
Saat sampai di depan toko buku, aku melihat ada secarik kertas yang tertempel di pintu depan toko. Di kertas itu tertulis "Diskon besar untuk komik baru hari ini!". Komik baru, ya? Apakah komik yang akan kubeli hari ini dapat diskonnya juga?
Kalau begitu aku akan pergi untuk mengeceknya!
KLINING!
Lonceng kecil yang ada di atas pintu pun berbunyi setelah aku membuka pintu toko. Lalu tak lama, ada seseorang yang menyambut kedatanganku dengan lembut. Mengucapkan "Selamat datang" dengan posisi tubuh membungkuk dan tersenyum. Seorang pelayang ramah yang bekerja di toko buku.
Tanpa ekspresi, aku hanya mengangguk saja. Karena aku orang baik, makanya aku sahut dia agar terlihat sedikit lebih sopan.
Setelah itu, aku berjalan mendekati rak-rak buku komik yang berada di pojok ruangan. Ada buku komik yang tertera di atas meja bertingkat dan ada 5 rak yang tersedia. Penuh dengan berbagai macam dan judul buku komik yang banyak.
Karena itulah aku suka pergi ke toko buku. Ingin membaca buku komik sejenak, tapi buku yang kubeli hanya satu saja. Karena aku hanya mengincar komik terbitan terbaru saja.
"Kemarin itu... komiknya ada di rak ke-4." Aku bergumam sambil berjalan menghampiri rak buku keempat. Setelah aku sampai di sana, dengan teliti dan hati-hati, aku pun mencari judul komik yang ingin aku beli. Judul komik itu adalah "Youkai no Revenge". Bergenre Fantasy action yang sangat aku sukai. Ditambah dengan munculnya banyak cewek cantik dalam komik itu. Termasuk... satu karakter yang rupanya mirip sekali seperti Takana.
"Dylan-san? Mau cari komik apa?" tanya Takana yang ada di sampingku. Aku lupa dengan Takana. Dia kan ikut denganku. Itu bagus. Kalau dia ikut, aku bisa meminta bantuannya untuk mencarikan aku komik yang sedang aku cari itu.
Setelah lama membungkuk, aku pun kembali menegakkan tubuhku, lalu menghadap ke Takana. "Takana, daripada kau ikut aku tapi gak berguna, coba kau bantu aku mencari komik yang ingin kubeli."
Takana terdiam sejenak, lalu ia mengangguk paham. "Baiklah, Dylan-san!" Takana pun beranjak pergi ke rak yang ada di samping rak keempat. Setelah dia pergi, aku sedikit terheran. Dia main pergi saja. Memangnya dia tahu komik apa yang sedang aku cari?
"Ini Dylan-san! Aku menemukannya!" Takana berteriak senang dari rak di tempat ia berdiri. Berisik sekali anak Jepang yang satu itu. Aku pun melangkah menghampirinya.
"Dylan-san! Ini komiknya, kan?" Takana menunjukan komik yang ia temukan. Aku terkejut saat melihat gambarnya. Lalu dengan cepat, aku pun langsung menjauhkan komik itu dari pandanganku, lalu membentak Takana.
"Takana bodoh! Bukan komik itu yang sedang aku cari!"
"Loh? Lalu apa? Ini kan... komik untuk anak cowok. Lihat!" Takana memperlihatkan gambar cover komik itu lagi padaku. "Gambar cewek. Kan biasanya anak cowok suka komik seperti ini."
"Astaga... itu genre Ecchi woy!" gerutuku dalam hati. "Aku bukan tipe cowok dengan pikiran mesum, tahu!"
Takana memang menunjukan komik yang salah. Tapi untungnya dia tidak memaksaku untuk membaca komik itu. Tapi... eh?!
Dia malah membacanya?!
Takana berjongkok di depan rak dan membaca komik bergenre dewasa itu. Sesekali ia tertawa melihat gambar-gambar yang ada di dalam komik. Lalu tak lama, aku mendengarnya ia bergumam, "Ahaha... apanya yang boing~ boing~ gitu? Kenyal kayaknya."
Kumohon, jangan ambigu untuk saat ini!
Aku tidak berani melihat komik yang sedang dibaca Takana. Jadi... aku pergi saja melanjutkan pencarianku ke rak lain dan meninggalkan Takana yang sedang membaca komik itu. Sambil berjalan aku menggeleng pelan, lalu bergumam, "Aku tidak percaya mereka menjual komik seperti itu. Haduh...."
