
Oh tidak! Kalau itu memang benar, maka gawat! Aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia sudah banyak membantuku dan belum lama ini, aku baru saja membuat kesalahan yang telah menyakiti hati kakakku. Dan sampai sekarang, aku belum sempat meminta maaf pada kakakku! Aku... harus bagaimana?!
"Kakaaaak!" Aku meneriaki mobil berwarna biru yang telah membawa kakakku bersama dengan cowok asing itu. Mobilnya tidak berhenti. Sepertinya kakakku tidak mendengar suaraku berteriak. Kalau begitu, apa boleh buat, aku harus mengejar kakakku.
"Ka, kakaaak!" Aku mengeluarkan suaraku semakin keras. Tapi apa dayanya diriku hanya seorang manusia lemah yang bisa berlari pelan. Sedangkan mobil itu semakin menjauh dariku. Aku tidak bisa mengejar mobil itu lagi.
Dan sekarang, langkah kakiku semakin pelan dan nafasku mulai terengah-engah. Capek sekali rasanya saat mengejar mobil yang sedang melaju itu.
Oh iya! Aku seharusnya tidak boleh berlari sampai lelah seperti ini. Bisa-bisa penyakitku kumat lagi. Kalau begitu, aku akan berjalan pelan saja. Lagi pula, mobil biru itu telah menghilang dari pandanganku. Aku ingin pulang saja. Tapi bagaimana dengan kakakku? Ah! Aku tidak tahu. Intinya sekarang, tubuhku terasa lemas semua.
Tapi ngomong-ngomong, ini ada di mana, ya? Lagi-lagi aku tidak mengenal tempat ini. Perumahan asing. Eh, tapi lebih tepatnya, tempat ini disebut dengan perkampungan. Karena saat ku perhatikan, sebagian besar bentuk rumah di sekitarku ini agak sederhana dan temboknya terbuat dari kayu. Dan yang paling anehnya lagi, kenapa tempat ini sepi sekali? Tidak ada orang lain, apa?
****
Chapter 40: [ Dua Saudara yang dapat diandalkan ]
****
"Ke mana semua orang? Rumah di sini lumayan banyak, tapi kok ga ada penghuninya sama sekali." Pikirku dalam hati.
Eh, benar-benar, deh! Aku ada di tempat seperti apa ini? Mataku kembali melirik ke jalan yang ada di depanku. Aku terkejut. Karena di jalan lurus yang ada di depanku itu, aku melihat ada sebuah rumah yang lumayan besar. Rumahnya tidak asing kalau terlihat dari depan. Sepertinya aku pernah melihat rumah itu. Tapi aku lupa. Sebenarnya itu rumah siapa, ya?
Tapi agak lucu juga, ya? Kenapa rumah itu paling besar sendiri ketimbang rumah yang lainnya?
Ah, sudahlah. Kalau begitu, aku coba saja untuk mengunjungi rumah itu. Siapa tahu saja ada penghuninya. Dan aku bisa meminta bantuan pada orang di dalam sana untuk membantuku mencari jalan pulang.
Tapi, saat baru saja kakiku kembali melangkah, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tanganku ke samping. Seketika tubuhku terjatuh ke tanah. Terbawa masuk ke tempat yang sedikit gelap dan sempit. Ternyata, aku tertarik masuk ke dalam gang kecil di antara dua rumah kayu. Di sana aku kembali terduduk kembali.
"Dylan-san, akhirnya aku menemukanmu!"
Aku terkejut. Ada suara si Takana. Aku menemukannya! Si Takana ada di sampingku dan ternyata si Takana lah yang menarik tanganku tadi.
DUAR!
Eh? Aku terkejut! Tiba-tiba saja aku mendengar suara ledakan yang lumayan besar. Mengganggu pendengaranku. Aku mendongak ke atas dan kembali dikejutkan dengan sosok seseorang bertentakel hitam yang berdiri di atas genting rumah. Ternyata itu si Tanaka. "Eh? Tanaka?" aku bergumam sambil mensipitkan mataku bisa lebih jelas melihat sosok Tanaka.
"Takana-Chan! Ayo cepat!" Tanaka berteriak? Eh, ada apa?
"Maaf, Dylan-san...."
Aku kembali menengok ke arah si Takana lagi. Aku terkejut saat melihat wajah Takana itu sangat dekat denganku. Lalu tiba-tiba saja si Takana menjatuhkan tubuhku ke tanah. Ia menggenggam kedua tanganku dengan kuat di tanah. Lalu dengan cepat di Takana langsung mendekatkan wajahnya kepadaku.
CUP!
