
Tanaka Dan Zai baru saja selesai memasang pintu baru untuk menggantikan pintu rumah yang rusak. Terakhir, Zai mengencangkan bautnya, lalu ia kembali berdiri dan mengelap keringat di dahi.
"Anjay jadi."
"Kita berdua yang melakukannya." Tanaka mengepal tangan dan mengangkatnya. Mereka beradu tinju sebagai salam hangat dan damai. Lalu setelah itu, dengan keadaan letih, keduanya pun masuk dan bersandar di sofa.
Keadaan dalam rumah juga kembali tertata rapih seperti semula. Barang-barang yang rusak, dibuang saja.
Tak lama, Fely datang membawakan minuman dingin untuk kedua temannya yang sudah bekerja keras. "Makasih, ya. Tapi jangan diberantakin lagi, oke?"
"Asiap!" Tanaka dan Zai mengangguk mantap. Lalu mereka meminum minuman yang diberikan Fely tadi sampai habis. Tak lama setelah itu, Asuka kembali ke ruang tamu untuk memberitahu sesuatu.
"Mereka datang." Ucap Asuka, lalu tak lama, terdengar suara ketukan pintu dari depan. Saat Fely ingin membukanya, Asuka melarangnya. Jadi ia saja yang akan membukakan pintu.
"A–ada apa sebenarnya?" Fely meneleng. Semua mata tertuju pada pintu dan sosok Asuka yang hendak membukakan pintunya.
Namun seketika, Zai merasakan kekuatan yang besar dari balik pintu itu dan sepertinya ia mengenal aura tersebut. "I–Itu kan–"
"Eh, jangan bilang kalau–" Sepertinya Lea juga merasakan hal yang sama.
"A–apa? Apa?" Takana terlihat kebingungan karena ia tidak tahu apa-apa. Tapi kakaknya itu tetap duduk santai, lalu tak lama matanya melirik ke pintu depan yang baru dibuka Asuka sambil tersenyum.
Setelah Asuka membukakan pintu, wanita itu juga ikut tersenyum dan menyambut baik tamu yang baru datang. "Akhirnya ... kau datang juga. Lenard–Dono."
"Do–Dono?!" Takana terkejut mendengar pangkatnya. Seketika Lea membuat Takana membungkuk hormat pada Ketua Oniroshi dengan pangkat tertinggi yang bisa dibilang, dia adalah gurunya para Oniroshi. Semuanya langsung membungkuk hormat padanya.
"Kak ... aku mau es–" Dylan keluar kamar hendak mengambil minum. Tapi ia malah melihat orang asing di depan pintu. "Eh, siapa kau?"
"Dy–Dylan!!" Fely langsung membentaknya karena adiknya itu dianggap tidak sopan. Wanita itu pun menghampiri Dylan lalu memaksanya untuk membungkuk di hadapan Ketua Oniroshi.
"Untuk kali ini aja, Dylan. Bersikaplah yang sopan." bisik Fely dengan tatapan tajam. Dylan hanya mengangguk kaku. Ia ingin balik ke kamar saja, tapi kakaknya itu melarangnya. "Jangan menyendiri. Sinilah!"
"Ah merepotkan."
"Ma–maaf kalau saya lancang. Saya hanya ingin bertanya tentang tujuan anda datang ke dunia ini." Ujar Divan dengan ragu.
"Ooh ... dia datang untuk menjemput kalian ke Akademi." Asuka yang menjawabnya. Tapi Lenard menggeleng pelan.
"Tidak. Tak hanya itu. Saya ke sini karena merasakan kekuatan besar yang akan mengancam nyawa makhluk-makhluk di dunia ini. Ditambah ..." Pria itu mengeluarkan sebuah bola gelembung. "Aku menemukan ini dari hutan. Sepertinya ini milik teman kalian."
Takana terkejut melihatnya. "Eh, gelembung ini seperti kekuatan ...."
Lenard menusuk gelembung tersebut. Bukannya pecah, tapi gelembung itu mengeluarkan suara seseorang yang tak asing di telinga semuanya.
