
Note: Maaf klo mendadak ganti POV,, rencananya memang mau ganti & mulai dari eps ini. Nanti eps sebelumnya juga mau direpisi lagi untuk penggantian POV juga.
*
*
*
Saat jalan menuju ke sekolah, Irvan dan Bell baru saja keluar dari tukang potocopy habis beli peralatan sekolah. Jaraknya hanya tinggal lima meter saja untuk sampai ke gerbang sekolah. Lebih tepatnya, cuma tinggal menyeberang jalan saja.
Namun saat ingin menyeberang setelah menengok kanan kiri, mendadak Irvan menarik lengan Bell lalu memeluknya. Tak lama, sebuah jarum besar pun menancap ke tempat yang diinjak Bell tadi.
Gadis itu terkejut lalu bertanya, "E–e–eh?! A–apa ini? Bukankah itu jarum yang sama yang pernah menusuk pegawai toko buku kemarin?!"
Tidak ada jawaban dari Irvan. Lelaki itu masih terus melirik ke sekitar termasuk ke atap toko potocopy di belakangnya. Dari sana, ia sempat melihat bayangan seseorang yang berlari di atas genting, lalu menghilang.
Ia merasa diawasi. Irvan khawatir kalau seseorang yang misterius itu menyerangnya lagi saat di dalam lingkungan sekolah. Bisa-bisa akan menimbulkan korban jiwa. Jadi untuk memeriksanya, Irvan menggendong Bell, kemudian masuk ke gang kecil diantara dua rumah agar tidak ada orang lain yang melihat aksinya.
Ia memanjat tembok dengan cepat, lalu melompat sampai kakinya mendarat di atas genting. Dari sana, ia dapat melihat atap toko potocopy. Tidak ada siapapun di sana kecuali burung yang sedang terbang.
"Uwaaa ... tinggi banget! Irvan ... kau ini sedang apa, sih?" Bell yang belum menyadari situasinya pun semakin terheran dengan sikap kewaspadaan Irvan.
Namun tetap saja, lelaki itu belum bisa menjawabnya karena, tiba-tiba ia menoleh ke belakang lalu terdengar suara ledakan kecil. Seketika itu juga, tubuh Irvan langsung terdorong dengan keras. Untungnya mereka berdua tidak terjatuh dari atap rumah yang dipijaknya. Hanya merusak beberapa genting.
Karena tidak mau pemilik rumah tahu perbuatannya, Irvan pun pindah ke tempat lain dengan melompat ke atap rumah lainnya. Selain itu, ia juga ingin menghindari beberapa serangan lain yang mungkin akan muncul lagi.
Ledakan kecil tadi tidak melukainya, hanya memberikan efek hembusan angin yang kuat. Irvan masih belum melihat sosok yang telah menyerangnya. Bisa saja itu Oni, atau lebih parahnya lagi ... Onirida.
"Irvan! Apa yang terjadi?" Bell bertanya sekali lagi.
"Ada yang berusaha menyerang kita. Tapi aku tidak tahu siapa." Sempat-sempatnya Irvan menjawab karena ia merasa tidak enak telah mengacuhkan darlingnya.
"Sekarang apa yang kita lakukan?! Kau ingin menggunakan tubuhku?"
"Tidak." Irvan menggeleng pelan. "Aku ingin kau menghemat energi saja." Lalu sekali lagi, ia melompat ke sebuah rumah bertingkat yang lebih tinggi dari yang lain. Karena dari sana, mungkin saja ia lebih mudah menemukan makhluk yang menyerangnya. Ia masih belum melihat siapapun di sana.
Namun, ia masih bisa merasakan kehadiran makhluk-makhluk itu termasuk juga dengan serangannya. Tak lama, ada satu serangan berupa bom kecil mengarah padanya. Dengan cepat, ia berdiri di depan Bell, lalu mengarahkan tangannya ke depan dan seketika terbentuk sebuah gelembung besar yang mengelilingi mereka berdua.
Setelah gelembung itu muncul, bom itu pun meledak saat menghantam gelembungnya. Irvan masih bisa menahan serangan itu dengan perisai gelembung. Tapi sepertinya serangan tadi masih terbilang kecil.
TAP! STAP!!
Irvan dan Bell terkejut saat dua orang asing mendadak datang entah dari mana. Mereka sangat dekat dengan Irvan. Lelaki itu pun menjauh dan kembali berwaspada.
