
30 menit sebelumnya–
"Ini," Takana memberikan beberapa tusuk sosis bakar yang baru saja ia beli dari pedagang kaki lima di pinggir jalan kepada si gadis kecil yang kelaparan. Gadis itu kini sedang duduk di bangku taman yang tersembunyi dari warga sekitar yang melintas.
Tanaka sengaja membawanya ke tempat sepi dan meminta gadis itu untuk menunggunya di sana. Sementara ia pergi mencari makanan. Karena jika dia terlihat publik, bisa gawat. Fisiknya yang aneh bisa menjadi bahan perhatian orang banyak. Gadis itu bertanduk satu dan memiliki ekor seperti naga. Matanya merah menyala dan rambutnya tetap coklat pendek. Tapi di mata Tanaka, dia hanyalah gadis biasa yang imut.
Ia akhirnya ingat kalau gadis itu pernah bertempur dengannya dulu. Karena wujud Oni yang sama seperti sebelumnya. Gadis itu tetap kalah di tangan Tanaka. Tapi saat itu, ia membawa gadis itu pulang ke rumahnya dan ia menemukan hal baru. Yaitu sebuah sel siluman yang menetap di dalam tubuh gadis tersebut.
Tanaka tahu kalau gadis itu masih seorang manusia. Hanya saja sebuah eksperimen mengerikan telah merubahnya menjadi monster. Untuk kali ini, Tanaka tidak akan membiarkan gadis itu lepas dari genggamannya lagi. Ia ingin menyelamatkannya dan mencari jejak dari para Onirida yang masih memburu manusia untuk dijadikan mosnter dengan memasukan sebuah Sel Siluman hasil ciptaan mereka.
"Hmm ... bagaimana pun juga, dia tetap anak biasa, kan?" Tanaka tersenyum melihat anak itu. Ia menghela napas, lalu kembali bergumam dalam hati. "Dia hebat masih bisa bertahan dengan fisiknya yang seperti itu."
"Lagi."
Tanaka kembali membuka mata. Ia terkejut melihat gadis itu memberikan bekas tusukan sosis yang dimakannya. "Lagi. Aku masih lapar."
"Eeeeh?!" Tanaka terkejut mendengarnya. Ia merogoh kantung, lalu melihat isi dompetnya. Uangnya tinggal sedikit bekas ia jajan di warung makan tadi. "Duh, ini uang terakhirku. Aku bisa mengambilnya di rumah ... oh iya! Aku ajak aja dia ke rumahku. Di sana ia bisa makan sepuasnya. Fely masak banyak kalau gak salah."
"Ah, bagaimana kalau kau ikut ke rumahku saja, mau gak?" ajak Tanaka. "Nanti aku kasih makanan yang banyak!"
"Mau mau, kakak!" Gadis itu terlihat sangat senang saat ditawari makanan. Dengan riang, ia ingin ikut ke rumah Tanaka sekarang juga.
"Tapi ada satu syarat." Tanaka berjongkok di hadapan gadis itu. "Nanti sambil makan ... ceritakan pada kakak tentang pengalamanmu, ya?" Tanaka tersenyum, lalu mengangkat jari kelingkingnya.
Gadis itu mengangguk, kemudian membalas jari kelingking kecilnya. Setelah itu ia menarik tangan Tanaka untuk cepat-cepat pergi mencari makanan. Bisa-bisa dia bisa berubah jadi Oni lagi gara-gara kelaparan.
Namun saat ingin mengajaknya pergi, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seseorang yang datang. Anak kecil berparas cantik yang hanya lewat di samping mereka berdua. Tadinya ia sempat bertabrakan dengan Tanaka, tapi anak itu sudah minta maaf dan berlari pergi karena malu.
Tanaka menghela napas, lalu bergumam dalam hati. "Untung dia tidak melihat anak ini." Tanaka menyembunyikan gadis naga itu ke belakang tubuhnya. Lalu disaat sudah aman, Tanaka melompat tinggi dan pergi melewati dahan-dahan pohon di sana. Tetap berhati-hati, agar tidak ada orang lain yang melihatnya.
Sampai akhirnya ia sampai di rumah. Tanaka tidak melihat siapapun di sana. Isi rumah itu sepi sekali. Tidak seperti saat terakhir ia meninggalkannya. Pintunya juga terkunci. "Fely dan yang lainnya pada ke mana?"
Karena sedang tidak ada orang, Tanaka mendobrak pintu itu dengan kekuatannya. Selain dapat terbuka, pintu tersebut juga hancur tak tersisah. "Duh, aku terlalu berlebihan. Fely bakal ngamuk kalau pintunya hancur begini."
