
"Ah~ Oke-oke. Dia selalu menyerang dengan fisik. Jadi sekarang, aku akan mengakhirinya dengan Mana-ku!" Asuka menginjak bumi, lalu seketika jalanan di sekitarnya berubah menjadi darataj yang diselimuti es dan salju. Lalu mendadak, udara di sana jadi terasa lebih dingin.
Bahkan Dylan sampai menggigil karena dingin. Tapi saat ia memperhatikan Divan, lelaki itu tidak sepertinya dan masih fokus pada Asuka. Mungkin dia sudah terbiasa dengan udara tersebut.
"Ah, aku tidak memakai jaket. Semoga Takana bisa membantuku." Dylan akan mencari teman Oniroshinya itu untuk menghangatkan tubuhnya. Bisa saja Takana membuat api, atau memanaskan suhu tubuhnya, sehingga saat Dylan berada di dekatnya, ia bisa seperti berada di samping api unggun.
Namun setelah ia menemukan Takana, Dylan terkejut melihat para Oniroshi di taman kecil samping rumah sakit itu sedang santai-santai di depan api unggun yang Dylan inginkan. Sambil makan Mie Cup juga yang mereka beli dari pedagang kaki lima yang lewat.
"Oh? Dylan!" Tak lama Dylan melirik, Takana juga meliriknya. Ia melambai. "Dylan-san! Ayo sini! Nanti kau jadi manusia salju kalau di sana!"
"Ke–kenapa kalian malah santai-santai begini?!" tanya Dylan kesal.
"Apa? Asuka bilang dia tidak mau dibantu. Ya sudahlah~" jawab Zai santai, lalu menghabiskan mie nya. Kemudian ia melirik ke gerobak milik pedagang kaki lima. "Fel, satu lagi!"
"Oke!" Fely menyahut. Ternyata wanita itu berada di dekat gerobak dan ia lah yang akan membuat mie nya. Dylan pun berjalan cepat menghampiri kakaknya dan bertanya, "Kenapa kau yang membuat makanannya? Terus ini gerobak punya siapa, oy?"
"Ooh ... tadi ada abang-abang lewat. Tpi pas kita panggil, mau beli dagangannya, tiba-tiba dia malah kabur gak tau kenapa. Trus tempatnya ditinggalin gini aja, ya udah kita manfaatin."
"Hah? Itu namanya mencuri–"
"Tenang aja, Dylan. Kakak yang bayar, kok! Nah, sekarang kamu mau apa? Katanya mau menghangatkan tubuh."
"Ck, susu hangat aja lah." Terpaksa Dylan mau memesan salah satu minuman di sana karena tubuhnya yang kedinginan. Selagi menunggu, Dylan kembali berbalik badan dan melihat pertarungan Asuka dengan Tanaka.
Tanaka ternyata masih belum menyerah. Dia tetap ingin bertarung, walau lengannya sudah berdarah-darah karena terkena serangan Asuka mungkin. Sementara itu, si Wanita es itu masih terlihat baik-baik saja. Tapi tidak dengan darlingnya.
"A–asuka ... cepatlah ..." Karena pertarungannya yang lama dan Tuannya masih suka bermain-main dengan musuhnya, membuat Divan tak kuat menahan rasa sakit dan energinya yang terus diserap oleh Asuka setiap ia menggunakan kekuatannya.
"Tahan saja. Ini juga akan menjadi poin latihanmu agar kau bisa jadi lebih baik kedepannya." Balas Asuka.
"Ugh," terpaksa Divan harus menurutinya. Ia tau Asuka tidak akan menggunakan kekuatannya terlalu besar dan lebih suka menghindar dari Divan perhatikan. Jadi tidak guna juga jika ia memberikan suport. Akan buang-buang tenaga. Kalau begitu, lebih baik ia akan diam saja selagi tuannya masih baik-baik saja.
