Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 34~ Kucing Hitam



Cip~ cip~


"Ugh! Mataharinya sudah silau saja. Memangnya sekarang jam berapa, sih?" Mataku sedikit terbuka, lalu tangan kananku akan meraih jam Beker yang ada di atas meja. Tapi, aku tidak menemukannya. Melainkan sesuatu yang kupegang itu, adalah benda yang empuk dan terasa halus.


Aku membuka mata dengan cepat dan langsung melirik ke samping kananku. Ya, ternyata benar dugaanku! Takana si Shota menyebalkan itu tidur di sampingku lagi. Sesuatu yang empuk dan halus itu adalah pipi lembut putih halusnya itu. Dia laki-laki, tapi kenapa memiliki fisik seperti perempuan, sih?


Duk... Duk....


Setelah ke Takana, sekarang lirikkan mataku beralih ke jendela yang ada di samping kiriku. Aku mendengar suara ketukan. Seseorang dari luar sana ada yang mengetuk pelan kaca jendelaku.


Karena penasaran, aku pun turun dari tempat tidurku, lalu membuka gorden jendelanya. Di depan jendela itu ada sosok hitam dengan ekor tebal panjang. Ternyata hanya kucing hitam. Aku membuka jendelaku, lalu kucing itu pun masuk ke dalam kamarku.


Eh! Tunggu dulu! Dia tidak boleh masuk. Aku mengejar kucing hitam itu. Ternyata hewan berambut hitam yang sedikit tebal itu memang sangat lincah. Aku tidak bisa mendapatkannya.


"Hap! Kena kau!"


Akhirnya.... Aku berhasil menangkap kucing itu juga. Aku menangkapnya sebelum kucing itu melompat dari atas tempat tidurku. Eh? Dia memakai kalung dengan lonceng bulat di lehernya. Apa dia ini hewan peliharaan? Ah! Dia memberontak. Aku harus cepat melepaskannya ke luar lagi.


Aku melempar kucing itu keluar jendela. Lalu setelah itu, aku pun kembali menutup jendelaku. Eh? Di jendelaku pincuk sesuatu. Beberapa tulisan berwarna merah. Tulisan Jepang. Bertuliskan, 死ねえ. Apa artinya? Mungkin saja, Takana bisa menerjemahkannya.


Tapi tunggu dulu. Sebelum aku kembali beranjak dari depan jendela itu, mataku melirik ke sisi lain dari jendela. Di dekat sudut pintu jendelanya, aku melihat ada bercak merah dengan goresan seperti cakar. Coretan apa, sih yang menempel di jendelaku ini?


Perasaanku, tadi tidak ada. Tapi, kok semenjak si kucing hitam itu, tiba-tiba saja coretan merah itu muncul. Aku juga penasaran. Cat merah apa yang menempel ini?


****


Chapter 34: [ Kucing Hitam ]


****


Aku kembali membuka jendela kamarku. Lalu, mengeluarkan setengah tubuhku ke luar jendela hanya untuk mencolek sedikit cat merah itu. Masih basah. Agak lengket dan kental. Aku terkejut setelah mencium bau cairan merah itu. Ternyata, cairan merah ini adalah darah! Ini bukan coretan biasa. Coretan ini pasti memiliki arti. Arti yang mengerikan!


Ah, aku harus segera memberitahu Takana. Siapa tahu saja dia bisa menerjemahkan arti dari bahasa Jepang itu. Pastinya dia tahu, lah!


*GREP!


BRUK!


"A, aduh!"


Ada yang menarik tangan kananku. Karena kehilangan keseimbangan, otomatis tubuhku terjatuh ke bawah dari atas jendela itu. Leherku terasa sakit sekali. Aduh... Siapa sih yang sudah menarik ku?


"Diam di situ! Jangan bergerak!"


Seketika aku tersentak. Ada seseorang yang berdiri di hadapanku. Lalu, secara perlahan, aku pun mendongak ke atas. Ternyata, ada orang asing berbadan besar yang berdiri menghadap ku sambil menodongkan senjata berupa Stun gun yang sangat dekat dengan kepalaku.


Kalau Stun Gun itu mengenaiku, maka otomatis aku akan terkena arus listriknya dan langsung pingsan di tempat.


"Ku bilang jangan bergerak! Jangan bersuara!" bentak orang asing itu dengan nada pelan.


Aku hanya bisa mengerutkan keningku dengan ekspresi terkejut. Orang itu berbicara dengan nada pelan karena ia mungkin tahu kalau ada orang yang kukenal sedang berada di dekatku.


Itu dia! Takana dan Tanaka ada di dalam kamarku. Aku bisa meminta bantuan mereka. Tapi, kalau aku berteriak, orang itu akan menyerangku.


