
****
*Dylan Leviano
Hah, setelah hari yang melelahkan di sekolah, aku akhirnya bisa sampai juga di rumah. Aku membuka pintu rumah, lalu kembali menutupnya lagi setelah si Takana masuk.
Duduk di depan pintu sambil membuka sepatu, lalu setelah itu kembali berdiri lagi dan berjalan secara perlahan pergi ke kamarku.
Benar-benar capek. Aku ingin tidur sekarang. Tapi, saat aku di depan kamarku, tiba-tiba saja Kakakku berteriak memanggil namaku. Suaranya berasal dari dapur.
Aku menyahutnya dengan berteriak juga. "Ada apa, kaaak?!"
"Kau harus minum obatmu dulu! Jangan sampai kelewatan waktunya!"
Haduh, minum obat lagi. Rasanya malas sekali. Aku hanya menjawab iya saja pada kakakku. Lalu setelah itu aku pun memasuki kamarku. Di dalam kamar, aku hanya membuka almamaterku lalu meletakkannya di atas kursi di dekat komputerku. Lalu setelah itu, tanpa mengganti baju lain, aku langsung membanting tubuhku ke atas tempat tidurku. Lalu, tanpa sadar, aku pun menutup mataku dan mulai terlelap.
****
"Hah!"
Aku membuka mataku dengan cepat. Ini di mana? Ini bukan kamarku. Dan aku juga tidak berada di atas tempat tidurku. Ini tempat apa? Kenapa semuanya berwarna putih dan sepi. Tidak ada seorang pun di tempat ini selain aku?
Aku akan menyusuri tempat aneh ini. Sekalian aku juga ingin mencari jalan keluarnya.
Tapi semakin lama aku berjalan, kakiku terasa semakin berat. Aku merasa ada sesuatu yang menahan kakiku.
Karena penasaran, aku pun menengok ke bawah dan terkejut. Karena ada rantai yang mengikat kakiku. Dan di ujung rantai itu ada bola besi yang memperberat kakiku untuk berjalan.
Aku berusaha untuk melepas rantai itu. Tapi ternyata tidak semudah yang kukira. Aku akan terus mencobanya. Kupukul dan kutarik-tarik rantai itu sampai lepas dari kakiku. Tapi nyatanya, yang kulakukan ini malah membuat kakiku semakin sakit.
"Hah, hah... aku harus bagaimana?" Nafasku mulai terengah-engah dan kepalaku terasa sakit. Seketika tubuhku juga jadi lemas semua. Apa ini karena aku belum minum obat lagi?
"Dylan...."
Eh! Aku kembali mendongakkan kepalaku dengan cepat. Aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku.
"Dylan... ayo kemarilah!'
Suara itu muncul lagi! Mataku melirik ke segala arah untuk mencari orang yang memanggilku itu.
"Dylan..."
Ah, itu dia! Aku menemukannya. Suara itu berasal dari seorang gadis remaja yang seumuran denganku. Sepertinya, aku mengenal gadis itu!
Gadis berambut pendek berwarna coklat yang mirip seperti temannya Takana. Tapi aku yakin, itu bukan temannya Takana. Wajahnya tidak asing. Dia itu adalah gadis yang selalu muncul di mimpiku, dan sekarang, ia muncul di sini juga? Apa jangan-jangan, ini adalah dunia mimpiku?!
"Dylan... ayo kemarilah!"
Eh, gadis itu menunjukkan wajahnya yang sedikit tertutup rambut. Ternyata wajahnya itu terlihat sangat cantik.
"Dylan, ayo ke sini...."
Gadis itu memanggil namaku lagi dengan lembut. Wajahnya yang cantik itu tersenyum manis padaku.
Lalu, tanpa sadar, kakiku mulai melangkah. Melangkah menghampiri gadis itu. Gadis itu mengulurkan tangannya. Kakiku melangkah semakin cepat dan semakin mendekat ke arah gadis itu untuk berusaha meraih tangan gadis itu. Sampai akhirnya....
Hap!
Aku berhasil mendapatkan tangannya. Lalu setelah kami saling berpegangan tangan, gadis itu langsung menarik tanganku dan mendekatkan kepalaku ke hadapan wajahnya. Kami saling menatap. Wajahku dengan gadis itu perlahan semakin dekat. Lalu....
"WRAAAAAGGHH!"
Tiba-tiba saja mulut gadis itu robek dan rahangnya terbuka lebar. Aku sangat terkejut melihat sosok gadis cantik itu yang tiba-tiba saja berubah menjadi monster yang pernah kulihat. Rahangnya yang besar itu mulai melahap kepalaku dan....
KRAUKS!
****
Chapter 39: [ Teman masa kecil ]
*
*
*
"UWAAAA!"