Bibir kami saling menempel lagi. Takana menekannya. Tapi ia tidak memainkannya seperti yang waktu itu. Aku berusaha memberontak. Tapi tidak bisa. Entah kenapa, saat ini, tubuhku menjadi lemas dan aku mulai pasrah dengan kelakuan Takana padaku.
Sekarang, tahap terakhir. Takana membuka mulutnya, lalu menekan bibirku lagi. Tak lama setelah itu, ia pun melonggarkan genggaman tangannya padaku. Lalu setelah itu, Takana pun melepaskan bibirnya. Dan seketika cahaya biru yang pernah kulihat sebelumnya itu keluar lagi dari tubuh Takana.
Aku tidak bisa bangun. Ah, lagi-lagi seperti ini. Tubuhku langsung tidak bisa digerakkan setelah aku berciuman dengan Takana. Dia benar-benar telah membuatku lemas atau apa, sih?
Entahlah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku setelah ini. Intinya sekarang, aku merasa ada seseorang yang kembali menyentuh tubuhku lagi. Tapi aku tidak tahu siapa itu. Pandanganku tiba-tiba saja jadi gelap dan aku tidak bisa melihat siapa orang itu.
****
*Takana Utsuki
Nah, sekarang, aku sudah memasuki tubuh Dylan-san lagi. Sekarang juga, aku harus membawa tubuh ini keluar dari tempat mengerikan ini.
Dylan-san sendiri tidak sadar, ya? Kalau sebenarnya dia sedang diawasi oleh seseorang yang berbahaya dari tempat ini. Ah, para Onirida itu memang pintar, ya? Mereka menjebak mangsanya dengan cara memanipulasi lingkungan sekitar korbannya menjadi dunia lain yang tidak diketahui oleh korbannya itu. Sehingga mereka jadi kebingungan dan akhirnya para Oni bisa langsung memangsa korbannya itu. Dan ternyata, Dylan-san sudah menjadi korbannya. Untung saja aku masih sempat untuk menemukannya.
Ah, aku akan pergi menghampiri Onii-chan di atas sana. Tapi, kenapa aku merasa tidak enak pada tubuh Dylan-san, ya? Tubuhnya terasa berat dan seperti tidak memiliki energi. Apa mungkin saja Dylan-san masih sakit?
Ah, kalau begitu. Aku tidak akan menggunakan energi Dylan-san dulu. Dia pasti sudah kelelahan. Mau bagaimana pun caranya, aku harus keluar dari tempat ini bersama dengan Dylan-san juga.
"O, Onii-chan!" Aku melompat ke atas genting rumah yang ditempati Onii-chan ku. Onii-chan menengok ke arahku, lalu menunjuk.
"Takana-Chan, jalan keluarnya ada di sana." Ujar Onii-chan.
Aku mengangguk paham. "Baiklah, Onii-chan! Ayo kita pergi dari sini."
Onii-chan mulai bergerak kembali. Ia melompati genting-genting rumah yang ada di lingkungan asing ini sampai ke arah jalan keluar yang ditunjukkan Onii-chan ku. Aku pun mengikutinya dari belakang.
"Hah~ Sayang sekali aku tidak bisa melihat Kelian berdua ber-chuu... begitu."
Aku tersentak. Onii-chan kembali meledekku lagi! Akan ku balas dia. "Hmm..., Onii-chan pasti iri, ya? Karena Onii-chan tidak memiliki Darling sepertiku."
"Haha..., kalau soal Darling itu mudah. Aku bisa langsung mencari dan mendapatkannya." Onii-chan ku mulai berlagak lagi sepertinya.
Aku tersenyum sinis. "Hmm? Benarkah? Sama siapa, tuuuh?"
"Ada deh! Kamu masih kecil mau tahu saja." Onii-chan ku terkekeh. "Seharusnya, kamu itu jangan berciuman sama si Dylan, loh! Kan masih anak kecil."
"Eeeeh?!" Aku tersentak dengan warna pipiku yang perlahan semakin memerah. "Onii-chan jangan seperti itu! Kan Onii-chan sendiri yang menyuruh aku untuk melakukan itu pada Dylan-san!" bentakku sedikit agak lembut padanya.
"Kan salahmu sendiri kenapa memilih Darling laki-laki." Onii-chan menaikkan kedua bahunya ke atas sambil memejamkan mata. Lalu, ia kembali membuka matanya lagi dan berkata, "Kalau soal yang tadi, memang aku yang suruh, sih.... Soalnya, tadi itu memang mendesak sekali, Takana-Chan. Lagipula, apa kau kuat menggendong si Dylan? Kan lebih baik, kau langsung masuk saja ke dalam tubuhnya."
