Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 38~ Pasangan untuk Fely



****


"Takana duduk di sini, kan? Hehe...." tanya Takana dengan senangnya. Kami semua hanya mengangguk. Lalu, Takana pun langsung duduk di kursi yang telah tersedia.


"Sekarang, langsung mulai saja dari Irvan." Kataku.


"Oke." Irvan menghadap ke Takana. Takana langsung duduk tegak manis sambil tersenyum dan menunggu pujian yang akan Irvan lontarkan padanya. "Takana?"


"Iya, Irvan-san?"


"Takana? Kamu itu imut sekali. Mata birumu yang besar itu sungguh sangat indah. Rambut putih mu begitu bagus dan terlihat suci." Itulah pujian singkat dari Irvan.


Takana melebarkan matanya karena senang sekali. Ia kegirangan sendiri. "Wahh, terima kasih, Irvan-san!"


"Jijik." Gumamku. "Baiklah, sekarang, Bell? Apa kau mau melakukannya juga?" mataku melirik ke arah Bell.


Bell tersentak. Lalu, ia pun mengangguk cepat. "Ah, baiklah!"


Bell menghadap ke Takana. Tanpa membuang banyak waktu, Ia mulai membuka mulutnya. "Takana yang lucu. Aku suka padamu. Wajahmu sungguh sangat imut sekali. Aku juga suka sikapmu yang masih kekanak-kanakan itu. Aku sangat menyukaimu!"


Takana menepuk tangan dengan senangnya. "Wah! Bell-chan. Apa yang kau katakan itu memang benar? Terima kasih banyak!"


"Ahaha..., iya!" Bell terkekeh. Lalu, ia bergumam kecil. "Padahal ini cuma akting, kan?"


"Hah, sudahlah, sekarang lanjut saja padamu, Kei. Sekarang, jangan membuat Takana kecewa. Anggap saja si Takana itu adalah gadis yang kau sukai." Jelasku.


Kei mengangguk. Sekali lagi, Kei memasang sikap percaya dirinya itu. Ia akan serius kali ini. Dirinya mulai menghadap ke Takana. Takana juga menunggu pujian dari Kei.


Kei mulai membuka mulut walaupun ia masih sedikit ragu. "Ta, Takana! Aku suka padamu. Matamu itu sungguh indah dan kamu memiliki hati yang bersih dan baik hati. Kulitmu mulus dan putih. Rambutmu juga, terlihat bagus. Aku suka perempuan berambut pendek. Maukah kau menjadi pacarku?"


Setelah mendengar kata Kei, Takana langsung terkejut. "Aaaa-! Kei-san! Kita kan sama-sama laki-laki. Tidak boleh cinta-cintaan, loh! Aku tolak! Aku tolak! Kata Onee-chan aku ga boleh pacaran sama Kei-san lagi!" Takana mengamuk. Wajahnya sedikit memerah.


"Aaaarrrgghh!! Sudahlah! Hentikan ini. Aku tidak tahan lagi. Masa setiap giliranku, aku selalu saja ditolak! Aku menyesal telah memuji kalian semua! Sudahlah, aku pergi!" bentak Kei geram pada semuanya. Lalu, ia pun melangkah cepat ke arah pintu kelas dan keluar dari kelasku.


Kami terdiam sejenak dengan pandangan yang masih menatap ke arah Kei yang perlahan mulai menjauh dari kami. Lalu, tanpa kusadari mataku melirik ke Takana dan berkata, "Takana, yang tadi itu hanya akting."


Takana tersentak. "Oohh! Ternyata akting doang, ya?"


"Ah, payah!"


Kei tidak bersamaku lagi. Sekarang, aku tidak tahu dia mau ke mana. Tapi, setelah kejadian tadi, pasti dia merasa sakit. Aku ingin membantunya untuk mencari pacar, tapi aku sendiri tidak tahu caranya dan bahkan aku sendiri belum pernah punya perasaan kepada siapapun.


Jadi, mungkin aku harus membiarkan Kei sendirian dulu. Biarkan dia yang mengurus keperibadian dirinya.


****


Chapter 38: [ Pasangan Untuk Fely ]


****


Saat di Pasar- Tempat Kak Fely berada~


Kak Fely sedang belanja di pasar itu untuk membeli beberapa bahan untuk ia olah menjadi makanan enak. Tepatnya, ia akan membuat makanan itu untuk makan malam di rumah nanti.


Tak lama kemudian, setelah ia membeli ayam potong, Kak Fely akan pulang. Tapi, sebelum ia pulang, Kak Fely ingin menghitung jumlah pembelanjaan hari ini dulu.


Kak Fely keluar dari pasar, lalu ia duduk di bangku panjang yang letaknya tak jauh dari gerbang pasar itu berada. Setelah duduk, ia membuka tas belanjanya dan mulai menghitung.


