Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 19~ Study tour



____________________________________________


****


BRMMM....


Mereka masih di perjalanan. Dari Jakarta menuju ke Bogor memang agak jauh sepertinya. Takana juga masih belum mengenal banyak kota di Indonesia. Tapi Bu April atau sering ia panggil dengan Aprilia-sensei, berkata padanya kalau jarak antara Jakarta ke Bogor itu lumayan jauh. Takana hanya percaya saja.


PUK!


Takana tersentak. Tiba-tiba saja Aprilia-sensei menepuk kepalanya, lalu dagunya di dekatkan ke arahnya. Takana hanya terdiam saja dengan tubuh yang sedikit gemetar.


"Dylan ... rambutmu wangi. Kamu pakai shampo apa?"


"Eh?! Kenapa Aprilia-sensei berkata seperti itu?"


Takana hanya terdiam sebentar. Tidak menjawab. Ternyata, Aprilia-sensei itu masih menganggap kalau dirinya ini benar-benar Dylan, muridnya.


"Dy~lan...?"


Suaranya memanggil nama Dylan. Ia membisik tepat di samping telinga. Seketika, Takana jadi merasa tidak nyaman duduk di samping Aprilia-sensei. Guru itu terus menggodanya.


"Bagaimana reaksi Dylan-san jika dia ada di posisiku saat ini? Apakah dia akan marah? Diam saja? Atau dia akan pindah ke tempat lain dan menjauh dari Aprilia-sensei?" batin Takana yang mencoba untuk memikirkan sesuatu agar ia bisa jauh dari guru itu.


"I–iya?" Takana mencoba menyahut panggilannya tadi.


"Dylan-san, aku menyukai aroma mu!" Aprilia-sensei kembali berbisik padanya. Lalu, setelah itu, ia pun semakin bergeser ke arah Takana. Ia juga menempelkan tubuhnya dekat dengan Takana sampai dadanya yang besar menyentuh lengan Takana.


Merasakan empuknya bagian tubuh itu membuat Takana terangsang dan seketika pipinya sedikit memerah. Ia hanya mengangguk pelan. "I–iya, Bu! Makasih."


Belum lama ini, Takana melihat Sensei nya bertingkah agak aneh. Terakhir kali ia melihatnya itu saat Sensei sedang berbicara dengan Dylan saat jam istirahat.


Aprilia-Sensei terlihat dekat sekali dengan Dylan. Ia selalu membisikkan sesuatu. Lalu pada akhirnya, Takana melihat Aprilia-sensei sedikit menjilat rambut Dylan-san, dan seketika matanya itu berubah menjadi kuning.


Saat di situ, ia mulai merasa curiga dengan Aprilia-sensei. Maka dari itu, Takana selalu berusaha untuk dekat dari Dylan untuk mengawasi darlingnya dari Aprilia-sensei.


Namun sekarang, Aprilia-sensei berada sangat dekat dengannya dan guru itu juga masih menganggap Takana ini adalah Dylan. Jadi sekarang, apa yang akan Aprilia-sensei lakukan?


Mumpung Takana masih berada di sini, ia akan mengetahui gerak gerik Aprilia-sensei bila berada dekat dengan Dylan. Ia akan mengamati guru Dylan yang satu itu.


Takana mencoba untuk tidak takut padanya. Karena ia sudah mempersiapkan senjata pertahanan diri untuk mencegah Oni yang menyerangnya. Tanaka lah yang memberikan senjata itu untuknya. Katanya juga, untuk membela diri.


"Yah..., tapi semoga saja, semua akan baik-baik. Dan perjalanan kali ini, akan berjalan dengan lancar tanpa masalah apapun."


****


Chapter 19: [ Study tour ]


****


"Dylan, bangun. Oh, Dylan...,"


"Ng?" Takana sedikit membuka mata. Mengedipkan matanya beberapa kali, lalu melirik ke arah Aprilia-sensei yang berada di samping. Seketika ia pun langsung terkejut.


"Dylan. Kita sudah sampai. Sampai kapan kau mau tidur terus? Ayo!" ajak Aprilia-sensei.


"Apa yang kulakukan tadi? Tidur? Iya. Aku tadi tertidur ternyata. Padahal aku sedang dalam misi pengamatan, tapi dengan cerobohnya, aku malah tertidur." Takana jadi panik sendiri dalam batinnya.


"Apa yang Aprilia-sensei lakukan padaku saat aku tertidur tadi?"