DUK!
"A, aduh, aduh...."
Tiba-tiba saja aku terbangun dari tidurku dan kepalaku membentur sesuatu yang ada di depanku. Ternyata, kepalaku telah membentur kepala kakakku sendiri.
Aku terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang kupanggil kakakku itu. Kenapa dia bisa ada di kamarku? Apa daritadi dia sudah berada di kamarku selama aku tidur?!
"Ka, kakak apa yang kau lakukan di kamarku?!" bentakku padanya.
"Aduh... tentu saja aku membangunkanmu lah!" jawab kakakku membalas bentakanku. "Kau itu, ya! Nakal! Sudah kakak bilang minum obatmu, tapi kenapa belum diminum juga?! Sekarang, ayo minum ini cepat!"
Aduh..., kakakku mengomel lagi. Berisik sekali. Lalu, dengan perasaan yang masih sedikit kesal, aku menerima kapsul obat yang diberikan kakakku untukku.
Aku memasukan obat itu dan langsung menelannya. Lalu, dengan cepat aku langsung mengarahkan tangan kiriku untuk mengambil gelas yang biasanya suka diletakan di atas meja kamar yang ada di samping tempat tidurku. Gelas itu berisi air putih yang ku minum untuk mendorong masuknya obat itu ke dalam tubuhku.
Tapi ternyata ini gawat! Gelas berisi air itu tidak ada di atas meja! Aku pun mulai tersedak. "Ka, kakak! Ma, mana minumnya?!" tanyaku sambil menggenggam leherku. Ah! Obat itu menyangkut di tenggorokanku.
Kakakku sangat terkejut. "Oh iya! Aku lupa!" Lalu, secepatnya ia berlari keluar kamarku lalu tak lama kemudian ia kembali lagi. Ia membawa gelas berisi air yang ku minta itu. "I, ini Dylan! Cepat minum!"
Aku meneguk air itu dengan cepat. Pastinya, dengan bantuan dari kakakku juga. Airnya menetes dari bibirku. Sungguh! Aku sangat panik tadi. Untung saja masih sempat. Tanpa air itu, obat yang ku minum tadi tidak akan bisa turun ke lambungku. Kakakku ini benar-benar, ya!
"Huh, syukurlah...." Kakakku mengelap keringat di keningnya sambil menghembuskan nafas lega. Lalu menepuk kepalaku. "Hei, kau baik-baik saja, kan?"
Aku menjauhkan tangan kakakku dari kepalaku secara paksa, lalu kembali menidurkan tubuhku ke atas tempat tidurku. Aku menghadap membelakangi kakakku. "Diamlah! Aku pusing!"
"O, oh, baiklah! Maaf soal yang tadi, ya?" ucap kakakku pelan. Ia terdiam sejenak. Matanya masih melirik ke arahku. "Em..., kau sudah tidur lagi, kah? Dylan?" Kakakku kembali diam.
Kak Fely membesarkan matanya karena kaget. Lalu, ia sedikit bergumam sambil menundukkan kepalanya. "Oh, baiklah kalau begitu! Kakak... akan pergi." Kakakku pergi dengan ekspresi wajah sedih.
Setelah kakaku pergi, aku langsung menarik selimutku sampai menutupi kepalaku. Suara isakan tiba-tiba saja keluar. Dan entah sejak kapan, air bening ini keluar dari mataku....
Apa aku menangis?
Aku kembali membuka selimutku. Lalu, aku kembali bangun dan duduk di pinggir tempat tidurku. Aku meraba mata kananku. Terasa basah. Ternyata benar, air bening yang mengalir di pipiku tadi itu adalah air mataku.
Dadaku terasa sakit. Begitu juga dengan perasaan Kak Fely. Dia pasti merasa sedih. Aku menyesal telah membentaknya tadi. Aku telah banyak membentaknya. Mungkin, gara-gara ulahku itu telah menyakiti hatinya. Oh tidak! Ini salahku....
Sekarang apa yang harus aku lakukan? Maaf? Iya! Aku harus minta maaf pada kakakku!
Secepatnya aku langsung berlari keluar kamarku. Aku mencari kakakku. Di ruang tamu tidak ada. Di dapur, dia juga tidak ada. Lalu, aku pun memeriksanya ke dalam kamarnya. Ternyata di dalam kamarnya itu hanya ada Takana yang sedang tertidur.
Ya ampun! Di mana kakakku?! Dia benar-benar pergi? Tapi pergi dari rumah?! Apa Kak Fely benar-benar semarah itu padaku?
Oh tidak! Ini gawat. Aku harus mencarinya!
Secepatnya aku kembali ke kamarku, lalu mengambil jaketku dan memakainya. Lalu, setelah itu aku pun langsung pergi ke pintu depan. Memakai alas kaki, lalu memutar kenop pintu dan membukanya.