" ... A–aku butuh bantuan kalian ... hah ... tolong bantu. Aku diburu oleh Onirida dan aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ada racun yang masuk ke dalam tubuhku ... ugh ... yang penting sekarang ... aku maunya Bella selamat ....."
Selama suara itu keluar, gelembung tersebut perlahan mulai mengecil. Saat suaranya tidak terdengar lagi, gelembung tersebut baru menghilang. Sepertinya itu pesan singkat yang dikirim dari Irvan lewat perantara udara dan kekuatannya.
"Dia kenapa tadi?" Zai meneleng karena ia tak mendengarkannya dengan jelas. Tapi sayangnya tidak ada yang menjawabnya. "Oke, I'm fine."
"Ayo kita pergi!" seru Takana dengan semangatnya yang biasa. Semua orang pun bersiap-siap. Felly membawa perbekalan. Karena peran dia sebagai suporter, jadi ia hanya membawa makanan dan kotak obat.
Namun sebelum semuanya berangkat, Lenard ingin mengatakan sesuatu. Ia menoleh ke belakang. Lalu tak lama, muncul seseorang yang mengintip dari tubuh kekarnya.
Takana meneleng melihat orang itu. Terlihat imut juga di matanya. "Eh, kau siapa?"
"Dia Shikoo." Jawab Zai. "Aku rasa, dia bakal dibutuhkan jika ada keadaan genting."
"Teman kalian dari akademi?"
"Iya." Zai mengangguk. "Dia rada pemalu, makanya jarang bicara. Tapi kau jangan meremehkannya. Dia itu jadi salah satu murid terbaik Lenard-Dono."
"Ah souka ... aku ingin berteman baik dengannya."
"Ayo semuanya! Kita berangkat menyelamatkan teman kalian itu!" Asuka berseru, lalu menyimpan busur es yang sudah dipersiapkannya. Semuanya pun mengikuti Asuka pergi. Kecuali Lenard yang sudah tak memiliki kekuatan lagi. Ia hanya bisa mendoakan para muridnya pulang dengan selamat.
...****************...
"Hah ... kenapa aku malah ngikut mereka semua?" keluh Dylan yang sedang digendong Tanaka di punggungnya. Setelah mendengar Dylan bergumam seperti itu, Tanaka hanya tertawa kecil, lalu melajukan kecepatan berlarinya di atas gedung tinggi. Karena sudah terbiasa, Dylan jadi tidak takut lagi.
Tak butuh waktu lama, semuanya sampai di hutan. Seketika itu juga, Lea mengirim gelombang sinyal ke seluruh hutan sampai bisa dicapai sejauh beberapa kilometer. Hal itu memungkinkan Lea untuk melacak seseorang dari jauh. Tak lama kemudian, pucuk tanaman yang ada di atas kepalanya bergerak ke arah barat. "Dia ada di sana. Arah barat sekitar 30 meter dari sini."
"Oke ayo kita pergi! Jangan ada yang memisahkan diri!" Asuka menyiapkan busurnya lalu lari mengikuti Lea karena hanya gadis itulah yang tahu di mana keberadaan Irvan dan Bella.
Takana menggenggam tangan Dylan dan menariknya. Mereka berlari bersama dan tanpa sadar, keduanya mulai bergabung.
...****************...
"Hah ... hah ..." Irvan terus berlari tanpa arah yang jelas. Energinya hampir habis, tapi ia tetap menggunakan Gelembung Pelindung. Untuk berjaga-jaga jika ada serangan mendadak yang muncul. Lelaki itu juga masih menggendong Bella.
"Ung ... Irvan ...?"
"Ah kau sudah sadar?"
"Eh ada apa ini? Kenapa kau menggendongku?!" Bell langsung memberontak minta diturunkan. Terus terang, Irvan tidak bisa melakukannya karena ia masih merasakan kehadiran Onirida di dekatnya.
