Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 22~ Bu April vs Tanaka Utsuki



____________________________________________


****


"Ugh!" Perutnya terasa sakit akibat luka dalam tersebut. Nafasnya mulai sesak karena menahan rasa sakitnya. "Apa aku akan mati sekarang?"


"Hahaha...."


Dylan kembali membuka mataku dan melirik ke arah monster itu. Ia tertawa seperti wanita jahat. Suaranya terdengar menyeramkan. Monster itu berjalan menghampiri Dylan dengan beberapa tentakelnya yang menggeliat.


"Membunuhmu itu ternyata mudah sekali. Sekarang, keluarlah dari dalam sana! Aku ingin kau menunjukkan dirimu, Ta~ka~na...!"


"Eh? Takana? Apa yang dia katakan? A–aku ini Dylan, loh! Bukan Takana. Matanya buta, kali ya?"


Tubuh Dylan semakin melemah. Wajahnya pucat dan pendarahan di lukanya itu masih belum berhenti. Tubuhnya gemetar dan pandangannya mulai samar-samar.


"DYLAN-SAAAAN!"


"Eh?" Dengan cepat, Dylan kembali menyentakan mata. Ia mendengar suara teriakan seseorang yang terdengar tidak asing di telinganya. Ternyata dugaannya benar. Di ujung jembatan sana, ia melihat ada Takana Utsuki.


Seorang Shota yang ia kenal dengan kecerobohan dan kebodohannya. "Di–dia mau apa di sini? Ini berbahaya! Dia bisa berakhir sepertiku juga!" Dylan tidak ingin Takana dekat-dekat dengannya. Andai ia bisa mengatakannya secara langsung, tapi sekarang entah kenapa suaranya tidak bisa keluar.


"Apa yang kau lakukan pada Dylan-san?!" teriak Takana sekali lagi sambil berjalan cepat menghampiri monster itu. Dylan masih memperhatikannya. Ia juga melihat anak itu membawa tasnya.


"Sudah cukup, monster!" Takana merogoh tas Dylan. Ia mencari sesuatu di dalamnya.


Secara perlahan, Dylan kembali melirik ke arah monster yang ada di hadapannya itu. Monster itu menyengir dengan senyumannya yang lebar dan menyeramkan sampai beberapa gigi runcingnya itu terlihat. "Apa kau mencari ini?!"


Takana kembali mendongak dan menatap sesuatu yang dipegang monster itu. Takana terkejut. "E–eh?! Bagaimana kau bisa...."


"Khu, khu, khu..., aku tau kamu pasti akan membawa benda ini, kan? Tapi sayang, saat di Bus, aku sempat mengambilnya!"


"Cish! Jadi dia sudah menyadarinya? Dia pasti mengambil benda itu di saat aku tertidur!" Batin Takana geram karena senjata yang diberikan kakaknya itu berhasil diambil oleh monster itu tanpa ia sadari.


"Hahaha..., sekarang, tanpa benda ini, apa yang bisa kau lakukan, anak kecil?"


ZZLUUURR....


Monster itu kembali menjulurkan tentakelnya dengan cepat. Kali ini, sasarannya mengarah ke Takana. Dengan cepat, Takana pun melompat tinggi untuk menghindari serangan dari tentakel itu. Ia berdiri di atas dahan pohon yang tak jauh dari jembatan.


"Hentikan ini!" teriak Takana dari atas sana.


"Bodoh! Mana mungkin aku ingin berhenti bersenang-senang denganmu. Haha...!"


Monster itu kembali menjulurkan tentakelnya. Takana pun menghindar lagi. Tapi pohon yang baru saja ditempati Takana itu terbelah menjadi dua dan tumbang terjatuh ke sungai. Pohon itu tumbang karena terkena sabetan tentakel itu. Ternyata tajam juga. Dylan sampai terkejut melihatnya.


"Takana ... kau itu sebenarnya siapa? Ah, aku tidak peduli. Pokoknya, kau harus menang melawan Monster itu."


Secara tak sadar, Dylan mendukung Takana. Ia juga baru melihat Takana melompat tinggi dan bergerak cepat seperti itu. Tidak bisa dipercaya. Ia hampir tidak bisa melihat pergerakannya.


****


Chapter 22: [ Bu April vs Tanaka Utsuki ]


****


"Akh! Sakit!" Dylan tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya mendadak lumpuh, jantungnya berdetak kencang dan napasnya tak karuan. Sulit sekali untuk menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida di saat seperti ini. "Apa yang akan terjadi padaku? Pandanganku menjadi gelap!"


"DYLAN-SAAAAN!"


Dylan sudah tidak bisa mendengar teriakan Takana kali ini. Ia akhirnya kembali jatuh tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir lewat lukanya.


