
____________________________________________
****
"Lepaskan aku atau kau akan menyesal!" bentakku sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri dari lilitan tentakel itu.
"Haduh~ Aku itu sudah menangkapmu dengan susah payah dan sekarang masa aku mau melepaskanmu lagi? Tidak akan!" Aprilia-sensei tersenyum lebar dan sesekali mengeluarkan suara tertawaannya yang mengerikan itu.
"Kau akan menyesal!"
SRIING....
"Eh?! Apa ini?!"
Aku mengeluarkan semua energiku untuk menggunakan kekuatan yang bernama Aoi hi no bakuhatsu. Dengan kekuatan itu, aku bisa menghancurkan semua tentakel ini dan tubuhku juga akan bebas.
Seluruh tubuhku dipenuhi oleh cahaya biru yang bersinar terang. Dan semakin terang. Onii-chan dan Onee-chan menghentikan pergerakan mereka. Mereka melihatku. Begitu juga dengan semua Oni.
Tak lama kemudian, sebuah serpihan kaca berwarna biru bermunculan dari dalam tanah dan langsung mengarah ke padaku. Serpihan itu membentuk sebuah bola yang akan melindungi tubuhku. Anggap saja sebagai perisai.
"Apa-apaan ini?! Tentakelku mati rasa! Akh! Sakit rasanya...." Perasaan Aprilia-sensei mulai tidak enak. Ia ingin melonggarkan lilitannya itu. Tapi sayang tidak bisa. Karena, pelindung kacaku telah menjepit semua tentakelnya.
"Takana-Chan? Kau sungguh akan menggunakan power itu?!" Batin Onii-chan.
Ya! Kakakku pasti mengetahui kekuatan tersembunyi ini. Karena, aku mendapatkan kekuatan ini dari hasil pelajaran dan latihan dari kakakku. Aku belajar banyak darinya untuk menggunakan power baru yang lebih kuat. Salah satunya adalah Aoi hi no bakuhatsu ini.
"Sudah kubilang, kan? Kau pasti akan menyesal! Sayonara Sensei." Ucapku lembut sembari membuatnya ketakutan dan merinding dengan perkataanku.
Aprilia-sensei terlihat gelisah. Ia selalu menggeleng untuk menghentikan diriku agar tidak menggunakan kekuatanku ini. "Takana! Jangan lakukan itu!" Tapi, itu semua tidak akan kuterima. Karena, aku sudah berjanji akan mengalahkan Aprilia-sensei dan menyelamatkan semuanya. Walaupun Aprilia-sensei itu adalah guruku.
Sekarang saatnya. Aku sudah siap untuk meluncurkan seranganku. Sebuah serangan yang akan menimbulkan ledakan dan bunyi yang sangat keras. Untungnya, tidak ada makhluk hidup lainnya di sekitarku. Baik, kita mulai saja sekarang. Aku tersenyum sinis pada Aprilia-sensei. Aku akan memenangkan pertarungan ini!
WIIIINGG....
KA-BOOM*!
Angin berhembus kencang sekali di sekitarku. Sampai kedua kakakku harus menahan tubuh mereka agar tidak terbawa oleh angin kencang yang berasal dari ledakan itu. Angin kencang itu juga telah menghilangkan semua Oni yang berada di dekat Onii-chan dan Onee-chan.
Sebuah ledakan yang sangat keras. Tapi tidak menimbulkan kebakaran. Asap hitam berkumpul di sekitarku. Dan untungnya, aku masih dilindungi oleh kaca biru ini. Jadi, aku tidak akan terluka. Sekarang, kita lihat keadaan Aprilia-sensei....
****
Chapter 26: [ Takana Utsuki vs Aprilia-sensei, part 2 ]
****
"Kan sudah aku bilang! Anda akan menyesal. Akulah pemenangnya." Teriakku. Aku berteriak untuk Aprilia-sensei. Tapi, padahal aku tidak tahu di mana dirinya dan keadaannya saat ini. Asap hitamnya dan debu-debu dari tanah yang hancur masih mengelilingiku dan menghalangi pengelihatan ku.