Tanaka tidak mempedulikannya untuk saat ini. Ia masuk ke dalam dan mengajak gadis yang dibawanya ke ruang dapur. Di sana ia membuka lemari es dan lemari makanan. Lalu mengeluarkan beberapa lauk pauk dari dalam sana.
"Ini, nih. Makan aja semuanya, ya? Kalau belum kenyang juga, ambil lagi dari lemari itu." Ujar Tanaka lalu membiarkan lemari tersebut terbuka agar si gadis naga bisa mudah mengambilnya.
"Hmm ... aku mau memperbaiki pintu dulu, ya? Tar kalau sudah kenyang, ayo kita saling curhat, hehe ...."
Tanaka pun pergi meninggalkan gadis itu sendirian di meja makan. Setelah ia mengangguk, gadis itu pun memakan semua makanan yang tersedia di atas meja. Pokoknya sampai ia kenyang, baru ia akan berhenti.
Lalu tak lama terdengar suara perkakas yang sedang bekerja dari ruang depan. Gadis itu tidak mempedulikannya. Sampai beberapa menit kemudian, ia terkejut mendengar suara teriakan dari lelaki yang ia kenal. Yaitu Tanaka.
Gadis itu pun turun dari kursinya secara perlahan, lalu ia berlari ke ruang tamu untuk mencari Tanaka. Di ruangan itu tidak ada siapapun dan pintu depan tetap terbuka. Hanya ada beberapa kayu, palu dan paku saja yang berantakan di depan pintu.
"Kak! Kakak!!" Gadis itu berteriak memanggil Tanaka tanpa menyebutkan namanya. Lalu ia beranjak dari ruangan itu dan pergi ke ruangan lain yang dilihatnya. Rumah itu benar-benar sepi. Saat kembali ke dapur, ia menemukan satu pintu lagi menuju halaman belakang. Di sana ia hanya bertemu dengan Coki, si burung kakak tua peliharaannya Dylan. Tapi lelaki yang ia cari tidak ada di manapun.
"Ka–kakak di manaaa?" Gadis itu jadi semakin cemas dan matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis. Selain takut sendirian, ia juga takut dengan keadaan Tanaka karena sebelumnya ia sempat mendengar teriakan dari lelaki itu.
Jadi dari halaman belakang rumah itu, Si gadis naga memanjat pagar, lalu pergi keluar untuk mencari Tanaka. Untungnya kawasan komplek di sana masih sepi, jadi tidak ada yang melihat gadis itu.
...****************...
"Ka–kakak ..." Gadis itu semakin sedih karena masih tidak menemukan orang yang ia cari. Lalu disaat semuanya aman, gadis itu pun beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan taman. Ia pergi ke pusat kota yang sebenarnya banyak para warga yang melintas bersama kendaraan mereka juga.
Namun selagi banyak gedung di sana, pasti terdapat gang-gang kecil di sana. Gadis Naga memutuskan untuk jalan di tempat yang sepi lewat gang-gang tersebut. Lalu ia tiba di beberapa bangunan kosong yang merupakan kios-kios terbengkalai. Ia berjalan pelan di sana sambil terus berteriak memanggil kakaknya.
Namun ternyata suaranya itu malah memancing beberapa preman yang suka nongkrong di wilayah tersebut. Terdapat lima orang yang menemukan dan mendekatinya. Gadis itu terkepung oleh preman-preman tersebut.
"Anak kecil ... apa kau tersesat? Di mana ibumu?" tanya salah satu dari preman itu dengan senyum menyeringai. Muka-muka c*bulnya mulai terlihat.
"Ayo ke sini dulu." Preman lainnya menarik tangan Gadis Naga, lalu yang lainnya mulai menyentuh bagian-bagian tubuh anak itu dengan ***** yang tak tertahankan. Merasa tidak aman, Gadis Naga itu memberontak lalu mengeluarkan cakarnya dan menebas satu tangan preman yang menahan tangannya.
Preman itu menjerit kesakitan dan semuanya terkejut melihat potongan tangan dari satu preman yang terluka. Gadis Naga itu tak berhenti sampai di sana. Ia merubah fisiknya menjadi agak besar dan mengerikan. Jiwa Oni nya kembali terbentuk, lalu ia mengaum. Para preman itu berhamburan melarikan diri.