"Eh?" Saat melewati rak keempat aku menemukan sesuatu yang telah menarik perhatianku. Akhirnya ketemu juga. Jadi... tempat komik-komik yang didiskonkan itu ada di baliknya rak keempat itu?!
Kenapa aku merasa jengkel, ya? Kan yang namanya diskon itu pasti barang-barangnya diletakan di bagian pas tak jauh dari depan pintu masuk toko agar bisa terlihat sama orang banyak. Jadi kan biar ada banyak orang yang melihat dan membelinya jika tertarik.
Aku menghampiri barang diskon tersebut. Ternyata tidak hanya buku komik saja. Tapi ada buku novel juga dan buku-buku tentang ilmu gitu. Ah, tapi yang sedang kucari itu adalah buku komik.
Aku mencari tumpukan buku komik. Ternyata banyak juga yang dipajang. Dan salah satunya adalah buku komik yang sedang aku cari. Akhirnya aku menemukannya!
[ Chapter 46: Toko Buku ]
Aku pun mengambil buku itu, lalu membalikan covernya. Benar-benar terbitan terbaru. sangat mulus dan bagus sekali. Sekarang, aku hanya tinggal melihat harganya.
Saat mataku melirik ke label harga yang tertempel di sudut cover, aku sedikit terkejut lalu bergumam kesal, "Sialan.... I–ini mah bukan diskon namanya kalau harganya cuma dikurang 3 ribu saja!"
"Dylan-san! Dylan-san! Lihat ini, deh, haha..." Takana melompat-lompat menghampiriku. Aku pikir ada masalah apa. Ternyata dia hanya ingin menunjukan gambar di dalam buku komik yang ia baca itu.
Dengan wajah polosnya, Takana menunjuk ke arah gambar yang ingin ia tunjukan padaku. Aku menyipitkan mata untuk melihat gambar yang Takana tunjukan agar terlihat lebih jelas. Tapi tak lama setelah aku memahami gambar itu, aku pun tersentak kaget.
"Ta–Takana bodoh! Itu apaan?!"
"Oh! Ini kan Opp–"
"Jangan katakan!" Aku tahu Takana ingin bilang apa. Jadi dengan cepat aku langsung menutup mulut Takana. Tidak membiarkan dirinya untuk mengatakan apapun selama beberapa detik. Lalu setelah Takana terdiam, aku pun melepaskannya.
"Memangnya kenapa, Dylan-san? Dylan-san takut lihat Opp–"
"Jangan bilang itu!" Dengan cepat aku pun membentaknya. Takana terdiam, lalu tertawa kecil sambil melipat tangannya ke belakang. Aku menatap tajam ke arahnya, lalu setelah itu kembali melirik ke komik yang ku pegang.
"Aku akan membeli ini. Sekarang ayo pulang!" Aku mengajak Takana. Tapi sebelum itu, Takana ingin meletakan kembali komik Ecchi yang ia pegang itu. Aku akan sabar untuk menunggu. Sekalian juga, sebelum aku pergi ke kasir, aku ingin memeriksa jumlah uang di dompetku dulu. Takutnya kurang. Nanti aku tidak bisa bayar seperti yang saat itu.
Aku merogoh saku celanaku dengan tangan kir untuk mencari dompetku. Tapi ternyata tidak ada di sana. Em... apa mungkin ada di kantung jaket? Aku akan mencoba untuk mencarinya. Tapi... tetap saja tidak ketemu. Aku sudah mengecek seluruh kantung di pakaianku, tetap tidak menemukannya. Yang ketemu hanya ponselku saja. Tapi saat ini, bukan ponsel yang sedang aku cari.
Ah, payah! Apa dompetku hilang lagi, kah?! Apa jangan-jangan... dompetku ketinggalan di dalam kamarku?!
"Anu... aku tahu di mana dompetmu."
Tapi sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku, aku kembali terkejut saat melihat rupa si gadis yang ada di belakangku itu. Seorang gadis yang (sepertinya) ku kenal. Dia memiliki tinggi sebahu denganku, wajahnya cantik dan memiliki rambut pendek berwarna coklat. Tidak salah lagi! Aku seperti sudah pernah melihat gadis ini. Tapi entah... aku lupa di mana.
"Kau... sepertinya aku pernah melihatmu." Ujarku pelan padanya.