Aku akan tenang untuk saat ini. Karena aku tahu, Aprilia-sensei tidak akan bisa bertahan setelah terkena ledakan itu.
Hmm..., belum ada jawaban semenjak aku berteriak. Apa mungkin, Aprilia-sensei sudah hancur menjadi abu dan menghilang seperti Oni yang lainnya? Ya. Mungkin saja begitu, karena aku telah memenangkan pertarungan ini.
Onii-chan ku pasti senang. Kalau begitu, aku akan menghampirinya saja dan memberikan kabar baik ini padanya. Tapi, saat aku ingin berlari, tiba-tiba saja ....
GREPP! KRRRKK....
Sesuatu telah menahan tubuhku lagi. Langkahku terhenti dan seketika tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku menunduk dan terkejut. Ternyata, tentakel hitam itu muncul lagi dan kembali melilit tubuh sampai ke kakiku.
Dengan cepat, aku pun menengok ke belakang. Aku mensipitkan mataku. Ada sosok seseorang dari balik asap hitam itu. Lalu, tak lama kemudian karena ada angin yang berhembus, asap itu pun perlahan menghilang dan sosok itu dapat terlihat dengan jelas.
Mataku membuka lebar dan tersentak kaget. Karena, sosok yang kulihat itu adalah tubuh Aprilia-sensei! Dia masih hidup dan masih bisa bergerak. Padahal, seluruh tubuhnya itu terluka parah dan dipenuhi oleh luka bakar juga.
Kulit di seluruh tubuhnya jadi berwarna hitam gosong dan mengelupas. Terlihat bagian dalam kulitnya, bahkan sampai tulang rusuk dan lengannya itu kelihatan. Apalagi dengan wajahnya. Setengah wajahnya juga telah menjadi tengkorak hitam. Tapi, mata kuning ya itu masih terlihat utuh. Intinya, keadaan Aprilia-sensei itu sangat kacau dan terlihat lebih menyeramkan lagi!
Yang membuatku bingung adalah, kenapa tentakelnya ini masih ada? Bukankah sudah hancur semua karena ledakan tadi? Apa jangan-jangan, dia bisa menumbuhkan tentakelnya lagi?! Itu tidak mungkin, kan!?
"Takana-Chan!" teriak Onii-chan sambil berlari menghampiriku.
"Diam kau di sana! Ini pertarungan ku. Jangan ikut campur!" Bentak Aprilia-sensei pada Onii-chan ku. Lalu, Aprilia-sensei mengarahkan tangannya ke arah Onii-chan, dan seketika sosok Oni lainnya itu muncul di hadapan Onii-chan dan langsung memukulnya sampai terpental jauh.
"Tanaka-kun!" teriak Onee-chan sambil berlari menghampiri Onii-chan yang sudah terjatuh di tanah. "Tanaka-kun? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Onee-chan dengan wajah cemasnya sembari mengangkat tubuh Onii-chan.
Kakakku memegang perutnya dan mengeluh kesakitan. "A, aduh! Aku ceroboh lagi." Dia bergumam. Lalu mendongak ke atas dan menatap Onee-chan. "Aku baik-baik saja." Jawabnya dengan suara yang penuh dengan rintihan. Itu pasti sakit, ya?
Onee-chan merasa lega karena teman cowoknya yang satu ini terlihat baik-baik saja. Lalu, Onee-chan pun membantu Onii-chan kembali berdiri lagi. Lalu, mata mereka mengarah ke arahku yang sedang dalam bahaya.
"Takana-Chan...." Gumam Onee-chan dengan raut wajah cemasnya.
