Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 59 – Teman-teman Baru (2)



"Ka–kau kan ... ONIROSHI TERKUAT YANG MASIH HIDUP!" Takana menunjuk lalu ia berlari menghampiri Dylan. Saat di sana, Bell langsung bertanya tentang keadaan Takana. Lelaki muda itu hanya mengacungkan jempol dan tersenyum.


Lalu wajahnya mulai serius menatap wanita asing di hadapan mereka. "Aku lupa namamu, tapi aku tak lupa wajah dan rupanya. Dia ini benar-benar salah satu tokoh terkuat dalam sejarah Oniroshi!"


"Da–dari mana kau tau itu?" bisik Dylan di sampingnya.


"Aku tau dari Onii-chan. Dia ini adalah Oniroshi yang pernah mengalahkan belasan Onirida saat desa kami diserang oleh pasukan Oni! Solo, loh! Solo!" Takana menceritakannya dengan penuh semangat. Perasaannya antara tak percaya dan senang setelah bertemu dengan sang legenda. Sepertinya ia sangat menyukai kehebatan wanita itu.


"Sudah diceritain pun, aku masih tidak paham." Batin Dylan, lalu mengeluarkan wajah melasnya.


Wanita es itu pun tersenyum pada Takana. "Kisah lama, tak usah diungkit lagi." Lalu kepalanya sedikit meneleng. "Senang bertemu dengan kalian semua. Para Oniroshi muda."


Takana jadi senang mendengarnya. Dengan cepat ia membungkukkan badan, lalu memaksa tubuh Dylan untuk melakukannya juga. "Se–senang bertemu dengan anda dan terima kasih sudah menyelamatkan kami!"


"Hei, tunggu dulu!" Dylan menyingkirkan tangan Takana dari atas kepalanya, lalu menatap dingin pada wanita es tersebut. "Dia menyelamatkan kita? Datangnya aja telat!"


"Dylan-san! Bersikaplah yang sopan!" Takana membentak kecil, lalu menyenggol tubuh Dylan.


"Apa? Memang kenyataannya, kan? Irvan yang sudah mengalahkan dua makhluk tadi dan orang ini hanya datang disaat Irvan ingin menyerangku."


"Oh, kalau soal itu, sebenarnya aku sudah datang dari tadi!" Wanita itu menepuk tangannya sekali, lalu tersenyum manis pada Dylan. "Aku sebenarnya sudah lama pergi ke negara ini untuk mencari Oniroshi muda seperti kalian. Tak kusangka, ternyata di sini juga masih banyak, ya?


"Jadi setelah aku merasakan aura kalian di sekitar sekolah ini, aku akhirnya memutuskan untuk menyamar sebagai guru dan memperhatikan kalian secara diam-diam." Wanita itu menunduk menatap Irvan, lalu mengelus kepalanya. "Sekalian juga ... ingin menjenguk murid lamaku."


"Eh?! Siapa? Irvan?" tanya Takana.


"Iya. Sudah tiga tahun yang lalu aku mengubahnya menjadi seorang Oniroshi. Mungkin dia sudah lupa. Karena saat itu, pastinya menjadi saat-saat terburuknya."


Dylan dan Takana tidak tahu tentang masa lalu Irvan. Tapi yang mereka duga sekarang, kalau dulunya Irvan adalah manusia biasa. Mungkin karena suatu kejadian telah membuatnya menjadi anak yang memiliki kemampuan khusus dan menjadi salah satu dari Oniroshi yang tersebar di seluruh Asia.


Beberapa menit kemudian, Dylan mendengar suara kakaknya yang berteriak dari bawah. Lelaki itu pun menghampiri pagar pembatas atap dan berteriak memanggil kakaknya. Ternyata di bawah sana juga ada beberapa orang yang tak ia kenali.


Jadi untuk hari ini, mereka semua memutuskan untuk pergi ke rumah Dylan dan meninggalkan keadaan sekolah yang sudah kacau balau akibat serangan Oni. Tapi tak lama mereka pergi, beberapa murid di sana termasuk para guru juga mulai bangun kembali. Mereka tentu terkena melihat keadaan sekitar.


Mungkin kejadian itu adalah kejadian paling aneh yang mereka alami di sekolah.


...****************...


