
*POV DYLAN LEVIANO
Keesokan harinya–
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi kemarin. Aku sangat bingung sekaligus kesal karena kamarku selalu saja berantakan. Penyebabnya karena si mata satu itu!
Bagaimana kalau koleksi komik dan figure ku hancur dan rusak? Barang-barang itu terlihat sederhana di mata orang lain. Tapi mereka tidak tahu kalau harganya sangat fantastis.
Yang gak tau harganya jangan sok keras!
Ah, ngomong-ngomong hari ini aku ada ujian di sekolah. Aduh males banget rasanya ingin keluar rumah. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terpaksa harus mengikuti ujian ini jika tidak ingin rapotku merah semua.
Haduh,, untuk Minggu ini saja jiwa kemalasanku meredup sejenak. Lagian juga, ulangan sehari cuma dua pelajaran. Nanti pulang cepet, paling gak sampai sore seperti biasanya.
Kalau begitu, ayo Dylan! Yang semangat! Jangan nolep dulu untuk sementara waktu. Ini demi masa depanmu!
Pagi ini, aku bangun pukul enam pagi. Setelah bangun, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Setelah itu, aku keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Takana baru saja keluar dari kamarku.
Hanya Takana saja. Aku tahu si kembarannya itu pasti masih tidur di kamarku. Awas saja kalau dia tidak merapihkan kasur kecil bekasnya tidur, maka aku akan menginjak-injak semua tentakelnya!
"Ohayo... Dylan-san!"
Takana mengucapkan met pagi padaku dengan bahasa Jepang. Wajahnya masih seperti orang yang mengantuk dan rambutnya berantakan.
Eh, tapi rambut Takana memang selalu berantakan sih setiap hari.
"Iya, pagi." Aku menyahutnya. "Di mana kakakmu itu?"
"Oh, dia masih tidur di kamar."
"Katakan padanya, jika sudah bangun cepet rapihin kembali kasurnya. Jangan seenaknya saja!"
Takana mengangguk paham. Ia ingin mandi dulu lalu jika kakaknya belum bangun juga, maka Takana yang akan membangunkannya.
Aku kembali ke kamarku untuk mengambil seragam sekolah. Sejak keluar dari kamar mandi, aku hanya memakai handuk yang menyelimuti setengah tubuhku dari bagian perut sampai ke kaki.
Saat di kamar, aku masih melihat si mata satu itu tertidur di bawah tempat tidurku. Aku terpaksa harus melangkah dengan hati-hati karena lelaki itu selalu saja tidur dengan mengeluarkan tentakelnya.
Tidak terlihat menjijikan, tapi risih saja aku kalau mau lewat di sekitar kamarku. Pokoknya tentakel itu hanya boleh menghancurkan monster-monster aneh kayak kemarin saja. Jangan sampai merusak barang-barang berhargaku.
KRIEEEETTT....
Aku membuka pintu lemari lalu mengambil kemeja putihku dengan jas sekolah hitamnya. Setelah itu celana warna biru keabu-abuan dan dasi berwarna sama dengan celana.
Setelah itu, aku memakai semuanya dan merapihkannya. Kemudian aku menatap kaca untuk merapihkan rambutku yang masih basah karena habis mandi.
Jadi aku mengeringkannya dulu dengan hairdryer sebelum aku sisir.
Setelah semuanya rapih, aku akan menyiapkan tasku di samping tempat tidur. Tapi setelah aku siap dengan perlengkapan sekolah, tiba-tiba saja kembaran Takana itu bangun terduduk.
Dia sudah pergi dari alam mimpinya ternyata. Ah tapi aku tidak mempedulikannya. Tapi aku hanya ingin memperingati satu hal padanya.
"Oy, Tanaka! Sekarang kau bereskan tempat tidur bekasmu itu, ya? Kau harus merapihkannya sendiri."
Tanaka hanya mengangguk lemas. Ia baru saja bangun tidur dan belum mendapatkan energi yang cukup untuk bangun. Jadi ia akan berdiam diri sejenak.
Kalau begitu, aku akan keluar saja dari kamar.
Tapi saat aku membuka pintu, Takana muncul dari baliknya. Aku terkejut dengan kehadirannya lalu tak sengaja menginjak tentakel Tanaka yang sedikit licin dan akhirnya terjatuh ke belakang.
"Ah, Dylan-san! Kau baik-baik sa... jaaaa... aaaaduh!"
BRUK!
Takana ikut menginjak tentakel milik kakaknya itu dan malah terjatuh menimpaku. Pagi ini benar-benar buruk. Malah dia jatuh dan melepas handuknya, jadi setengah badan atasnya dapat terlihat.
Dengan cepat, aku pun menutup mata dan memberikan handuknya kembali ke Takana untuk ia pakai. "Pakai oy! Jangan bugil di sini!"
"I–i–iyaaaa..." Takana terlihat malu-malu. Dengan cepat ia kembali menyelimuti tubuhnya dengan handuk, lalu kembali berdiri.
Aku tidak merasa tubuhku sakit karena saat terjatuh, aku mendarat di atas pangkuan Tanaka. Tapi hanya saja, bajuku sedikit lecek.
"Kau baik-baik saja, Dylan?" tanya Tanaka pelan. Ia menyentuh rambutku dan mengelusnya, lalu memainkan jambulku yang selalu menjulur ke atas saat aku sedang kaget.
Dengan cepat, aku menghempaskan tanganku untuk menjauhkan tangannya dari kepalaku. "Jangan sentuh aku!"
