Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 66– Pagi Hari



Di taman, Fely duduk di ayunan sambil memberitahu permainan yang akan bisa melatih kecepatan Dylan. "Ayo kita main kejar-kejaran! Jika kau bisa menangkapku, maka kau menang!"


"Apa? Kenapa permainan anak bocah, sih?"


"Eeeh ... terus kamu gak mau?"


"Hmm ... Ada yang lain, gak sih?" Dylan tidak menerima permainan kejar-kejaran tersebut. Fely pun memikirkan cara lain. Lalu tak lama, ia melirik ke Lea lalu berteriak memanggilnya. "Lea, sayang~ Ayo sini dulu, dong!"


Lea yang sedang bermain tembak-tembakan bersama Takana pun menoleh. Lalu mereka berdua menghampiri Fely dan Dylan di dekat ayunan. Saat sampai di sana, Fely membisikkan sesuatu pada Lea. Mereka seperti ingin membuat rencana.


Setelah melihat ekspresi Fely yang tersenyum samar saat menatapnya, membuat Dylan kembali bergumam, "Firasatku tidak enak."


*


*


*


"KAN BENERAN GAK ENAK!!"


Dylan berlari memutari lapangan sebagai bentuk latihannya. Kenapa dia mau melakukannya? Karena ada dua anjing galak yang besar mengejarnya dari belakang. Fely meminta Dylan untuk tetap berlari di sekitar sana. Begitu juga dengan kedua hewan tersebut.


Anjing-anjing itu menuruti Lea karena gadis itulah yang membuat binatang buas itu muncul. Fely memintanya agar Dylan bisa berlari juga sekalian mau mengecek, seberapa cepat Dylan dapat menghindari hewan tersebut.


"Boleh juga. Lea~" Fely masih belum puas. Ia pun memberikan sebuah isyarat pada Lea. Gadis itu mengangguk paham, lalu menepuk tangannya dua kali. Seketika kedua anjing itu pun meningkatkan kecepatan mereka dua kali lipat.


Dylan yang melihat kedua hewan itu mulai semakin mendekat pun terkejut, lalu secara tak sengaja, kakinya tersandung dengan kakinya sendiri. Ia jatuh tersungkur. Salah satu anjing itu melompat ingin menyerang Dylan disaat Dylan sedang lengah.


Namun ternyata Dylan menyadari kehadiran hewan itu dan dengan cepat langsung berguling ke samping untuk menghindari serangan tersebut. Tapi ia lupa dengan hewan yang satunya. Anjing yang lain berhasil menggigit kakinya dan anjing satunya lagi juga berhasil menangkapnya. Dylan berteriak ketakutan, lalu seketika tubuh Dylan dilindungi oleh bola bercahaya yang ternyata itu adalah Perisai Transparan milik Fely yang muncul untuk melindungi Dylan.


Fely meminta Lea untuk menjinakkan kedua anjing tersebut, lalu setelah itu Fely dan Takana berlari menghampiri Dylan. Lelaki itu sedang terbaring di tengah lapangan sambil menatap langit dengan napas yang masih terengah-engah karena kelelahan berlari.


Tak lama, kakaknya datang dan menatapnya. "Dylan, Dylan ... untungnya kau tidak dimakan anjing-anjing tadi."


Lalu Takana juga muncul. "Dylan-san tidak apa-apa?"


Kemudian Lea yang baru saja melepaskan anjing-anjingnya pun juga ikut menghampiri Dylan. Setelah Takana membantu, Dylan berdiri kembali, gadis itu berkata, "Ini masih mending. Kau belum merasakan rasanya dilatih oleh Asuka."


"Eh? Memangnya Asuka juga melatih para Oniroshi?" tanya Dylan tak percaya.


"Kau tidak tahu?" Takana terkejut mendengarnya. Dylan benar-benar tidak tahu apa-apa dan ia hanya menggeleng. Jadi dengan cepat, Takana pun memberitahunya. "Dia adalah pendiri Akademi Oniroshi di Jepang! Ya tentu saja dia menjadi guru buat para muridnya di sana."


