Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 27~ Save my friends



____________________________________________


****


"Waw, pertunjukkan yang luar biasa kerennya."


"Irvan-san?" Takana bergumam sambil mendongakkan kepalanya dan menatap Irvan yang sedang berdiri di atas dahan pohon itu.


Yang kulihat di atas sana itu memang benar si Irvan. Manusia tanpa ekspresi itu sedang apa di atas sana? Apa dia mengamati kita semua dari tadi?


Dirinya tidak sendirian. Di sampingnya juga ada seorang anak perempuan dengan rambut yang dikuncir dua itu. Ah, biasanya kita panggil dia dengan nama Bell–si anak pelupa.


"Irvan! Kapan aku bisa turun dari sini?! Huweee..." Rengek Bell sambil memeluk batang pohon besar yang ada di sampingnya. Dia terlihat ketakutan saat di atas sana.


"Salah sendiri. Suruh siapa ikut-ikutan naik?" Irvan menengok dengan wajah datarnya itu ke arah Bell.


"Kan kau sendiri yang mengajakku!" bentak Bell. Lalu, karena dirinya banyak bergerak di atas sana, Bell yang sedang ketakuan itu pun kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dari atas sana.


Beruntung, dengan cepat, Tanaka bisa menangkap Bell sebelum dia jatuh ke tanah. Bell kembali membuka matanya lebar-lebar. Dia terkejut dengan tampang wajah seseorang yang telah menyelamatkan dirinya itu. Bell senyum-senyum sendiri.


"Astaga..., ternyata aku telah diselamatkan oleh seorang malaikat tampan! Kyaaa...!" kata Bell dalam hati dengan senangnya.


Angin kencang kembali berhembus. Tanaka dan Bell masih bertatap muka. Lalu, angin yang berhembus itu telah menggerakkan dan mengangkat sedikit poni kanan Tanaka. Mata bolongnya itu dapat terlihat di mata Bell. Seketika, Bell pun mengecilkan pupil matanya. Mengekspresikan wajah terkejut dan ketakutan.


"Ah! Dia bukan malaikat tampan. Tapi, malaikat maut!" Batinnya ketakutan. Hanya karena melihat mata kanan Tanaka, membuat Bell jadi merinding. Ia pun sedikit menggerakkan tangannya dengan isyarat kalau Tanaka harus menurunkannya.


Tanaka Utsuki hanya bisa menelengkan kepalanya. Tapi, ia bisa mengerti dengan tingkah Bell. Lalu, tak lama kemudian, Tanaka pun kembali menurunkan tubuh Bell secara perlahan ke tanah.


Setelah itu, Bell berjalan mundur menjauh dari Tanaka. Ia tidak berkata-kata. Hanya saja, dia masih terlihat seperti orang yang ketakutan.


Tanaka mendongak ke atas. Ia menatap Irvan yang masih berdiri di atas dahan pohon itu sambil bercakap-cakap dengan Takana. Lalu tak lama kemudian, Tanaka melompat sampai ke atas dahan pohon itu. Dia duduk di atas dahan pohon yang ditempati Irvan. Irvan terkejut dengan kehadirannya.


"Hei kalian yang di bawah sana! Ayo naik sini!" ajak Tanaka dari atas pohon. Ia duduk di dahannya di samping si Irvan yang masih bingung dengan kehadirannya.


"Anu..., kakak ini siapa, ya?" tanya Irvan heran.


"Oh iya! Aku baru bertemu denganmu juga." Tanaka melambai kecil, lalu ia mengulurkan tangannya pada Irvan. "Aku Tanaka Utsuki. Saudara dari Takana-Chan. Salam kenal!"


Irvan menjabat tangan Tanaka. "Aku Irvan." Hanya itu? Ya. Lagi-lagi dia memasang wajah datarnya. Tanpa ekspresi maupun senyum di bibirnya itu. Tidak seperti Tanaka yang selalu ceria seperti adiknya.


"Wah, kau pasti seorang Oniroshi juga, kan?" tanya Tanaka.


"Iya. Kakak juga, kan?" Irvan bertanya balik.


"Iya begitulah."