"Tenang saja. Guru itu telah sekarat. Dia hanya memiliki satu tentakel saja sebagai senjatanya. Sedangkan, Takana pasti masih memiliki energi milik Dylan untuk serangan terakhirnya. Takana pasti akan menang!" jelas Onii-chan.
"Ta, tapi bagaimana bisa tentakel itu ada lagi dan monster itu blom mati juga?!" tanya Onee-chan panik.
"Hmm..., pasti ada sesuatu dan Takana pasti tahu masalahnya."
GREPP!
"Aakh!"
Lilitannya semakin kuat. Lalu, tentakel itu mengangkat diriku ke udara, lalu dihadapkan ke Aprilia-sensei. Jujur. Aku takut dengan wajahnya yang menyeramkan itu. Apalagi, saat ini kita terlalu dekat!
"Anak kecil sudah menyerah?" tanya Aprilia-sensei dengan senyumnya itu.
"Wajah jelek dan hancur saja masih sempat tersenyum." Ledekku sambil membuang muka. Aku sedikit tersenyum miring dan mengeluarkan lidahku.
Aprilia-sensei mengerutkan keningnya karena merasa geram. "Kau berani meledekku, ya, anak kecil?!" bentaknya.
"Ya berani, lah! Ngapain aku harus takut sama setan jelek sepertimu itu." Aku memejamkan mataku sejenak, lalu kembali membukanya lagi dan menatap tajam pada Aprilia-sensei. Mata biruku seketika menjadi warna biru gelap dan sedikit mengeluarkan cahaya.
"Berisik! Matilah kau!"
BRUAK!
"TAKANAAAA!" teriak Onee-chan.
Monster itu menghempaskan tubuhku ke tanah. Tapi, tentakelnya itu juga melepaskan tubuhku. Di tanah, aku hanya terdiam saja. Lalu, mulutku mulai bergerak untuk mengeluarkan senyumku. Setelah itu, aku sedikit membuka mulutku dan tertawa. Tertawa keras dan terdengar cepat. Lalu, setelah puas tertawa, mataku langsung melirik ke Aprilia-sensei.
"Hah..., capek aku. Apa kau ingin membunuhku dengan cara seperti ini?"
"Diam kau! Ini baru permulaan!"
KRKK... KREEKK....
Aprilia-sensei mengubah bentuk tentakelnya. Pada bagian ujung tentakel itu, berubah menjadi agak sedikit runcing dan tipis seperti mata pisau. Lalu, didekatkanlah tentakel itu ke pangkal leherku.
"Mati kau!"
ZLEB!
"Takana!" teriak Onee-chan. Lalu, dirinya pun berlari menghampiriku. Tapi, saat langkah ke 3, Onii-chan menarik tangannya. Onee-chan terkejut dan langsung menengok ke belakang.
Onii-chan ku menggeleng. "Tenang saja. Takana baik-baik saja, kok!"
Onee-chan mengerutkan keningnya lalu menarik tangannya secara paksa dari genggaman Onii-chan. "Baik apanya?! Kau tidak lihat, hah? Monster itu telah menusuk... menusuk lehernya Dylan yang ada Takana di dalamnya! Mereka bisa mati bersama kalau tidak segera kita selamatkan!" bentaknya.
"Ha? Emang iya?" Onii-chan memasang wajah melas-nya. Lalu, ia pun memutar bola matanya malas. "Hei, bukankah kau tahu kalau Takana dan Dylan itu tidak bisa mati dengan mudah?"
"Eh?! Bagaimana bisa?" Onee-chan membesarkan matanya.
"Lihat saja ke atas. Tuuhh~" Onii-chan mendongak ke atas sambil tersenyum. Begitu juga dengan Onee-chan. Tak lama setelah itu, Onee-chan kembali tersenyum senang.
"Takana!"
Ya! Aku masih sempat menghindar dari tadi. Saat ini, aku sedang melayang di atas langit sambil mengamati Aprilia-sensei dari atas sana.