Dylan sendiri tidak mengerti. Kenapa Asuka tidak langsung menghabisi musuhnya? Ia menduga mungkin karena Tanaka terlalu kuat. "Tapi kenapa Tanaka tiba-tiba menyerang kami tadi? Pasti ada sesuatu yang salah." Dylan melirik ke sekitar. Lalu kembali memperhatikan Tanaka. Dylan menemukan perbedaan pada fisiknya selain tentakel yang digunakan untuk menyerang.
"Matanya berwarna kuning kosong. Dia jadi ... seperti Oni. Eh?! Apa Tanaka yang sebenarnya itu adalah Oni? Tapi yang lainnya tidak mencurigai Tanaka sebagai Oni." Saat sedang berpikir, Dylan terkejut melihat tubuh Tanaka yang melayang ke arahnya. Tak sempat menghindar, ia pun menggunakan kedua lengan untuk melindungi kepalanya. Tapi ternyata tubuh Tanaka menabrak sebuah perisai yang ada di hadapan Dylan.
Dylan kembali membuka mata dan ia melihat ada retakan di perisai itu akibat hantaman dari tubuh Tanaka. Lelaki itu kembali pergi menyerang Asuka. Secara perlahan, Dylan berjalan ke depan sampai akhirnya ia meraba sesuatu yang keras di depannya.
Seperti ada tembok, tapi transparan. Saat ia melihat sekitar, ternyata dari tadi, dirinya terlindungi oleh sebuah perisai yang besar dan tak terlihat. Oniroshi yang lain juga terlindungi. Tak lain kekuatan itu berasal dari Fely yang menggunakan perisai tak terlihatnya untuk melindungi diri dan orang sekitar dari serangan Tanaka.
Dylan mendongak mencari bekas retakan tadi. Tapi ternyata sudah hilang. Lalu tak sengaja ia melihat seseorang yang berdiri di atap gedung yang ada di seberang jalan. Dari tempatnya berdiri, Dylan dapat melihat seseorang yang misterius tersebut. "Eh? Apaan itu, dah?"
"Dylan, ini susunya– eh? Kau liatin apa, sih?" Fely menghampiri setelah selesai membuat minuman yang Dylan minta. Ia juga langsung melirik ke objek yang ditatap Dylan.
"Apa kakak melihat itu?" Dylan menunjuk. Tapi saat Fely melirik ke atap gedung seberang, ia tidak melihat apa yang Dylan lihat. Lelaki itu pun terkejut. Ia langsung kembali melihat ke atas dan ternyata sosok yang dilihatnya tadi sudah tidak ada.
"Eh? Tadi kayak ada orang yang berdiri di sana." Dylan pun melirik ke sekitar bangunan itu. Tapi tiba-tiba di langit ada yang lewat di depan matanya. Ternyata sesosok Oni yang terbang mendekati pertempuran Tanaka dan Asuka.
Semua para Oniroshi langsung bersiap untuk melawan Oni yang muncul tersebut. Tapi begitu dekat dengan Tanaka, makhluk itu berubah menjadi sosok anak kecil dan langsung memeluk kaki Tanaka. Setelah dipeluk, lelaki itu pun terdiam. Entah bagaimana, anak itu bisa menenangkan Tanaka dan menghilangkan seluruh tentakelnya.
"Kakak! Kakak!"
"Eh ... anak itu seperti ..." Setelah melihatnya, Dylan jadi teringat sesuatu. Gadis itu tidak asing di matanya. Tapi saat memikirkannya telah membuat kepala Dylan jadi sakit. Ia yakin kalau gadis itu seperti pernah menjadi pendamping hidupnya dulu.
"Hah, baiklah ... selesai sudah." Asuka menghentakan kakinya ke tanah, lalu seketika muncul kristal es dari bawah Tanaka dan langsung membekukan setengah tubuhnya. Lelaki itu tak dapat bergerak lagi. Tapi sebelum dibekukan juga, dia memang sudah tak bergerak dan malah bengong di tempat dengan tatapan kosong.