Aku terkejut. Karena di depan sana tiba-tiba saja ada Tanaka yang sedang berdiri di depan pintu. Ah! Aku tidak mempedulikannya. Aku langsung saja melewati si Tanaka dan berjalan cepat keluar rumahku.
"Dylan? Kau mau ke mana buru-buru begitu?" tanya Tanaka yang ada di belakangku. Aku tetap melangkahkan kakiku dan menjawab, "Aku ingin mencari kakakku!" sambil berlari menjauh dari halaman rumahku.
"Eh? Dia ke mana memangnya?" tanya Tanaka lagi.
Tapi, pertanyaannya yang itu tidak ku jawab karena aku tidak mendengarnya. Aku sudah berada jauh dari lingkungan rumahku.
Tanaka hanya terdiam sambil menatapku yang perlahan mulai menjauh darinya. Lalu, tak lama kemudian ia pun masuk ke dalam rumahku.
****
Kakakku pergi ke mana, ya? Selama aku berlari untuk mencari sosok wanita itu, aku tidak bisa menemukannya. Kakakku itu kalau ngambek biasanya suka pergi ke mana, sih? Aku tidak tahu. Bahkan kalau dilihat-lihat, aku sudah berlari cukup jauh dan sekarang aku ada di mana, ya?
Sungguh! Aku tidak tahu tempat ini. Tempatnya terlihat tidak asing bagiku. Tapi aku tidak ingat ini ada di mana. Sepertinya aku memasuki perumahan warga lain. Dan sepertinya, aku juga belum jauh dari kawasan rumahku.
Ah, kalau begitu, aku akan berbalik arah. Pergi meninggalkan kawasan ini.
"Eh? Dylan!"
Aku terkejut. Tiba-tiba saja ada seseorang yang meneriakiku. Aku pun kembali menengok ke belakang. Ternyata, ada seseorang anak perempuan yang tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Aku menelengkan kepalaku. "Hah?" itu sahutanku. Lalu, setelah itu, anak perempuan itu berlari menghampiriku dengan ekspresi wajah yang terlihat senang.
"Dylan! Aku tidak percaya kalau kita bisa bertemu di sini! Hei! Sudah lama sekali, loh!" ujar anak itu kegirangan sendiri. Langkahnya pun terhenti saat dekat di hadapanku. Aku mengerutkan keningku karena bingung. Siapa anak ini? Aku tidak kenal dia. Tapi... ada beberapa ciri-ciri dari anak itu yang telah membuatku kaget.
Anak itu mirip seperti gadis remaja yang ada di mimpiku. Bahkan, belum lama, tadi juga aku baru saja memimpikan dia. Rambut coklat pendek dan mata berwarna kuning. Gadis yang ada di mimpiku ternyata benar nyata?! Tapi siapa dia?
"Maaf, kamu siapa, ya?" tanyaku. Kakiku sedikit melangkah ke belakang untuk menjauh dari gadis itu. Karena, saat di mimpiku, saat gadis itu dekat denganku, tiba-tiba saja dia berubah menjadi sosok menyeramkan yang ingin membunuhku.
"Dylan! Kau ini bagaimana, sih?! Masa tidak kenal aku! Huf!" Gadis itu memasang wjaah juteknya dengan pipi sebelah kanan yang ia kembungkan. "Aku ini Olip. Masa gak kenal, sih?"
Aku semakin bingung. "Hah? Olip? Siapa ya? Maaf. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Dulu, kita sering sekali bertemu. Kamu selalu memanggil aku ini dengan nama Liplip. Padahal namaku Agnesa Olipia. Seenaknya aja memplesetkan namaku. Huh! Padahal aku sendiri tidak, loh!" Lah, kok gadis ini malah menggerutu tidak jelas? Tadi siapa namanya? Olip?
"Tu, tunggu dulu, Olip. Sebenarnya, kau ini siapanya aku, ya?" tanyaku lagi.
"Huh! Dasar pelupa! Aku ini temanmu. Sahabatmu dulu saat kita masih kecil, Dylan! Kau masa tidak ingat denganku?! Parah sekali aku sudah dilupain!" Ia membentakku. Aku jadi terkejut. Bukan terkejut karena bentakannya, tapi terkejut karena perkataannya. Ia bilang, aku ini teman masa kecilnya? Tunggu dulu! Teman masa kecil? Apa jangan-jangan dia ini adalah....
Gadis yang pernah meninggalkanku saat aku masih kecil dulu? Apa dia memang benar si gadis itu? Tu, tunggu! Aduh! Kepalaku pusing. Aku mengingat sesuatu....