Lalu, siapa orang yang telah tertusuk oleh Aprilia-sensei di bawah sana?
Tenang saja. Jangan khawatir. Aku telah menggunakan salah satu kekuatanku yang lainnya. Yaitu power Katachi no Jutsu.
Katachi no Jutsu adalah salah satu kekuatan yang kumiliki untuk menyamar/mengubah bentuk menjadi benda lain sesuai dengan keinginanku.
Pemikiranku ternyata hebat. Yang di bawah sana adalah Dakimakura milik Dylan-san. Mohon maaf, aku telah memberikannya pada Aprilia-sensei, sampai akhirnya Dakimakura itu jadi robek.
"Eh?! Kenapa jadi bantal?!" Haha..., akhirnya Aprilia-sensei pun menyadarinya. "Di mana anak itu?" Ia mulai celingak-celinguk mencari diriku yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya.
Sembari terjun dari langit, aku akan menyiapkan bola api biru yang besar untuknya agar dia bisa langsung musnah dengan cepat. Karena saat ini Aprilia-sensei sudah mulai sekarat. Dia tidak akan bisa bertahan lagi setelah aku memberikan bola api ini untuknya.
SSSSHHH....
"Eh?"
Dengan cepat, aku melirikkan mataku ke arah tanganku yang sedang menyiapkan bola api itu. Aku terkejut karena, tiba-tiba saja bola apinya menghilang dari tanganku. Lalu tak lama kemudian, aku kembali dikejutkan dengan kehadiran beberapa cahaya biru yang mengelilingi tubuhku.
Eh?! Apa jangan-jangan... ini sudah sampai batasnya?!
PYASH!
Di udara, tubuhku keluar dari dalam tubuh Dylan-san. Tubuh kami berpisah tanpa kemauan diriku. Apa yang terjadi?
Aku masih bisa menahan tubuhku di udara. Tapi, tubuhnya Dylan-san terjatuh ke bawah sana. Aku harus cepat menyelamatkannya sebelum kepalanya menyentuh tanah!
Dengan cepat, aku terbang menghampiri Dylan-san. Aku berusaha untuk meraih kakinya. Tapi, ah! Sangat sulit. Tapi, aku akan berusaha. Hampir sampai... dikit lagi aku akan mendapatkan kakinya itu!
Yes! Dapat!
Setelah aku menggenggam kaki Dylan-san, aku langsung menariknya dan memeluk tubuhnya. Setelah itu, aku memposisikan tubuhku seperti orang yang sedang berdiri.
Hampir sampai di tanah. Tapi, sebelum itu tiba-tiba saja, sesuatu yang besar datang menghampiriku dan langsung mendorongku dengan keras.
Tubuhku menghantam ke salah satu pohon di sana. Tapi, beruntung Dylan-san baik-baik saja. Aku dan Dylan-san terjatuh ke tanah dari atas pohon itu. Bagian belakang tubuhku sakit semua rasanya.
Setelah aku bangun, mataku langsung melirik cepat ke arah Dylan-san yang berada tak jauh di dekatku. Hah, syukurlah. Dia tidak apa-apa. Tapi hanya saja, kesadarannya masih belum kembali.
Sebenarnya, siapa yang telah menyerangku itu?
STAP! STAP!
Aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari ke arahku. Melirik ke sekitar untuk mencari asal suara itu.
"Takana-Chan!"
Ah, aku tahu! Itu Pasti Onii-chan dan Onee-chan yang datang menghampiriku. Lalu, tak lama, aku melihat ada beberapa semak yang bergerak sendiri. Dari situlah aku mulai melihat kepala sampai tubuh kakak tersayangku.
"Ah, Takana-Chan, akhirnya aku menemukanmu. Kau baik-baik saja, kan?" tanya Onii-chan sambil menepuk-nepuk debu yang ada di bajuku.
"Hai! Genki desu, Onii-chan!" (Ya! Aku baik-baik saja, Kakak!) Aku mengangguk padanya sambil tersenyum.