"Ah, itu dia...." Monster itu tersenyum pada Takana. Lalu salah satu tentakelnya menghampiri Dylan. Tentakel itu mengangkat tubuhnya yang sedang tak sadarkan diri dengan luka yang semakin terbuka di perut lelaki itu. "Takana, dia ini siapa-nya kamu, sih? Dari tadi kamu sepertinya mengkhawatirkannya sekali." Monster itu menelengkan kepalanya. "Ohoho..., bagaimana reaksimu kalau aku lempar dia ke aliran sungai yang deras itu?"


"Eh! Tidaaak! Jangan berani-beraninya kau melakukan itu! Akan kubunuh kau!" bentak Takana. Sepertinya, dia mulai mengeluarkan emosinya.


"Khu~khu~ sepertinya kau sangat khawatir sekali, ya? Lucu deh! Hmm..., aku tidak sabar melihat ekspresimu yang lainnya. Aku coba saja, ya? Plung~"


"TIDAAAAAK!"


Monster itu menjatuhkan tubuh Dylan ke dalam sungai. Tubuhnya itu terbawa arus sungai. Takana langsung turun dari atas pohon. Dia berdiri di pinggir jembatan sambil mengulurkan tangannya untuk meraih si Dylan. Tapi sayang, tubuh itu sudah semakin jauh terbawa arus.


Takana lengah karena Dylan. Monster itu menggunakan kesempatan tersebut untuk menangkap Takana dengan tentakelnya.


ZZLLUUUR....


"Tertangkap~ Fu Fu Fu...."


"Ah!"


Takana tidak bisa lepas dari sana walaupun dirinya sudah berusaha untuk memberontak melepaskan diri. Tentakel itu terlalu kuat untuk menahan sesuatu dan terlalu tebal untuk dihancurkan. Takana tidak bisa melakukan apa-apa. Tangan dan kakinya juga sudah tidak bisa bergerak.


"Kenapa kau tega menjatuhkan tubuh malang Dylan-san ke dalam air itu?!" bentak Takana.


"Suut~" Salah satu tentakelnya membekap mulut Takana. "Maaf atuh. Aku pikir, kamu masih ada di dalam tubuhnya. Maaf ya. Aku tidak sengaja. Aku padahal cuma mengincar dirimu. Cup~ cup~ jangan nangis dong. Kau imut sekali! Tapi, boleh gak aku menghancurkan wajah imutmu itu?" Ujar Monster itu sambil menjilati jari telunjuknya. Perkataanya terdengar lembut, tapi juga menyeramkan.


Takana hanya menggeleng pelan dan menatap tak percaya pada monster itu. Sepertinya, Takana juga sudah mulai pasrah dengan nasibnya. Takana menutup matanya dan tubuhnya sudah mulai lemas saat tentakel itu melilitnya semakin kuat.


"Heeh? Mau menghancurkan wajah orang? Memangnya kau tidak puas dengan wajahmu yang seram itu? Atau jangan-jangan, kau iri karena memiliki wajah jelek?"


Monster itu terkejut. Ia celingak-celinguk mencari suara seseorang yang telah mengejeknya atau menyindirnya tadi.


"Hei, aku di sini tau. Haduh..., matamu buta, ya? Masa aku yang sebesar ini tidak terlihat?"


Ah! Itu ternyata suara Tanaka. Dia sedang berdiri di atas dahan pohon dengan senyum miring di wajahnya. Lalu, setelah monster itu melirik ke arahnya, Tanaka pun mengubah posisinya. Ia jongkok di atas dahan pohon itu.


"Wah, wah..., aku terkejut. Kok, kamu bisa menangkap adikku dengan mudah? Hebat sekali~"


"....?!" Dengan ekspresi yang masih sedikit terkejut, Monster itu tidak menjawab Tanaka.


"Lah, kok diam, sih? Ayo dong mengoceh lagi? Kenapa? Apa aku mengganggu, ya? Hehe..., maaf, ya. Aku akan pergi, deh!" Tanaka kembali berdiri tegak. Ia tertawa, lalu kembali menatap dengan tatapan tajamnya ke arah monster itu. "Tapi, sebelum aku pergi, ada satu hal lagi yang harus aku lakukan, loh~"


WUUSH!


"EH?!" Monster itu terkejut saat melihat Tanaka yang tiba-tiba saja bergerak cepat ke arahnya. Ia pun menyiapkan tentakelnya dan berniat akan menyerang Tanaka.


"Dia pasti ingin menyerangku, ya? Heh! Tidak akan semudah itu." Gumamnya.


Tentakelnya mulai menjulur ke arah Tanaka. Tapi, ternyata tidak kena karena sosok Tanaka itu tiba-tiba saja menghilang dengan kecepatan kilat. Monster itu kembali kebingungan sambil mencari keberadaan Tanaka saat ini.


PUK!


"Tap~ Aku di sini, loh."


Monster itu kembali dikejutkan dengan kehadiran Tanaka yang tiba-tiba ada di belakangnya. Tanaka menopang dagu di atas tentakelnya sambil senyum-senyum sendiri. Senyumannya terlihat manis.