"Onii-chan, Irvan-san? Bisa kita jeda pembicaraannya sebentar saja? Karena, kita masih memiliki satu masalah lagi." Ujar Takana dari bawah pohon. Suaranya sedikit keras, sih....


Mereka berdua yang ada di atas pohon, serontak langsung menengok ke Takana. Lalu, tak lama kemudian, mereka melompat dari atas sana dan mendarat dengan aman di tanah.


"Masalah apa, Takana-Chan?" tanya Tanaka.


"Itu..., soal teman-temannya Dylan-san yang terjebak di bola karet."


Seketika, aku langsung terkejut saat mendengar Takana mengatakan itu. "Apa maksudmu?!"


"Sebenarnya, teman-teman Dylan-san sedang terjebak di suatu tempat. Ah, ceritanya panjang." Takana menggaruk-garuk kepalanya sendiri karena kebingungan hingga rambutnya itu acak-acakan.


"Hah?!" Aku menelengkan kepalaku. Maksudnya apa?


"Ah, aku tahu di mana mereka." Ucap Irvan pelan.


Semuanya pun menengok ke Irvan. "Kau benar-benar tahu?" tanya Kak Fely tidak percaya.


"Iya. Aku tahu. Ayo kita pergi sekarang. Aku akan menunjukkan jalannya." Irvan mulai melangkahkan kakinya, lalu semuanya mengikuti dirinya dari belakang. Entah mereka mau ke mana saat ini. Apa yang sedang mereka cari?


Kalau setiap aku bertanya, mereka pasti selalu menjawab kalau mereka akan menemukan teman-temanku yang terjebak di suatu tempat. Maksudnya terjebak itu apa? Aku tidak mengerti. Apa teman-temanku sedang dalam bahaya di tempat lain?


Dan kenapa hanya aku saja yang tidak mengetahui tentang hal ini?! Menyebalkan sekali!


Untuk mengetahuinya, aku akan ikut dengan mereka. Tapi, sebelum aku berniat untuk ikut pun, mereka sudah mengajak aku duluan. Jadi apa boleh buat, aku ikut saja dengan mereka.


****


Chapter 27: [ Save my friends ]


****


Kami sedang berjalan di dalam hutan yang tak jauh dari jembatan yang di bawahnya ada sungai dengan arus kencang itu. Sebelum memasuki hutan, kami terlebih dahulu melewati jembatan itu. Sebenarnya... si Irvan mau mengajak kami semua pergi ke mana?


"Van? Kau mau membawa kami ke mana?" Takana mulai membuka mulutnya lagi. Dia bertanya dengan kata yang sama dalam benakku.


"Katanya kalian ingin menemukan telur-telur Oni itu." Jawab Irvan tanpa menengok dan tetap berjalan santai.


"Telur?"


"Iya. Aku menyebutnya telur Oni. Karena, bentuk bola itu memang berwarna coklat ke kuningan dengan bentuk bola oval. Jadi seperti telur, kan?" jelas Irvan.


"Apakah itu tempat para Oni untuk menjebak korbannya? Sejujurnya, aku tidak pernah melihat bola itu." Kata Kak Fely sembari bertanya pada Irvan.


"Iya. Siapa tahu saja, orang yang kalian cari ada di dalam telur itu."


"Darimana kau tahu letak telur-telur yang kau maksud itu?" tanyaku dengan nada dingin.


"Karena, di saat kelas 3-A sedang diserang, aku...."


Flashback-


*Irvan Maulana


"Bu April? Apa yang Ibu lakukan di sini?" tanya Adrian sambil menghampiri Bu April. Dirinya diikuti oleh beberapa anak lain di belakang.


"Anak-anakku, Ibu punya tugas untuk kalian!"


~


"UWAAAAA!"


"Eh?! Apa itu?!"


Saat aku mendengar suara teriakan itu, aku pun langsung terbangun dari tidurku. Lalu, aku secepatnya langsung menggoyangkan tubuh si Bell yang masih tertidur di sampingku. Goyangan itu akhirnya dapat membangunkannya.


"Ada apa, Irvan?" tanya Bell sambil mengucek-ucek matanya dan sesekali menguap pelan.