"Dylan, ayo!" Aprilia-sensei muncul lagi di depan pintu. Ia kembali mengajak Takana turun dan mengejutkannya.


"I–iya!"


Ternyata benar. Semua orang telah turun dari mobil kecuali dirinya. Barang-barang mereka masih ada di dalam mobil. Kalau begitu, Takana juga akan turun, lalu ia berjalan mendekati kumpulan murid-murid yang merupakan teman sekelasnya Dylan yang ada di sana.


Takana tidak kenal dengan semua teman sekelasnya Dylan. Kalau begitu, ia akan mendekati Irvan dengan Bell saja. Dua orang itulah yang paling Takana kenal.


"Nah, sekarang apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Aprilia-sensei. "Hmm..., coba Ibu mengabsen kalian dulu, ya?"


Tak lama, seseorang datang menghampiri Aprilia-sensei. Orang itu membawakan buku absen kelas. Aprilia-sensei membuka buku Absennya, lalu ia mulai memanggil nama anak-anaknya. Yang pastinya dimulai dari huruf A terlebih dahulu.


"Ailani Putri?"


"Hadir!"


"Alif Mastriawan?"


"Hadir!"


"Banu Bimonarto?"


"Ha–Hadir!"


Eh, cepat sekali sudah sampai B? Oh iya. Takana juga baru sadar kalau jumlah murid di sana hanya sekitar dua puluh murid saja. Entah kenapa dikit sekali.


"Dylan Leviano?"


Takana masih mengamati sekitar. Ternyata Study tour nya itu adalah menjelajah di hutan atau apa? Daerah itu terlihat seperti hutan di mata Takana. Tanah yang ia injak itu juga sepertinya halus.


"Dylan?"


"Belum ada tanda-tanda bahaya di sekitar sini. Tapi, keadaanya sangat sepi. Oh, itu dia! Aku bisa melihat bangunan di sana. Mungkin, itu adalah Vila yang akan kita tinggali malam ini."


"Hei, Dylan! Namamu itu–" Bell-chan tiba-tiba saja menepuk punggung Takana. Lelaki itu tersentak kaget. "Ha–hai!"


"Dylan?"


"Hadir, Sensei!"


"Hah? Dylan jangan melamun. Kau tidak seperti biasanya hari ini. Apa kau baik-baik saja?" tanya Aprilia-sensei dengan raut wajah yang sedikit cemas.


"Iya. Aku baik-baik saja!" Takana berusaha untuk membuang muka dan tetap berekspresi cuek.


Aprilia-sensei terdiam. Lalu ia pun kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan absennya itu.


Lalu, pada saat sampai di huruf T, nama Takana mulai terpanggil.


"Takana Utsuki?"


"...."


Tidak ada jawaban. Lalu, semuanya menengok ke arah Dylan yang sebenarnya di dalam tubuh itu adalah Takana. Mereka pasti menganggap kalau Dylan dan Takana berteman dekat.


"Dylan? Kau tidak bersama Takana?" tanya Aprilia-sensei.


Takana menatap dingin pada Aprilia-sensei dan menjawab singkat. "Tidak."


"Apa kau tahu alasan kenapa Takana tidak ikut?" tanya Aprilia-sensei lagi.


"Dia sedang sakit." Itulah jawaban sekaligus alasan yang Takana katakan kepada Aprilia-sensei. Aprilia-sensei pun mengangguk. Lalu, ia kembali melanjutkan absennya.


****


Setelah mengabsen, Aprilia-sensei menutup buku Absennya. "Baiklah, anak-anak, sekarang kalian ikut Ibu ke tenda yang di sebelah sana!"


Aprilia-sensei mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh anak-anak yang lainnya. Begitu juga dengan Takana. Mereka berjalan mendekati tenda besar yang dikatakan Aprilia-sensei.


"Nah, sekarang taruh tas kalian di sini, ya? Setelah itu, ayo kita menjelajah!" ujar Aprilia-sensei.


Untung saja, Takana hanya membawa satu tas saja dan ia juga belum tahu, barang-barang apa yang ditaruh Dylan di dalam tasnya. Intinya, tas itu berat sekali.


Setelah kami semua meletakkan barang-barangnya di dalam tenda itu, Aprilia-sensei kembali mengajak semua murid untuk mengikutinya.


Mereka diajak Aprilia-sensei sampai ke depan sebuah jembatan gantung. Mereka melewati jembatan itu. Saat dilihat, di bawah ternyata adalah sungai yang arusnya cukup deras dan cukup kuat sampai bisa mendorong makhluk hidup apapun jika terjatuh ke bawah sana.