"Tapi semenjak kejadian itu, jumlah murid saat ini hanya tersisah 10 orang saja yang masih hidup."


"Eeeeh?! Iya, kah? Bagaimana kabar mereka semua?"


"Mereka baik, kok. Dari sepuluh anak itu, aku salah satunya–"


"Mereka ngomongin apa, sih?" Walau Fely juga seorang Oniroshi, dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Takana dan Lea. Karena perannya menjadi Oniroshi juga belum lama. Dylan yang mendengar bisikan kakaknya itu hanya menggeleng pelan. "Tidak tau dan tidak peduli."


"Eh, Dylan! Bagaimana kalau kita masuk ke Akademi itu? Kita bisa dilatih jadi lebih kuat oleh ahlinya!" Setelah berbincang sedikit dengan Lea, Takana pun kembali melirik ke arah Dylan.


"Ah, sebenarnya aku tidak tertarik." Dylan mengelus leher belakangnya, lalu membuang muka. "Lagipula ... bagaimana dengan di sekolahku di sini?"


"Sepertinya peranmu yang sekarang lebih cocok masuk Akademi itu, Dylan. Daripada sekolah yang sekarang." Fely terlihat sangat menyetujui ajakan dari Takana.


"Eh, kak! Ilmu lebih berguna daripada pelajaran untuk melindungi dunia!"


"Di sana, kau juga bisa belajar seperti anak SMA pada umumnya." Lea membalas Dylan. "Di sana juga rata-rata muridnya adalah anak seumuran kita. Tujuan Akademi itu untuk melatih para Oniroshi muda agar siap menghadapi musuh yang lebih kuat."


"Ayo, Dylan! Kita masuk ke Akademi itu, ayo, ayo!"


"Ck, berisik!" Dylan membentak Takana yang terus menarik-narik bajunya. Lalu ia kembali menatap Lea. "Apakah di sana hanya ada 10 Oniroshi muda saja?"


"10 anak itu termasuk aku dan Zai. Ada tiga darling di sana. Jadi jumlah Oniroshi hanya ada 7 anak."


"Eh? Di sana juga ada darlingnya?"


"Setiap Oniroshi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing jika mereka memiliki darling. Berbeda dengan Oniroshi yang alami."


"Apa bedanya?"


"Selengkapnya tanya Asuka jika kau ingin tau banyak."


"Hah, iya juga. Kenapa aku jadi lebih penasaran dengan para manusia berkemampuan khusus itu?" batin Dylan setelah mendengar jawaban dari Lea. Lebih tepatnya ia tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Tapi apa boleh buat, sepertinya Lea juga sedang tidak ingin bicara banyak untuk menjelaskannya.


"Huh, hari ini sudah dulu, deh, kak!" Dylan memasukan ponselnya ke saku, lalu kembali menggunakan earphonenya. "Aku mau pulang aja."


"Eeeeh ... Dylan! Latihannya belum selesai, loh!" Takana mengejar Dylan yang sudah pergi duluan.


"Latihannya lain kali aja. Aku udah males."


"Tapi Dylan, Takana masih mau latihan sama Lea!"


"Ah, pergilah sendiri!"


"Maunya sama Dylan!"


"Ah, berisik, berisik!"


"Oke ... kayaknya mereka jadi semakin akrab." Fely tertawa kecil melihat kedekatan adiknya dengan Takana. Ia berharap Takana bisa mengisi ruang kosong dan rasa kesepian di hati Dylan. Semenjak Dylan bertemu dengan Takana, lelaki itu jadi lebih aktif dari sebelumnya.


Sebelum pergi dari taman, Fely melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah jam 6 lewat. Ia akan pulang sekarang untuk menyiapkan sarapan di rumah. Lea mengikutinya dari belakang.


