
POV: TAKANA UTSUKI
"Onii-chan! Dindingnya rusak lagi, dong!!"
Kasihan kamarnya Dylan-san. Jadi rusak lagi gara-gara terkena serangan dari Onii-chan. Tapi... berkat Onii-chan, Oni yang menyerang Dylan Itu telah terkalahkan. Ia tersungkur di halaman belakang dan telah mengeluarkan tubuh Dylan dari dalam mulutnya.
"Dylan-san! Aku akan menolongmu!"
"Ja–jangan Takana! Berbahaya!" Onee-chan sempat menahanku dengan kedua tangannya. Aku hanya ingin membawa Dylan aman bersamaku. Hanya itu saja!
"Onee-chan! Kumohon! Aku tidak ingin Dylan-san ada di sana. Dia bisa terluka terkena pertempuran Onii-chan dengan Oni itu."
"Iya aku tahu. Tapi kau tunggu saja di sini. Biar aku yang menyelamatkan Dylan. Di depan sana berbahaya. Sekarang tolong... turuti aku dulu sebentar."
Aku mempercayai kata-katanya. Ia yang akan menyelamatkan Dylan karena dia kakaknya yang baik hati. Aku akan membiarkannya karena Onee-chan bisa diandalkan.
"Sekarang kau mundur!"
"O–oke!"
Onee-chan akan menggunakan kekuatannya berupa benang merah yang akan ia gunakan untuk mengambil tubuh Dylan yang tergeletak di samping Oni itu.
Langsung saja Onee-chan mengarahkan benang-benangnya ke Dylan. Onee-chan akan aman karena Onii-chan masih menahan Oni agar tidak bangun.
Saat menyentuh tubuh Dylan, benang-benang tersebut melilit semua anggota tubuh Dylan lalu mengangkatnya. Dengan cepat, Onee-chan menarik benangnya dan seketika Dylan pun terbawa mendekat ke arahnya.
Onee-chan berhasil mendapatkan si Dylan kembali. Aku khawatir sekali. Takut dia terluka. Maka sekarang aku akan melindunginya. Aku peluk saja dia agar tidak ada yang bisa mengambil tubuh Dylan lagi dariku.
"Semuanya mundur!"
Onii-chan berteriak keras. Aku dan Onee-chan terkejut dan langsung menatap ke Onii-chan. Ia akan menghabisi Oni sekarang juga sebelum makhluk itu melarikan diri.
Namun sebelum Onii-chan sempat mengumpulkan energinya, ia sempat berhenti karena melihat sesuatu yang janggal. Secara perlahan, tubuh Oni itu berubah menjadi bentuk manusia. Karena penasaran, Onii-chan terus memerhatikan si Oni, tapi tetap waspada.
Benar-benar berubah menjadi manusia!
Tak lama tubuh Oni bercahaya. Mengeluarkan cahaya kuning. Onii-chan pikir, Oni itu akan merubah seluruh bentuknya menjadi manusia sempurna. Tapi ternyata, tiba-tiba saja setelah kumpulan cahaya yang semakin terang dan menyilaukan itu muncul, si Oni pun menghilang tanpa jejak.
Kami semua pun terkejut melihatnya. Benar-benar menghilang. Sekarang ke mana perginya Oni tadi? Dia benar-benar melarikan diri. Tapi ke mana?
"Oh tidak! Kalau dia kabur, bisa saja dia akan kembali lagi ke rumah ini! Bagaimana, dong?" panik Onee-chan sambil berjalan menghampiri Onii-chan. Kakaknya Dylan sedang mengoceh pada kakakku. Tapi aku tetap waspada untuk selalu dekat dengan Dylan yang ada di pelukanku. Dia tidak boleh ke mana-mana sebelum dia sadar.
"Yang tadi bukanlah Oni sungguhan,"
Eh? Aku sempat mendengar Onii-chan berkata sesuatu. Onee-chan pun menyahutnya. "Apa maksudmu?"
"Begini. Tadi... sebelum dia pergi, aku sempat lihat Oni itu seperti ingin berubah menjadi manusia. Tapi aku teralihkan oleh cahaya yang muncul. Karena lengah sedikit, dia bisa kabur karena cahaya itu. Sialan!"
Aku hanya mendengarkan penjelasan Onii-chan dari depan pintu kamar Dylan-san. Sekarang aku tidak bisa membawa Dylan ke kamarnya karena tembok kamarnya hancur lagi. Jadi aku harus membaringkan Dylan ke mana, ya?
Oh iya aku tau!
"Onee-chan! Onee-chan! Aku izin pinjam kamarmu untuk memindahkan Dylan-san ke sana, ya?" Tentu saja sebelum menggunakan kamar orang, aku harus minta izin dulu pada pemiliknya.
Onee-chan menoleh ke arahku. "Eh? Tapi kamarku sedang ada... Oh iya!! Aku lupa!"
Onee-chan terlihat panik lagi. Dengan cepat, ia berlari kembali masuk ke dalam rumah, lalu pergi ke kamarnya. Aku yang penasaran menggendong Dylan di punggungku, lalu berjalan pelan mengikuti Onee-chan. Sementara Onii-chan akan membereskan bagian tembok rumah yang berantakan dulu. Lagi-lagi ia akan bertanggung jawab dan memperbaikinya.
"Ethan! Ethan!"
Onee-chan berteriak setelah ia memasuki kamarnya. Tentu aku terheran dengannya. Kenapa ia berteriak memanggil nama seseorang?
Eh? Apa... jangan-jangan Onee-chan memanggil si laki-laki yang ia bawa masuk ke dalam rumah kemarin, ya?
