Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 67– Supermarket



Saat pukul 8 pagi, Fely dan Asuka selesai membuat sarapan. Setelah masakan matang, Fely langsung berteriak memanggil yang lainnya untuk segera pergi ke dapur dan makan pagi bersama. Semua penghuni rumah langsung menghampiri dapur.


Sayangnya kursi di depan meja makan itu tidak cukup untuk semua orang. Karena kursi di sana hanya ada 6 buah. Sedangkan orang datang seluruhnya berjumlah 9 orang. Gadis kecil tadi tidak termasuk hitungan karena dia tidak ikut sarapan karena masih tidur di kamar.


Karena kursinya tidak cukup untuk semua orang, mereka memutuskan untuk makan di lantai saja. Fely dan Asuka hanya memasak mie instan. Alasan mereka adalah bahan makanannya habis, jadi tidak bisa membuat makanan apapun.


Saat ingin menyeruput mie nya, Dylan mendengar kakaknya (yang duduk di sampingnya) berbisik padanya. Dylan pun mendengarkan.


"Nanti abis ini, temenin kakak ke supermarket, ya? Beli bahan yang abis buat besok."


Dylan hanya mengangguk. Ia langsung menerimanya karena dirinya juga bosan di rumah terus. Bisa saja nanti saat pulangnya, Dylan mengajak kakaknya ke Toko Buku untuk membeli komik kesukaannya lagi.


"Kan kalau ajak kakak, apa aja bakal dibayarin." Batin, Dylan lalu mulai memakan mienya.


"Umm ... Takana masih belum paham soal Sel Siluman itu." Takana kembali meletakkan mangkuk makannya di lantai. Lalu ia bertanya pada Asuka, "Memangnya itu makhluk seperti apa dan asalnya dari mana? Kenapa bisa kena Onii-chan?"


"Makhluk itu seperti parasit yang dapat mengendalikan pikiran manusia. Kadang mereka juga menurut oleh si penciptanya yang entah itu siapa."


"Bukankah para Onirida yang menciptakan makhluk itu?" tanya Divan yang duduk di samping Asuka.


Asuka hanya mengangkat bahu, lalu tersenyum. "Entahlah~ Bisa saja salah satu dari mereka. Para Onirida masih berkumpul di suatu tempat di negara ini. Maka dari itu, aku pindah ke sini untuk mencaritahu keberadaan mereka."


"Eh? Apakah tempat yang dibilang Dylan-san banyak foto para Oniroshi itu adalah markas mereka di negara ini?" tanya Takana, lalu ia melirik ke Dylan. "Dylan-san pernah ketangkap oleh mereka saat itu."


"Eh, benarkah? Bukannya yang diincar mereka itu para Oniroshi? Tapi kenapa Dylan yang kena?" gumam Zai.


"Dylan hanya untuk umpan. Sasaran mereka adalah Takana. Karena Dylan dekat dengan Takana, jadinya ya ... Dylan jadi incaran pertama mereka sampai Takana datang menjemput dan akhirnya mereka juga akan menjebak Takana di sana." Jelas Asuka.


"Saat itu ... ada aku juga di sana," ujar Tanaka sambil mengaduk-aduk mie nya. "Untungnya Dylan datang dan membebaskanku dari sana."


"Eh? Apa kau ke sana seorang diri dengan kekuatan yang lemah, lalu pada akhirnya kau juga tertangkap di sana?" tanya Zai lalu menahan tawa.


"Bukan seperti itu! Ada ... yang aku lupakan sih, tapi sepertinya asal mula aku kena Sel itu juga dari tempat itu." Tanaka sedikit menyipitkan mata. Ia berusaha untuk mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Dylan. "Ya ... efek dari Sel itu memang dapat meningkatkan kekuatanku dengan senjata fisik yang diberikan berupa tentakel. Saat Dylan menolongku itulah saat pertama kali aku menggunakan tentakel tersebut."