Aprilia-sensei menghentikan langkahnya saat di tengah jembatan itu. Lalu, ia pun berbalik badan dan menatap semua muridnya.


"Nah, anak-anak. Di sini kita dapat melihat pemandangan sungai yang indah dan juga, pepohonan hijau yang terlihat segar." Ujar Aprilia-sensei.


Salah satu murid mengangkat tangannya. Ia bertanya, "Bu guru! Apa yang akan terjadi jika kita terjatuh ke bawah sana?"


"Ya mati lah!" Jawab si anak laki-laki yang ada di belakang Takana.


"Pastinya mati, dong! Haha...." Kemudian temannya yang lain juga menjawab.


"Entahlah. Kalian bisa saja terluka jika terjatuh ke dalam arus sungai yang ada di bawah sana. Tapi, jangan sampai kalian terjatuh, ya? Hati-hati." Jelas Aprilia-sensei.


Takana melihat ke bawah sana. Sungai itu memang memiliki arus yang kuat. Tapi, sebenarnya sungai itu tidak terlihat terlalu dalam. Karena, ia sendiri masih bisa melihat dasar sungainya. Banyak batu-batu, yang ada di sekelilingnya.


"Ada ikan tidak, ya?"


"Oh iya, selanjutnya kita akan menjelajah ke dalam hutan lindung yang di sana. Jadi, Ibu sarankan, kalian harus membuat kelompok. Tugas kalian adalah mencatat tumbuhan dan hewan apa saja yang ada di sana. Satu kelompok berjumlah 4 orang! Oke, sekarang cari kelompok kalian masing-masing." Jelas Aprilia-sensei.


"Eh, kamu sama aku, ya?"


"Oke!"


"Ayo kemarilah yang ingin ikut denganku!"


"Ayo, sini, sini!"


"A–aku mau kelompok sama siapa, ya?" Takana clingak celinguk mencari teman yang bisa ia ajak kerja sama. Tapi tak kunjung satupun yang mau dengannya.


"Dylan! Ayo bersama kami!"


Takana sepertinya mengenal suara itu. Ternyata Irvan dan Bell. Mereka mengajaknya untuk masuk ke dalam kelompok. Mereka hanya berdua saja. Sedangkan anak lainnya sudah memiliki kelompok yang cukup.


Tidak ada yang ingin bersama mereka lagi. "Andai saja, Dylan-san ada di sini. Mungkin kelompok ini akan cukup 4 orang. Tidak apa, yang penting aku bisa mendapat kelompok walau hanya 3 orang saja."


PLOK!


Aprilia-sensei menepuk tangannya. "Baiklah, kalian semua sudah memiliki kelompoknya masing-masing?"


Semua menjawab serentak. "Sudah!"


"Oke. Sekarang, kalian boleh berjalan ke perjalanan selanjutnya. Ingat! Tugas kalian adalah mencatat nama tumbuhan dan hewan yang kalian lihat di dalam hutan itu. Mengerti?"


Sambil berjalan, semua murid menjawab, "Ya!"


****


Takana, Irvan dan Bell mulai memasuki hutan itu. Bell mengeluarkan buku kecil dan pulpennya. Ia yang akan mencatat, sementara Takana dan Irvan yang akan mengamati sekitar dan mencari tumbuhan maupun hewan yang ada di sana.


"Kalian melihat sesuatu?" tanya Bell sambil berlari menghampiri kedua temannya.


Irvan menggeleng. "Belum. Hah, padahal di sini banyak tumbuhan. Tapi, tidak ada satu pun tumbuhan yang kukenal dan tidak ada hewan yang kutemukan di sini."


"A–aku juga." Takana melirikkan matanya ke arah pepohonan besar dengan daunnya yang rimbun dan lebat.


Lalu tak lama kemudian, angin berhembus dan seketika dedaunan dari atas pohon itu berguguran. Kelihatannya menyenangkan sekali bisa melihat dedaunan yang turun menimpa kepalanya. Serasa seperti hujan saja, mungkin. Atau bisa seperti bunga sakura di Jepang.


"Hei, Dylan! Kemarilah!" panggil Bell.


Takana pun menghampirinya. Ia ternyata menemukan sesuatu. Seekor serangga seperti kumbang yang ukurannya lumayan besar. Kumbang itu memiliki 2 tanduk yang menjulur di kepalanya.


"A–apa ini?" tanya Takana.