...****************...


Saat sampai di rumah, Dylan membuka sepatu dan langsung pergi ke kamar mandi karena kebelet buang air. Sementara Dylan di kamar mandi, Takana akan pergi ke kamarnya untuk mengganti baju baru.


Fely di luar masih mencuci tangannya di keran taman. Lalu setelah itu, ia juga ikut masuk ke rumah. Di depan pintu, ia terkejut melihat sosok Ethan yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Dengan cepat, Fely membuka sepatu lalu berlari kecil menghampiri lelaki itu.


"Ethan! Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"


Ethan menoleh ke lawan bicaranya, lalu berdiri dari sofa. Ia terlihat senang saat wanita itu muncul di hadapannya. "Ah, Fely, aku pikir kau meninggalkanku ...."


"Ehh ... mana mungkin begitu? Aku hanya abis nyari udara segar ke luar, kok!" Fely memudarkan senyumannya, lalu ia memeriksa tubuh Ethan untuk melihat keadaannya sekarang. "Kau baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?"


"Aw!" Ethan langsung meringis begitu lengan kanannya tersentuh oleh Fely. Wanita itu langsung menjauhkan tangannya dari Ethan. "Eh, maaf, maaf! Ada apa memangnya di sini ...."


Karena penasaran, Fely meminta Ethan untuk menunjukkan lengan kanannya. Setelah dilihat, Fely terkejut. Seketika ia langsung monolog dalam hati. "Aaaaa ... kenapa aku bisa lupa kalau kekuatanku tidak akan bekerja kalau aku jauh-jauh dari Ethan. Kan dia jadi belum sembuh sampe sekarang. Kau ini payah, Fely!"


Fely menghela napas cepat, lalu tersenyum menatap Ethan. Kemudian tangannya pun mengangkat tangan Ethan dan langsung mempercepat proses penyembuhannya. Ethan yang terkejut melihat cahaya merah yang keluar dari luka itu membuatnya ingin berteriak. Tapi sudah disela oleh suara Dylan duluan yang muncul dari dapur.


Seorang gadis kecil berambut coklat pendek mengenakan baju handuk muncul dari kamar mandi. Sebelumnya Dylan sempat melihat tubuh belakang anak itu tanpa busana saat masuk ke kamar mandi. Ia tidak tahu ada orang lain di dalam sana.


Kalau dulu, ia melihat Takana. Tapi dia kan cowok. Kalau yang sekarang benar-benar seorang gadis. Makanya Dylan terkejut. Tapi tidak dengan gadis kecil itu. Dia terus menatap ke arah Dylan.


Lalu tak lama, gadis itu mengeluarkan suaranya. "Dy–Dylan ... ya?"


"Eh, eh?" Takana mengedipkan mata dua kali, lalu menoleh ke Dylan, kemudian kembali ke gadis itu. "Ka–kau kenal dia?"


"Kok ... Dylan udah gede?" Gadis itu berjalan mendekati lelaki itu, lalu menyentuh tangannya. Tapi karena merasa tak nyaman, Dylan pun sedikit menjauh dari anak itu. Si gadis melirik ke kepala Dylan. "Jambul itu ... aku tidak pernah melupakannya. Dia beneran Dylan."


"Eh, anu ..." Takana berdiri di samping anak itu, lalu melirik wajahnya. "Dia beneran Dylan. Memangnya kenapa?"


"Dylan ... kenapa udah gede duluan?" Gadis itu meraba tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Dylan. Kemudian matanya mulai berkaca-kaca. "Kok ... kok aku masih kecil-kecil aja? Huweeee!"


"Eh, eh! Kenapa tiba-tiba nangis?!" Takana berjongkok di hadapan gadis itu dan berusaha untuk menenangkannya. Dylan tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Intinya sekarang, dia butuh kamar mandi.