Beberapa bayangan masa laluku. Di kepala, aku kembali diperlihatkan sosok gadis kecil yang selalu bersamaku itu. Kami selalu bermain bersama sampai akhirnya, aku memiliki perasaan pada gadis itu. Dan apakah benar, si gadis yang kusukai ini adalah orang yang saat ini sedang berdiri di hadapanku?!
"Dylan! Kau baik-baik, saja? Apa kamu sakit?" gadis itu bertanya dengan ekspresi wajah cemasnya.
Tapi, aku tidak menjawabnya. Aku kembali mengingat sesuatu....
Dulu, setelah aku ditinggal oleh gadis yang menjadi sahabat masa kecilku, orang tuaku juga pergi meninggalkanku untuk selamanya. Lalu setelah itu.... Eh? Aku terlalu lama mengurung diri di kamar dan akhirnya aku pun jatuh sakit dan jadi merepotkan kakakku. Ditinggalkan sahabat dan orang tua. Rasa sakit yang berkecamuk.
"Ah!" Kepalaku semakin sakit. Tapi hanya beberapa detik saja. Lalu setelah itu, aku hanya merasakan pusing biasa saja. "A, aku baik-baik saja."
"Oh, syukurlah!" Gadis itu menepuk tangannya dan kembali tersenyum.
"Oh, iya. Aku tidak ingat tentang dirimu. Tapi, apakah kau bisa menceritakannya padaku? Tentang... persahabatan kita dulu."
"Oh. Bisa saja. Singkat kata. Dylan, kau itu sahabatku. Maaf, dulu aku pergi meninggalkan dirimu tanpa kuberitahu karena, kaluarga ku mendadak ingin pindah begitu saja. Maaf. Aku tidak tahu kalau aku akan pindah dan aku juga tidak tahu kalau kau itu mencariku. Oh iya, terakhir kita bertemu, sepertinya ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku. Apa itu?" jelasnya dan ia pun bertanya.
"Ha? Bilang apa?" Aku menelengkan kepalaku.
Gadis yang bernama Olip itu menelengkan kepalanya. "Hah, Dylan? Kau pasti lupa, ya? Ah! Lebih baik lupakan saja. Tapi, kamu jangan sampai lupa dengan persahabatan kita yang sudah lama kita jalin dari kecil, ya?" Olip tersenyum. Lalu, ia kembali membuka matanya lebar-lebar dan bertanya, "Memangnya apa yang telah terjadi padamu saat aku pergi? Kok kamu bisa melupakan banyak hal. Padahal aku sendiri saja tidak, tuh!"
"Ah, entahlah..., aku... tidak tahu." Jawabku pelan.
"Hmm... baiklah kalau begitu. Oh iya, apa kau tidak senang? Kan kita sudah bertemu kembali di sini. Masa dari tadi tampangmu seperti itu melulu dari tadi. Senyum dong!" tegas Olip.
Aku tersentak dengan pipiku yang sedikit memerah. "Ah, anu..., aku sudah tidak bisa... eh?!" Mataku melirik ke arah lain. Aku akhirnya menemukan dia! Aku melihat kakakku.
"Eh? Dylan? Kau tidak bisa apa?"
"Ah, maaf! Aku harus pergi!" Kakiku bergerak lagi. Aku berlari ke jalan sepetak lurus yang ada di depanku. Lalu, melewati gang kecil di antara dua rumah.
Aku senang bisa menemukan kakakku. Tapi, tiba-tiba saja mataku tersentak saat melihatnya sedang berdua dengan cowok lain yang tidak kukenal. Langkahku terhenti sebelum keluar dari gang itu.
Aku memperhatikan kakakku. Kak Fely dengan seorang cowok asingnya, sedang berdiri di pinggir jalan untuk menunggu sesuatu. Lalu tak lama kemudian, ada sebuah mobil yang datang menghampiri mereka. Mobil Taxi berwarna biru.
Kak Fely dengan cowok itu masuk ke dalam mobil, lalu setelah itu pengemudi mobil itu kembali menjalankan kendaraannya. Setelah mereka pergi, aku pun keluar dari gang itu. Menatap mobil yang Kakakku tumpangi. Entahlah, aku tidak tahu mobil itu ingin ke mana, tapi yang membuatku cemas dan timbulnya beberapa pertanyaan yang muncul di benakku adalah, "Mau ke mana kakakku? Dan kenapa dia pergi dengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya? Apa jangan-jangan dia ingin meninggalkanku lagi?!"
Oh tidak! Kalau itu memang benar, maka gawat! Aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia sudah banyak membantuku dan belum lama ini, aku baru saja membuat kesalahan yang telah menyakiti hati kakakku. Dan sampai sekarang, aku belum sempat meminta maaf pada kakakku! Aku... harus bagaimana?!
To be Continued-