sementara Dylan tetap di tempat.


Ia ingin mengawal pergerakan Takana, tapi tak bisa melihat keadaan bangunan rumah sakit karena tertutup oleh para warga. Sampai tak lama kemudian, sebuah tumbuhan berjalar jatuh menimpa kepalanya. Dengan cepat, Dylan mendongak dan ia melihat Lea yang mengajak Dylan untuk ikut ke atap bangunan juga.


Lelaki itu pun menggenggam erat tumbuhan tersebut. Awalnya ia ingin memanjat sendiri. Tapi tiba-tiba tumbuhan itu bergerak dengan cepat, naik sendiri membawa tubuh Dylan sampai ke atas. Lelaki itu sempat teriak karena terkejut dan akhirnya ia bisa sampai di atas juga.


Dari sana, ia melihat teman-teman Oniroshi nya juga sudah berkumpul di sana. Kecuali Bell dan Irvan. Tapi Tanaka juga tidak ada di sana. "Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Dylan pada Asuka yang sedang memimpin para muridnya.


"Lokasinya di sana, kan?"


"Iya." Dylan mengangguk lalu memperhatikan layar ponselnya. "Itu satu-satunya rumah sakit di kota ini. Eh tapi ada lagi di tempat lain. Tapi yang sedang ramai cuma di sini. Aku yakin, kakak pasti terjebak bersama Oni di dalam sana!"


"Oke, ayo kita bergerak sekarang!"


"Ya!!"


Zai langsung melompat dari atas gedung itu lalu menghancurkan jalanan di bawahnya. Dengan kekuatannya, ia mengebor tanah di bawah aspal dan pergi ke gedung rumah sakit lewat jalur bawah tanah.


Karena pergerakannya di dalam sana, telah membuat gempa kecil yang membuat beberapa warga jadi takut dan berlarian menjauh dari tempat kejadian. Kecuali para polisi yang masih ada di tempat. Mereka juga masih mengevakuasi korban di dalam rumah sakit.


"Hyoshio!" Asuka mengarahkan tangan kanannya ke bawah kaki. Tepatnya ke bagian pinggir dari atap gedung, lalu meneriaki skillnya. Setelah itu, sebuah kristal es yang besar terbentuk menjadi seperti perosotan yang mengarah ke pintu depan rumah sakit.


Semua orang di sana langsung menjauh begitu kristal es tersebut muncul. Lalu pandangan mereka mengarah ke awal kemunculan batang es raksasa.


Namun Takana memaksa Dylan untuk melakukannya. Jadi ia pun mendorong Dylan yang belum siap ke perosotan itu dan meluncur. Setelahnya, Takana juga akan ikutan. Ia terlihat senang karena meluncur di sana sangat menyenangkan.


Semuanya mendarat dengan aman sampai di depan pintu gedung. Sementara tubuh Dylan malah kebablasan dan akhirnya ia menabrak pintu kaca rumah sakit. Untungnya tidak pecah. Lalu tak lama, pintu itu terbuka sendiri. Ternyata pintu otomatis.


Setelah melihat pintu itu terbuka, Dylan menggerutu, "Kebukanya telat banget." Lalu ia pun kembali berdiri sambil menyentuh kepalanya yang sakit. Takana menghampirinya dan bertanya, "Dylan-san baik-baik saja?"


"Ah, kau pasti tau rasa sakitnya." Dylan masih mengelus-elus dahinya yang membentur pintu.


"Tapi Dylan-san ... aku tidak bisa merasakan sakit dari darling ku, hehe ...."


"Ah curang! Kau jika terluka, aku bisa merasakannya. Tapi sebaliknya, kau malah tidak bisa merasakan lukaku!"


"Sudah-sudah ... sekarang ayo kita cari Fely di dalam sana." Asuka berjalan masuk melewati pintu yang sudah terbuka. Lalu tak lama, getaran kecil dari bawah tanah kembali terjadi dan tepat di depan pintu rumah sakit, muncul sebuah lubang kecil lalu dari dalamnya keluar tubuh Zai.