Tanaka menanggapinya dengan senyum manis dan pipi yang sedikit memerah. Aku sedikit muak melihat mukanya. Jadi aku kembali bangun saja dan meninggalkan kedua adik kakak itu yang masih di dalam.
****
Gurita si mata satu itu merusak meja makannya lagi dan menyebabkan makanan di atas meja jadi berantakan di lantai!
Tentu saja tidak bisa dimakan, dong!
Sekarang moodku hancur. Malah saat ini, beberapa orang sedang menatapku karena Takana yang berjalan di belakangku telah menarik perhatian mereka.
Takana. Adik kembar dari si gurita mata satu itu ikut bersekolah seperti diriku. Kenapa dia bisa sekolah padahal awal kami bertemu, dia ditemukan kakakku di jalanan! Kenapa kakakku mau membiayai dia sekolah, sih?
Bahkan kalau di kelas... Takana selalu tidak bisa diam. Seperti saat ini. Entah apa yang dia lakukan, tapi sikapnya seperti anak kecil dengan berjalan sambil melompat-lompat dan menyanyikan lagu lucu dengan bahasa Jepang.
Aku sendiri risih melihat anak itu. Jadi ku percepat jalanku saja karena semakin banyak juga anak-anak lain yang memerhatikan Takana karena sikapnya yang mereka anggap imut.
Imut apanya?!
****
Setelah menaruh tas di kelas, aku langsung kembali berjalan pergi ke kantin. Ini tidak biasa aku lakukan karena setiap aku masuk ke kelas, aku akan bengong di tempat duduk.
Namun kadang suka ada yang melempari sampah ke arahku.
Ya. Aku masih menjadi korban bully sampai saat ini. Tapi setelah hadirnya si Irvan itu dari sekolah lain dan lelaki itu sering dekat denganku akhir-akhir ini, sudah mulai berkurang anak yang suka mempermainkan aku sampai membuatku kesal.
"Dylan-san... kau mau aku beliin permen, gak, nanti?" tanya Takana yang sedang berjalan di sampingku.
"Tidak. Aku bisa beli sendiri."
Aku memang suka manisan. Tapi semenjak banyak kejadian aneh yang menimpaku dan ... waktu menjalankan hobiku jadi berkurang, aku jadi jarang memakan manisan untuk cemilan sehari-hari.
Tapi kalau sekarang, aku ingin membeli beberapa permen lagi di kantin. Bisa dijadikan cemilan enak di kelas. Karena saat memakan permen, tidak akan mudah diketahui oleh para guru jika aku sedang makan di kelas.
Setelah memberi permen dan sepotong roti dari kantin, aku memberikan satu Permen ku untuk Takana karena dia sudah banyak membantuku sekarang.
Ini hanya sekali saja! Tetap aku tidak mau menjadi temannya karena dia anak aneh yang datang dari dunia lain.
"Yeay! Dapet permen dari Dylan-san!" Takana kegirangan sendiri. Padahal aku hanya memberinya satu. Apa satu Permen itu berharga untuknya? Tapi kan dia sudah beli permennya sendiri.
"Bisa diam, gak, sih?! Aku ambil lagi nih permennya!" bentak ku. Dia terllau berisik sampai-sampai orang lain melirik ke arah kami lagi.
Menyebalkan!
"Halo, Takana! Dylan!"
Dua orang datang menghampiri kami. Saat aku melirik, ternyata yang menyapa itu adalah Bell dan partner lelakinya yang super pendiam. Mungkin dia bisu.
"Bell-chan!" Takana menyahutnya. Mereka berdua terlihat senang bisa bertemu di kantin. Sikap mereka berdua memang sama. Tapi jangan samakan aku dengan si anak bisu itu!
"Bell-chan? Kenapa bajumu basah?" tanya Takana cemas sambil menepuk-nepuk seragam Bell. Mungkin tujuannya agar baju Bell Itu bisa kering.
"Kau jatuh di selokan, ya?" Aku juga ikut bertanya.
"Iiih! Dylan! Bukan begitu! Tadi aku jatuh karena–"
Irvan si lelaki pendiam yang menjadi partnernya Bell pun menyela jawaban cewek itu dengan cara membekap mulutnya. Setelah itu ia menggeleng pelan pada Bell.
"Hah? Kenapa tidak diceritain aja?"
Mereka terlihat menyembunyikan sesuatu dariku. Sama seperti orang-orang ku yang di rumah. Tapi sebagian besar aku sudah mengetahuinya. Walau aku sendiri tetap tidak paham dengan yang namanya monster-monster yang selalu mereka hadapi itu.
Aku melirik ke Takana di sampingku. Dia hanya terdiam. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dalam kepalanya. Andai saja aku bisa membaca pikirannya itu.
Irvan menepuk-nepuk pundak Bell, lalu mengangguk dan melirikan mata kepadaku sebanyak dua kali. Aku menganggapnya itu sebagai isyarat. Memangnya mereka mau ngapain? Jangan bawa-bawa aku lagi dalam urusan mereka, dong!
"Anu... Dylan! Aku dan Irvan ingin memberitahumu satu hal pada kamu dan Takana juga." Ucap Bell tegas. Lalu dia menarik tanganku dan membawanya pergi. "Tapi jangan di sini. Aku takut ada yang mendengar masalah ini."
"Eh?! Masalah apa yang dia maksud? Jangan bilang ini tentang monster?" Aku berbisik.
"Iya. Memang tentang Oni Itu."
Ya ampun. Aku ikut terlibat masalah apa lagi dengan mereka? Padahal aku tidak melakukan apapun!
*
*
*.
To be continued–