Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 21~ Study tour, part 3



____________________________________________


"Nih, jadi seperti ini ceritanya," Seorang anak perempuan bernama Kiky Titania, memulai cerita horornya. Semua mata terpaku padanya. Semuanya mulai menyimak dengan posisi duduk mereka masing-masing.


Takana yang masih menggunakan tubuh Dylan duduk di depan tenda besar sambil memeluk lipatan kasur yang ia sebut futon itu. Samping kirinya ada Irvan-san dan samping kanannya ada Kei. Ia tersentak saat melihat lelaki itu.


"Eh! Sungguh. Tadi Kei-san tidak ada di sampingku. Ah, tapi ya sudahlah ...."


Lanjut ke cerita horror si Kiky. Tapi sebelum itu, kenalan dulu dengan semua murid kelas 3-A. Kelas 3-A memiliki 18 murid. Takana akan memberitahu nama mereka semua setelah ia berkenalan dengan semuanya.


Pertama, dimulai dari ketua kelas 3-A. Yaitu, seorang lelaki bernama Adrian Martadinata. Umur 18 tahun. Pintar Biologi dan IPS. Dia anak yang baik dan memiliki sifat kepemimpinan.


Kedua, wakil ketua kelas, si perempuan muda berumur 18 tahun bernama Nirmala Putri. Pintar Bahasa Indonesia. Anak yang tegas dengan sifat kedewasaannya.


Murid lainnya ada: Lilo Firmansyah, 18 tahun. Ailani Putri, 17 tahun. Alif Mastriawan, 18 tahun. Kristiano Lay, 18 tahun. Natasya Meilonia, 17 tahun. Zein Altariq, 18 tahun. Banu Bimonarto, 19 tahun. Dhany Lianta, 18 tahun. Diana Nasution, 18 tahun. Dian Marshanda, 18 tahun. Evan, 18 tahun. Dan yang terakhir, Kiky Titania, 17 tahun.


Sudah. Sekarang, saatnya cerita!


Kiky melanjutkan. "Ini kisah nyataku. Sungguh! Aku pernah mengalami hal ini. Jadi, kalian simak baik-baik, ya? Horror pun dimulai!"


****


Chapter 21: [ Study tour, part 3 ]


****


"Ayo mulai, Ki!" ujar temannya Kiky.


Kiky pun mengangguk. "Nah, jadi... pada suatu hari, aku sedang berjalan sendirian pada tengah malam. Tepatnya aku berjalan pada jam 11 malam. Nyaris jam 12 tepat, sih."


"Wah, seram. Pasti gelap, ya?" tanya Dian.


"Ya..., tidak terlalu." Kiky menggeleng. "Lampu jalan membantu pengelihatan ku pada jalan yang gelap." Lanjutnya.


"Oh..., lalu hal apa yang kau alami?" Natasya terlihat penasaran sekali dengan kelanjutan cerita Kiky.


"Malam itu, aku habis pulang dari rumah nenekku. Aku berjalan sendirian. Lalu, aku melewati sebuah rumah tua yang sudah terbengkalai. Kan iseng-iseng aja, aku melirik ke dalam rumah itu. Lalu, tak sengaja aku melihat bayangan putih yang berdiri di sudut ruangannya. Pada awalnya aku terkejut, tapi aku berusaha untuk tidak mempercayai keberadaan makhluk itu. Aku mungkin salah lihat, ya?" Kiky menggaruk kepalanya sambil mengeluarkan tawa kecilnya.


"Ah, itu pasti sosok Kuntilanak. Kalau tidak, mungkin itu pocong!" timpal seorang lelaki yang bernama Lilo itu.


Lalu, sang ketua kelas juga ikut menanggapi. "Mungkin itu cahaya bulan yang masuk lewat celah atap rumah yang sudah rusak. Siapa tahu saja, di dalam rumah itu kan gelap, jadi kemungkinan besar kita bisa melihat cahaya bulan yang tembus melewati atap rumah."


Lay menggeleng. "Eeeeh, tapi masalahnya, kenapa cahaya itu bisa terlihat berdiri? Dan tempatnya di pojok ruangan, pula!"


Adrian mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng pelan. "Yaa..., itu sih menurutku. Tapi, terserah kepercayaan kalian saja."


Semuanya kembali menatap Kiky lagi. Mereka penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Apalagi si Dian dan Natasya yang sangat menyukai cerita horror.


"A–ayo lanjutkan ceritamu!"