Saat tiba di rumah, para tamu berkumpul di ruang tengah. Sementara Fely ke dapur untuk mengambil minuman. Untuk pertama kalinya, Dylan memutuskan untuk bergabung dengan pembicaraan mereka karena ia ingin mengenal lebih banyak tentang Oniroshi.


"Guru! Guru baik-baik saja, kah?" tanya Zai dengan wajah cemas. Lelaki itu duduk di samping Wanita Es. Sementara Lea sedang duduk di teras belakang sambil memainkan burung kakak tua Dylan yang bernama Coki.


"Aku baik, kok! Tenang saja. Lagipula, aku belum menggunakan kekuatanku sama sekali." Jawab wanita itu. Lalu ia melirik ke Dylan dan memperhatikannya. Semuanya mungkin sudah kenal dengan dirinya. Tapi ia melihat satu anak yang masih asing di matanya, yaitu si Dylan.


Wanita itu mengulurkan tangan. Dylan yang sedang memperhatikan tingkah Tanaka dan Bell pun terkejut. Ia langsung melirik dengan tatapan khasnya ke si Wanita Es. "Y–ya?"


Wanita itu tersenyum manis pada Dylan dan ia mulai memperkenalkan diri. "Hai, namaku Asuka Takahashi. Yoroshiku nee~"


"Orang Jepang?" batin Dylan. Ia sedikit menaikan alis, lalu dengan ragu menggenggam tangan wanita itu. Terasa dingin sekali saat Dylan menyentuhnya. Tapi juga lembut. "Dylan Leviano."


"Nama yang bagus. Apakah kau juga seorang Oniroshi?"


"Hah? Aku–"


"Ah! Dylan-san ini adalah darlingnya Takana!" Takana menyela lalu merangkul lelaki di sampingnya. Dylan yang merasa tidak nyaman pun menjauh dari Takana. Lalu matanya kembali melirik ke Asuka.


"Aku secara tak sengaja telah bergabung dengan anak ini! Melakukan hal yang menjijikan dan berbahaya. Dia juga selalu membuatku kesal!" tegas Dylan pada wanita es di hadapannya. Lalu ia sedikit membuang muka dan melirik ke arah lain. "Aku hanya ingin hidup tenang. Jadi ... apakah ada cara agar aku bisa dipisahkan darinya?"


Seketika semuanya terkejut setelah mendengar perkataan Dylan. Begitu juga dengan Takana. Seketika wajah anak itu langsung berubah drastis. Ia tidak percaya dengan apa yang sudah didengarnya saat ini. Apalagi kata-kata itu keluar dari mulut darlingnya sendiri.


"Kau sungguh ingin dipisahkan dari tuanmu?" tanya Asuka dengan nada serius.


Dylan yang tak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk. Ia benar-benar ingin melakukannya, tapi masih belum tau dengan dampak yang ditimbulkan. Sampai akhirnya, Asuka memberitahu satu cara untuk bebas dari ikatan darlingnya pada Takana.


Namun sebelum itu, Fely kembali dengan membawa banyak minuman untuk teman-teman barunya. Ia meletakan minuman itu di atas meja, lalu menepuk tangannya sekali sambil tersenyum senang. "Nah! Sekarang diminum dulu, ya? Aku tau kalian semua pasti kelelahan karena pertempuran tadi."


Semuanya mengambil minuman itu. Lalu ia melirik ke arah Takana yang terlihat tidak bersemangat seperti sebelumnya. Karena merasa cemas dengan sikapnya yang tak biasa, Fely akan mencoba untuk bertanya padanya. Tapi lelaki itu langsung minta izin untuk keluar rumah sejenak dengan alasan ingin mencari udara segar.


Setelah Takana pergi, Dylan secara tak sengaja melirik ke Fely. Wanita itu menggunakan bahasa tubuh dengan arti ingin bertanya tentang keadaan Takana. Tapi Dylan sendiri juga tidak tahu. Jadi ia hanya menggeleng.


Namun entah kenapa tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang salah. Tapi ia tidak tau apa itu.


Setelah menghabiskan minumannya, Asuka menyentuh pundak Dylan lalu mengajaknya ke suatu tempat karena ada yang ingin ia bicarakan. Awalnya Dylan menolak. Tapi setelah kakaknya memaksa, ia baru ingin ikut. Lalu setelah itu, Fely pergi ke luar rumah untuk mencari Takana yang ternyata lelaki itu sedang duduk di samping kebun bunga di halaman depan. Dia sedang duduk termenung di sana sambil memainkan belalang kecil.