Dua orang itu terlihat seperti bukan manusia. Hanya postur tubuhnya saja, namun mereka memiliki ekor dan tanduk seperti iblis. Wajah mereka juga mirip, hanya beda kelamin saja. Yang lelaki terlihat membawa ular dan lebih bersemangat. Sementara perempuannya duduk berjongkok dengan senjata laras panjang yang dipegangnya sambil memakan permen karet.
"Kalian boleh juga," ujar lelaki iblis itu. Ia mengelus kepala peliharaannya, lalu menarik ekor ular itu dan melemparnya ke arah Irvan. Mulut ular itu pun menganga dan dengan taringnya, ia berhasil menghancurkan perisai gelembung Irvan dengan mudah.
Lelaki itu pun kembali menggendong Bell Dan hendak ingin melarikan diri dengan melompat ke bangunan lain. Tapi setelah gadis iblis itu mengarahkan tangannya ke pada mangsanya, seketika cahaya putih yang mengelilinginya pun berubah menjadi monster berbentuk mochi kecil yang lucu, tapi mematikan.
Saat mochi itu terbang mengenai tubuh belakang Irvan, seketika mochi itu pun meledak dan membuat tubuh Irvan terpental sampai ia terjatuh dari atas atap rumah itu bersama Bell. Beruntung, karena refleknya cepat, dengan kekuatannya, Irvan memunculkan kumpulan air di bawah kakinya agar ia bisa dengan mudah mendarat ke tanah tanpa rasa sakit. Lalu setelah itu, ia kembali menggendong Bell Dan berlari masuk ke dalam gang.
"Hogbab." Di dalam gang tersebut, Irvan membuat sebuah penghalang yang terbuat dari air yang padat untuk menghalangi jalan masuk gang tersebut. Lalu setelah itu, ia kembali mengajak Bell untuk lari lagi masuk ke dalam gang dan melewati pemukiman padat penduduk.
Di sana daerahnya rada sepi karena penduduknya sedang bekerja di jam segini. Maka dari itu, kalau ingin berkelahi, ia lebih suka di tempat yang sepi. Tapi Irvan menyadari lawannya itu lebih kuat darinya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk lari saja.
Tak lama, mereka berdua pun sampai di jalan keluar lain dari gang itu. Tapi saat ingin keluar, tiba-tiba dua jarum besar lain melesat cepat ke arahnya. Irvan hanya mundur dua langkah untuk menghindar. Lalu dari atasnya, jatuh seorang wanita iblis tadi yang terlihat memegang senjata laras panjangnga.
Irvan meminta Bell untuk berlindung dibaliknya. Tapi saat Bell menoleh ke belakang, ia menepuk-nepuk punggung Irvan. "Eh ... itu ... ada yang lainnya ...."
Irvan pun menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat iblis yang laki-lakinya berhasil melewati penghalang yang ia pasang di jalan masuk gang tadi. Entah bagaimana caranya dia masuk. Mungkin dia dapat menghancurkannya dengan mudah. Saat ini, mereka berdua telah benar-benar terkepung.
"Melarikan diri di tempat sempit ternyata adalah ide buruk." Gumam Irvan dalam hati. Walau keadaannya sedang genting saat ini, ekspresinya tetap tidak berubah. Ia terlihat tenang dari luar, tapi sebenarnya ia takut.
"Ka–kalian ini siapa?! Dan mau apa kalian dari tadi?" Bell memberanikan diri untuk bertanya. Tapi ia tetap berlindung dibalik tubuh lelakinya.
"Aku sedang bosan. Cuma ingin bermain-main dengan kalian, sekalian menyelesaikan tugas kami." Jawab lelaki iblis. Sementara yang gadisnya hanya diam saja dengan senjatanya yang masih diarahkan pada mereka berdua.
"Ah, ganggu banget, sih? Kan kami mau sekolah. Bukan mau bermain dengan kalian!" Bell membentaknya lagi.
"Main bentaran doang, sampe kalian tidak.bisa bergerak lagi. Setelah itu, aku baru bisa membawa kalian dan tugasku akan cepat selesai." Lelaki iblis itu pun berjalan mendekat. Ia ingin meraih tangan Bell, tapi tiba-tiba muncul serangan air mancur yang muncul dari bawah tanah yang diinjak iblis itu.
"Mizu ... Piasu." Gumpalan cairan bening yang muncul dari bawah tanah itu pun bergerak mengikuti arahan dari tangan Irvan. Lalu berpecah dan masing-masing membentuk beberapa benda lancip yang terlihat seperti duri panjang, tapi transparan.