"Sudah diputuskan. Pasti markas mereka ada di sana. Ayo kita serang saja langsung!" ucap Zai dengan penuh semangat. Tapi Asuka memintanya untuk jangan terburu-buru. Mereka tidak tahu ada berapa jumlah musuh dan tingkat kekuatan mereka di tempat itu.


"Walau bukan markas utama, tapi sepertinya makhluk-makhluk di sana juga ada yang berbahaya." Gumam Asuka.


"Tidak." Dylan membalasnya.


"Eh?" Asuka langsung melirik ke lelaki itu.


"Saat aku di sana, orang yang aku temui hanyalah manusia biasa. Tapi ada yang aneh dari tempat itu. Terdapat lorong dengan tembok yang bermotif cantik dan ada beberapa ruangan. Tapi aku tidak menemukan satu makhluk aneh di sana." Jelas Dylan.


"Mereka tidak menunjukkan diri karena mereka lebih suka mengawasi dari jauh dan menyerang bila sudah waktunya." Ucap Tanaka. Asuka mengangguk, lalu ia kembali mengingat semuanya untuk tetap berhati-hati di manapun berada. Karena saat ini, para makhluk itu masih berkeliaran untuk menyerang Oniroshi yang mereka incar.


"Mungkin aku akan menyelidiki tempat itu nanti." Batin Asuka. Lalu matanya melirik ke Tanaka. Begitu juga dengan lelaki itu. Mereka berdua mengangguk pelan seakan sedang memberikan suatu isyarat lewat gerakan tubuh.


...****************...


Pukul 10, Fely dan Dylan sudah bersiap untuk pergi ke supermarket di kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang kurang. Tapi sebelum Dylan pergi, di kamarnya ia sempat melihat web kesayangannya tentang info pelirisan buku terbaru. Ternyata di sana juga ada list buku komik baru yang harus ia beli sebagai penggemar sejatinya.


"Sudah kuduga ternyata hari ini. Aku harap komik itu sudah hadir di toko buku terdekat." Dylan meletakkan ponselnya di meja, lalu membuka lemari baju. Di sana ia mengambil sebuah celengan berbentuk kucing bulat, lalu membuka kuncinya. Ia mengambil beberapa uang untuk membeli komik.


"Aku pasti minta dibelikan oleh kakak. Uang ini hanya untuk persiapan aja. Takutnya dia tidak mau membelikan buku itu." Dylan menyimpan uangnya di saku, lalu kembali menyimpan celengannya di lemari. Tak lama kemudian, kakaknya berteriak memanggil namanya.


Dylan pun membawa ponselnya, lalu memakai jaket dan pergi ke luar kamar. Di halaman depan sudah ada kakaknya yang menunggu bersama Takana juga. Dylan menghampiri cepat, lalu bertanya pada Takana, "Kenapa kau juga malah ikut-ikutan? Bukannya jaga rumah!"


"Aku mau ikut sama Dylan-san. Sekalian melindungimu. Lagipula di rumah kan sudah ada Onii-chan dan yang lainnya." Jawab Takana. Lalu dia melihat kupu-kupu yang melintas di depannya dan langsung mengejar serangga tersebut.


Dylan menghela napas, lalu melirik ke kakaknya yang sedang memotret dirinya di depan pagar. "Kak, kenapa Takana diajak?"


"Dia mau ikut sendiri. Ya sudah. Lagipula akan lebih bagus kalau dia ikut. Bisa membawakan belanjaan kita."


"Ah, iya juga sih."


Dylan dan kakaknya, juga Takana akhirnya berangkat. Mereka akan naik bus untuk ke kota. Hanya berjarak 10 meter saja untuk tiba di halte, tidak jauh.


Sambil berjalan di trotoar, Dylan mengecek ponselnya dan web yang suka ia lihat. Web tentang info update komik & novel online, bahkan buku cetak beserta harganya. Yang ia cek saat ini adalah harga dari komik incarannya. Ternyata masih sama seperti dulu.


"Saat pulang dari supermarket aja deh aku bilangnya." Batinnya lalu kembali memasukan ponsel ke saku.


