Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 28~ Perasaan Dylan



____________________________________________


****


Aku sedang berjalan di sore hari. Bersama dengan seseorang yang telah menjadi sahabat lamaku. Berjalan melewati kebun dengan bunga-bunga yang berbaris dengan rapihnya di sudut jalan sana.


Kami saling bergandengan tangan. Tertawa gembira dan tersenyum. Sesekali, kami berjalan sambil melompat-lompat. Terkadang, kami juga mengejar kupu-kupu yang sedang melintas di atas bunga-bunga yang beraroma surga.


Aku memetik satu bunga itu untuk seseorang yang ada di sampingku, lalu memberikan bunga itu untuknya. Dia terlihat sangat bahagia sekali. Senyumnya membuatku ceria. Senyuman yang manis yang dikeluarkan dari seorang gadis kecil yang sedang bersamaku ini. Seorang gadis cilik yang cantik, telah berteman lama denganku.


Tak lama setelah kami berjalan keluar dari kebun bunga itu, niat kami akan bermain di taman. Tapi sayang, hujan tiba-tiba saja turun membasahi kepala dan seluruh tubuh kami. Semakin deras dan semakin banyak tetesan air bening itu turun menginjak bumi.


Kami berlari mencari tempat untuk berteduh. Sampai akhirnya, sebuah mobil datang berhenti di pinggir jalan tak jauh dari tempat kami berdiri. Kami menghentikan langkah dan sesekali menengok ke arah mobil yang berhenti di dekat kami.


Tak lama setelah mobil itu berhenti, tiba-tiba pintu mobil itu terbuka dan keluarlah sosok wanita dewasa berambut panjang digerai yang memakai payung hitam.


Wanita itu berlari kecil ke arah kami. Ia pun menarik tangan seorang gadis yang tengah bersamaku itu. Gadis itu melepaskan genggaman tanganku, dan ia pun ikut bersama wanita itu. Mereka berdua memasuki mobil, lalu menjalankannya. Gadis itu pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata sedikitpun.


Hujan semakin deras. Aku hanya menatapi mobil sedan berwarna hitam yang mulai menjauhiku itu. Mobil itu pun menghilang dalam derasnya tetesan air hujan.


Hujan, telah membuat tubuhku kedinginan. Gadis itu pergi begitu saja dan meninggalkan kehangatan yang seharusnya untukku.


Setelah itu, aku pun berlari meninggalkan tempatku berdiri. Menjauh dari sana, sama seperti gadis itu yang pergi begitu saja meninggalkanku.


Aku berlari dengan sangat kencang. Cipratan air dari langkah kakiku terdengar semakin keras. Sampai ada setetes air dari cipratan itu yang membasahi wajahku dan menyamarkan tetesan air mataku yang mulai keluar. Entah kenapa aku menangis saat ini....


Keesokan harinya, aku kembali berjalan. Berjalan kembali ke taman tempat terakhir kali aku melihat gadis itu. Di sana, aku tidak melihat sosoknya. Aku harap, kemarin itu bukanlah hari di mana aku akan bertemu dengan gadis itu untuk yang terakhir kalinya.


Aku kembali melangkahkan kakiku. Pergi meninggalkan taman itu untuk mencari gadis yang sudah ku anggap lebih dari sahabat dekat itu. Sungguh! Aku menyukainya! Aku mencintai gadis itu.


Dari senyumnya yang manis, wajahnya yang cantik dan imut, serta sikapnya yang baik hati dan penyayang.


Saat aku sampai di kediaman keluarganya, di sana aku dikejutkan oleh tulisan kata "Rumah ini telah dijual" yang terpampang di depan pagarnya. Walau hanya 4 kata saja yang tertulis di atas potongan kardus itu, tetap saja tulisan itu telah membuat hatiku terasa sesak.


Gadis itu benar-benar telah meninggalkan aku tanpa pamit atau berbicara padaku untuk yang terakhir kalinya. Bahkan, dia pun tidak bilang kalau dia akan pindah rumah. Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.