Namun karena sudah tercampur emosi, Gadis Naga yang telah berubah menjadi Oni itu pun menghabisi para manusia-manusia yang ada di sekitarnya dengan brutal. Jeritan kesakitan bermunculan di wilayah tersebut. Dalam waktu sekejap, tempat itu telah berubah menjadi tempat berdarah dan muncul beberapa potongan tubuh manusia.
Setelah tak ada lagi mansuia hidup yang ia lihat, Oni itu pun memakan beberapa potongan tubuh di sana. Tapi ia mulai menghentikan aksinya setelah merasakan kekuatan besar dari arah lain. Oni itu pun pergi dari tempat itu dan menghampiri aura aneh yang dirasakannya.
...****************...
"It's show time!"
Tanaka yang mengamuk, langsung menjulurkan seluruh tentakelnya ke arah Asuka. Tapi wanita itu menangkisnya dengan Perisai Es Beku yang muncul di depan tubuhnya. Lalu ia menyingkirkan perisai tersebut dan membalas serangan Tanaka dengan Keristal Es.
Tanaka beranjak dari tempatnya untuk menghindari serangan tersebut. Lalu ia bergerak secepat kilat menghampiri Asuka. Divan telah mengetahui pola serang yang akan digunakan Tanaka berikutnya. Jadi sebelum terlambat, ia memberitahu Tuannya kalau akan ada sebuah tinju yang sangat kuat mengarah padanya.
Asuka menerima info tersebut dan langsung menyerang Tanaka duluan. Lebih baik serang, daripada menangkisnya lagi. Wanita itu yang duluan memukul wajah Tanaka sampai lelaki itu terpental jauh dan menabrak tembok pembatas sampai hancur. Tubuhnya juga terjun bebas dari atas gedung.
Saat ingin terjatuh, tentakelnya yang panjang sempat menangkap kaki Asuka dan menariknya. Ikut jatuh bersamanya. Seketika beberapa orang di bawah yang melihatnya langsung berlari berhamburan untuk menjauh dan mencari tempat aman. Karena di sekitar sana akan menjadi tempat pertempuran mereka berdua.
Tanaka dan Asuka terjatuh di atas dua mobil polisi yang terparkir. Mereka mendarat dengan selamat menggunakan kedua kaki, lalu masing-masing dari mereka kembali saling menyerang dengan fisik. Saling memukul dan menendang. Kekuatan mereka seimbang, tapi Asuka lebih kuat dan Tanaka hanya menang di kecepatan dan kelincahannya.
Divan yang tidak bisa jauh-jauh dari Tuannya memutuskan untuk turun dari atas atap gedung itu. Ia berlari menuruni tangga, diikuti oleh Dylan juga. Sementara Oniroshi yang lain langsung melompat dari sana dan mendarat di taman samping bangunan. Sementara Lea duduk di atas dahan pohon di sana sambil menonton.
Saat sampai di depan pintu rumah sakit, Divan langsung memberikan sebuah skill buff untuk Tuannya. Aura Brave dan Prosycal. Skill-skill lainnya dapat ia berikan jika sudah waktunya. Menggunakan skill juga membutuhkan tenaga yang besar hanya untuk kekuatan tambahan buat Tuannya.
"Sepertinya untuk saat ini, dua skill saja cukup." Setelah memberikan sebagian energinya untuk memberikan skill pada Tuannya, ia langsung menyentuh dadanya yang sakit karena Tuannya juga menerima beberapa luka dari lawannya. Lalu tak lama, ia mendapat pesan dari Tuannya lewat pikirannya. Telepati antara Darling dan Tuannya juga bisa dilakukan setiap saat.
"Wah, ini menarik. Sudah lama aku tidak menghadapi Tanaka sejak 10 tahun yang lalu. Kini dia telah bertambah kuat." Ujar Asuka kepada Darlingnya. Wanita itu jadi lebih semangat saat menghadapi lawannya yang memiliki kekuatan setara dengannya. "Haha ... aku suka serangan ini. Sangat memuaskan. Bagaimana kalau dia sampai menggunakan Mana-nya, ya?"
"Maaf, Asuka. Bisa kau cepat mengakhirinya? Sepertinya lawan yang kau hadapi itu bukanlah Tanaka yang asli. Kita harus segera mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi padanya." Balas Divan. Alasan lain yang sebenarnya adalah ia sudah tak kuat menahan rasa sakit di dadanya. Tapi berbeda dengan Asuka. Wanita itu jika semakin banyak menerima luka, maka ia semakin senang.
Aneh, emang.
"Ah~ Oke-oke. Dia selalu menyerang dengan fisik. Jadi sekarang, aku akan mengakhirinya dengan Mana-ku!"
*
*
*
To be continued–