
"Ano..., Dylan? Em... aku mau tanya, apa kau tau sesuatu?" tanyanya (Tanaka) ragu-ragu.
"Sesuatu seperti apa?" Aku menaikan sebelah alisku.
"Emm..., soal orang yang pernah dekat dengan kakakmu. Apa kau pernah melihatnya dekat dengan laki-laki, atau kau tahu kalau dia pernah punya pasangan, gitu?"
Aku menyipitkan mataku. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Tanaka menggeleng cepat. "Ah! Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja." Setelah ia berkata seperti itu, dirinya pun membuang muka dariku. Lalu ia mengelus bagian belakang lehernya dan sesekali melirik ke arahku lagi, lalu mengarahkan lirikan matanya ke arah lain.
Aku terheran. Kenapa tiba-tiba si Tanaka jadi bersikap seperti itu? Sejak ada Ethan yang datang ke rumah, Tanaka jadi sosok yang dingin dan pendiam. Dan sekarang, setelah Ethan pulang, Tanaka malah bertanya tentang kepribadian kakakku. Apa Tanaka tidak suka dengan kehadiran Ethan? Ah, aku tidak tahu.
Lalu, kalau dia ingin mengetahui banyak tentang kakakku, kenapa dia tidak bertanya langsung pada kakakku. Kenapa harus sama aku, gitu? Bahkan, aku pribadi juga tidak banyak tahu tentang Kakakku.
Suasana jadi sepi. Hening seperti rumah tanpa penghuni. Daripada diam-diam di dapur, ga ada gunanya, lebih baik aku menonton Anime di Komputer ku.
Aku pun beranjak dari kursiku. Lalu, berjalan ke arah kamarku. Diikuti oleh Takana juga dari belakang. Ah, kenapa dia pakai ikutan segala, sih? Aku harap dia tidak menggangguku.
Setelah diriku dan Takana pergi dari dapur, Tanaka yang masih duduk di atas kursi dekat meja makan itu pun sedikit menundukkan kepalanya. Lalu, ia mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah ia kembali menurunkan tangannya, terlihat wajah Tanaka agak sedikit memerah.
Ia pun bergumam, "Kenapa aku tidak bisa mengatakannya?!"
****
Chapter 43: [ Ethan Syahputra, part 2]
****
Pagi harinya, aku terbangun karena suara anjing tetangga sebelahku yang bergong-gong keras. Dan, silaunya cahaya matahari yang masuk ke kamarku lewat jendela.
Aku pun membuka mata, lalu terduduk. Kepalaku menengok ke samping kananku. Menatap ke jendela dengan mata yang masih setengah menutup. Lalu, tiba-tiba aku membesarkan mataku dengan cepat karena terkejut. Kenapa jendela kamarku terbuka? Aku pikir, semalam aku sudah menguncinya dari dalam dan menutup gordennya. Tapi kenapa pagi ini, jendela itu terlihat sedikit terbuka dan Gordennya sudah bergeser sepenuhnya hingga memperlihatkan seluruh kaca jendela.
Aku turun dari tempat tidurku, lalu melangkah 2 kali ke arah jendela itu. Aku pun kembali menutup jendelanya karena angin pagi dari luar terasa dingin sekali. Lalu, setelah aku kembali mengunci jendelanya, aku pun langsung menutup gordennya.
"Jendelanya kok bisa terbuka, ya?" pikirku dalam hati. "Kayaknya ada yang tidak beres. Apa jangan-jangan, semalam ada pencuri yang masuk? Ah, bisa gawat!"
Dengan cepat, aku menghampiri semua lemariku. Aku melihat komputerku masih berada di tempatnya. Lalu, semua Figure-ku masih ada. Tidak ada yang hilang. Lalu, semua komikku juga masih terlihat banyak dan tidak ada yang berubah. Kamarku terlihat biasa seperti tadi malam.