Tak lama setelah Dylan masuk ke kamar mandi, Fely dan Asuka pun datang karena mendengar suara tangisan gadis itu. Fely pun menggendongnya untuk menenangkannya. Kemudian ia bertanya pada Takana, "Dia kenapa nangis?"


Takana menggeleng. "Takana juga gak tau. Dia pas liat Dylan langsung nangis gitu."


"Sawan kali, sama Dylan." Lea membalas.


"Memangnya Dylan serem, ya?"


"Mungkin aja di matanya begitu."


"Iya dia klo marah suka serem, sih ...."


Fely memeluk gadis itu di gendongannya. Setelah memperhatikan fisiknya sejenak, ia tersentak. "Kayaknya aku tau penyebabnya."


"Eh? Memangnya kenapa, Onee-chan?" tanya Takana penasaran.


"Aku pernah menceritakan padamu tentang teman masa kecilnya Dylan, kan?"


"Emm ... entahlah, Takana lupa, hehe ...."


"Hmm ... sepertinya dia ini adalah temannya Dylan yang sudah lama hilang."


...****************...


Di kamar mandi, setelah buang air, Dylan menatap dirinya di cermin kecil di dalam sana. Ia merapihkan rambut, lalu tiba-tiba isi kepalanya jadi terbayang oleh sosok gadis berambut coklat pendek tadi.


"Ugh, dia ... dia sebenarnya siapanya aku, sih?!" Dylan tidak menginginkan itu semua. Tiba-tiba bayangan tentang anak itu kembali lagi dan membuat kepalanya jadi sakit. Ia tak kuat mengingatnya. Lalu ada satu bayangan yang memperlihatkan seekor Oni besar berdiri di belakang gadis itu, kemudian lenyap!


Isi pikirannya seketika kosong. Dylan kembali berdiri sambil menyentuh kepala, lalu dengan tatapan kosong, ia keluar dari kamar mandi. "Ah, aku pasti sakit." Ia pergi ke dapur untuk minum sebentar, lalu berjalan pelan sampai ke ruang tamu.


Di sana ia melihat semua orang sedang berkumpul di sofa. Kakaknya, Fely, sedang menceritakan sesuatu sambil memangku si gadis kecil yang selalu muncul di pikiran Dylan. Karena penasaran, ia ingin ikut bergabung dan mencaritahu tentang kebenaran anak itu.


" ... iya jadi seperti itulah. Dia ini adalah teman masa kecilnya Dylan. Tapi mereka sudah tidak main semenjak anak ini mendadak pindah rumah dan menghilang begitu saja."


Sepertinya Dylan ketinggian cerita. Tapi ia sempat mendengar kata-kata terakhir kakaknya bercerita. Dylan berdiri di samping kakaknya lalu bertanya, "Di–dia teman masa kecilku? Tapi ... kenapa aku tidak mengingatnya? Tidak, tidak, aku hanya merasa tidak asing aja padanya."


"Sepertinya kau lupa karena sakitmu yang parah dulu." Jawab Fely, lalu menepuk-nepuk paha gadis itu yang sedang tertidur di pangkuan Fely karena lelah habis menangis.


"Ta–tapi bagaimana bisa dia jadi teman masa kecilku? Tubuhnya aja beda jauh denganku. Seharusnya sekarang dia itu sudah bertumbuh remaja sama sepertiku!"


"Aku tau kau akan bertanya seperti itu, Dylan." Asuka tersenyum setelah menyeruput tehnya sambil mendengarkan perkataan Dylan tadi. Lalu tanpa melirik, ia menjawab, "Anak itu telah dirasuki oleh Sel Siluman dari ia kecil. Maka dari itu, selama bertahun-tahun ... ia tidak bisa tumbuh semakin dewasa dan tubuhnya akan tetap seperti itu."


"Jadi dia tidak akan bisa menjadi dewasa selamanya?!" tanya Dylan kembali.