"Ah, iya!" Kiky kembali membuka mulutnya setelah teman-temannya itu puas mengomentarinya. "Aku juga tidak percaya dengan apa yang aku lihat itu. Tapi, entah kenapa aku jadi merasa takut saat itu. Aku pun dengan cepat, langsung berlari dari tempat itu. Dan akhirnya, aku bisa sampai di rumah dengan selamat."


"Tamat~deh! Iya, kan?" Alif tiba-tiba saja menyela. Semuanya kaget. Begitu juga dengan Kiky.


"Eh, belum tamat lagi, tahu!" tandas Kiky.


"Eh, belum, ya? Ya sudah lanjutkan saja."


"Huf! Jadi, setelah sampai di rumah, aku langsung bersiap-siap untuk tidur. Aku tidur di kamarku. Dengan nyaman, aku langsung menutup mataku saat sudah beranjak naik ke tempat tidur. Tapi sebelum itu, aku sempat melihat ke jendela. Aku terkejut. Karena, di jendela itu, aku melihat ada sosok bayangan berbentuk seperti manusia. Karena merasa takut, aku pun langsung bersembunyi dibalik selimutku. Aku sangat ketakutan saat itu."


"Iya, lah. Pastinya menyeramkan. Apalagi kalau sedang berada di kamar, tidak ada yang menemani." Kata Lay.


"Yaa..., aku memang lagi sendirian saat di kamar. Badanku gemetar. Lalu, secara perlahan aku kembali membuka selimutku dan sedikit mengintip ke arah jendela. Ternyata, sosok bayangan itu sudah menghilang. Aku merasa lega dia sudah pergi. Hah, jadi..., begitulah ceritaku. Jadi, sosok itu siapa?" Kiky melanjutkan ceritanya.


"Entahlah. Bagaimana dengan kalian?" Adrian menggeleng pelan. Matanya melirik ke arah teman di sebelahnya.


Semuanya menggeleng. Lalu, tak lama kemudian, mereka melirik ke arah Aprilia-sensei. Aprilia-sensei sendiri pun terkejut saat melihat para muridnya yang tiba-tiba menatap dirinya.


"Eh, Ibu juga tidak tahu. Tapi, itu tergantung kepercayaan kalian masing-masing."


"Kalau menurut Ibu guru, sosok itu seperti apa?" tanya Kiky.


"Yaah..., Ibu sendiri juga tidak tahu karena Ibu juga belum pernah melihatnya."


Semuanya mulai berbisik. Saling berbicara dengan temannya yang lain. Membicarakan tentang sosok yang ada di dalam cerita Kiky itu. Ternyata, sampai segitunya semua ingin mengetahui sosoknya.


Takana pikir, itu pasti Oni. Kan seram kalau itu memang Oni. "Kalau Dylan-san sendiri yang melihat sosok itu, bagaimana eskpresinya, ya?"


****


Banyak orang yang bercerita horror yang aneh-aneh. Takana juga agak sedikit bosan mendengarnya. Lalu setelah puas bercerita, Aprilia-sensei pun meminta para muridnya untuk mengambil kasur mereka masing-masing.


Untung Takana sudah mengambilnya. Karena jujur. Ia agak sedikit takut dengan salah satu dari cerita horror mereka. Kasur-kasur itu terletak di bawah pohon yang besar itu.


Setelah mengambil kasur, mereka pun kembali ke arah api unggunnya. Aprilia-sensei meminta semuanya untuk menggelar kasur mereka, karena kita semua akan melihat bintang di langit. Semua murid hanya bisa menurut.


Setelah semuanya berbaring di atas kasur, mereka mengobrol dengan temannya sambil menatap ke atas langit. Aprilia-sensei juga ikut bergabung.


Di atas, langitnya memang penuh bintang. Terlihat indah sekali kalau menurut Takana. Tapi semoga saja tidak turun hujan malam ini. Jika turun, akan sangat merepotkan.


Semuanya memandang ke langit. Aprilia-sensei sedang membacakan sebuah cerita. Mereka sudah seperti anak kecil saja. Dibacakan sebuah cerita oleh guru untuk membuat mereka tertidur.


Ternyata benar. Pada pukul 10 malam, semuanya pun mulai menutup mata mereka. Angin malam yang sejuk telah membuat kenyamanan dan selimut hangat itu akan melapisi tubuh mereka agar tidak kedinginan.


Takana pun juga seperti itu. Tanpa sadar, matanya menutup dengan sendirinya.


Tapi tak lama ia menutup mata, ia merasakan dingin di kaki. Lalu menarik kakinya sampai terselimuti. Matanya terbuka sedikit saat ia membuka mata, ia melihat Aprilia-sensei mulai beranjak dari tempatnya.