"Sejak kapan kau di situ?"


"Sejak tadi, lah! Pake nanya lagi. Hoaam~ Sekarang kita mau ngapain, ya enaknya?"


"Keparat sialan! Enyahlah dariku!"


BRUAK!


Lagi-lagi tidak kena. Tentakel itu hanya mengenai pembatas jembatan saja. Dan sekarang, pembatas itu malah hancur.


"Eeeh? Jangan galak-galak, dong. Dikit-dikit serang, dikit-dikit serang. Ah, aku jadi bosan, kan!" Tanaka saat ini sedang berdiri di atas dahan pohon itu lagi. Gerakannya sangat cepat dalam menghindar. Tapi, apakah pertahanan bela dirinya untuk melawan Monster itu juga kuat? Dari tadi dia hanya menghindar terus.


"Penakut kau! Kenapa kau terus menghindar, hah!? Ayo maju sini!" tantang si monster.


"Ooh~ Kau mau aku melawan? Hmm..., tapi maaf. Aku tidak suka kekerasan~" Tanaka menjawabnya dengan nada suara yang diimutkan dan jari telunjuknya menempel di bibir dengan ekspresi Tanaka yang membesarkan matanya sambil meneleng.


"Berisik! Ayo maju sini!" Monster itu kembali menantang Tanaka.


"Ah, jadi kamu itu sosok wanita yang pemaksa, ya? Baiklah, akan aku turuti." Tanaka kembali berdiri dari posisi jongkoknya. Ia berdiri tegak. Lalu, tak lama kemudian, ia mengeluarkan aura mencekam dan beberapa asap hitam yang keluar dari tubuhnya.


CK- CK- CKRAAASSS!


Beberapa tentakel miliknya mulai keluar dari punggungnya. Tentakel itu terlihat lebih kecil dibanding milik si monster Bu April. Tapi, tentakel Tanaka itu bisa memanjang dan melebar sesuai keinginan dari penggunanya.


Tak lama setelah Tanaka mengeluarkan tentakelnya, ia pun kembali mendongak dan wajahnya itu pun dapat terlihat. Monster itu terkejut dengan tampang Tanaka yang tiba-tiba saja menyeramkan.


Angin berhembus di sekitarnya, poni panjang yang menutupi mata kanannya itu terbuka dan sedikit terangkat. Dapat terlihat, mata bolong Tanaka yang menyeramkan itu. Ditambah dengan ekspresi marah Tanaka yang super menakutkan!


"Kau akan menyesal karena telah menantang ku untuk bertarung." Ujar Tanaka.


"Be, berisik! Majulah, kau!"


"Kau akan menyesal jika aku yang menyerang duluan."


"Bodo amat! Cepatlah kau-"


WWUUUSHH....


ZRASH! ZRASH! ZRASH*!


TAP!


"Maaf, aku tidak bisa menyerang wanita." Tanaka kembali ke dahan pohon yang tadi.


Monster itu semakin terkejut dan ketakutan. Karena apa? Karena Tanaka telah memotong semua tentakel milik monster itu. Sungguh! Dengan kecepatan kilat, Tanaka memotong semua tentakel itu dengan menggunakan tentakel miliknya. Lalu, kesempatan itu, ia gunakan juga untuk menyelamatkan Takana.


Setelah semua tentakelnya hancur, monster itu pun jatuh duduk di atas jembatan. Lalu, tak lama kemudian, sosok Bu April yang cantik itu kembali. Bu April hanya terdiam saja sambil menatap kedua tangannya yang ada di atas pahanya. Ia masih membesarkan matanya dengan ekspresi wajah kagetnya.


"Ti–tidak mungkin..., di, dia itu adalah monster yang sebenarnya!" gumam Bu April pelan.


"Ah, bermain-mainnya kita sudahi dulu, ya? Sebenarnya, tujuanku ke sini hanya untuk menjemput adikku. Baiklah, sampai jumpa! Serang aku kapan saja kau mau!" Tanaka melesat dengan cepat dari atas dahan itu sambil menggendong seorang saudaranya yang tak sadarkan diri itu.


"Tidak mungkin. Aku kalah lagi darinya? Di–dia benar-benar kuat. Bahkan, aku sendiri tidak bisa melihat pergerakannya tadi." Bu April kembali bergumam-gumam. Lalu, ia pun menggaruk-garuk kepalanya karena geram.


Lalu tak lama....


"Ibu? Apa yang Ibu guru lakukan di sini?" tanya Adrian, si ketua dari kelas 3-A. Ia tidak sendiri. Semua anak kelas 3-A ada di jembatan itu. Mereka menghampiri Bu April.


Bu April pun kembali mendongak. Ia menatap semua muridnya sambil tersenyum. Lalu, Bu April kembali mengeluarkan mata kuningnya.


"Anak-anak, Ibu punya tugas untuk kalian! Hihihi...."


****


To be Continued-