"Huh, yokatta...." (Syukurlah....)
"Dylan! Dylan! Bagun, sayang. Dylan?" Onee-chan menepuk-nepuk pipi Dylan-san untuk membangunkannya.
Dylan-san pun mulai mengerutkan matanya. Lalu, ia sedikit bergumam sambil berusaha untuk membuka matanya. "Ah, kakak berisik. Aku... Eh?!" Ia terkejut. Lalu, setelah sadar sepenuhnya, Dylan-san pun langsung terduduk.
****
*Dylan Leviano
"Eh?! Aku di mana ini? Ah, di dalam hutan, ya?"
Setelah puas melirik ke sekitar, aku pun melirik ke arah Kakakku yang ada di samping diriku. Kakakku tersenyum senang padaku. Aku pun jadi bingung dengan ekspresinya saat ini.
Aku mengerutkan keningku. Lalu mencoba untuk bertanya, "Kenapa senyum-senyum?"
Kakakku menyentakan matanya. Ia menjawab, "Ah tidak apa-apa. Kau ini! Masih mending aku mau tersenyum padamu."
"Senyummu itu menjijikkan. Janganlah memaksakan mulutmu untuk tersenyum padaku." Gerutuku.
"Eeeh?! Seperti biasa, ya?! Kau selalu seperti itu!"
"Memang seharusnya aku bilang begitu, kok!" Aku memasang muka cuek. Lalu, setelah itu tanpa sengaja mataku melirik ke arah Takana. Aku mensipitkan mataku. "Apa lihat-lihat? Masih belum puas menciumku, hah?!"
Takana terkejut. Lalu, ia pun langsung mengibaskan kedua tangannya dengan wajahnya yang sedikit memerah itu. "Ah! Tidak, kok! Tidak!"
Aku hanya terdiam. Lalu, aku berdiri dari posisi dudukku. Dan tak lama kemudian, aku dikejutkan oleh suara keras yang menggangguku. Suara ribut dari luar hutan ini.
"TAA... KA...NAAA!"
"Ah, dia lagi. Ternyata masih mengincar diriku. Kalau begitu, aku akan-"
"Sudahlah, Takana. Biar kakak saja yang menyelesaikan ini dengan cepat. Kalian semua tunggu di sini sampai aku memanggil kalian, baru kalian boleh keluar." Jelas Tanaka. Lalu setelah itu, ia pun melompat tinggi. Sampai melewati pepohonan hutan ini.
Saat di depan sana, Tanaka kembali bertemu dengan Bu April yang sedang berada di tempat terbuka.
"Kau lagi! Di mana anak itu?!"
"Oh~ Kenapa kau selalu mencari adikku? Kenapa tidak aku saja yang kau cari?" Tanaka tertawa kecil.
"Cish! Karena pertarungannya belum selesai! Aku harus membunuhnya!"
"Haduh..., kenapa, ya? Memangnya adikku punya salah apa, sih? Coba selesaikan dengan cara baik-baik, ya?" ujar Tanaka. Lalu, dengan santainya, dia malah duduk bersila di hadapan Aprilia-sensei yang sudah terlanjut terbawa emosi itu.
"Kenapa harus dengan cara baik kalau bisa dengan cara kekerasan?! AAAAKKH! Langsung saja aku MEMBUNUHMU di sini!"
Bu April berteriak karena kesal. Lalu, tentakel terakhirnya itu terangkat kembali dan ujungnya itu mengarah pada Tanaka yang sedang senyum-senyum sendiri.
Tentakel itu bergerak cepat untuk menyerang dan menusuk Tanaka. Tapi, ternyata tidak kena. Karena dengan kekuatan bergerak super kilat milik Tanaka itu membuat Bu April tidak akan pernah bisa mengenai Tanaka.
"Hei, ayolah! Jangan kasar, dong, kalau jadi wanita!" bentak Tanaka dengan nada halus sambil tertawa kecil.