"Bentar, Bell. Kita sedang dikejar-kejar," ujar Irvan.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba muncul bom mochi tepat di depan wajah Irvan. Lelaki itu tak sempat menghindar dan akhirnya mochi tersebut meledak. Ledakannya menyebabkan Irvan dan Bell terpental beberapa meter dan Gelembung Pelindung miliknya langsung pecah.
Irvan dan Bell juga terpisah beberapa meter. Tapi tak jauh. Begitu membentur pohon, Irvan langsung kembali bangkit sambil menyentuh lengannya yang sakit. "Ah, Bell. Lari!"
"Apa?!" Bella kembali berdiri. Ia ingin menghampiri Irvan, tapi tiba-tiba muncul sosok Lucia dari atas pohon. Reflek, Bell langsung mundur ke belakang.
Gadis iblis itu membuang permen karetnya, lalu memunculkan beberapa mochi yang ingin ditembakkan ke Irvan. Lelaki itu mengeluarkan kekuatannya yang tersisah untuk menyerang balas jika waktunya tiba.
Namun saat ingin mengeluarkan auranya, tiba-tiba lehernya terasa seperti tertusuk sesuatu. Belum sempat menoleh, pandangannya langsung kabur dan seketika jatuh tak sadarkan diri.
"Irvan!!" Bell ingin menghampiri darlingnya, tapi tiba-tiba sebuah bom mochi meledak di depan kakinya. Gadis itu terkejut dan terjatuh. Untung hanya kena sedikit.
"Anak kecil, diam di sana," ujar Lucia dengan nada menyeramkan. Ia melirik ke saudaranya di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Lucid? Lelaki dengan cambuk ular itu muncul tiba-tiba di belakang Irvan dan ularnya itu langsung menggigit leher Irvan.
"Wleeek ... aku yang dapet dia duluan." Lucid menginjak tubuh Irvan, lalu mengelus-elus kepala peliharaannya.
"Kau gak bunuh dia, kan?"
"Kau pikir, racun ularku hanya dapat membunuh?!"
"... ya udah cepat ayo kita bawa dia–" Belum saja melangkah maju, tiba-tiba sebuah panah es menancap di depan kaki Lucia. Seketika itu juga, muncul kristal es yang membekukan kaki gadis itu. "Ugh ... apa ini?!"
Lucia ingin membuat Bom Mochi untuk melepaskannya dari es tersebut, tapi tiba-tiba sebuah bola api biru menembak tangannya dan meledakkan Bom Mochi itu di depan wajahnya. "Akh sial!"
"Eh?!" Lucid menoleh ke arah sampingnya. Ia terkejut dengan kemunculan para Oniroshi yang telah mengepungnya. Lelaki itu menarik kerah belakang Irvan dan berniat melarikan diri dengan membawa tubuh mangsanya. Tapi mendadak ia tak bisa bergerak. Setelah dilihat, ternyata kakinya telah dililit oleh banyak akar dari pohon-pohon di sekitarnya.
Lalu tak lama, tanah di bawahnya bergetar. Seketika terbentuk lubang yang dalam di bawah kakinya. Iblis itu terjatuh ke dalam lubangnya. Tanaka menggunakan tentakelnya untuk menarik tubuh Irvan dan melindunginya.
Tak lama kemudian, Zai muncul dari bawah tanah dan langsung mengepalkan tangan. Seketika lubang yang di dalamnya terdapat tubuh Lucid langsung menutup. Iblis itu seakan terkubur hidup-hidup di dalam sana.
"Te–teman-teman!" Bell terlihat senang begitu bantuan telah tiba. Takana menghampiri temannya itu dan langsung memeluknya. "Kau gapapa?"
"Huum ... tapi Irvan–"
"Tenang aja," Takana menepuk-nepuk kepala Bell lalu mengelus punggungnya. "Dia akan dirawat Kak Felly. Pasti akan baik-baik aja."
Bell mengangguk, lalu Takana mengajak Bell untuk bergabung dengan yang lainnya. Tanaka menyerahkan Irvan kepada Felly untuk ia periksa. Lea juga akan membantu pemulihannya.