Saat itulah, rasa kepercayaan ku terhadap cinta, seketika langsung hilang begitu saja.


Cinta tidak bisa membahagiakan diriku. Cinta tidak bisa menenangkan diriku. Cinta tidak bisa mempernyaman hatiku, malah mempersulit dan menyakiti hatiku.


Sungguh! Saat itulah, aku mulai jatuh cinta pada gadis itu. Tapi, entah kenapa dia pergi begitu saja meninggalkanku....


****


Chapter 28: [ Perasaan Dylan ]


****


GUBRAK!


"A, aduh!"


"Eh?! Dylan-san? Kau baik-baik saja?" Takana terkejut dan langsung bangun dari tempat tidurnya. Ia menengok ke bawah tempat tidur untuk melihat diriku yang sudah ada di bawah sana.


Aduh..., baru kali ini aku terjatuh dari tempat tidurku sendiri. Apa mungkin, posisi tidurku tidak benar? Ah, sudahlah!


Aku kembali berdiri lagi dan mataku secara tidak sengaja melirik ke arah Takana yang sedang menatapku dengan mata besarnya itu. Aku mensipitkan mataku. "Apa lihat-lihat?"


"Dylan-san tidak apa-apa, kah?"


"Tidak usah sok peduli padaku!" Aku melangkahkan kakiku untuk keluar dari tempat sempit yang berada di pinggiran kasurku. Tapi, tiba-tiba saja....


"Ah!"


GDBUK!


"Aduuuh! aduh, aduh!"


Tak sengaja aku menginjak sesuatu yang telah membuat diriku jadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh kembali ke lantai. Tapi yang kali ini, rasanya lebih sakit. Karena, kepalaku membentur kursi dan siku ku membentur meja komputerku.


"Sialan!" gerutuku sambil berusaha untuk bangun dan kembali berdiri.


"Dylan-san baik-baik saja?" tanya Takana lagi. Cowok itu masih duduk di pinggiran tempat tidurku.


Aku memegang kepalaku yang sakit dan menjawab, "Iya" saja pada Takana. "Sebenarnya, apa yang kuinjak tadi, sih?" gumamku sambil melirik ke bawah.


Itu dia! Sekali lagi, aku dibuat emosi oleh kehadiran kakaknya Takana yang super pemalas itu. Ternyata, yang membuatku terjatuh tadi itu gara-gara kakiku menginjak tentakel di Tanaka yang berserakan di mana-mana.


Selama tidur, dia tidak menyembunyikan tentakelnya itu, apa?! Ribet sendiri aku lihatnya!


Sudah malah kamarku terlihat berantakan. Di sekitar Tanaka, buku komikku berserakan di mana-mana. Menyebalkan sekali!


Aku ingin membangunkannya dengan paksa, tapi sayangnya dia orang yang lebih tua dariku. Nanti dianggap tidak sopan. Kalau begitu, aku tinggalkan saja.


Aku keluar dari kamarku. Diikuti oleh Takana di belakangku. Dia mengikutiku terus, sih?!


Aku berjalan menuju dapur. Lalu, membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari dalamnya. Aku meneguknya. Lalu tak lama kemudian, aku mendengar suara decitan kursi yang bergeser. Seketika, aku langsung berbalik badan.


Ternyata itu Takana. Anak itu sedang duduk di atas kursi depan meja makan sambil menatapku. Aku membiarkannya, lalu kembali menghadap ke kulkas untuk menaruh botol itu kembali ke dalamnya.


Setelah menutup pintu kulkas, aku berjalan melewati meja makan dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum itu, aku ingin mengambil handuk yang ada di halaman belakang dulu.


Aku membuka pintu belakangnya. Seketika, angin sejuk di pagi hari masuk secara perlahan ke dalam ruangan rumahku. Di depan, langit sepertinya sedang tidak bersahabat. Mendung dan gelap sekali. Apa yang akan terjadi jika langit di pagi hari jadi seperti itu? Hujan? Badai? Angin kencang? Atau kejadian alam lainnya?