"Eh? Benarkah?" Gadis itu menyahutku. Tapi aku tidak menjawabnya lagi. Aku masih belum yakin. Dia... mirip seperti teman masa kecilku. Tapi... ah! Tidak mungkin! Temanku itu sudah pergi!
Mungkin aku salah orang.
"Ah, tidak. Mungkin ini pertemuan pertama denganmu."
"Oh begitu, ya?" Gadis itu mengangguk. Lalu ia kembali bertanya, "Dompetmu gak ada, ya?"
"Eh? Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku balik.
"Karena aku memperhatikanmu dari tadi. Kau seperti sedang mencari sesuatu. Dan ternyata setelah kutahu, ternyata dompetmu yang gak ada, ya?"
"Iya. Tapi... kau jangan khawatir. Aku akan pulang ke rumah untuk mengambilnya."
"Ah tidak usah!" Gadis itu kembali menghentikan langkahku. "Aku akan–"
"Tidak usah." Aku menggeleng pelan. Aku tahu dia pasti ingin membayarkan komik yang akan kubeli ini. Sama seperti Takana saat aku membeli komik seri sebelumnya. Tapi untuk sekarang ini, aku tidak ingin menggunakan uang orang lain lagi untuk membayarkan komik yang kuinginkan. "Kau tidak perlu membayarkannya untukku."
"Aku tidak ingin membayarkan komikmu, kok."
"Eh?"
"Aku hanya ingin bilang, kalau aku tahu di mana dompetmu itu. Akan aku ambilkan."
"Loh? Memangnya ada di mana?"
"Ada di rumahmu." Gadis itu menjawab dengan senyumnya. Lalu setelah itu, ia mengeluarkan sebuah tas kecil dari dalam tas besar yang ia bawa. "Aku akan mengambilkannya untukmu!"
"Eh? Tidak usah. Tapi... bagaimana kau bisa mengambilnya?"
"Aku akan menukar tubuhku dengan dompetmu itu."
"Apa maksudmu?"
Gadis itu hanya tersenyum sambil meneleng. Ia tidak menjawab. Lalu mengeluarkan sebuah bola kecil dalam tas kecilnya. Ia membanting bola itu tepat di depannya dan seketika asap berwarna merah muda pun langsung berkumpul di depan gadis itu dan menutupi seluruh tubuhnya.
Aku sedikit terbatuk dengan asap yang mengumpul itu. Tapi tak lama kemudian, asapnya pun menghilang. Begitu juga dengan gadis itu. Dia juga ikut menghilang!
Aku sedikit terkejut. Tapi ternyata perkataanya itu memang benar. Dia menghilangkan tubuhnya, dan sebagai gantinya... ternyata dia memunculkan dompetku tepat di hadapanku.
Aku mengambil dompet yang tergeletak di depanku itu, lalu memeriksanya. Aku tidak percaya ini. Ternyata benar saja. Itu memang dompetku dan isinya masih sama, tidak ada yang hilang.
Tapi... ke mana perginya gadis itu?
Ah! Aku tidak peduli. Yang penting sekarang, aku sudah mendapatkan dompetku untuk membayar komik. Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan mengucapkan terima kasih karena telah memunculkan dompetku.
Sekarang juga, aku akan membayar komik ini.
****
PSING!
Seorang gadis baru saja muncul di atas tempat tidurku. Tidak salah, gadis itu adalah si cantik berambut cokelat yang ada di toko buku. Ternyata ia menukar dirinya dengan letak dompetku dengan cara teleportasi. Sebenarnya siapa gadis itu?
"Khu~ khu~ Aku berhasil memasuki kamarnya tanpa berhadapan langsung dengan kedua Oniroshi itu." Gadis itu terkekeh sambil duduk di pinggir tempat tidurku dan mengayunkan kakinya. Lalu tak lama setelah itu, ia beranjak dari sana. Mendekati lemariku. "Aku... akan mencari aibmu segera. Hehe...."
SING!
Kak Fely yang berada tak jauh dengan kamarku, tiba-tiba saja merasakan sesuatu. Begitu juga dengan Tanaka yang sedang duduk di sofa depan televisi. Mereka berdua merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi!
Di kamar, Gadis itu membuka lemari, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Sebuah alat seperti kompas yang bisa mengeluarkan gambaran seperti hologram. Di depan kompas, gadis itu berbisik, "Aku sudah sampai tujuan. Sekarang, saatnya untuk membuat para Oniroshi itu sibuk."
"Kalau bisa... bunuh saja mereka. Hi hi...."
*
*
*
To be Continued-