"Hmm...," Aku pun mulai terdiam. Lalu, tak lama kemudian, aku merasakan gesekan dan tepukan halus di kepalaku. Ternyata, itu elusan tangan kakakku.
"Tidak apa, Takana. Tujuanmu selama ini kan hanya ingin mencari teman. Dengan si Dylan saja sudah bagus, kok! Sekarang, jangan menyerah. Selalu menjadi teman terbaik untuk Dylan walaupun Dylan-nya sendiri tidak mau denganmu, tapi sudahlah. Intinya, kau harus tetap berusaha untuk membujuknya sampai dia mau menjadi temanmu. Masalahnya, kamu dengan Dylan itu sudah saling berpasangan. Jika salah satu dari kalian ada yang tidak kompak, maka akan kacau sudah hubungan Darling Oniroshi kalian." Jelas Onii-chan sambil memberikan semangat padaku. Senyumannya itu telah membuat perasaanku menjadi lebih baik. Aku pun mengangguk sambil tersenyum lebar. Wajah Dylan-san pasti akan seperti ini jika dia tersenyum. Tapi sayang, senyuman itu akulah yang buat.
****
"Tuan, mereka berhasil menemukan jalan keluarnya! Kita harus bagaimana, dong?!" panik seorang pengawal dari pemimpin Onirida yang belum diketahui nama dan sosoknya.
Pemimpin Onirida itu tersenyum. "Hm..., biarkan saja mereka pergi untuk kali ini. Aku melepaskan mereka. Tapi, jika sudah waktunya, aku tidak akan melepaskan mereka! Khu~ khu~"
Pemimpin Onirida itu memutar kursi yang ia duduki. Matanya menatap tajam ke arah seseorang dalam kegelapan. "Aku harap, kau sudah siap untuk tugasmu."
Seseorang yang bersembunyi dalam bayangan itu pun menjawab, "Iya, Tuan!"
"Tidak akan, Tuan! Percayalah padaku."
"Hmm..., baiklah. Sekarang, bubar!"
"Siap!"
****
*Dylan Leviano
"Nggh...?"
Perlahan, aku kembali membuka mataku. Akhirnya, aku bisa melihat dan tubuhku dapat digerakkan kembali. Tapi, seperti biasanya. Aku selalu saja terbangun di dalam kamarku sendiri setelah peristiwa aneh yang menimpaku.
Aku menggaruk bagian belakang kepalaku. Lalu setelah itu, menjauhkan selimut dari tubuhku. Setah itu aku menggerakkan kakiku ke pinggiran kasur. Aku ingin turun dari tempat tidur.
Tapi, saat kakiku menyentuh lantai, aku pun dikejutkan dengan sosok dua setan yang ada di bawah tempat tidurku. Tentu saja kedua setan itu adalah si Takana dan kakaknya. Apa yang mereka lakukan di kamarku?!
"Hei! Kenapa kalian ada di sini?!" bentakku.
"Ah, gomen~ Kami hanya ingin menunggumu bangun saja, kok!" Tanaka menjawab dengan senyumannya.
Aku mengerutkan keningku. "Tapi tidak harus mengumpat seperti itu juga. Bikin kaget saja!"
Mereka berdua tertawa kecil dan saling menatap. Aku memasang wajah datarku. Lalu setelah itu, aku ingin keluar dari kamarku. Setelah aku membuka pintu kamarku, aku pun berjalan menuju dapur.
Saat di dapur, aku membuka pintu lemari es dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sebotol susu dingin tentunya. Seperti biasa, susu itu adalah minuman kesukaanku. Apalagi kalau dingin.
Aku duduk di kursi depan meja makan. Di atas meja ada gelas kosong yang bersih. Aku pun menuang isi dari botol susu itu ke dalam gelas itu. Lalu, setelah itu aku pun meneguk susunya. Enak sekali....
"Anu, Dylan-san?"
Aku menjauhkan gelas yang ku pegang dari mulutku dan terkejut. Terkejut karena kehadiran si Takana yang mendadak muncul di sampingku. Karena kaget, aku nyaris saja tersedak susu.
"Apa?!" sahutku keras. "Kebiasaan, ya? Demen amat, sih ngagettin orang!"
"Ah, maaf. Dylan-san? Ada yang ingin kakakku sampaikan padamu." Ujar Takana pelan sambil memainkan kedua telunjuknya itu. Lalu setelah itu, ada kepala Tanaka yang muncul dari bawah jendela. Setengah wajahnya terlihat. Ia mengintip. Pandangan matanya mengarah padaku.
Aku mengerutkan kening dan bertanya, "Kau mau bilang apa, Tanaka?"
