Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 57 – Lucid & Lucia



"Aoi Tama!"


"Mizu Piasu."


Takana dan Irvan mengeluarkan jurus mereka masing-masing untuk menyerang Lucid. Tapi karena pertahanan Oni Itu terlalu kuat karena elemennya, mereka berdua jadi kesusahan dan hanya buang-buang tenaga.


"Ah, hambar banget." Lucid tidak merasakan sakit dari beberapa serangan Tanaka dan Irvan. Ia menghilangkan sedikit zirah batunya, lalu menyiapkan cambuk ular yang merupakan senjatanya. "Sekarang giliran aku, ya?"


Lucid mulai mengayunkan cambuknya ke arah sasarannya. Tanaka dan Irvan melesat cepat untuk menghindarinya dan sesekali mereka juga kembali menyerang dengan kekuatan fisik, maupun skill mereka masing-masing.


Karena merasa kesal serangannya tidak ada yang mempan, Takana jadi tak sengaja mengeluarkan jurusnya yang lebih kuat. Tapi saat ia ingin menggunakannya, dirinya jadi lengah dan pada akhirnya tubuh kecilnya pun terkena tali kuat dari cambuk tersebut hingga dirinya terpental dan menabrak tembok bangunan.


Irvan ingin membantu temannya, tapi tiba-tiba ia merasa ada satu serangan kecil yang mengarah padanya. Dengan cepat, Irvan pun mundur ke belakang. Tak lama, sebuah jarum besar menancap di tempatnya berdiri tadi.


Lelaki itu langsung mendongak untuk mencari si penyerang yang bersembunyi tersebut. Sementara si Lucid yang sudah tahu keberadaan adiknya pun melakukan komunikasi telepati.


"Hei ... kau diam saja. Kan dia mangsaku," ujar Lucid pada Lucia lewat pikiran mereka.


"Kau terlalu lama," balas Lucia. "Aku khawatir kalau nanti akan ada masalah lagi yang akan datang."


"Ah ... aku sedang bermain-main dulu. Lagi seru~"


"Kau ini. Jangan sampai membunuh mereka. Tugas kita hanya untuk menangkap salah satu Oniroshi aja, setelah itu pulang. Mau tangkap banyak sih lebih bagus." Di tempatnya, Lucia kembali mengisi senapannya dengan jarum yang sudah ia berikan air liurnya yang beracun. "Sudah. Langsung aku lumpuhkan saja mereka, setelah itu kita pulang. Si Kucing itu juga sudah selesai."


"Aah ... Kucing yang menyebalkan." Lucid menggaruk kepalanya, lalu kembali menangkis serangan Irvan. Sambil berkomunikasi, ia juga masih fokus dengan lawannya yang ia anggap lemah. "Jangan dulu jangan. Bentar lagi, plis~"


Di halaman sekolah dekat dengan lapangan, Bell Masih bersembunyi di salah satu pohon. Sementara Dylan yang sebelumnya terjatuh ke atas pohon itu pun memutuskan untuk tetap diam di atas dahannya sekalian ia juga memanfaatkan daun-daun yang rimbun untuk tempat persembunyian.


"Dylan! Darlingmu tadi kelempar! Apa mau tidak mengkhawatirkannya?" tanya Bell yang terlihat panik. Ia ingin memeriksa keadaan Tanaka yang tergeletak agak jauh di dekat gedung sampingnya. Tapi ia tidak berani keluar karena Oni Itu.


"Ah, dia kan kuat. Mungkin cuma lagi istirahat bentar di sana." Jawab Dylan yang masih mengamati pertarungan Irvan dengan serius. Tapi ocehan Bell di bawah pohon itu telah membuatnya sedikit geram.


"Irvan juga sudah hampir mencapai batasnya dan Oni Itu terlihat masih baik-baik saja. Kita harus lakukan sesuatu untuk membantu mereka, Dylan!"


"Tapi apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia biasa?! Kita tidak punya kekuatan khusus."


"Tapi setidaknya lakukan sesuatu sekarang! Untuk membantu teman-teman kita!"


"Duh ... aku harus apa?!" batin Dylan yang kebingungan. Ia sebenarnya juga ingin membantu. Tapi ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


Saat memperhatikan pertarungan di depannya, ia melihat Irvan jadi lebih gugup untuk menyerang daripada sebelumnya. Entah apa yang membuatnya takut untuk mengeluarkan skillnya lagi. "Dia ... sedang menghemat energi atau ...."


"Ugh," Saat Irvan ingin maju, tiba-tiba saja sebuah jarum besar itu selalu melesat ke arahnya. Membuat ia harus terus menghindarinya dan juga menghindari serangan dari Lucid.