"Oh? Akhirnya sampai di sini." Lelaki itu keluar dari dalam sana, lalu kembali menutup lubangnya dengan tanah dari kekuatannya.


"Bagus. Sekarang lacak keberadaan para Oni itu." Perintah dari Asuka langsung Zai laksanakan. Ia memejamkan mata sejenak sambil menyentuh kening. Di dalam otaknya, ia dapat menganalisis tempat di sekitarnya untuk mencari para Oni yang berkeliaran di sana.


Tak butuh waktu lama, Zai akhirnya menemukan mereka. "Ada sekitar 13 ekor Oni yang berada di dalam gedung ini." Lalu tangannya menunjuk ke satu lorong sebelah kiri. "Di sana ada satu."


Ternyata benar. Mereka semua melihat sebuah Oni yang sedang berjalan santai keluar dari lorong tersebut. Tapi setelah makhluk itu melihat keberadaan para Oniroshi, ia pun mulai menyerang.


Namun untungnya, Asuka sempat menghentakan kakinya dan seketika sebuah kristal es keluar dari bawah Oni tersebut dan langsung menusuk tubuhnya. Setelah itu, si Oni pun hancur menjadi abu dan menghilang.


Setelah Oni Itu mati, Zai kembali memeriksa keberadaan yang lainnya. "Oke, ada tinggal 12 ekor lagi. Ada 5 di bawah dan sisahnya di lantai atas. Lalu di lantai 3 ada 3 ekor. Mereka ada yang di dalam ruangan, dan ada juga yang di lorong."


"Kalau para manusia yang di sini?" tanya Dylan cepat. "Pastinya ada pasien sama perawat yang bekerja, kan?"


"Entahlah ... aku tidak menemukan keberadaan manusia selain dirimu." Jawab Zai.


"Mungkin mereka telah dievakuasi."


"Baiklah! Kalau begitu kita bisa bebas memburu mereka tanpa harus melukai orang lain!" Zai jadi terlihat bersemangat.


"Tapi jangan sampai menghancurkan gedung ini! Stabilkan kekuatanmu," ujar Asuka. Zai mengangguk paham. Lalu wanita itu meminta semuanya untuk berpencar memburu para Oni di dalam sana. Sementara itu, Dylan dan Takana ditugaskan untuk mencari Fely.


Mereka berdua mengangguk paham. Lalu Asuka meminta semuanya untuk segera bergerak. Mereka semua pergi. Asuka dan darlingnya, Divan, akan memburu Oni di lantai bawah. Kalau di sana ia menemukan Fely, akan segera ia beritahu.


Sementara yang lainnya akan memeriksa lantai dua sekalian Dylan dan Takana juga akan mencari kakak perempuan mereka. Tapi saat di dekat tangga, Lea memisahkan diri untuk memeriksa ke lantai berikutnya. Kedua Oniroshi itu bisa bertarung, jadi jangan khawatir. Mereka sudah sering solo dalam menghadapi Oni.


Sementara semuanya sedang bekerja berburu Oni, di sebuah tempat warung makan, ada Tanaka di sana yang sedang santai sambil menikmati hidangannya. Sambil sesekali memberi makan kucing jalanan yang meminta makan padanya.


Namun tak hanya kucing, ternyata ada seorang manusia yang menghampiri Tanaka. Seorang gadis kecil berambut coklat pendek terlihat memakai pakaian lusuh meminta makanan juga pada Tanaka.


Karena merasa kasian, Tanaka akan membelikan anak itu makanan juga. Tapi saat ia memperhatikan penampilan anak itu, Tanaka terkejut dengan tetesan darah yang keluar dari telapak tangannya. Lalu secara perlahan, matanya melirik mata gadis tersebut yang sudah berubah menjadi warna kuning.


"Jangan-jangan ... kau–"


Mengetahui penyamarannya terbongkar, mata gadis itu melirik ke segara arah dan tiba-tiba mulutnya yang dipenuhi gigi runcing terbuka lebar dan siap ingin melahap utuh tubuh Tanaka.


*


*


*


To be continued–