Hmm... sepertinya aku salah pemikiran. Itu mungkin bukan pencuri yang masuk ke rumahku. Pasti ada sesuatu. Ah, sudahlah! Aku tidak mau memikirkannya. Mungkin, jendela itu hanya tertiup angin kencang saja tadi malam. Karena angin itu sebagai tanda akan kedatangan badai besar hari ini (mungkin). Karena saat aku lihat ke depan, cuaca hari ini sedang tidak baik. Awan hitam berkumpul di mana-mana, langit jadi gelap dan....
GLUDUK!
Petir juga mulai menyambar. Eh, kenapa tiba-tiba langit jadi gelap begini? Tadi bukankah cuacanya agak cerah?
Huh, sepertinya aku tidak akan masuk sekolah lagi hari ini. Cuacanya kan tidak mendukung, tidak akan baik untuk anak seumuranku pergi ke sekolah. Lebih baik aku tidur lagi saja.
Aku kembali membanting tubuhku ke atas tempat tidur. Lalu aku kembali memeluk Dakimakura milikku yang baru saja kubeli di toko Online. Karena, Dakimakura lamaku sudah rusak. Dan itu semua karena ulah anak Jepang itu! Belum puas aku memarahinya!
Belum lama aku kembali menutup mata, tiba-tiba saja ponsel yang ada di atas meja samping tempat tidurku itu berdering. Hanya beberapa detik saja. Karena itu bunyi nada dering Chat masuk.
Aku tidak mempedulikannya. Mungkin, chat itu hanya dari orang iseng. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, aku sudah lama tidak mendapat Chat. Kecuali dari sekolah. Apa jangan-jangan, itu Chat masuk dari sekolah? Apa mungkin ada pengumuman penting di dalam grub sekolahku?
Ah, mau tidak mau, aku harus memeriksanya karena mungkin saja itu penting. Aku meraih ponselku yang ada di atas meja. Lalu, membuka layarnya dan benar saja. Ada chat masuk. Aku pun memeriksanya. Chat dari grub sekolah. Ternyata benar dugaanku!
Chat dari wali kelas baruku. Tertulis-
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pengumuman!
Hari ini, semua murid diharapkan untuk tidak membolos atau tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Karena, mulai Minggu ini, kalian harus lebih belajar dengan giat dan kurangi kebiasaan membolos kalian. Karena, Minggu depan, kalian sudah harus mengikuti Ujian Akhir Semester satu.
Ingat! Hari ini tidak ada yang tidak masuk. Ibu akan memberikan les tambahan pada kalian semua. Jadi, semoga berhasil! Kita akan bertemu nanti di kelas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Payah..." gumamku kesal setelah membaca chat itu. Baru saja aku ingin tidur lagi, tapi karena ada pemaksaan untuk masuk ke sekolah hari ini, jadi apa boleh buat? Aku harus masuk sekolah hari ini.
Haduh... malas sekali rasanya. Padahal di depan akan turun hujan dan badai, loh! Tapi masih saja ada paksaan untuk ke sekolah. Gurunya tidak melihat keadaan, apa?!
Tapi, tidak buruk juga kalau aku masuk hari ini. Karena, Wali kelasku akan memberikan kami semua les tambahan untuk bersiap menghadapi UAS yang akan dilaksanakan pada... hari Senin?! Tunggu! Senin depan, loh! Dan hari ini saja sudah hari Kamis atau Rabu kalau tak salah. Waktunya sebentar lagi! Aku harus lebih fokus untuk tetap mempertahankan nilaiku dengan baik!
Semangat, Dylan! Kau pasti bisa!
Baiklah, tanpa menunggu lagi, sekarang juga aku ingin bersiap pergi ke sekolah. Tapi... haduh... aku lupa dengan Takana. Dia juga akan ikut denganku. Tapi, sekarang anak Jepang ini masih saja tertidur pulas bersama dengan kakaknya di bawah dengan kasur kecilku.