Sampai akhirnya, sebuah tinju besar mengarah padanya. Karena mendadak, secara tak sengaja ia pun menggunakan lengannya untuk menangkis dan melindungi wajahnya. Tapi karena kerasnya pukulan itu membuat tubuh Irvan terdorong ke belakang dan kedua lengannya jadi terasa sakit. Bahkan ia sempat mendengar suara "krek" dari dalam tubuhnya.


Melihat pergerakan baru Irvan, membuat Dylan menyadari sesuatu. Ia membulatkan mata, lalu bergumam, "Dia ... seperti sedang menghindari sesuatu. Maka dari itu ia ragu untuk menyerang bebas karena ancaman dari serangan lain yang belum ia ketahui asalnya."


Dylan menatap langit. Serangan yang dihindari Irvan datangnya selalu dari atas. Tapi di langit tidak ada apa-apa. Saat ia ingin menurunkan lirikan mata, tak sengaja ia menemukan sosok lain yang mencurigakan di atas gedung ketiga sekolahnya. Yaitu berada di samping gedung dua, tempatnya saat ini. Karena dari atas pohon, Dylan jadi bisa melihat sosok tersebut.


Matanya yang tajam pun mulai memperhatikan gerak gerik sosok tersebut. Lalu tak lama, ia melihat sosok itu mengangkat sebuah sniper dan mengarahkannya ke bawah. Saat dilihat arah sasarannya, ternyata arah tembak dari senjata itu mengarah ke lapangan. Tepatnya ke pertarungan Irvan dan Lucid yang masih berlangsung di bawah sana.


"Itu dia!"


Secara perlahan, Dylan pun turun dari atas pohon itu. Langkahnya saat melompat dari atas pohon membuat Bell terkejut dan langsung memukul punggung Dylan. "Jangan ngagetin, dong!"


Di tempatnya, Takana kembali bangun secara perlahan sambil menyentuh lengan kanannya. Ia merasa tubuhnya sakit semua karena benturan tadi. Bahkan langkahnya saja sudah terlihat pincang.


Dari sana, ia melihat Irvan yang berusaha untuk mengalahkan Oni itu. Takana tidak tahu sampai kapan Irvan bisa bertahan. Sekarang ia sudah tidak bisa bantu karena tenaganya abis. Jadi secepatnya, ia pun kembali mengumpulkan energi untuk segera membantu Irvan.


Di tengah lapangan, Irvan sudah mengeluarkan seluruh skillnya. Tapi ia masih belum menyerah sekarang. Untuk mengembalikan sedikit energi, ia melemparkan sebuah buih air, lalu saat di langit, buih itu pun menjadi besar dan semakin besar. Lalu tak lama, buih tersebut menjatuhkan banyak tetesan air sampai terbentuk hujan yang dibuat Irvan.


Dengan air-air yang berjatuhan itu, ia berencana ingin mengeluarkan sesuatu yang mungkin bisa membuatnya jadi tambah kuat. Tapi saat ingin membentuknya, tiba-tiba saja Lucid kembali memukulnya. Irvan langsung menyilangkan tangan ke depan dan menangkis serangan tersebut. Dirinya terseret ke belakang sejauh tiga meter.


Sekali lagi, lelaki itu merasakan sakit yang luar biasa pada lengannya akibat pukulan tadi. Kakinya pun melompat ke belakang untuk menjaga jarak, sementara ia ingin mengeluarkan satu skill barunya. Tapi lagi-lagi sebuah jarum besar itu kembali muncul dan membuat konsentrasi Irvan jadi terganggu. Ditambah si Lucid yang mulai semakin brutal menyerangnya.


Hujan buatannya masih terus berlanjut. Hujan itu akan berhenti saat buih raksasa di langit itu menghilang. Irvan harus menggunakan kesempatan itu karena air hujan dan cuaca mendung akan mendukungnya untuk mengeluarkan sebuah skill tersembunyi. Tapi ia masih belum bisa menggunakan karena terganggu oleh serangan musuhnya.


Melihat temannya yang sudah tidak bisa menyerang, membuat Takana berinsiatif ingin kembali membantunya. Tanpa memenuhkan energinya, Takana berlari cepat menghampiri Lucid dan menyerangnya dengan tenaga fisik.


Auranya yang berwarna biru kembali mengelilingi tubuhnya. Takana melemparkan bola-bola api pada lawannya. Ia yang akan mengalihkan perhatian musuh, sementara Irvan akan mengeluarkan tenaga terakhirnya yang mungkin bisa langsung mengalahkan si Oni.