Fely mematikan sihir pelindungnya, lalu Zai dan Lea langsung menghampiri gadis kecil itu untuk mengamankannya karena sebelumnya anak itu berubah menjadi Oni. Saat Fely memperhatikannya, ia jadi ingat kalau gadis itu pernah bertarung dengannya dalam wujud Oni seperti tadi.
"Kalau begitu, Oni seharusnya dimusnahkan!" Zai membentuk sebuah batu runcing dengan kekuatannya. Ia akan menusuk gadis itu tepat di jantung. Tapi mendadak tangannya ditahan oleh Tanaka. Zai terkejut saat melihat lirikan mata Tanaka yang menyeramkan.
Lalu tak lama, kristal es yang menahan tubuh Tanaka itu pun bergetar dan hancur. Tentakel di punggung Tanaka kembali keluar, tapi tingkah lelaki itu jadi semakin aneh. Ia menahan keempat tentakelnya dengan tangan kosong, lalu berteriak pada Asuka. "Ce–cepat potong makhluk ini!! Keluarkan dia dari tubuhku!"
"Apa maksudmu?"
"Potong saja! Aku akan menahan sakitnya!"
"Tapi nanti–"
"Lakukan!!"
Mendengar perkataannya itu, Asuka terlihat terkejut. Dylan heran dengan ekspresi barunya itu. Sepertinya ada sesuatu yang serius terjadi saat ini.
...****************...
Saat malam hari, semuanya telah berada di rumah. Dylan berada di kamarnya sedang belajar, sementara yang lainnya berada di luar. Tapi Fely dan Asuka berada di dalam satu kamar. Di sana mereka bilang ingin mengoperasi Tanaka untuk menyembuhkannya. Ethan dan gadis yang dekat dengan Tanaka juga dibawa masuk ke dalam ruangan tersebut.
Di pintunya terdapat tulisan "Dilarang masuk". Jadi semuanya hanya bisa menunggu dari depan ruangan tersebut. Karena bosan menunggu, mereka akan pergi ke ruangan lain untuk mencari hiburan. Kecuali Takana yang tetap berdiri di depan pintu untuk menunggu kabar keadaan kakaknya.
Di kamarnya, Dylan benar-benar sedang membaca buku pelajarannya setelah ia dapat kabar dari gurunya kalau sekolahnya akan diadakan ujian ulang lagi setelah insiden aneh yang menimpa sekolahnya. Tapi ujian itu akan dimulai 3 Minggu kedepan setelah merenovasi gedung sekolah yang rusak. Jadi selama tiga Minggu itu, semua murid dan guru akan diliburkan.
Walaupun waktunya masih lama, Dylan memutuskan untuk belajar lebih awal. "Ada bagusnya juga kejadian tadi. Karena hari ini, ujian di sekolah benar-benar sangat mendadak. Aku tak sempat belajar dan sekarang lah saatnya."
TRINING!
Dylan mendengar ponselnya membunyikan beberapa suara notifikasi. Karena penasaran, ia pun membuka ponselnya. Ternyata grup kelasnya sedang berisik dan mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Dylan membuka isi pesan tersebut dan membacanya.
Ia terkejut saat melihat salah satu dari teman sekelasnya menyebar foto penampakan para Oniroshi yang berdiri di atas gedung. "I–ini kan para Oniroshi yang ingin masuk ke gedung rumah sakit. Hmm ...."
Dylan mengscroll ke bawah dan membaca chat lainnya. Tanggapan dari teman-temannya sangat positif. Mereka senang dengan para Oniroshi yang terlihat seperti melindungi kota dengan mambasmi para monster pemangsa manusia.