Tanaka tersentak. Lalu, ia langsung berdiri dengan cepat. Berdiri tegak. Ia menjawab, "Dylan, aku ingin bilang sesuatu padamu! Ini pesan dari kakakmu."
Aku terkejut. "Eh? Kakak?"
"Ah, kenapa kau terlihat kaget?" tanya Tanaka. Sepertinya dia mengetahui ekspresi kaget ku.
"Kau baru saja mendapat pesan dari kakak? Tapi kenapa hanya kau saja yang diberi pesan? Kenapa dia tidak memberitahukan langsung saja padaku?!"
"Hei, tenang dulu, Dylan. Nih, dengar, ya? Kakakmu bilang, kamu harus jadi pelayan di rumah ini dulu untuk sementara. Soalnya, ada tamu istimewa yang akan datang ke rumah ini."
Aku menelengkan kepalaku. "Eh? Siapa?"
"Entahlah. Intinya, kakakmu mau kamu dan Takana untuk menjadi pelayan. Hanya untuk memberikan makanan saja pada si Tamu. Itu saja."
"Benarkah ini pesan dari kakakku? Kalau memang benar, berarti cowok yang tadi itu adalah tamu istimewanya? Apa mungkin begitu?" Pikirku.
Aku mendesah pelan. "Haduh, merepotkan saja." Sedikit bergumam.
"Bagaimana? Mau tidak?" tanya Tanaka lagi.
Aku mengangguk pelan. "Hah, iya iya. Baiklah aku mau." Setidaknya, dengan cara ini, aku bisa membalas jasaku dan meminta maaf padanya nanti. Dia pasti akan pulang ke rumah, kan?
Oh, apa mungkin, Kak Fely hanya keluar rumah sebentar untuk menemui tamunya itu. Tapi, kenapa dia naik Taxi dengan orang lain? Kakakku dengan cowok itu mau ke mana? Hmm....
"Baguslah kalau begitu!" Tanaka tertawa kecil sambil menepuk tangannya. Lalu, ia pun menunjukkan bungkusan kecil padaku. Bungkusan dalam bentuk tas belanja yang berisi barang sesuatu di dalamnya. "Ini, dia. Aku dikirimi ini dari kakakmu. Dia ingin kamu memakai ini saat menjadi pelayannya."
"Eh? Apa ini?" Aku menerima bungkusan itu. Saat kulihat di dalamnya, ternyata hanya baju berwarna hitam. Mungkin itu jas seorang pelayan, ya? Coba aku lihat dulu.
Eh?! Aku salah! Ini bukan jas pelayan! Ternyata ini adalah seragam Maid. Dan yang lebih parah lagi, kok seragam ini berwarna pink?!
Tanakaaaa?! Apa dia ingin merubah penampilanku lagi?!
"Tanaka! Ini apaan?!" bentakku.
"Ah, sudahlah~ Pakai saja. Takana-Chan juga dapat baju yang sama, kok! Pakai saja. Pasti bagus." Dengan santainya Tanaka berkata seperti itu.
Sungguh! Apakah aku harus memakai pakaian menjijikan ini?! Sepertinya tidak! Aku tidak ingin memakainya!
"Tanaka bodoh! Mana mungkin aku memakai ini. Yang benar saja!" bentakku.
"Oh, kalau kau tidak ingin memakainya, lebih baik aku yang pakaikan baju ini padamu, deh!"
Aku tersentak. Lalu setelah Tanaka berkata seperti itu, dia langsung menarik tanganku secar paksa, lalu memasukan diriku ke dalam kamar. Ia menutup pintu kamarnya dan mulai melakukan sesuatu pada diriku!
****
"Nah, Dylan! Kau terlihat manis sekali, haha...."
Tanaka! Akan kubunuh kau lain waktu. Sungguh! Aku kesal sekali. Mereka memaksaku untuk memakai baju Maid berwarna pink ini.
Tapi, ini demi permintaan kakakku. Jadi, aku turuti saja. Ini tidak akan lama, kan? Hah, biarkan saja. Takana juga memakainya. Dia jadi terlihat imut melebihi Shota biasanya. Ah, sudahlah. Ngapain juga aku memuji dia!
Ya. Takana dan Tanaka memang saudara yang bodoh dan menyebalkan. Tapi, mereka bisa diandalkan dan dapat dipercaya jika sedang dibutuhkan. Karena, aku tahu tujuan mereka untuk hidup di dunia ini. Menjadi seorang Oniroshi untuk menyelamatkan dunia dari ancaman setan berbahaya yang mereka sebut dengan Oni....
****
To be Continued-