"Nah, kalau ini aku tahu namanya. Biasanya aku suka melihat di film-film. Ini namanya Kumbang Tanduk. Tulis, Bel!"


"Ah, baiklah!" Bell menulis di dalam tabel hewan. "Kumbang Tanduk" itulah yang ia tulis.


"Hanya itu? Kami baru menemukan satu hewan saja. Ke mana lagi kita harus mencari?" Takana mengamati sekitar. Kelompok lain sepertinya sudah menemukan banyak objek. Sementara kelompoknya baru satu objek saja.


Ia berdiri di samping Irvan. Takana menatap wajahnya yang datar itu. Sementara dirinya melirik ke arah deretan tumbuhan yang ada di depannya. Lalu, tiba-tiba saja mata Irvan melirik ke arahnya. Seketika, Takana pun terkejut. Ia langsung membuang muka.


Irvan yang merasa diperhatikan pun bertanya, "Ada apa?"


Wajahnya tidak berekspresi. Tapi, tatapan matanya yang berwarna biru itu terlihat menyeramkan.


"Ah, tidak ada, kok!" Takana berbalik badan. Berusaha untuk tidak memandang laki-laki yang tingginya melebihi tubuh Dylan itu.


"Hm..., kau hebat, ya, Takana? Sudah memiliki Darling sendiri." Kata Irvan.


Takana Kembali terkejut. "Eh? Apa dia telah mengetahui kalau sebenarnya yang ada di dalam tubuh Dylan-san ini adalah diriku?"


Takana sedikit menengok ke belakang. Ia jadi terkaget lagi dengan wajah Irvan berada dekat dengannya. Memperhatikannya. "Kau pasti Takana, kan?"


"Aku harus jujur atau tidak, ya? Hmm..., baiklah. Ini hanya Irvan-san. Dia juga seorang Oniroshi. Kalau begitu, aku akan jujur saja."


"I–iya! Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Takana ragu.


"Iya ... karena aku bisa merasakan auramu. Itu saja." Irvan berbalik badan. Ia kembali mengamati beberapa tumbuhan yang ada di depannya itu.


Takana hanya mengangguk.


Irvan mengangkat kedua alisnya. Ia melihat sesuatu. Sebuah cacing tanah yang ukurannya lumayan besar.


"Cacing tanah, nih! Eh, di mana Bell?" Irvan kembali berdiri. Ia mencari Bell. Oh iya, Takana juga baru sadar kalau sebenarnya, dari tadi gadis itu tidak terlihat. Dia pergi ke mana?


Sementara Takana dan Irvan sedang mencari Bell, di tempat lain, tepatnya di tempat Bell berada, ia sedang berjalan kembali ke arah jembatan gantung yang tadi. Apa yang ia lakukan di situ?


"Di sana membosankan. Kalau begitu, aku ingin berkeliling saja. Jembatan tadi indah sekali. Aku menyukainya. Aku akan kembali ke sana sekalian juga aku ingin mencari tumbuhan dan hewan lainnya. Jika sudah kutemukan, aku tinggal mencatatnya saja!" Bell bergumam-gumam sendiri.


Akhirnya, ia sampai di depan jembatan itu. Di sana, ia melihat ada Aprilia-sensei yang sedang menelpon seseorang dengan posisi tubuh menghadap ke ujung jembatan di sana, membelakangi Bell yang ada di ujung jembatan yang satunya.


Bell hanya diam saja. Ia sepertinya ingin mendengarkan Aprilia-sensei berbicara di telpon itu.


"Oh, baiklah. Aku mengerti. Akan aku bunuh mereka sekarang juga!"


Bell tersentak saat ia mendengar Aprilia-sensei berkata seperti itu. "Si, siapa? Siapa yang ingin dia bunuh?!" gumam Bell dalam hati.


Bell mulai berpikir. Lalu, ia kembali melirik ke arah Aprilia-sensei. Tapi tiba-tiba saja, Aprilia-sensei berbalik badan. Bell sangat terkejut. Begitu juga dengan Aprilia-sensei yang melihat Bell sudah berada di belakangnya dan mendengar ia berbicara dengan seseorang yang ia telpon.


"Bell? Kau di sini? Ternyata kau mendengar semuanya, ya?" Aprilia-sensei melangkahkan kakinya ke arah Bell dengan tatapan tajam.


"A–apa yang ingin Bu April lakukan?" panik Bell dalam hati. Ia melangkahkan kakinya ke belakang untuk menjauh dari Aprilia-sensei.


*


*


*


To be Continued-