Hah, aku hanya berharap cuaca yang akan datang itu lebih buruk daripada hujan maupun badai. Karena, aku sedang tidak ingin pergi ke sekolah hari ini.


Tubuhku masih sakit, dan rasanya aku ingin sekali meletakkan tubuhku di atas tempat terbuat dari sutra yang lembut itu. Biasanya ku sebut dengan tempat tidurku.


GLUDUK! CTAR!


"Ah, petirnya, ya ampun...." Aku bergumam sambil mendongak ke atas. Petir yang menyambar barusan itu sangat membuatku terkejut. Langitnya juga sedang kacau sekali di atas sana. Tidak ada sinar matahari dan hanya ada awan-awan hitam yang berkerumun di berbagai tempat. Menggumpal dan selalu mengeluarkan kilat.


Awan itu sangat berbahaya. Sepertinya, di depan juga tidak ada orang yang lewat. Mereka pasti menghentikan aktivitas mereka untuk sementara. Apa lebih baik juga jika aku diam di rumah saja dan tidak pergi ke sekolah? Ya. Lebih baik seperti itu. Karena aku juga sedang malas, sih....


Setelah mengambil handuk, aku kembali berjalan ke dalam rumah. Menutup pintu dan menguncinya kembali. Setelah aku berbalik badan, aku dikejutkan dengan sosok seseorang yang sedang mengumpat di bawah meja makan.


Aku tahu itu pasti Takana. Aku berjalan menghampirinya, lalu menggeprak meja. Orang yang ada di bawah sana jadi terkejut.


"Hei, apa yang kau lakukan di situ?"


"Dylan! Ayo berlindung juga dengan kakak!"


Eh?! Aku salah. Ternyata yang di bawah meja itu adalah Kak Fely. Dia menarik tanganku dengan paksa untuk ikut bersembunyi dengannya. Lalu, karena merasa geram, aku langsung menarik paksa tanganku kembali.


"Kenapa, sih, Kak?!" bentakku.


"Ada gempa! Ayo kita berlindung di bawah meja." Jawab Kakakku dengan nada bicaranya yang sedikit panik.


"Gempa apaan, sih?!"


"Kau tidak dengar? Tadi ada bunyi DUAR gitu. Terus, tempat tidur kakak kayak bergetar gitu, loh!"


"Beneran tuh? Tar bohong lagi. Ah, sudahlah. Yang tadi itu cuma petir. Penakut!"


CTAR!!


"Uwaaa! Dylan-san!"


Eh? Aku terkejut. Tiba-tiba saja Takana muncul di belakang dan langsung memeluk tubuhku. "Dylan-san! Ada suara DUAR lagi!"


"Kyaaa! Ada suara DUAR itu lagi! Tolong kakak, Dylan!"


Kakakku keluar dari tempat persembunyiannya. Dia juga mengikuti tingkah seperti Takana. Mereka berdua memelukku karena takut dengan petir?! Menyebalkan sekali!


"Bisa tidak kalian diam?!" bentakku sambil berusaha untuk melepaskan pelukan mereka padaku. Tapi nyatanya, mereka malah semakin memperkuat pelukannya. Mereka tidak mau lepas. Ah, apa-apaan, sih?!


"LEPAS! Aku mau mandi!"


Ah! Semakin aku memberontak, mereka malah menarik-narik bajuku sambil merengek. Kumohon..., aku hanya ingin lepas dari sini saja! Rasanya tersiksa sekali....


BRAK!


"Kalian ini bisa DIAM TIDAAAAK?!"


Tanaka membanting pintu kamarku dengan sangat keras. Lalu, dirinya pun keluar dari sana dengan aura-aura yang mencekam. Rambutnya masih acak-acakan dan poni nya itu tidak menutupi mata kanannya. Ia kelihatan sangat menyeramkan.


Lalu, beberapa tentakelnya itu mulai menjulur dan melayang dan....


BRUAK!


"Ah! Meja makannya!"


Semuanya terkejut. Meja makan yang lebar itu seketika terbelah menjadi dua bagian akibat dari sabetan tentakel Tanaka yang melayang tadi.