Sekarang, apakah aku harus diam saja di sini? Sepertinya tidak! Aku harus melawan. Ini hanya ada satu orang saja, kan?


Tapi bagaimana caranya? Senjatanya itu sangat dekat denganku. Setiap aku bergerak, maka senjata itu akan semakin mendekat ke arahku. Cish! Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku menghindar dengan cepat, lalu merebut Stun gun-nya itu? Sepertinya iya! Tapi, gimana, ya?


BRAK!


"Dylan! Waktunya bangun! Semuanya!"


Ah! Itu kakak. Ini kesempatanku! Setelah kakakku datang dan mendobrak pintu kamarku, si orang asing itu pun terkejut dan langsung menengok ke arah jendela. Sekarang, mumpung dia tidak menatapku lagi, aku pun mengayunkan kakiku ke atas dan menendang Stun Gun yang orang itu pegang.


Yes!! Aku berhasil menjatuhkan senjatanya. Dan sekarang, aku bisa berteriak untuk meminta pertolongan dari kakakku itu!


"Ka- mmpph!"


Ah! Sial! Aku tidak sempat berteriak karena orang asing itu telah membekap mulutku dengan tangan kirinya, lalu menjatuhkan kepalaku ke tanah. Tangan kanannya itu ia usahakan untuk mengambil Stun gun yang terjatuh tak jauh darinya.


Tidak! Aku tidak akan membiarkan orang itu mengambil kembali senjatanya. Kalau tidak, maka berakhir sudah hidupku!


Tapi untungnya, Stun gun itu terjatuh di samping kaki kiriku. Aku pun langsung menendang senjata itu sedikit agak jauh saat Orang itu ingin meraihnya. Lalu setelah itu, aku menggigit tangan kiri yang membekap mulutku itu. Dan akhirnya, seketika Orang itu melepaskan kepalaku dan ia malah mengeluh tangannya sakit akibat dari gigitan ku.


Sekarang saatnya! Aku kembali berdiri di hadapan jendela itu dan berteriak, "KAKAK! TOLONG! AKU DI SINI"


"Anak sialan! Akan kubunuh, kau!"


Ah! Orang itu kembali bangkit lagi. Lalu, untuk menghindar darinya, aku pun berlari menuju pintu depan rumahku. Untung saat aku berteriak tadi, kakakku sempat menengok ke arahku.


"Dylan! Apa yang kau lakukan?!" teriak kakakku dari jendela kamarku. Ia terkejut saat melihat diriku sedang dikejar-kejar orang asing. Lalu, dengan cepat, ia pun melompat keluar jendela dan langsung berlari menghampiriku.


Aku sampai di teras rumahku. Di pintu depan, aku tidak bisa masuk karena pintunya masih terkunci dari dalam. Ah! Aku terjebak di sini. Orang asing itu semakin mendekat sambil menodongkan senjatanya.


Tadinya aku sedikit takut, tapi saat aku melihat ke belakang bahu orang itu, aku bisa melihat sosok kakakku yang berdiri di belakangnya.


"Jangan ganggu adikku!"


Ya, itu bentakan kakakku. Setelah itu, kakakku mulai mengeluarkan cahaya merahnya dan benang-benang merahnya itu muncul dan langsung mengikat orang asing itu. Setelah itu, kakaku sedikit memberi kejutan pada orang itu. Sebuah sengatan untuk melumpuhkan musuhnya.


"A, aku hanya berkunjung! Aku tidak bermaksud apa-apa, kok! Kumohon ampuni aku!" Orang itu malah merengek.


"Eh? Apa itu benar, Dylan?" pandangan kakakku mulai beralih padaku.


Aku sedikit tersentak. Tapi, aku akan menjawab jujur. "Dia bohong! Dia ini adalah penculik! Tadi dia ingin mengincar diriku."


Kak Fely terkejut. Matanya membesar dengan pupilnya yang mengecil. Tatapannya sangat tajam dan terlihat menyeramkan saat menatap orang asing itu. "Memangnya, apa salah adikku?" ia bertanya pelan tapi dengan nada yang berat.


"A, aku tidak melakukan apapun! Aku hanya pesuruh!"


Dengan cepat, Kak Fely menjambak rambut orang itu. "Suruhan siapa kau ini?!" bentaknya sambil mengarahkan benang-benangnya yang terlihat mengeluarkan cahaya listrik merah.


Orang asing itu memasang wajah ketakutan. Ia pun menjawab cepat. "A, aku suruhan dari Tuan Kucing Hitam! Ampuni aku!"


"Tuan Kucing Hitam?" gumam Kak Fely sambil berpikir. "Di mana dia?!"


"Ampuuunn! Aku tidak bisa memberitahumu. Aku tidak...."


"Ada apa, sih? Pagi-pagi sudah berisik begini." Itu suara Tanaka. Aku mencari sosoknya. Dia ada di mana?