Lalu, ia merogoh kantung jaketnya. Ia terkejut. Karena barang yang ia cari itu tidak ada di kantung jaketnya. Dompetnya yang ia cari. Dompet itu menghilang. "Oh, tidak ke mana benda itu?!" panik Kak Fely.


Ia celingak-celinguk mencari barangnya yang hilang. Benda itu sangat berharga baginya, karena di dalam dompet itu berisi sisah uang tabungannya dan kartu kredit miliknya. Kalau semua itu hilang, kan bisa gawat!


Kak Fely beranjak dari bangku panjang itu. Ia meninggalkan semua belanjaannya di sana. Untuk sebentar saja. Ia akan kembali ke pasar itu untuk mencari Dompetnya. Karena, ia pikir, dompetnya itu terjatuh di jalan dekat pasar.


Saat kembali ke depan gerbang pasar itu, ia akan berniat untuk mencari Dompetnya di tempat yang ramai itu. Tapi sebelum itu, ia berpikir sejenak. "Di tempat ramai seperti ini, pasti ada seseorang yang telah menemukan dompetku jika misalnya dompet itu memang terjatuh di sana. Oh tidak! Orang yang menemukannya itu pasti telah mengambil dompetku. Aku harus bagaimana?!"


Dirinya semakin panik dan merasa gelisah. Sampai keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. "Haduh, bagaimana ini?!"


Tep!


"Hei, kamu! Ini dompetmu. Tadi jatuh di jalan dan aku menemukannya."


Kak Fely tersentak kaget karena tiba-tiba saja ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Lalu, secepatnya ia langsung berbalik badan. Seorang lelaki muda yang mungkin seumuran dengan Kak Fely tiba-tiba saja muncul di belakangnya dan memberikan sebuah benda yang (sebenarnya) sedang Kak Fely cari itu.



"Hei, ini dompet milikmu, kan?"


Kak Fely melihat ada seorang pemuda yang memegang dompetnya itu. Kak Fely hanya terdiam saja menatap pemuda itu. Ia malah diam saja.


"Hei, jawab, dong!"


Kak Fely kaget saat pemuda itu menegur dirinya. Kak Fely akhirnya membuka mulut. "I, iya. Itu milikku."


"Oh, syukurlah. Ini ambilah." Pemuda itu memberikan dompet itu pada Kakakku. Lalu dengan ragu, Kak Fely menerima dompetnya itu. Dia memeriksa isinya, lalu menghembuskan nafas lega karena tidak ada uang yang hilang di dalam dompetnya itu.


"Ah, syukurlah." Kakakku bergumam. Lalu setelah itu, Kak Fely kembali menatap pemuda yang masih berdiri di sampingnya itu. Kak Fely sedikit membungkuk sambil mengucapkan, " Terima kasih banyak karena sudah menemukan dompetku!"


Pemuda itu tersenyum. "Iya, sama-sama. Aku berusaha untuk berbuat baik hari ini. Haha...." Pemuda itu tertawa singkat sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Eh, kenapa kamu bisa tahu kalau ini adalah dompetku?" tanya Kak Fely.


"Oh, aku sempat melihat dompetmu itu terjatuh dari kantung jaketmu itu. Jadi, aku memungutnya dan maaf, aku membuka dompetmu untuk melihat kartu KTP-mu. Dan ternyata memang benar kalau dompet itu milikmu." Jelas pemuda itu.


Kak Fely hanya mengangguk. Tapi ia merasa senang karena ada seseorang yang baik hati telah menemukan dompetnya yang sangat berharga itu.


"Astaga, Laki-laki ini sungguh tampan dan mata besarnya itu jadi membuat tampangnya jadi seperti lelaki yang manis gitu. Sifatnya juga baik sekali." Batin Kak Fely sambil menatap lelaki itu.


"Dia seperti bidadari. Dia cantik dan terlihat imut sekali. Ah! apa yang ku pikirkan! Jangan sekarang. Kita baru saja bertemu!" Pemuda itu menggeleng cepat saat batinnya berbicara seperti itu.


"Anu, siapa namamu?" tanya Pemuda itu.


Kak Fely yang sedang melamun jadi terkejut. Ia menjawab cepat. "A, aku, namaku Natash Felyshia. Panggil saja aku Fely!"


Pemuda itu tersenyum dengan suara tertawaan kecil yang keluar dari mulutnya. Ia merasa, ekspresi malu-malu Kak Fely itu sungguh lucu baginya. Lalu, setelah itu, pemuda itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan! Kalau namaku Elthan Syahputra. Panggil saja aku Ethan."


Dengan ragu, Kak Fely menjabat tangan pemuda yang bernama Elthan Syahputra itu.


"Oh ya, Ethan? Untuk membalas kebaikanmu, aku ingin mengundangmu untuk makan malam bersama dengan keluargaku di rumah. Apa kau mau?" ajak Kak Fely.


Ethan berpikir sejenak. Lalu, ia pun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi apa tidak apa, nih?"


"Tidak apa-apa. Kan aku yang mengundangmu. Lagi pula, hari ini aku belanja banyak, kok!"


