Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 20~ Study tour, part 2



____________________________________________


"Bell? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aprilia-sensei lembut pada Bell.


Bell menggeleng cepat, lalu ia pun mundur ke belakang. "Jangan mendekat!" ia dengan cerobohnya malah berteriak. Seketika, beberapa anak yang mendengar teriakannya itu menengok ke arahnya.


"Kamu kenapa Bell?" tanya Aprilia-sensei lagi.


Bell tiba-tiba saja tersentak. Ia membesarkan matanya. Menggenggam lebih erat lagi pulpen yang ia pegang itu. Ia tidak menjawab Aprilia-sensei. Lalu dengan cepat ia berbalik badan dan langsung berlari menjauh dari Aprilia-sensei.


Setelah Bell pergi, Aprilia-sensei pun mensipitkan matanya.


[ Ada masalah apa? ]


Suara seseorang dari ponsel yang digenggam Aprilia-sensei. Ternyata, Aprilia-sensei masih belum mematikan telponnya. Ia pun kembali mengangkat ponselnya, lalu menempelkannya di telinga. Ia menjawab, "Anak itu sudah mengetahui semuanya."


[ Siapa? ]


"Salah satu dari muridku. Maaf, aku akan selesaikan ini!"


[ Sebaiknya kau melakukannya secara diam dan perlahan. Jangan sampai ada yang curiga denganmu. ]


"Akan aku usahakan, Tuan! Intinya, mangsa kita sudah berada di dekatku."


[ Kerja bagus. Aku menunggu kepala mereka. Berikan kepala mereka dan bawa ke hadapanku. ]


"Baik, Tuan!"


TUT!


Aprilia-sensei mematikan ponselnya. Lalu setelah itu, memandang tajam objek yang ada di depannya. Dan setelah itu, perlahan, pupil mata Aprilia-sensei berubah menjadi warna kuning sepenuhnya. Lalu, ia berjalan memasuki hutan itu.


****


Chapter 20: [ Study tour, part 2 ]


****


"Bell! Bell! Kau di mana?" Itu suara teriakan Takana memanggil temannya yang hilang. Karena dari tadi, mereka belum menemukan anak perempuan berambut coklat dikuncir dua itu.


"Nah, itu dia!" Irvan menunjuk. Ia berhasil menemukan Bell.


Bell menengok ke arah kami berdua. Lalu setelah itu, ia berlari cepat ke arah teman-temannya. Ia terlihat ketakutan dan bersyukur bisa bertemu dengan mereka lagi.


"Kau kenapa?" tanya Irvan.


Bell kembali mendongak. Lalu ia menunjuk-nunjuk ke belakangnya. Tepatnya, ia menunjuk ke jalan sepetak menuju ke arah jembatan itu lagi. Badannya gemetar, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya berkeringat.


"I–itu! Di sana! Di sana! Bu April.... Dia bilang, dia bilang...."


"Dia bilang apa?"


"Emm..., dia bilang..." Bell mulai terdiam. Lalu ia melirik ke langit sambil memikirkan sesuatu. "Mm ... apa ya? Aku lupa. Aku lupa. Tadi, aku mau bilang apa, ya?"


Takana memasang wajah melas ku. Sementara Irvan-san sendiri tetap dengan wajah dan ekspresi yang sama. Tidak berubah sama sekali.


"Haduh, kenapa kau ini cepat sekali lupa. Coba diingat baik-baik." Ujar Irvan.


"Iya. Apa yang membuatmu ketakutan tadi?" Takana juga mulai membuka mulutku.


"Em..., apa ya?"


"Hai kalian bertiga! Apa yang sedang kalian lakukan?"


Bell terkejut. Tiba-tiba saja, Aprilia-sensei muncul di belakangnya. Semuanya juga terkejut dengan kehadiran Aprilia-sensei yang mendadak itu.


"Ah, Ibu? Ada apa?" tanya Takana.


"Kalian semua sudah mengerjakan tugas kalian?" tanya Aprilia-sensei.


Mereka bertiga menggeleng. "Belum."


"Baiklah kalau begitu, sekarang kita sudahi dulu. Waktunya makan siang! Ayo! Semuanya sudah berkumpul" ajak Aprilia-sensei.


Mereka bertiga menurut. Lalu mereka pun mengikuti langkah Aprilia-sensei sampai kembali membawa mereka ke depan tenda besar, tempat menaruh barang-barang kita di sana.


Semuanya sudah berkumpul di dalam tenda. Mereka sedang memakan bekalnya masing-masing. Ada yang bercanda dan ada yang sedang mengobrol juga.