"Ada yang tidak beres! Ayo kita lihat. Teman-teman kita yang lainnya juga sudah tidak ada di sini. Ayo cepat!" Aku berdiri. Melirik ke sekitar dan terkejut. Semua orang sudah tidak ada di sini. Saat itu, hanya ada aku dengan si Bell saja.


Lalu, aku mendengar suara teriakan seseorang yang semakin mendekat. Lalu, dengan cepat, aku pun mengajak Bell agar segera bangun lalu menariknya pergi dari tempat kita berdiri.


Aku mengajaknya bersembunyi di balik semak dan pepohonan. Saat di sana, aku sudah merasa kalau diriku ini akan aman berada di tempat seperti ini. Begitu juga dengan Bell.


"Irvan? Ada apa?" tanya Bell pelan.


"Ssstt...! Eh, apa kau mendengar suara teriakan?"


"Hmm? Apa ada yang berteriak? Siapa?"


"Aku tidak tahu. Makanya aku bertanya padamu."


"Teriakan. Seperti apa?"


"Hmm..., seperti...."


"KYAAAA!"


Aku dan Bell terkejut. Aku kembali mendengar suara teriakan itu. Lalu, dengan cepat, diriku pun menengok dari balik pohon.


Lalu, tak lama kemudian, dari jalan sepetak menuju ke jembatan dan pedalaman hutan di sana, aku melihat ada beberapa murid kelas 3-A yang berlarian keluar dari sana.


"Irvan? Apa yang telah terjadi?" tanya Bell dengan nada yang sedikit panik.


"Entahlah. Aku tidak tahu!"


Semuanya berlari sambil berteriak minta tolong. Apa yang telah terjadi? Aku sangat kebingungan saat itu. Tampang mereka terlihat sangat ketakutan. Aku ingin menghampiri mereka dan bertanya, tapi aku sedikit takut. Takut karena si Bell akan bertindak ceroboh nantinya. Makanya, aku akan diam saja sambil mengamati keadaan di di depan sana.


Lalu, tak lama kemudian, aku melihat Oni yang muncul dari tanah. semuanya sangat terkejut saat melihat Oni yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka itu. banyak sekali Oni yang muncul.


lalu beberapa Oni itu mulai menangkap semua anak-anak yang sedang berlari di sana dengan cara melilit tubuh mereka dengan jari jemarinya yang panjang berwarna hitam dan lengket itu. lalu jari-jari itu mulai menyebar ke seluruh tubuh sampai menutupi seluruh tubuh mereka hingga membentuk sebuah bola berukuran besar yang mengurung semua anak-anak itu di dalamnya.


setelah semuanya terperangkap di dalam bola yang aku sebut dengan telur besar itu. Para Oni itu mulai membawa mereka ke suatu tempat di dalam hutan.


Back~


****


*Dylan Leviano


"... setelah mengikuti para Oni itu pergi, aku pun akhirnya tahu di mana tempat telur itu disembunyikan. Tempatnya tidak jauh lagi, kok!"


"Hebat! Jadi karena itulah kau tidak kena tangkap oleh para Oni itu. Kerja bagus, Irvan-san!" puji Takana.


"Iya! Berkat bantuan dari Irvan, akhirnya kita bisa cepat menemukan teman-teman kita." Timpal Tanaka. "Sekarang ayolah cepat! Irvan, tunjukkan kembali Jalan kepada kami."


Irvan hanya mengangguk. Lalu, mereka pun kembali melangkahkan kakinya.


****


Ternyata benar. Tempatnya memang tidak jauh. Aku akhirnya sampai. Irvan mengajak kami sampai di depan sebuah gua yang cukup besar di tengah hutan.


Irvan membalikkan badannya. "Di sinilah aku melihat para Oni itu memasukkan telur-telur mereka ke dalam sana."


"Baiklah kalau begitu! Sekarang ayo kita cari mereka!" Tanaka langsung maju begitu saja. Lalu, semuanya pun mengikuti langkah Tanaka dari belakang. Terpaksa, aku juga harus ikut masuk ke dalam gua yang gelap itu.