"Oh, baiklah. Terima kasih! Ethan tersenyum. Seketika wajah Kak Fely memerah hanya karena senyuman dari pemuda yang baru ia kenal itu.


Fely membalas senyumannya. "Terima kasih kembali!"


****


KRRTT....


"Aku pulang!" teriak kakakku sambil melepas sepatunya di depan pintu.


"Selamat datang!" Tanaka yang sedang duduk di sofa sambil menonton Tv itu menyahut. "Kau baru pulang? Kenapa lama sekali?" tanya Tanaka setelah ia mematikan Tv dan beranjak dari sofa yang baru saja ia duduki itu.


"Pasarnya sangat ramai. Banyak pembelinya, dan aku juga harus menunggu lama untuk mengantri." Jelas Kak Fely.


Tanaka mengangguk paham. Lalu, ia melirikkan matanya ke arah tas belanja yang ada di genggaman Kak Fely itu. "Wow, pantas lama. Kau membeli bahan makanan dan jajanan yang banyak sekali. Sampai penuh isi kantung belanjamu itu."


Kak Fely tertawa kecil. "Haha..., memang sengaja. Untuk persediaan. Dan sekalian, aku juga ingin masak yang banyak untuk makan malam hari ini."


"Masak banyak? Untuk apa?"


"Untuk tamu istimewa kita nanti malam!" Kak Fely menjentikkan jari telunjuknya dan tersenyum.


"Tamu? Siapa?" Tanaka meneleng bingung.


"Ada lah.... Seseorang yang baik hati tentunya. Aku yang telah mengundangnya. Sudah, ya? Aku mau masak dulu. Bye~" Kak Fely melambai kecil, lalu langkahnya berjalan ke dapur.


Tanaka mengepal tangan kanannya lalu menempelkannya ke bawah dagunya. "Siapa yang akan datang malam ini?" batin Tanaka penasaran. "Saat dilihat dari ekspresinya, dia terlihat sangat senang. Pasti orang itu sangat istimewa baginya. Mungkin saja saudara jauhnya." Tanaka melanjutkan.


Tanaka tidak tahu kalau sebenarnya yang akan datang malam ini adalah seorang lelaki baik hati yang telah mencuri perasaan Kakakku (mungkin).


****


*Takana Utsuki


Saat pulang sekolah, aku dan Dylan-san berjalan bersama seperti biasa. Tapi kali ini agak berbeda. Karena ada Irvan-san dan Bell-chan yang sudah menemani kami pulang.


Ternyata mereka berdua sejalan pulang denganku dan Dylan-san.


"Irvan? Kamu sudah punya orang yang kamu sukai?" tanya Bell-chan pada Irvan-san yang ada di sampingnya.


"Belum." Jawab Irvan-san singkat. "Memangnya kenapa?" Ia melanjutkan.


"Ah, tidak apa-apa, kok!" Bell-chan melipat tangannya ke belakang sambil senyum-senyum sendiri. "Tapi Irvan? Bagaimana kalau aku menyukaimu?"


Bell-chan pasti berharap kalau Irvan-san akan berekspresi jika Bell-chan berkata seperti itu. Eh, tapi ternyata tidak. Masih dengan wajah yang tidak berubah, Irvan menjawab, "Oh, kamu menyukaiku? Tidak apa-apa, kok!"


Seketika wajah Bell-chan memerah. Ia menggeleng cepat. "Ah! Tidak! Tidak. Aku hanya bercanda, kok!"


"Tidak apa-apa. Kita kan berteman. Wajar kan kalau kita saling menyukai. Teman memang harus disukai. Kalau tidak suka, berarti teman itu benci sama kita." Jelas Irvan-san.


Bell-chan jadi terdiam. Tapi ia sedikit senang karena ia tahu kalau Irvan-san juga menyukainya.


Setelah mendengar pembicaraan Bell-chan dengan Irvan-san, membuatku jadi teringat dengan perkataan Lisa-san saat di kelas tadi.


Flashback-


"Karena, Takana. Sebenarnya aku.... Menyukai Dylan Leviano." Ujar Lisa-san malu-malu.


Seketika aku jadi terkejut. "Eh? Kamu suka sama Dylan?"


"Iya. Makanya aku ingin lebih dekat denganmu agar aku juga bisa lebih dekat dengan Dylan juga!" Jelas Lisa-san dengan senangnya.


Aku mengangguk lemas. "Oh, jadi begitu...."


"Makanya tolong, ya?" Lisa-san tersenyum padaku. "Tolong bantu aku agar aku bisa dekat dengan Dylan!"


Back-


Aku tidak menjawabnya setelah itu. Lisa-san pergi dari kelasku. Entah kenapa setelah ia bilang kalau dia menyukai Dylan-san, seketika perasaanku jadi Bad mood.


Lisa-san bilang, dia menyukai Dylan-san. Tapi, aku juga menyukai Dylan-san....


To be Continued-