"Ethan menghilang!!" Onee-chan kembali berteriak. Ia membuka pintunya lebar-lebar lalu kembali keluar dari kamarnya. Aku sangat terkejut saat ia berteriak seperti itu. Wajahnya terlihat cemas sekali.
"Takana! Apa kau melihat Ethan? Lelaki yang ada di kamarku!!"
"Eh...? A–aku tidak tahu! Tidak tahu!"
"Huwaaaa!! Dia... dia ke mana?!"
Eh? Tiba-tiba Onii-chan juga ikut berteriak dari arah lain. Aku semakin kaget. Langsung saja aku berlari dengan Dylan di punggungku. Berlari menghampiri Onii-chan yang berdiri di depan sofa.
"Onii-chan kenapa?!"
"I–ini... Anak Oni itu menghilang. Tadi ada di sini."
Anak Oni? Apa anak kecil yang dibawa Onii-chan tadi, ya?
Ah, dia menghilang. Lenyap seperti Oni besar tadi. Kenapa semuanya bisa menghilang begitu saja? Bahkan temannya Onee-chan juga menghilang di dalam kamarnya. A–apa mereka... diculik oleh seseorang? Sama seperti Oni besar tadi yang ingin menculik Dylan-san?!
"Fely! Anak itu menghilang!" Onii-chan berteriak lagi. Onee-chan pun membalasnya dengan masalah yang sama. "Temanku juga menghilang! Sebelumnya dia ada di kamarku, loh!"
"Tidak mungkin... mereka ke mana?" Aku mencoba untuk bertanya dan menenangkan kedua kakak-kakakku. Tapi yang ada mereka berdua malah nambah berisik. Sampai akhirnya aku merasakan pergerakan yang muncul pada tubuh Dylan.
Tak lama... suara Dylan pun muncul. Saat aku ingin menoleh ke arahnya, tiba-tiba saja Dylan mendorongku jauh-jauh darinya.
"Pe–pergi kau! Ish! Jangan dekat-dekat denganku!"
Lagi-lagi dia membentakku. Aku kangen sama bentakannya itu. Aku juga senang akhirnya Dylan telah sadar kembali dan sikapnya tidak berubah!
"Dylan-san! Kau baik-baik saja, kan?" Aku mencoba untuk bertanya dengan lembut padanya. Kemudian Onii-chan dan Onee-chan juga bertanya hal yang sama pada Dylan yang masih terduduk di samping sofa.
"I–iya aku baik. Ngomong-ngomong... apa yang telah terjadi di sini?" tanya Dylan dingin. Lagi-lagi nada bicaranya seperti itu. "Bukankah tadi aku terkena jarum itu?"
Oh ternyata dia masih ingat dengan kejadian yang menimpanya! Lah? Terus kenapa dia nanya lagi?!
"Emm... anu... apa Dylan ada yang sakit lagi sekarang?" Aku bertanya lagi. Karena aku masih merasa khawatir dengan keadaan Dylan. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Sudah baikan. Tidak seperti sebelumnya." Jawabnya. Aku senang dia menjawab pertanyaanku.
"Oh, kenapa kalian berdua diam saja dari tadi?" Dylan melontarkan pertanyaannya pada kedua kakak di depannya yang masih menatapnya dengan pandangan yang aneh.
"Begini... soal jarum itu...."
"Eh! Oh iya! Jarum yang sebelumnya, aku pernah lihat jarum itu mengenai orang di toko buku. Nah, dia langsung mati setelah terkena jarum itu. Tapi... kenapa aku tidak?"
"Apa kau ingin mati?" tanya Onii-chan.
"Bukan begitu, mata satu! Aku hanya bingung saja. Apa jarum itu beracun? Dan racun yang ada di tubuhku telah disembuhkan makanya aku bisa selamat?"
"Lebih tepatnya bukan begitu." Onii-chan yang akan menjelaskan sekarang. "Kau tidak mati karena di dalam dirimu telah dilindungi oleh jiwanya Takana yang merupakan darling-mu. Kau ini telah menjadi darling untuk Takana. Jadi... ada kemungkinan... jarum itu tidak bisa membunuhmu. Hanya bisa melumpuhkan. Tapi jika terkena manusia biasa, maka akan mematikan."
"Haaa... aku mengerti sekarang." Dylan hanya mengangguk. Ia pun kembali berdiri, lalu berjalan pelan mendekati kamarnya. "Aku ingin termenung sejenak. Tolong jangan ganggu aku." Nada bicaranya terdengar lemas.
"Tu–tunggu! Sebenarnya kamarmu–"
"UWAAAAA!! Ini kenapa lagi? Tanaka! Apa kau yang menghancurkan kamarku lagi?" Dylan berteriak setelah ia melihat keadaan kamarnya yang super berantakan.
Onii-chan berusaha untuk menyangkal dan menceritakan kejadian tentang munculnya Oni besar tadi yang ingin menculik Dylan. Aku hanya bisa terdiam saja sambil menatapi mereka. Aku takut jika bergabung, bisa-bisa Dylan semakin membenciku nanti.
Kalau dilihat-lihat... jika Onii-chan dengan Dylan sedang bertengkar lagi, mereka terlihat akrab seperti teman. Aku juga ingin menjadi temannya Dylan. Mungkin aku hanya bisa menunggu waktu dan takdir yang menentukan.
Tapi aku ingin cepat-cepat berteman dengan Dylan-san! Kenapa sulit sekali?
*
*
*
To be continued–
IG: @pipit_otosaka8