"Pagi-pagi sudah ribut saja. Ada apa, sih?!" bentak Tanaka. Wajahnya terlihat sangat marah. Kok, aku juga jadi merinding, ya?


Tapi, tiba-tiba Tanaka merubah ekspresinya. Ia memasang tampang wajah polosnya itu. Lalu, telunjuknya ia tempelkan ke bibirnya. Tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah.


"Kalian sedang berpelukan? Lucu, deh! Jadi kalian ini ribut karena memperebutkan si Dylan?"


Aku terkejut. "E, eh?! Apaan banget, sih?!" Dengan cepat, aku langsung mendorong Kakakku dan Takana sampai mereka terjatuh dan melepaskan pelukannya.


"Ini semua tidak terlihat seperti yang Tanaka bayangkan!" bentakku sambil berjalan cepat ke arah kamar mandi. Pada akhirnya, aku pun berhasil memasuki kamar mandi itu.


Sungguh, pagi yang menyebalkan hari ini!


****


Saat sarapan bersama di dapur-


Kami makan di atas meja makan. Tadinya, meja itu memang terbelah menjadi dua. Tapi, karena Tanaka yang akan menanggung jawabkan perbuatannya, ia akan memperbaiki mejanya.


Meja itu ia lem menggunakan lem Pox. Sudah habis 3 botol lem Pox yang ia gunakan. Mejanya sih utuh kembali, tapi di sekitar meja jadi banyak cairan kental berwarna putih dan lengket itu. Aku jadi tidak ***** makan.


Aku akan membawa sarapanku ke teras belakang saja. Mungkin, aku bisa makan dengan tenang di sana sambil ditemani oleh si Coki dan pemandangan alam yang buruk.


Akhirnya, aku bisa makan dengan tenang di sini. Lalu, kilat yang menyambar di atas langit itu kembali muncul. Cahaya kilatnya berwarna ungu terang. Hmm... tidak seperti biasanya. Ah, tapi biarkanlah. Aku kembali mensantap hidangan yang ada di piringku sampai habis.


Setelah selesai makan, aku akan kembali ke dalam. Tapi sebelum kakiku mulai melangkah lagi, aku tidak sengaja melihat ada seseorang yang lewat di depan rumahku. Aku dapat melihat orang itu lewat pagar.


Dia seorang gadis seumuranku yang memakai seragam dari sekolahku. Rambutnya berwarna coklat dan pendek se-leher. Sepertinya, aku pernah melihat gadis itu. Dan dia akan ke sekolah di cuaca seperti ini?!


Eh! Gadis itu menengok. Bukan menengok, tapi matanya melirik ke arahku dan setengah wajahnya itu dapat terlihat. Wajahnya cantik sekali. Dan rambut pendeknya itu terlihat sangat lucu. Dengan rambutnya itu, dia jadi terlihat seperti gadis yang sangat Kawaii.


Lirikan matanya hanya beberapa detik saja. Setelah itu, ia pun kembali menghadap ke jalannya dan menjauh dari rumahku. Tujuan arahnya sih memang ke sekolah. Tapi, dia kok tidak membawa tasnya?


Ah, sudahlah..., aku tidak peduli. Aku akan melupakan gadis itu. Tapi, tiba-tiba kenapa jantungku berdetak lebih cepat, ya?


"Aku menyukai gadis itu."


"Entah kapan dia bisa kembali."


"Dia meninggalkanku. Tapi, dia masih belum mengetahui perasaanku."


E, eh?! Tunggu dulu! Aduh! Bayangan apa yang tadi itu?! Ada sesuatu yang aneh kurasakan di benakku. Eh? Bayangan gadis yang sama. Di kepalaku, aku bisa melihat gadis berambut pendek itu. Dirinya masih seperti anak kecil. Tapi anak kecil ini mirip sekali seperti gadis yang kulihat tadi.


Tunggu dulu! Apa jangan-jangan, gadis itu adalah 'Dia' ?


****


To be Continued-