Guru itu tidak memasuki tenda, atau ke tempat lainnya yang tidak jauh dari para muridnya. Aprilia-sensei berjalan memasuki hutan. "Di jam yang hampir tengah malam begini, apa yang akan Aprilia-sensei lakukan, ya?"


"Ah...,"


Tak lama setelah keluhannya, ia pun bisa sedikit membuka mata. Takana melihat tangannya mengeluarkan cahaya biru. Hanya hitungan detik saja. Karena rasa kantuknya yang semakin berat, ia pun kembali menutup mata dan akhirnya bisa tertidur nyenyak sampai pagi.


****


Keesokan harinya-


Takana kembali terbangun.


Lebih tepatnya itu bukan Takana lagi. Tapi beneran Dylan yang telah menggunakan tubuhnya. Lelaki itu membuka mata.


Saat ia lihat, langit-langit kamarnya kok ada yang berbeda. Warnanya seperti jingga dengan beberapa awan yang masih terlihat kehitaman. Langit pagi. Warna itu seperti langit di pagi hari.


"Eh! Tunggu dulu!"


Dylan langsung terduduk. Membuka selimutnya dan melirik ke sekitar. Iasangat terkejut. "Kenapa? Ada apa? Dan bagaimana?" Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya. Jadi ia pun menyebutkannya satu persatu dalam hati.


"Kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini? Apa yang telah terjadi? Bagaimana bisa aku ada di sini? Ini di mana? Yang kuingat, aku sedang berada di kamarku, dan.... Oh iya! Takana! Si cowok Jepang itu menciumku semalam!"


Dylan melirik ke samping kirinya. Di sana, ia melihat ada Takana Utsuki yang sedang tertidur nyenyak. Letaknya tak jauh dari tempatnya. Bahkan, kalau dilihat lebih detail lagi, jarak antara Takana dengannya tidak sampai 1 cm. Mereka sangat dekat.


Takana memakai baju tidurnya yang semalam. Sedangkan Dylan. Sudah berganti baju. Ia memakai jaket Hoodie miliknya yang entah siapa yang memakaikannya.


Lalu satu pertanyaan lagi. "Kenapa aku tidur di dalam lingkaran dan ada beberapa orang di dekatku? Mereka itu ternyata teman-teman sekelasku!"


Dylan celingak-celinguk. "Eh, tunggu dulu. Apa jangan-jangan ini, Study tour yang Bu April katakan? Tapi, kalau memang iya, kenapa aku tidak tahu kalau aku sudah mengikuti Study tour ini. Ah, sudahlah. Aku merasa pusing." Kepalanya jadi sakit saat memikirkan itu semua.


Dylan pun beranjak dari kasur yang ia tempati. Lalu, ia melangkahkan kaki. Ia akan mencoba untuk berkeliling tempat itu. Ternyata di sana mobil Busnya. Dari tempatnya berdiri, Dylan bisa melihat kendaraan beroda empat itu. Ia pun menghampiri mobil.


Saat di sana, Dylan hanya bisa melihat mobilnya yang besar dari depan saja. Ia tidak bisa masuk ke dalamnya. Pintu mobilnya masih tertutup dan dikunci. "Hah, padahal aku ingin masuk ke dalamnya. Jika bisa, aku ingin mencuri kunci mobilnya, lalu menjalankan Bus ini sampai ke rumahku kembali. Aku ingin pulang rasanya." Dylan berniat ingin membawa mobil itu untuk sampai ke rumahnya. Itu juga jika ia memiliki kuncinya.


Dylan kembali melangkahkan kaki untuk melihat ke belakang mobilnya Tapi tiba-tiba saja langkahnya tersentak saat seseorang memanggil namanya. Dylan sangat mengenal suara itu.


"Dylan, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Lelaki itu menengok ke belakang. Ternyata suara lembut yang didengar itu adalah suara dari Wali kelasnya sendiri, Bu April.


"A–aku hanya ingin mencari angin segar." Jawab Dylan agak sedikit ragu.


"Oh. Ayo ikut ibu. Kita jalan-jalan sebentar sambil mencari angin yang kau mau itu." Ajak Bu April. Dylan pun menurut. Dari belakang, ia mengikuti langkahnya.


Bu April mengajaknya masuk ke dalam pepohonan. Mereka melewati jalan sepetak yang dikelilingi oleh banyak tumbuhan hijau. Bu April melambatkan langkahnya sampai ia bisa berjalan di samping Dylan. Dylan pun melirik ke wajah gurunya. Ekspresinya seperti sedang senang.