"Mizu," Sekali lagi Irvan bergumam untuk mengaktifkan powernya dengan memunculkan percikan air yang muncul dari bawah sepatunya. Lalu dengan aman, ia bisa mendarat di atas genting seseorang. Setelah itu, dengan efek skill yang sama, Irvan terus menggunakan elemen airnya untuk bergerak cepat melompati bangunan lain dan menjauh dari kedua iblis kembar tadi.
"Duh, kabur lagi. Terpaksa harus kejar, deh." Lelaki iblis itu manggaruk kepala belakangnya dan mengeluh. Lalu ia dan saudaranya kembali bergerak cepat untuk mengejar Irvan dan Bell yang masih mereka incar.
TAP!
Irvan mendarat di atap rumah kosong. Dari sana, ia bisa melihat hutan kota yang mungkin saja di sana jarang terlihat manusia biasa. Jadi ia memutuskan untuk pergi di sana dan kalau ada gua atau pohon, ia bisa menjadikan tempat itu sebagai persembunyian sementara.
Irvan sampai di salah satu pohon dan hinggap di sana. Begitu juga dengan Bell yang duduk di atas dahan pohon yang kokoh, walau ia sendiri ketakutan. Dari atas sana, Irvan kembali mengamati sekitar. Merasa situasi sudah aman, ia akhirnya bisa bernapas lega lagi.
"Siapa, sih mereka tadi? Ganggu kita mau ke sekolah aja! Huh!" Bell masih menggerutu sambil terus memeluk batang pohon untuk berpegangan agar tidak jatuh.
Namun tak lama setelah menggerutu seperti itu, tiba-tiba ia mendapat sedikit guncangan dari tubuh Irvan di sampingnya. Saat ia menoleh, Bell terkejut melihat Irvan diserang oleh si iblis lelaki yang kembali muncul. "Kyaaaa!! Kenapa dia cepet banget bisa nemuin kita?!"
Bell berteriak ketakutan. Lalu Irvan pun terjatuh dari atas pohon. Lelaki itu mendarat dengan selamat, tapi ia meminta Bell untuk diam di tempatnya. Lalu tak lama setelah itu, sebuah pukulan tangan mengarah pada Irvan. Lelaki itu melompat dan langsung menyerang balik dengan bola airnya lalu berlari menghampiri iblis tersebut dan memberikan serangan fisik.
Keduanya saling adu pukulan dan dengan power masing-masing. Gerakan keduanya cukup cepat, tapi iblis itu lebih cepat sampai akhirnya, keduanya pun berhenti dengan napas yang terengah-engah.
Lelaki iblis itu memandang Irvan dengan bahagia. Ia suka mendapatkan lawan yang seimbang dengannya. "Hehe ... boleh juga, kau. Tapi aku masih mau main-main denganmu, loh!"
Lelaki iblis itu mengeluarkan cakarnya yang panjang dan kembali menyerang Irvan. Lelaki tanpa ekspresi itu pun menangkap tangannya, lalu berhasil memukul dada iblis itu bersama dengan bola air yang dikeluarkannya. Iblis itu pun mundur ke belakang, lalu mengarahkan tangannya ke depan.
Seketika tanah bergetar di bawah Irvan. Lelaki itu sempat terkejut dan ia semakin kaget saat melihat seekor ular raksasa yang muncul dari bawah tanah terlihat ingin melahapnya dengan utuh.
Karena tidak sempat menghindar karena serangan yang mendadak, Irvan terpaksa harus bertahan dengan menggunakan perisai gelembungnya. Ular itu pun menggigit utuh gelembung tersebut dan Irvan terus menahan agar efeknya tetap keluar dan gelembungnya tidak akan dapat dihancurkan dengan mudah.
Selagi menahannya, Irvan memikirkan cara lain untuk menghentikan ular besar tersebut. Sampai akhirnya ia teringat dengan satu skill tersembunyinya yang bisa ia gunakan sekarang.
"Mizu ..." Irvan menutup mata, lalu menggeser sedikit kakinya. "Yusui Ko!" Irvan kembali membuka mata, lalu menghentakan kakinya ke bumi dengan kuat. Lalu seketika muncul beberapa aliran air yang kuat muncul dari dalam tanah. Dua batang air itu berhasil menusuk tubuh si ular.
Kuatnya power air itu telah membuat dua lubang di tubuh si ular. Makhluk itu pun menggeliat kesakitan lalu kembali menjadi kecil dan balik ke majikannya dengan cara terbang.
Irvan menghilangkan perisainya lalu mundur ke belakang. Ia melirik tajam pada si iblis lelaki, lalu kembali melakukan penyerangan dengan power yang sama. Karena tidak mau berdiam diri saja, si iblis lelaki pun juga tak mau kalah dan ikut menyerang. Mereka kembali saling adu kekuatan dengan powernya masing-masing.