Takana, Irvan dan Bell juga ikut bergabung. Takana mengambil tasnya (tapi padahal itu Tasnya Dylan). Ia membuka resleting tasnya. Di dalam ternyata ada baju Dylan, Komik. Ternyata Dylan juga memasukan laptopnya ke dalam tas. Buku-buku kecil dan satu benda yang membuat Takana terkejut.


"Eh? Satu lagi, dia juga membawa baju sweater berwarna pink milikku?! Eeehhh?!"


"Dylan? Ada apa?" Bell mengintipi temannya.


Takana tersentak. Lalu, seketika wajahnya sedikit memerah. Dengan cepat, ia kembali memasukkan baju pink-nya ke dalam tas sebelum Bell melihatnya.


"Apa itu?" tanya Bell penasaran.


"Ah! Bukan apa-apa, kok! Sudahlah, ayo kita makan bekalnya!"


"Eh? Tapi di mana bekalmu?"


"Oh iya! Aku tidak membawa bekal. Dylan-san juga tidak menaruh bekalnya di dalam tasnya. Haduh, bagaimana ini? Aku sedikit lapar."


"Sepertinya kamu gak bawa bekal, ya? Ini. Ayo kita berbagi saja!" Bell menunjukkan bekalnya pada Takana. Ia baik sekali ingin memberikan makanannya.


Mereka pun makan bersama di dalam tenda itu selama jam istirahat siang ini.


****


Sore harinya, mereka berjalan kembali ke tenda itu lagi setelah puas bermain air di sungai.


"Nah, anak-anak, bagaimana? Sudah puas bersenang-senang nya?" tanya Aprilia-sensei dengan senyum khasnya.


"Nah, untuk malam ini, kita akan tidur di dalam tenda ini saja, ya?" ujar Aprilia-sensei lagi. Tapi, setelah ia mengatakan itu, tiba-tiba saja beberapa murid lainnya terkejut.


"Ha?! Kita tidur di sini?"


"Ta–tapi kata Ibu, kita akan tidur di Vila. Bagaimana, sih?"


Seketika, semua murid jadi bising. Takana dan kedua temannya ini hanya terdiam saja. Aprilia-sensei akan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dari para muridnya. Ia mengangkat telunjuknya.


"Jadi seperti ini. Kita tidak akan tidur di Vila itu. Tapi, kita akan tidur di sini saja. Nanti, kita membangun tenda lainnya. Ibu sudah mempersiapkannya. Malam ini, kita akan tidur di bawah bintang-bintang. Bukankah itu lebih menyenangkan dibanding di dalam Villa?" jelas Aprilia-sensei.


Semuanya mengangguk paham. Mereka akan bersedia untuk mengikuti aturan Aprilia-sensei dengan senang hati. Aprilia-sensei pun tersenyum. Tapi, kali ini ia mengeluarkan senyum yang terpaksa.


Takana menatap matanya. Warna matanya itu tiba-tiba saja berubah menjadi kuning. Hanya beberapa detik saja. Setelah itu, mata Aprilia-sensei kembali menjadi coklat. Takana sangat terkejut.


"Maaf aku terlambat!" teriak seseorang yang terdengar di telinga kiri Takana. Ia pun menoleh. Ternyata tak jauh dari tempatnya berdiri, di sana ia melihat ada Kei yang sedang berlari mengarah ke sini sambil membawa dua koper di kedua genggaman tangannya.


"Eh?! Yang kutahu, Study tour hari ini hanya kelas 3-A saja, kan? Sedangkan Kei-san itu berada di kelas lain. Dia sedang apa? Apa kelasnya juga sedang mengadakan Study tour? Tapi kenapa ia berjalan ke arah kumpulan murid 3-A?" pikir Takana dalam hati.


"Kei, kau lama sekali." Aprilia-sensei menggeleng.


"Ah, maaf! Tadi di jalan macet sekali. Mobilku tidak bisa bergerak." Kei membuang nafas besar, lalu ia pun jatuh terduduk di tanah. Sepertinya dia sedang kelelahan. "Hah, tapi pada akhirnya juga, aku dapat menemukan kalian ada di sini. Ini! Sudah aku bawakan."


Semuanya menghampiri Kei. Para murid perempuan senang sekali karena idola mereka yang termasuk murid terpopuler di sekolah itu datang. Semuanya melihat barang yang dibawa Kei. Ternyata, Kei membawa beberapa tempat tidur lipat kecil.


"Eh, ini kan Futon!" Tiba-tiba saja tubuh Dylan bergerak sendiri saat melihat kasur kecil itu. Tang paling mengejutkan adalah, Takana menggunakan gerakan sehari-hari nya dalam tubuh Dylan. Mengangkat tangan, melompat sambil tersenyum.


Seketika, semua mata langsung tertuju ke arah Takana. "Eh? Dylan kenapa?"


"Dylan. Tidak biasanya dia seperti itu!"


"Eh, kau beneran Dylan, kan?"