Di halaman belakang rumah, Dylan dan Asuka duduk bersampingan. Dylan tidak ingin membuang banyak waktu di sana dan ia pun memulai pembicaraannya. "Langsung ke intinya saja. Ada hal apa yang ingin kau katakan?"


"Oke, sebelum itu, aku tanya satu hal lagi padamu dulu. Kenapa kau ingin berpisah dari Tuanmu? Kau ini kan sudah menjadi Darlingnya."


Dylan menghela napas berat lalu melipat tangannya ke depan. "Aku hanya tidak suka saja pada anak itu. Lagipula ... dari awal, aku tidak ingin terlibat dengan ini semua. Melawan monster dan melindungi dunia. Apa untungnya bagiku? Aku kan cuma manusia lemah yang seharusnya tidak ikutan yang beginian."


"Jadi alasanmu hanya tidak suka saja berpasangan dengan Takana?" tanya Asuka lagi.


"Ya ... dia kan anaknya ceroboh, selalu memaksa dan polos banget! Pokoknya aku tidak suka padanya. Jadi ... aku ingin memutuskan hubungan ini dan kembali ke kehidupanku yang lama." Jelas Dylan, lalu membuang muka.


"Hei, apa kau tau?" Asuka tersenyum pada Dylan, lalu mengelus kepalanya. "Ada satu cara untuk merubah kehidupanmu menjadi seperti dulu lagi dan kau tidak akan bisa melihat Takana lagi. Apa kau yakin ingin tau caranya?"


"Ya ... coba langsung kasih tau aja. Asal tidak merugikan untukku."


"Cara satu-satunya adalah ... membunuh Tuanmu sendiri."


"Hah?!"


Asuka berdiri, lalu berjalan melewati batu taman dan melipat tangannya ke belakang. Tanpa menghadap ke Dylan, wanita itu akan mulai menjelaskan sesuatu. "Menjadi Darling adalah tanggung jawab yang besar. Mereka harus bisa selalu untuk melindungi Tuannya dan memberikan dukungan yang terbaik. Kami saling mempercayai satu sama lain.


"Jadi, jika kau ingin terpisah dari Takana. Kau yang sebagai Darlingnya harus bisa membunuh Tuanmu sendiri. Dengan begitu, kalau Tuanmu sudah tidak ada, maka kehidupanmu akan kembali seperti semula.


"Tapi karena niatmu ingin dipisahkan dari Tuanmu. Kau telah membuat Takana ketakutan dan hilang rasa percayanya padamu. Dia itu sudah menganggapmu bukan sebagai Darling biasa. Tapi sahabat dekat yang sangat diinginkannya. Kau sendiri juga sama, kan? Pastinya ... kau ingin sekali memiliki seorang teman yang setia padamu."


Asuka berbalik badan dan menghadap ke Dylan yang masih mendengarkan. "Kau mungkin menganggap Takana itu menyebalkan, kan? Tapi walau begitu, sebenarnya dia memiliki hati yang baik, setia dan penolong. Sudah banyak nyawa yang ia selamatkan, termasuk nyawamu juga. Aku yakin suatu hari nanti, kalian berdua pasti akan saling membutuhkan."


"Jadi, pikirkanlah lagi sebelum membuat keputusanmu sendiri. Apa kau yakin ingin dipisahkan dari Takana? Maka bunuhlah dia jika kau mau melakukannya." Penjelasan pun diakhiri. Asuka kembali masuk ke dalam dan meninggalkan Dylan yang masih duduk di pinggir teras.


Lelaki itu sedikit bingung. Ia menggaruk kepala sambil menunduk. Setelah mendengar perkataan Asuka, Dylan jadi teringat dengan masa-masanya saat bersama Takana. Ucapan wanita tadi itu benar. Sejak Takana hadir di dekatnya, kini hidupnya jadi berbeda. Penuh tantangan dan bahaya. Tapi Takana selalu hadir untuk melindunginya setiap saat, walau tingkahnya selalu membuat Dylan kesal.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin menjadi diriku yang lama. Tapi tidak harus melenyapkan siapapun." Dylan membaringkan tubuhnya di teras. Menatap atap rumah dan langit biru dari sana. Karena silaunya cahaya matahari, ia pun menutupi setengah wajahnya dengan tangan.


"Sepertinya ... aku harus terima kenyataan ini."


*


*


*


To be continued–