Tapi, saat di dalam sana, keadaan jadi terasa tenang dan baik-baik saja. Tidak ada hawa yang menyeramkan dan kegelapan di dalamnya. Karena, lubang-lubang dari atas gua itu telah memberikan jalan masuk untuk cahaya matahari yang akan memberikan keterangan di dalam Gua itu.


Dalamnya tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil juga. Banyak bebatuan dan air yang menggenang. Sepatuku nyaris kemasukan air jadinya!


"Ah! Itu dia!" Takana tiba-tiba berteriak. Membuat semua yang ada di sana jadi terkejut. Mereka menghentikan langkahnya.


"Apa apa, Takana?"


"Apa kau menemukannya?"


Takana mengangguk. Lalu, dia kembali melangkahkan kakinya. "Itu di sana! Ayo!"


Semuanya mengikuti Takana. Lalu, pada akhirnya, telur-telur yang mereka cari itu dapat terlihat. Semuanya telah menemukannya. Sekarang apa yang akan mereka lakukan dengan telur itu? Apa isinya?


"Hmm..., jadi seperti ini wujudnya? Besar juga." Gumam Kak Fely. "Apa semua anak-anak itu ada di dalam telur ini?"


"Iya. Temannya Dylan-san di dalam sana." Jawab Takana.


Aku tersentak. "Eh? Temanku?"


"Iya. Coba perhatikan ini!" Tanaka kembali mengeluarkan tentakelnya. Lalu, ia memotong kulit berlendir yang menggantung salah satu telur itu.


Telurnya terjatuh ke bawah dan pecah. Semuanya terkejut. Begitu juga dengan diriku. Karena, di dalam telur itu, kami menemukan tubuh manusia yang masih hidup. Dan ternyata itu adalah tubuh dari salah satu murid kelas 3-A.


Ternyata benar. Teman-temanku ada di dalam telur-telur itu. Tapi, bagaimana mereka bisa ada di sana?


Anak yang berhasil dibebaskan oleh Tanaka itu bernama Kiky. Kak Fely mendekat. Ia akan memeriksa keadaan si Kiky.


"Hah, syukurlah." Kak Fely bergumam. Lalu, ia mendongak melirik ke semuanya sambil tersenyum. "Dia cuma pingsan saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Nyawanya baik-baik saja."


Semuanya menghembuskan nafas lega. Lalu, setelah mengetahui kalau isi dari telur-telur itu adalah orang yang mereka cari, maka Tanaka akan memotong penggantung telur yang tersisah.


Ada 16 telur di sana. 14 telur berisi semua murid kelas 3-A. 1 telur itu ternyata ada Kei Sebastian juga. Dan satunya lagi adalah Pak Sopir Bus.


Semuanya telah dibebaskan dari perangkap telur yang lengket itu. Lalu, setelah itu, Tanaka membawa beberapa anak lain dengan tentakelnya. Kak Fely menggendong 2 anak. Lalu, Takana dan aku masing-masing membawa satu anak. Irvan menggendong anak laki-laki lainnya. Dan sisahnya, Bell menggendong si wakil ketua kelas perempuan itu.


****


"Hah, berat sekali!" Keluhku saat kembali ke tempat perkemahan.


"Haha..., kau baru menggendong satu anak!" Kak Fely terkekeh setelah ia membaringkan tubuh anak yang ia bawa.


"Iya. Tapi itu si Alif. Dia kan gemuk. Pastinya juga berat, lah!" bentakku pada Kak Fely.


"Sudahlah. Kalian berdua ribut mulu! Sekarang, apa yang akan kita lakukan pada mereka?" tanya Tanaka.


"Mereka pasti akan ingat dengan kejadian yang telah menimpa mereka. Bagaimana pun caranya, mereka harus melupakan kejadian itu. Mereka tidak boleh melihat Oni/monster seperti Bu April." Timpal Irvan.


"Serahkan saja padaku!" Kak Fely mengangkat telunjuknya yang mengeluarkan cahaya merah itu.


Tanaka tersenyum senang. "Oh iya! Kita kan masih punya Kak Fely."


"Tapi Onee-chan? Apa Onee-chan akan baik-baik saja? Ini banyak sekali, loh!" Takana terlihat cemas sekali. Apa yang membuatnya jadi seperti itu? Aku jadi penasaran. Aku pun akan mencoba untuk bertanya.