Semua orang membicarakan dirinya. Apa boleh buat, Takana menggaruk kepala, lalu langsung memasang wajah juteknya lagi. Semua orang keheranan dengan sikapnya barusan. Tapi untungnya, mereka tidak sampai mencurigainya. Tak lama, semuanya kembali menatap Kei dan ada juga yang mengambil kasurnya masing-masing.


Takana menghembuskan napas lega. Untung saja ia tidak dicurigai sebagai Takana. Kalau mereka semua tahu kalau sosok asli Dylan itu adalah Takana, pasti mereka semua akan terkejut.


"Ah, tahan Takana! Kau pasti bisa. Aku hanya berperan sebagai Dylan-san saja untuk satu hari. Tapi sebenarnya, tidak satu hari, sih.... Aku akan bisa keluar dari tubuh Dylan-san saat Onii-chan dan Nee-chan datang. Dan sekarang, di mana mereka berdua? Dan kapan mereka akan datang? Aku menunggu mereka."


PUK!


"Yoo~ Dylan! Hei, apa kabarmu?"


Takana tersentak. Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundaknya dengan keras. Ternyata itu si Kei.


"Aku baik, kok!" jawab Takana cuek.


"Seperti biasa, ya? Kau selalu saja memasang tampang seperti itu." Kei tertawa. Lalu, ia merangkul tubuh Dylan. "Hei, aku mau tanya. Di mana si cewek ... eh! Maksudku si cowok yang namanya Takana itu?"


Takana membesarkan matanya. Ia berusaha untuk tenang dan menjawab pelan, "Dia sedang sakit."


"Ah! Sakit, ya? Orang hebat seperti dirinya saja bisa sakit, coba!"


"Eh, apa maksudmu?" Takana melirik ke Kei.


"Ah, tidak ada apa-apa." Kei melepaskan rangkulannya. Lalu, ia mengangkat tangannya dan memegang kepala belakangnya. Ia berjalan santai ke depan. "Asal kau tahu saja, Takana itu manusia yang hebat. Kau harus perhatikan dia selalu. Ah, sudahlah. Nanti kau juga tahu sendiri."


Kei kembali menurunkan tangannya. Lalu, ia pun menengok ke arah Takana kembali. "Sudah ya, aku ingin ke sana dulu. Banyak kerjaan lain! Bye~" Kei melambai sambil berlari kecil.


Takana tidak menyahut lambaiannya. Ia hanya menatap punggung Kei yang mulai menjauh dariku dengan tatapan datar khas Dylan.


Sepertinya, Kei ingin memberitahu tentang kelebihan Takana pada Dylan. Tapi ia tidak berani bilang. Karena Takana bisa melihat tatapan mata ketakutannya dari sana.


"Ah sudahlah. Lebih baik dia masih berjanji padaku untuk tidak mengatakan rahasiaku pada Dylan-san. Sepertinya, dia juga takut dengan ancamanku.... Fu~fu~fu...."


Takana langsung menepuk kedua pipinya. "Eh, aku tidak boleh ketawa lagi!"


****


Malam harinya, mereka semua berkumpul. Beberapa anak telah memasang api unggunnya. Semua orang duduk melingkar di dekat api unggun itu.


"Nah, anak-anak, sebelum kita melihat bintang-bintangnya, sekarang apa yang ingin kita lakukan terlebih dahulu?" tanya Aprilia-sensei.


Salah satu anak mengacungkan tangannya. "Cerita seram, Bu!"


"Eh, cerita seram?"


"Iya. Kan dalam keadaan seperti ini, sangat menyenangkan jika ada seseorang yang menceritakan kisah seram pada kita semua!" jelas anak itu.


"Cerita seram, ya? Oke juga, tuh!"


"Baiklah, siapa yang ingin bercerita? Tapi jangan terlalu seram, ya? Nanti, ada anak yang ketakutan dan tidak bisa tidur." Ujar Aprilia-sensei.


"Eh, tenang aja, Bu! Kita mah anak pemberani semua! Iya, gak?"


"Ah, iya itu!"


"Bu! Biar aku saja yang bercerita!" Anak yang mengusulkan tentang cerita seram itu kembali mengangkat tangannya. Ia yang akan bercerita. Aprilia-sensei memperbolehkannya.


Perkenalkan, namanya Kiky Titania. Anak perempuan berkepang dua yang mempunyai imajinasi besar. Di dalam otaknya hanya tersimpan banyak cerita fiksi. Ia juga pandai menulis cerpen dan puisi. Peringkat ke 5 di kelas. Pintar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas.


Sekarang, kita panggil dia Kiky saja. Kiky memulai ceritanya. Apakah semuanya akan merasa takut? Atau ceritanya itu akan membosankan?


*


*


*


To be Continued-