[ Kalau mereka tidak ada, mungkin kita semua bisa mati dimakan monster! ]
[ Mereka sebelumnya pernah viral dan kalian baru mengetahuinya? ]
[ Iya sayangnya mereka bersembunyi. Kejadian di rumah sakit tadi juga tidak ada yang berani mendekati mereka. Jadi tidak ada yang tahu siapa sosok asli para pahlawan itu! ]
[ Aaah ... andai gambar ini bisa dilihat jelas. Mungkin kita bisa tahu siapa mereka. ]
[ Aku harap, mereka bisa menjadi pahlawan untuk melindungi kita semua. ]
"Pahlawan, ya ..." Dylan kembali ke atas chat dan melihat foto yang dishare temannya. Untungnya foto itu buram dan para Oniroshi di sana tidak ada yang terlihat jelas. "Mereka ... memang pahlawan, sih. Sama kayak di buku komik."
Dylan memperhatikan koleksi buku komik kesukaannya. Termasuk komik yang di dalamnya ada visual yang mirip dengan Takana, hanya saja di sana versi perempuan. Lalu ia melihat kedua telapak tangannya. "Mereka itu sangat kuat. Apakah aku juga bisa sekuat mereka? Takana saja masih sering kena serang dan aku juga bisa merasakan lukanya. Itu sangat sakit. Apakah ada caranya agar aku dan Takana bisa jadi tambah kuat?"
"Jawabannya adalah latihan."
"Uwaaa! Sejak kapan kau di sana?!" Dylan terkejut dengan kehadiran Divan di belakangnya. Mendadak lelaki itu muncul di belakangnya tanpa Dylan sadari.
"Kau terlalu fokus memikirkan sesuatu sampai-sampai aku datang saja tidak tau? Aku cuma mau minjam bantal dari sini." Divan menghampiri tempat tidur Dylan, lalu mengambil salah satu bantalnya dari sana. Lalu ia pergi lagi. "Pinjem bentar, ya? Aku mau istirahat di luar saja. Takut mengganggumu."
"Eh, tunggu." Dylan beranjak dari kursinya, lalu menarik baju belakang Divan. "Di–di sini saja dulu. Ada hal yang ingin aku tanyakan."
Dengan ragu, Dylan mengatakannya. Divan hanya tersenyum dan mengangguk. Ia akan mendengarkan Dylan. Lalu ia duduk di pinggir tempat tidurnya. "Apa yang mau kau tanyakan?"
Dylan kembali duduk di kursinya dan menghadap ke Divan. "Kau kan seorang darling juga. Aku ... hanya ingin tau bagaimana caranya memberikan suport untuk Takana?"
"Itu saja? Itu kan sangat mudah. Kau hanya harus mengucapkan nama skill yang ingin diberikan ke Takana. Tapi bayarannya adalah tenagamu. Kau harus memperhatikan energimu juga agar cukup untuk mengsuport. Gunakanlah untuk hal yang penting dan disaat genting saja dan selalu menghemat energimu." Jelas Divan.
"Apa yang akan terjadi jika aku sampai kehabisan energi?" tanya Dylan serius.
"Kau akan kehilangan kesadaran dan hal itu akan membuat repot Tuanmu. Lalu jika Tuanmu juga lemah, maka dia bisa saja terbunuh dan kau juga akan menjadi incaran monster yang sebelumnya membunuh Tuanmu. Yah ... akhirnya kalian berdua juga akan mati."
"Eh?!"
"Yah makanya ... kau harus jadi lebih kuat kalau mau menjadi darling untuk Tuanmu. Ya sebenarnya kalian berdua juga harus sama-sama kuat. Aku tidak tahu bahaya apa lagi yang akan datang di kemudian hari." Divan beranjak dari tempatnya sambil membawa bantal Dylan lagi. Ia ingin tidur di ruang depan saja.
Namun sebelum pergi dari kamar Dylan, Divan kembali menoleh ke Dylan yang ada di belakangnya dan berkata, "Aku harap, kau dan Takana bisa siap untuk menghadapi musuh yang lebih kuat lagi nanti."
*
*
*
To be continued–