"Ngomong-ngomong, ada masalah apa ini?"


Aku mendongak ke atas. Itu dia! Ternyata manusia bermata satu itu ada di atas genting rumahku. Dia sedang duduk di sana sambil mengayunkan kaki dengan santainya.


"Tanaka?" gumamku.


"Hup~" Tanaka melompat ke bawah dari atas genting itu. Ia membuatku terkejut saat mendarat dan menghentakkan kakinya di sampingku Lalu, ia berjalan pelan mendekati orang asing itu.


"Hei, tadi kamu mau ngapain di sini?" tanya Tanaka dengan senyumnya yang tulus.


"Tidak. Aku hanya lewat sini saja!"


"Oh begitu~" Tanaka mengeluarkan satu tentakelnya, lalu menunjukkan sesuatu pada orang itu. "Kalau cuma lewat, kenapa kamu membawa senjata berbahaya ini?"


"I, itu hanya untuk perlindungan. Untuk membela diriku jika ada bahaya di jalan!"


"Ooh..., alasan yang masuk akal juga, ya? Hmm... tapi kenapa kau bisa ada di halaman rumah kami?"


"Aku bilang, aku hanya lewat saja!" bentak orang itu. "Lalu tiba-tiba saja wanita ini menyerangku!" Ia melanjutkan.


Seketika aku dan Kak Fely terkejut. Tapi, Tanaka selalu memasang wajah manis dengan senyumnya itu. Lalu, ia sedikit tertawa singkat dan berkata, " Dia yang menyerangmu, apa kau yang menyerangnya?"


"Di, dia yang-"


"Omong kosong! SUDAH CUKUP ALASANMU ITU! AH! AH!" bentak Kak Fely kesal sambil menginjak-injak tubuh dan kepala orang itu.


"Ampun! Ampun!" Orang itu mengerang kesakitan.


"Sudahlah Fely-chan~ Kamu itu terlalu keras amat, sih? Jangan menyiksanya seperti itu, lah... Kau berhenti dulu. Seharusnya seperti ini."


BUAK!


"KAU JANGAN PERNAH KEMBALI KE SINI LAGI!" teriak Tanaka dengan tertawaannya.


"UWAAAAAKH!


Aku terkejut. Tiba-tiba saja Tanaka menendang tubuh orang itu sampai dia terlempar jauh dan menghilang di langit dalam keadaan tubuh yang masih terikat dengan benang merah.


"Huh. Dylan, apa kau baik-baik saja?" tanya kakakku cemas.


"Iya. Sudahlah...." Aku menjauhkan tangan kakakku dari kepalaku, lalu setelah itu aku Kana kembali ke kamarku.


"Dylan-san, apa aku melewatkan sesuatu?"


Aku sangat terkejut. Tiba-tiba saja Takana muncul di sampingku. Itu sudah menjadi kebiasaanya yang sedikit menyebalkan. Yaitu selalu muncul secara mendadak dan mengejutkan orang lain.


"Sejak kapan kau di sini?!" bentakku.


"Baru saja." Jawab Takana sambil tersenyum. Aku berdecih pelan sambil mengerutkan kening. Menggerutu kesal. Lalu berjalan cepat kembali ke kamarku lewat jendela. Aku tidak bisa lewat pintu depan karena masih terkunci dari dalam. Jalan masuk satu-satunya adalah lewat jendela kamarku itu.


Eh, ngomong-ngomong soal Jendela, aku jadi teringat dengan tulisan darah di kaca jendelaku. Sekarang juga aku akan bertanya pada mereka. Terpaksa aku harus kembali mendekati ke-3 orang yang menghuni rumahku itu.


"Hei, kak! Aku ingin menunjukkan sesuatu. Ayo ikut denganku!" ajakku sambil menarik tangan kakakku. Kak Fely mengangguk. Lalu kami berdua pun pergi. Diikuti dengan Tanaka dan Takana yang ada di belakang kakaknya.


"Heh, ternyata kuat juga, ya?" Seorang laki-laki berbaju hitam, bertelinga seperti kucing, kalung dengan lonceng kecilnya itu dan ekor tebal sedang duduk di atas genting rumahku. Langkah Takana sempat terhenti saat mendengar suara laki-laki itu bergumam. Lalu Takana berbalik badan dan mendongak ke atas. Ia memandang genting rumahku. Di atas sana, yang ia lihat hanya seekor kucing hitam. Lalu, kucing itu melompat dan pergi menjauh dari rumahku.


"Hanya kucing hitam. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana, ya?" gumam Takana. Lalu, ia menggeleng pelan. Ia tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Ia tidak mempedulikan kucing hitam itu. Lalu setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya. Berjalan menghampiriku....


*


*


*


To be Continued–