Bell yang berada di atas pohon terlihat takjub dan juga sedikit khawatir dengan Irvan. Ia takut kalau lelaki itu bisa kalah karena menggunakan powernya terlalu banyak, tanpa meminjam kekuatan dari darlingnya.
"IRVAN! SEMANGAT LAH!!" Bell berteriak dari atas pohon untuk menyemangati Irvan yang sedang bertarung mati-matian dengan musuhnya hanya untuk melindunginya. Ia ingin juga membantu, tapi saat ditawarkan bantuan, Irvan selalu menolaknya sama seperti tadi.
"Mizu ... Otaboru!!" teriak Irvan sambil mengeluarkan powernya yang dianggap paling kuat. Yaitu bola air besar yang bercahaya. Rasa sakitnya ada di air bening tersebut yang ternyata mengandung asam yang dapat merusak kulit juga terkena setetes pun.
"Heh, Moeru Zimmen!!" teriak si iblis lelaki dengan bangganya menunjukkan salah satu powernya yang begitu kuat. Setelah meneriaki jurusnya, seketika tanah kembali bergetar, lalu muncul beberapa batu panas yang keluar dari dalam retakan tanah.
Langsung saja, si iblis meluncurkan serangannya tersebut. Begitu juga dengan Irvan. Mereka kembali adu kekuatan sampai akhirnya kedua power mereka pun bertubrukan dan menyebabkan ledakan disertai dengan angin yang kuat. Keduanya menahan diri di tempat.
Lalu saat asap-asap akibat ledakan tersebut hilang, Bell kembali bernapas lega karena ia bisa bertahan di atas pohon setelah guncangan tadi. Lalu ia kembali melihat ke tempat pertarungan temannya dengan si iblis.
Awalnya ia senang karena Irvan masih sanggup berdiri. Sedangkan si iblis telah berjongkok seakan sedang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Tapi ternyata tak lama setelah itu, tubuh Irvan pun tumbang di tempat.
"Eh?!" Bell yang melihatnya pun sangat terkejut. Ia pikir, Irvan telah menggunakan seluruh kekuatannya sampai tubuhnya kehabisan tenaga dan terjatuh di tempat. Tapi ternyata ada penyebab lainnya. Ia melihat ada sebuah jarum yang menancap di bahu kanan lelaki itu.
"IRVAN!" Nell ingin turun dari pohon untuk memeriksa keadaan temannya. Tapi ia kembali dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang ada di sampingnya. Orang itu menutup sebelah mata Bell, lalu berbisik di samping telinganya. "Jangan bergerak kalau kau tidak mau senasib dengan temanmu."
Ternyata gadis iblis itu muncul di samping Bell dan duduk di sampingnya. Bell diancam dengan senjata milik iblis itu. Senjata dengan peluru yang dapat melumpuhkan seorang Oniroshi, tapi sangat mematikan jika terkena makhluk hidup biasa.
"A–apa yang akan kau lakukan pada kami?" tanya Bell pelan dan takut. Tapi saat gadis iblis itu ingin menjawab, tiba-tiba ada sebuah anak panah yang menusuk dahan pohon yang mereka duduki. Nyaris saja anak panah itu mengenai kaki si gadis iblis.
Gadis iblis itu pun terkejut dengan serangan tersebut. Saat ia ingin mencari lawan, tiba-tiba panah yang menancap di dahan itu pun mengeluarkan ledakan kecil dan langsung merubah benda yang ada di sekelilingnya menjadi es. Termasuk dengan kedua kaki sampai setengah badan si gadis iblis.
Gadis itu terjebak dengan es yang menyelimuti setengah tubuhnya. Sedangkan Bell yang ada di dekatnya terlihat baik-baik saja. Tapi ia agak shock melihat es asli yang dapat membekukan manusia dalam sekejap.
Tak lama, angin bertiup kencang dan hawa dingin pun muncul. Bell tidak tahu apa yang terjadi di tempat itu. Lalu tak lama, ia kembali melirik ke bawah pohon dan ia kembali dikejutkan dengan kehadiran sosok wanita serba putih yang berada di tengah-tengah tempat pertarungan antara Irvan dan Lelaki Iblis.
Saat mata Bell melirik ke wanita itu, orangnya pun mendongak dan menatapnya juga sambil tersenyum. Melihat matanya, Bell jadi merinding. Ia tidak tahu wanita itu lawan atau kawan untuknya ....
*
*
*
To be continued–