"Hah, kakak menyebalkan," gumam Lucia saat melihat Takana yang kembali pulih itu menyerang saudaranya lagi. Ia tidak bisa menunggu lebih lama dalam pertarungan yang membuatnya bosan. Jadi mau tidak mau, ia akan mengakhirinya sekarang.


Gadis itu mengisi pelurunya kembali, lalu mengarahkan senapannya ke arah Takana. Saat ia telah mengunci sasaran, tiba-tiba saja ada yang mengguncang tubuhnya dengan keras. Gadis itu pun langsung menoleh ke belakang, lalu ada orang lain lagi yang telah menendang senjatanya sampai terlepas dari genggamannya.


Orang itu adalah Dylan dan Bell. Setelah menendang senapan itu, Dylan pun menginjaknya dengan niat ingin menghancurkannya. Tapi tidak bisa. Hanya merusaknya sedikit. Lalu karena usahanya sia-sia, Dylan memutuskan untuk merebut senjata itu saja dan langsung mengarahkannya pada si gadis Oni.


"Jangan bergerak!" tegas Dylan. Lalu secara perlahan menghampiri si gadis Oni sambil terus membawa senjata itu yang sebenarnya sangat berat. Tapi Dylan tetap memaksa tubuhnya untuk kuat mengangkat senapan tersebut. Terlihat keren di mata Bell. "Kau sudah terpojok sekarang dan jangan ganggu mereka!"


Lucia hanya menyipitkan mata. Ia tidak takut dengan ancaman tersebut. Tangan kanannya yang ia sembunyikan di belakang pun mulai bergerak. Jari-jarinya seakan sedang mengendalikan sesuatu.


Dylan sudah merebut senjatanya. Kemungkinan besar, Lucia tidak akan bisa mengganggu Takana dan Irvan lagi. "Sepertinya aku sudah bisa membantu mereka sekarang."


DUAR!


Dylan dan Bell tersentak kaget. Begitu juga dengan Lucia yang sebenarnya sedang mengarahkan satu mochi bom ke belakang Dylan dan Bell. Tapi karena ia juga ikut kaget, mochi yang ia kendalikan pun gagal dan menghilang. Kemudian gadis itu berbalik badan. Sementara Dylan dan Bell tetap berdiri di tempat mereka. Di sana, mereka melihat sebuah cahaya biru yang turun dari langit.


Lucid dan Lucia berhenti menyerang sejak mereka melihat gelembung besar dengan garis cahaya biru yang turun dari langit mengenai tubuh Irvan. Kedua Oni Itu merasakan kekuatan besar. Lucia kembali berkomunikasi dengan kakaknya lewat pikiran mereka.


"Aku bilang juga apa? Cepat kalahkan dia saja!" tegas Lucia.


"Tch!" Lucid berdecih, lalu secara mendadak, ia memukul Takana yang sedang menatap Irvan. Kemudian berlari menghampiri Irvan yang tubuhnya telah diselimuti oleh bola-bola air yang mengelilinginya. Dengan senjata Cambuk Ular, Lucid membanting ujung cambuk itu langsung ke arah Irvan.


Namun saat ujung cambuk yang menyerupai kapak itu mengenai gelembung Irvan, tiba-tiba saja ledakan kecil terjadi yang menyebabkan kapak itu terpental kembali ke pemiliknya. Geram dengan serangannya yang tak berhasil, Lucid kembali mengarahkan ujung kapak itu ke Irvan. Tapi lagi-lagi hasilnya tetap sama.


Sampai tak lama kemudian, Irvan kembali membuka mata. "Eepontaruu." Dua buah gelembung air pun menghampirinya. Dengan cepat, Irvan menggenggam kedua gelembung itu dan seketika gelembung tersebut berubah menjadi dua senjata kecil yang bisa Irvan gunakan.


Setelah mendapatkan senjata, Irvan melompat keluar dari dalam gelembungnya dan menunjukkan penampilan barunya bersama dengan kedua senjata yang baru saja ia dapatkan tersebut.


Setengah rambut Irvan berubah jadi warna biru. Tubuhnya terlihat dialiri cahaya listrik. Senjata yang ia dapatkan adalah dua buah Keris yang ia namai dengan Keris Halilintar. Kini kekuatan elemennya pun berubah. Elemen airnya sekarang telah bergabung dengan elemen petir yang entah bagaimana ia bisa mendapatkannya secara tiba-tiba.


Irvan menggenggam kedua kerisnya yang dialiri listrik, lalu bergerak cepat menghampiri Lucid dan langsung menyerangnya secara brutal.


...****************...


To be continued–