Saat sampai di halte, tak butuh waktu lama untuk menunggu bus. Kendaraan tersebut datang tepat setelah 1 menit tiba di halte. Mereka mulai pergi dari kawasan perumahan. Fely dan Takana duduk berdua di depan, sementara Dylan sendiri di kursi belakangnya. Tak ada banyak orang di dalam bus tersebut. Tapi Dylan menyukainya karena terasa damai.


...****************...


Saat tiba di tujuan, mereka yang datang disambut hangat oleh karyawan di sana. Lalu setelah melewati pintu, Fely meminta Dylan untuk mengambil keranjang belanjaan. Tapi Takana sudah mengambilkannya duluan sekalian ia yang akan membawakan keranjang tersebut.


"Okeh ... untuk makan malam kalian maunya apa?" tanya Fely, lalu melihat daftar belanjanya. Takana dan Dylan boleh meminta makanan apapun di sana.


"Daging." Takana dan Dylan menjawab bersamaan. Mereka berdua saling melirik, lalu Dylan membuang muka.


Fely tertawa kecil, lalu ia ingin pergi ke tempat bumbu dapur terlebih dahulu. Takana dan Dylan mengikutinya dari belakang sekalian mereka melihat-lihat sekitar. Di ujung barisan rak penuh dengan bahan makanan terdapat tempat penyimpanan minuman dingin dan di sampingnya ada kulkas berisi sayuran dan buah-buahan segar.


Fely menghampiri tempat penyimpanan sayuran. Ia mengambil wortel yang terlihat besar-besar. "Walaupun makan daging, kalian tetap wajib makan sayur, ya?"


"Oke, Onee-chan!" – Takana


"Lalu biar seimbang, makan buah juga ya buat penutup. Kalian maunya apa?" tanya Fely lagi. Lalu ia mengambil satu apel dan di sampingnya ingin mengambil jeruk. Tapi ada tangan seseorang yang juga ingin mengambil jeruk tersebut. Fely menoleh ke sampingnya dan ternyata ada Bell yang juga ingin mengambil jeruk tersebut.


Takana yang melihat gadis itu langsung menyapanya. "Hai, Bell-san! Lagi belanja juga, kah?"


"Iya aku lagi nyari pepaya buat Irvan. Dia lagi ada masalah buang air besar."


"Ah, begitu. Sendirian aja, kah ke sini?"


"Nggak, dong!" Bell menggeleng, lalu menunjuk ke belakangnya. "Aku selalu bersama Irvan. Itu dia di sana lagi mau beli makanan kesukaannya."


"Oh? Apa itu?"


"Sosis." Orangnya pun datang. Ia menunjukkan kemasan sosis yang diambilnya, lalu memasukkannya ke dalam keranjang yang dibawa Bell. Kemudian Irvan membantu Bell (yang pendek) mengambilkan pepaya yang berada di tempat tinggi.


"Dibikin jus aja." Irvan memberikan pepaya itu.


"Oke, Van!" Bell mengangguk cepat, lalu ia kembali melirik ke Takana. "Kalian baru datang, ya? Kalau gitu kami duluan pulang, ya?"


"Oke, hati-hati!" jawab Takana dan Fely.


Bell mengajak Irvan untuk cepat pergi ke kasirnya. Tapi ternyata Irvan masih berdiri di depan kulkas. Ia ingin mengambil satu minuman. Tapi tak sengaja tangannya dekat dengan lampu kaca dalam kulkas itu. Seketika lampu tersebut mati, lalu kembali menyala saat Irvan benar-benar menyentuhnya.


"Van ... sudah kubilang jangan menyentuh barang elektronik dulu!" Bell menarik baju belakang lelaki itu lalu menjauhi kulkas. Untuk saat ini, Bell tidak berani menyentuh tubuh Irvan.


"Eh? Apa yang terjadi?" tanya Fely cepat. Lalu ia mendekati Bell dan Irvan.


"Emm ... semenjak kejadian kemarin, kekuatan Irvan jadi gak bisa dikendalikan." Jawab Bell.