"Berisik kau! Mati kau! Mati! Mati!"
Sekuat apapun Bu April menyerang, tetap saja tentakelnya itu tidak ada yang bisa mengenai Tanaka sedikit pun.
"Hei, hei..., jika kau terus seperti ini, maka dengan paksa akulah yang akan membunuhmu, loh!" Tanaka masih bersikap lembut kali ini. Bu April, jangan sampai membuat Tanaka mengajarkan tentakel miliknya, loh!
"Aku tidak peduli! Sekarang juga mau bagaimanapun caranya, kau harus mati!"
Haduh..., guruku yang satu ini memang tidak suka diberi peringatan, ya? Ini salahnya sendiri loh. Pada akhirnya, Tanaka pun mengeluarkan tentakelnya.
"Kau ingin membunuhku? Percuma saja. Justru, kaulah yang akan kubunuh! Sayonara~"
Sepertinya kesabaran Tanaka dalam menghadapi wanita itu telah habis. Bu April telah membuat Tanaka mengeluarkan tentakelnya itu. Dan kali ini, Tanaka bergerak cepat ke arah Bu April, lalu....
ZRAASSHHH!
****
"Baiklah! Kalian semua sudah boleh keluar sekarang!" teriakan Tanaka. Akhirnya terdengar juga setelah sekian lamanya aku menunggu di dalam hutan itu bersama dengan kedua perempuan yang menyebalkan ini. Eh, tapi sebenarnya, salah satunya adalah cowok polos.
Aku, Takana dan kakakku pun berjalan keluar dari hutan itu. Cahaya matahari kembali menyilaukan mata. Di depan sana, aku melihat Tanaka yang sedang berdiri membelakangi kami.
Takana celingak-celinguk mencari sesuatu. Lalu, ia bertanya pada kakaknya, "Onii-chan? Di mana Aprilia-sensei?"
"Eh? Aprilia-sensei?" gumamku.
Tanaka menengok ke belakang sambil tersenyum. Lalu, seketika angin pun berhembus. Menggerakkan poni kanan Tanaka sampai menunjukkan mata bolongnya itu. Tapi karena senyumnya yang manis, wajah Tanaka jadi terlihat tidak menyeramkan.
"Oh, Ini dia!" Tanaka berbalik badan. Lalu, ia menunjukkan sesuatu yang ia genggam di tangan kirinya itu.
Kami semua terkejut. Begitu pula dengan diriku. Karena, di tangan kiri Tanaka itu ada kepala manusia. Kepala yang dicengkeramnya itu adalah kepalanya Bu April!
"Hehe..., sudah kubunuh. Masalah kita selesai sekarang!" Wajahnya terlihat biasa saja. Tapi juga bisa dibilang kalau ekspresinya itu menunjukkan wajah senang karena senyumnya. Padahal dirinya telah membunuh orang lain, loh! Tapi masih sempat saja dia memasang wajah seperti itu dengan santainya.
Lalu, Tanaka menguatkan cengkraman tangannya pada kepala itu. Seketika, kepala Bu April hancur dan berubah menjadi abu yang terbang ke langit karena tertiup angin.
Tanaka memang bukan manusia biasa. Sifatnya yang sadis itu membuatku jadi merinding setiap kali aku melihat dirinya. Apalagi, mata kanannya yang hilang itu. Entah kenapa Takana memiliki kakak seperti dirinya. Dan untunglah, Takana tidak bersifat seperti kakaknya.
STAP!
"Waw, pertunjukkan yang luar biasa kerennya."
Eh?! Aku kenal suara ini. Aku pun berbalik badan dan langsung mendongak. Di atas dahan pohon yang ada di belakangku itu, aku melihat sosok seseorang yang sedang berdiri di atasnya. Dia adalah Irvan Maulana!
Sedang apa dia di sini?!
To be Continued-