"Kalau Sel itu masih bersarang di tubuhnya, iya memang seperti itu. Tapi sekarang, Sel itu sudah aku lepaskan dari tubuhnya. Begitu juga dengan teman-teman kita yang lain."


"Yang lain?"


"Iya. Cowok itu (Ethan) dan Tanaka juga terkena Sel tersebut. Jadi semalam, aku dan Fely mengeluarkan makhluk-makhluk itu dari dalam tubuh mereka." Jelas Asuka. Lalu ia kembali menuang teh ke cangkir dari teko. Entah kenapa hanya dia saja yang paling suka minum teh, dari yang lainnya. "Sekarang mereka semua sudah sehat kembali."


"Ah, apakah penyebab Onii-chan mengamuk kemarin itu gara-gara Sel itu?" tanya Takana.


"Iya ... aku juga baru menyadarinya saat bertarung dengannya kemarin. Dia memintaku untuk memotong tentakel yang sebenarnya bentuk mutasi dari Sel berbahaya itu. Selain itu ... aku juga memperhatikan umurnya."


"Ya~ Seharusnya aku ini lebih tua dari Asuka!"


Asuka yang sedang minum teh jadinya tersedak karena Tanaka muncul tiba-tiba dari belakang sofa yang didudukinya. Dylan yang melihat kakaknya kembali sehat langsung menghampirinya dan memeluknya karena kangen. "Onii-chaaaan~"


"Hei, Takana-chan! Kamu jangan khawatir. Aku sudah dirawat dengan baik oleh dua tante-tante yang cantik ini, loh~" Tanaka tersenyum senang, lalu ia duduk di pinggiran sofa samping Asuka. "Dan ya, fakta lainnya kalau aku ini memang benar-benar lebih tua dari Asuka. Seharusnya aku sekarang udah jadi bapak-bapak kalau Sel itu tidak merasuki tubuhku."


"Sudahlah jangan bandingkan umur. Tapi kalau banding kekuatan sih gak apa-apa. Aku lebih jago dari Tanaka sebenarnya. Fu fu~" Asuka tertawa kecil. Lalu Tanaka kembali membalasnya. "Hah? Aku bisa saja naik level kalau rajin latihan, loh~ Bisa saja kau kalah saat melawanku."


"Wah~ punya nyali besar juga ya mau melawan Oniroshi terkuat saat ini," ucap Zai dengan nada meledek sambil mengangkat kedua bahu.


"Iya, dong. Memangnya kau yang tidak ada nyalinya sama sekali. Lawan aku juga kau takut, kan?" Balas Tanaka.


"Hah?! Apa kau bilang? Kakuatanku sudah meningkat, loh~ Palingan one hit kalau melawan kau!"


"Ealah, jangan kebanyakan menghalu, dong~ Aku sudah level 14. Kau kalah jauh denganku. Yang ada, kau yang akan one hit jika terkena Mana-ku."


"Huh, cuma nomor aja dibanggakan. Sekarang ayo coba kita uji kekuatan!"


"Boleh aja. Kalau kalah jangan nangis, ya?"


"Tch, aku tidak akan kalah!"


Seketika rumah bergetar seperti sedang terjadi gempa kecil. Lalu lantai di sekitar Zai mulai retak dan aura panas api biru yang keluar dari tubuh Tanaka nyaris ingin membakar sofa yang didudukinya.


Untungnya, Fely sempat mengambil ember yang berisi air dari depan rumah dan langsung menyiram Tanaka agar apinya padam. Lalu disaat bersamaan, Dylan memukul kepala Zai dengan bantal sofa sampai lelaki itu menghentikan kekuatannya sebelum rumah benar-benar hancur. Lalu Fely dan Dylan membentak mereka berdua secara bersamaan.


"KALAU MAU BERKELAHI, CARI RUMAH LAIN YANG BISA KALIAN JADIKAN TUMBAL SANA!"


Tanaka dan Zai pun akhirnya terdiam. " .... "



*


*


*


To be continued–