"Ke–kenapa bisa seperti itu?" tanya Takana. Sementara itu, Dylan yang merasa bosan ingin pergi melihat-lihat sendiri ke tempat lain. Dimulai dari pintu keluar ada sebuah boneka yang menarik perhatiannya. Lalu tak lama, ada beberapa gadis yang baru datang dan melihat ke arahnya.


"Wah, ada cogan."


"Manis, ya, hehe ...."


"Ah! Dia ngelirik ke kita,, aw!"


Dylan beneran ngelirik ke gadis-gadis itu karena ia mendengar mereka seperti sedang membicarakannya. Tapi kurang jelas suaranya. Dylan pun kembali memperhatikan boneka beruang yang dipajang. Lalu seketika ia jadi ingat sesuatu. Sosok Oni yang mengerikan kembali muncul di kepalanya.


"Irvan sekarang memiliki dua kekuatan." Kembali ke Bell dan yang lainnya. "Kekuatan barunya adalah petir. Yang baru didapat kemarin, loh! Tapi ... anehnya kekuatannya suka keluar sendiri dan rada merusak. Rumah jadi berantakan, deh~


"Kadang badannya juga suka nyetrum klo dipegang. Udah kayak raket nyamuk aja." Bell berhenti menjelaskan, lalu ia memberikan pertanyaan pada Fely. "Kira-kira apa yang terjadi pada Irvan?"


Sebenarnya si pemilik kekuatan itu juga tidak paham dengan apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini. Fely sendiri juga tidak tahu. Ia tidak pernah mengalami keanehan seperti Irvan saat menjadi Oniroshi.


Tapi Fely punya saran. "Emm ... untuk selengkapny, mungkin kalian tanya sama Asuka saja, deh. Dia yang tau banyak."


"Siapa Asuka?" –Bell


"Wanita kemarin?" –Irvan


Fely mengangguk. "Iya. Dia pastinya bisa–"


"Kyaaaa!!"


Perkataan Fely tersela oleh beberapa teriakan yang datang dari pengunjung tempat itu. Lalu suara kerusuhan pun bermunculan. Takana dan yang lainnya mulai bersiap dengan kekuatan mereka. Tapi Takana sadar kalau Dylan sedang tidak ada di dekatnya. Padahal baru saja mau melakukan Teknik Jarak Jauh.


"Eh, Dylan-san ke mana?!" Takana celingak-celinguk mencari keberadaan lelaki itu. Tapi tak kunjung ketemu. Yang ia lihat hanya dua Oni besar yang sedang mengejar beberapa manusia. Lalu tak lama Takana menatap makhluk itu, si Oni juga melirik ke Takana dan langsung mengincarnya.


"Ternyata Oni." Walau sudah melihat makhluk besar itu, Irvan masih tetap bersikap tenang seperti biasanya. Tapi Bell terlihat ketakutan dan bersembunyi di belakangnya.


Fely yang berada di depan mereka langsung mengeluarkan Perisai Transparan. Lalu seketika Oni yang hendak menyerang mereka pun terpantul ke belakang karena adanya gelombang penghalang dari perisai tersebut. Sekalian melindungi semuanya untuk sementara, Fely yang akan mengatur strateginya.


"Takana, Irvan, pergi halang Oni-oni itu! Aku dan Bell akan membawa orang-orang di sini ke tempat aman," ujar Fely, lalu ia melirik ke sampingnya. "Van, aku pinjam Darlingmu dulu. Kau bertarung tanpa dia tidak apa-apa, kan?"


"Ya. Lindungi dia juga." Irvan mengangguk, lalu ia mulai mengeluarkan Mana-nya berupa butiran-butiran air yang mulai mengumpul di telapak tangannya.


"Tapi Onee-chan, aku mau mencari Dylan." Ucap Takana.


Fely baru teringat dengan adiknya yang entah pergi ke mana. "Oh iya anak itu, hadeh ... Oke, Takana pergi cari Dylan. Irvan bertahanlah. Kalau Takana sudah menemukan Dylan, segera bantu Irvan, ya?"


"Oke."


"Nah, ayo, habisi mereka semua!"


*


*


*


To be continued–