"Wah~ Kau sungguh mengubur dia hidup-hidup?" tanya Tanaka tak percaya sambil menyenggol tubuh Zai. Zai yang merasa risih pun mendorong Tanaka sampai jatuh dari atas pohon.
"Ugh, kenapa kau dorong aku?!" Tanaka kembali berdiri dengan cepat. "Nanti kalau aku mati, gimana?!"
"Salahmu sendiri malah nyenggol-nyenggol gak jelas! Aku juga hampir jatuh, tau!"
"Sempat-sempatnya mereka malah bertengkar mulu." Batin Dylan yang tak kuat mendengar suara keras kedua temannya itu. Ia menutup telinga, lalu melirik ke arah lain. Pandangannya tak sengaja melihat seekor kucing hitam yang sempat mengintip dari pohon lain. Tapi begitu Dylan melihatnya, kucing itu menghilang. "Eh?"
"Ada apa, Dylan?" tanya Takana sembari menghampirinya.
"Aku melihat kucing tadi."
"Mana? Gak ada tuh."
"Ah lupakan."
Asuka mengarahkan panahnya pada Lucia yang masih terjebak dengan kristal es. Wanita itu menghampiri iblis tersebut. "Kau sudah ditangkap. Melukai muridku dan membuat keributan di dunia manusia. Kau akan ditahan oleh pihak Heiwa."
"Memangnya kau bisa?" Lucia menyeringai. Lalu tiba-tiba tanah di sekitar mereka bergetar hebat seperti gempa. Asuka meminta semuanya untuk menjauh dari tempat itu, tapi sudah terlambat. Lucid keluar dari dalam tanah dan langsung mengayunkan cambuknya ke bumi dengan kuat.
BOOM!!
Ledakan terjadi begitu cambuk tersebut menyentuh tanah. Para Oniroshi terlempar jauh, begitu juga dengan pohon-pohon di sekitar mereka. Dalam sekejap, semuanya tersapu oleh tanah dan debu. Bekas hantaman cambuk itu sampai membentuk sebuah kawah kecil, tanah di sekitarnya hancur dan retak.
Asuka mendarat dengan aman. Begitu juga dengan yang lainnya. Untungnya mereka tidak terlempar terlalu jauh dan tidak terkena damage yang besar.
Lucid mendaratkan kakinya di depan kawah yang ia buat. "Heh, kau pikir menguburku begitu aja aku bakal mati?! Elemenku bumi! Mana mungkin aku bisa mati karena tertimbun tanah."
Lucia membentuk Bom Mochi, lalu menghancurkan kristal es yang menahan kakinya. Setelah itu ia membentuk Mochi besar yang kemudian diledakan dan munculah sebuah senapan angin miliknya. "Ayo lawan mereka. Jangan sampai kita mengecewakan Wan."
Lucid menyeringai. Lalu ia menebaskan cambuknya ke belakang tubuh. Seketika pohon-pohon yang ada di belakangnya langsung terpotong menjadi dua. "Pohon sangat mengganggu. Ayo habisi para Oniroshi sialan ini!"
"Semuanya bersiap! Jangan sampai ada yang lengah!" titah Asuka mempersiapkan senjata andalannya. Para Oniroshi yang lain juga mempersiapkan element dan senjata mereka masing-masing. "Shikoo, ayo mulai!"
Shikoo mengangguk. Ia menggerang, lalu menyatukan kedua tangan. "Dimenshonshifuta." Setelah menyebut nama Mana-nya, Shikoo langsung membuka tangan dan seketika terbentuk sebuah kubah pelindung raksasa yang mengelilingi mereka termasuk Lucid dan Lucia juga. "Ugoku!"
Shikoo kembali menghilangkan kubah transparan tersebut, lalu bersembunyi di belakang Asuka. Ia baru saja meng-copy dunia sebelumnya dan memindahkan dunia tersebut ke dimensi lain. Dengan begitu, mau pertarungan seberat apapun, mereka tidak akan merusak alam dari dunia aslinya.
*
*
*
To be continued –