Namun tiba-tiba saja muncul perasaan tidak enak yang mengganggunya. Dylan mengelus leher belakangku sambil sedikit bergumam. "Sungguh! Perasaan tidak enak apa ini yang tiba-tiba muncul?" Ia jadi merinding. Mungkin karena hawa dan angin pagi yang membuatnya kedinginan.


Mereka berjalan sampai di atas jembatan gantung yang dibawahnya ada sungai dengan air yang deras. Mereka melewati jembatan itu. Tapi tiba-tiba saja, Bu April menghentikan langkahnya. Dia menghadapkan tubuhnya ke pembatas jembatan.


"Lihat, kan? Angin pagi di sini sangat menyegarkan. Apalagi, saat melihat air sungai yang mengalir deras di bawah sana. Tidak hanya itu, mata juga pasti akan terpaku dengan keindahan alam di sini." Ujar Bu April mendeskripsikan apa yang ia lihat di depan mata.


Dylan hanya bisa mengangguk. Lalu ia pun menghembuskan nafas panjang dan berusaha untuk bernafas secara normal seperti manusia pada umumnya. Ia juga memandang pemandangan alam yang bisa dilihat dari tempatnya berdiri saat ini. Sangat indah. Apalagi, ditambah dengan pemandangan Sunrise yang menawan.


"Dylan? Eh, apa kau tidak pergi ke Jepang lagi untuk menemui kakakmu?" Bu April kembali bertanya pada Dylan. Lelaki itu tersentak sekaligus bingung dengan perkataan Bu April itu.


"Maksud Ibu apa, ya?" Ia sedikit menelengkan kepala.


"Yah..., kau bilang, Kakakmu sudah mati di Jepang. Jadi, apakah kau mau bertemu dengannya lagi? Kalau iya, Ibu bisa membantumu."


Dylan mengerutkan keningku. Ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan gurunya yang satu itu. "Maksudnya apa, sih?"


Bu April menengok ke arahnya. Dylan memasang wajah terkejut saat menatap ekspresinya saat ini. Wajahnya terlihat menyeramkan. Matanya berubah menjadi warna kuning dan senyum manis itu mengeluarkan banyak gigi-gigi runcing.


"Eh?! Apa yang telah terjadi pada Guruku?!"


ZLUUUURR....


Dylan melirik ke arah lain. Tepatnya melirik ke punggung Bu April yang tiba-tiba saja mengeluarkan bayangan hitam berbentuk seperti tentakel atau sejenisnya. Intinya, seperti tali tebal yang menjulur panjang dan menggeliat seperti cacing kepanasan. Tidak hanya satu tentakel, tapi ada banyak.


Dylan akan pergi dari tempat itu. Tapi jalan untuk kembali ke teman-temannya telah dihalangi oleh Bu April. Ia tidak bisa ke mana-mana. Tingkahnya semakin aneh dan tidak terkendali.


Satu-satunya jalan adalah masuk ke dalam hutan itu. Lebih memperdalam hutannya. "Tidak apa, yang penting aku bisa pergi menjauh dari makhluk aneh yang kupanggil guruku itu."


Secepatnya, Dylan pun berbalik badan dan kembali melangkahkan kaki. Ia mulai berlari menjauh dari makhluk itu. Tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti.


ZLEB!


"AKH! HOEEK!"


Dylan merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Ia menundukkan kepala dan melirik ke bawah. Darah mulai menetes dari dalam mulutnya. Ia melihat tentakel hitam itu di hadapannya. Ternyata, tentakel itu berasal dari Bu April yang telah berubah menjadi monster.


Tentakel itu berhasil menangkapnya dan menusuk perutnya. Dylan tidak bisa bergerak, dan hanya bisa merasakan pedihnya luka di tubuhnya akibat dari serangan tentakel tersebut.


Lalu, tanpa sengaja, Dylan mulai mengeluarkan teriakannya karena merasa kesakitan. "AAAAAAKH!"


****


"HAH?! DYLAN?!"


Takana membuka matanya dengan cepat. Fely dan Tanaka yang berada di suatu tempat juga ikut terkejut. Sepertinya mereka mendengar teriakan Dylan.


Dylan tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Darah dari lukanya juga masih mengalir. Lalu tak lama kemudian, tentakel itu kembali melepaskannya dan tentakel yang menusuk perutnya itu menjulur kembali ke belakang. Seketika, mulutnya kembali mengeluarkan darah dan tubuhnya pun terjatuh di tempat.


"Ya Tuhan, apa aku akan mati di tangan guruku yang telah menjadi monster itu?"


*


*


*


To be Continued-