"Sebenarnya, apa yang akan kakak lakukan?" tanyaku.


"Kakak akan menghapus ingatan mereka!" jawab Kak Fely sambil berjalan menghampiri salah satu anak.


"Hah? Memangnya bisa?" Aku menelengkan kepalaku.


"Tentu saja. Perhatikan ini baik-baik."


Kakakku menempelkan telunjuknya pada dahi teman perempuan ku. Lalu, telunjuknya itu mengeluarkan cahaya merah yang sangat terang. Setelah cahayanya menghilang, Kak Fely pun kembali mengangkat telunjuknya dan berdiri.


"Hanya seperti itu? Lalu apa yang akan terjadi?" tanyaku lagi.


"Kau bisa melihatnya besok!"


Aku tidak mengerti. Besok? Apa maksudnya saat sekolah besok? Apa yang akan terjadi pada mereka?


Setelah perempuan itu, Kakakku pun melanjutkannya dengan murid lain.


****


"Hah, akhirnya selesai juga!" Kakakku kembali berdiri lagi setelah ia menyelesaikan tugasnya itu. Ia sedikit mengelap keringat di keningnya. Wajahnya terlihat lesu sekali. Apa dia kelelahan?


"Baiklah. Sekarang, ayo kita bawa mereka pulang!" ujar Takana sambil mengangkat satu per satu anak-anak itu dengan tentakelnya.


"Hah?! Bawa pulang bagaimana caranya?" tanyaku tidak percaya.


"Ini. Aku akan mengemudikan mobil Busnya!" jawab Tanaka sambil tersenyum setelah ia menunjukkan kunci mobil Bus yang ia ambil dari saku celana si Pak Sopir.


Semuanya mengangguk. Lalu, kami pun kembali menggendong orang-orang yang masih tertidur itu sampai ke dalam Bus. Tidak hanya tubuh mereka, tapi juga barang-barang mereka. Tidak lupa, kami juga harus membereskan sisah perkemahan. Melipat tendanya lagi. Sungguh merepotkan sekali!


Lalu, setelah semuanya berada di dalam Bus, Tanaka pun menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankannya dengan cepat.


Akhirnya, kami dapat pulang juga ke rumah dan aku juga sudah menemukan tasku yang berisi barang-barang berhargaku. Semoga saja, di perjalanan tidak ada hambatan apapun lagi.


Sungguh! Hari ini aku merasa lelah sekali. Saat di rumah nanti, aku ingin secepatnya masuk ke kamar dan tidur di kasurku yang empuk.


Di tengah perjalanan, aku hanya menopang dagu di pinggir jendela mobil sambil memandang dan menatap keindahan awan senja di sore hari....


****


Di suatu tempat yang belum diketahui lokasinya-


"Jadi, si Aprilia kalah? Bagaimana bisa?"


"E, entahlah, Tuan! Maafkan aku!"


"Kalian semua ini memang tidak bisa diandalkan! Tahanan kita berhasil kabur dan sekarang, murid andalanku juga berhasil dibunuh oleh para Oniroshi itu!" bentaknya.


"Maafkan kami!"


"Kalian memang tidak berguna! Enyalah dari hadapanku! Pergi kalian!"


"Ba, baik Tuan!"


"Fiuh~ Kenapa para Oniroshi itu semakin kuat sekali? Hm..., kalau mereka bisa bertambah kuat, kalau begitu, aku juga harus kuat." Kepalanya menengok ke belakang. Menatap seseorang yang ada di belakangnya itu. "Sepertinya, aku bisa mengandalkanmu."


"Tentu saja, Tuan! Aku sudah tidak sabar ingin mencabik-cabik mereka!"


"Pastikan kau tidak akan gagal!"


"Tidak akan!" Dia tersenyum.


ZLEB!


Pisau yang dipegang sosok manusia yang sedang duduk di kursi itu menusuk sebuah kertas bergambar. Di kertas itu, terpampang foto Takana Utsuki.


Saat kertas itu terjatuh di lantai, terlihat juga foto-foto Oniroshi yang lainnya. Termaksud Tanaka dan Irvan.


****


To be Continued-