Aku mendesah kecil. Huh, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi apa boleh buat? Aku harus membangunkan Takana. Tanganku mulai menggoyangkan pundaknya. "Ta, Takana? Ayo bangun!" teriakku.
Lalu, dengan cepat, Takana pun membuka matanya. Ia langsung terduduk lalu mendongak menatapku. "Ah, ada apa, Dylan-san?" tanyanya.
"Hari ini sekolah. Kita harus bersiap-siap." Jawabku.
"Ah, baiklah!"
"Oke, kalau begitu, aku ingin mandi dulu."
"Eh? Dylan-san, mandi bersama, yuk! Agar lebih cepat."
"Baka! (Bodoh!) Justru akan memperlambat!" Aku membentaknya, lalu langsung berjalan cepat keluar kamarku.
****
Saat aku dan Takana sudah mandi dan berseragam sekolah, kami pun pergi meninggalkan kamar. Lalu, berjalan ke arah dapur untuk sarapan. Tanaka dan Kak Fely juga sudah ada di depan meja makan.
"Ohayou Gozaimasu, Onee-chan!" sapa Takana pada kakakku dengan riangnya. Kak Fely pun berbalik badan. "Ohayou, Takana-Chan." Kak Fely tersenyum. Lalu, setelah itu, aku dan Takana pun duduk di tempat kami masing-masing.
(*Ohayou Gozaimasu\= Selamat pagi.)
Tak lama kemudian, Kak Fely pun mendekati meja makan dengan membawa dua piring lebar dengan lauk pauk di atasnya. Ia meletakan piring itu di atas meja. Satu piring, berisi ikan goreng dan satu piringnya lagi berisi sayur kangkung.
Sungguh. Itu makanan kesukaanku. Tidak terlalu suka dengan sayurnya, sih... tapi aku menyukai lauk yang digoreng seperti Ikan ini.
Kami semua mengambil piring masing-masing, lalu menyendok nasinya dan mengambil lauk yang diinginkan. Setelah itu, baru kami makan bersama setelah membaca doa.
"Itadakimasu!" Ucap Takana dan Tanaka bersamaan sebelum mereka menyentuh makanannya. Mereka berdua menempelkan kedua telapak tangan mereka ke depan dada, sedikit menunduk dan memejamkan mata. Hanya berselang beberapa detik saja, mereka akhirnya memakan makanannya. Mereka melakukan kebiasaan orang-orang Jepang sepertinya.
(*Itadakimasu\= Berarti Selamat makan. Biasanya diucapkan sebelum kita menyantap makanan, dengan tujuan untuk memberi rasa syukur kepada nikmat yang ada di makanan itu.)
****
"Kami jalan!" teriakku dengan Takana dari depan rumah sebelum kami berdua pergi ke sekolah.
Kak Fely melambai. "Iya. Hati-hati di jalan, ya?"
Tanaka juga melambai. "Maaf aku tidak bisa menghantar kalian."
"Tidak apa, Onii-chan!"
Saat sampai di sekolah, Tanaka malah menjatuhkan ku ke lantai dengan enaknya. Sedangkan Takana bisa duduk di tempatnya dengan selamat tanpa sakit. Memang menyebalkan sekali si cowok bermata satu itu!
****
Aku sampai di kelas. Saat di depan kelas, aku melihat ada secarik kertas berisi daftar nama seseorang yang tertempel di jendela. Karena penasaran, aku pun melihat isi kertas itu.
Ternyata, kertas itu berisi daftar nama murid kelas 3-A. Absennya diacak. Daftar nama Murid yang akan melaksanakan UAS.
Saat kulihat, ternyata aku mendapatkan nomor 5 dan... Takana.... nomor 13? Yes! Akhirnya aku bisa jauh dari dia juga. Hah, senang rasanya. Ulangan nanti, aku tidak akan bisa dekat dengannya.
****
Skip~
KRRIINGG... KRIIING....
Sudah jam istirahat. Semua murid pasti pergi ke luar kelas untuk pergi ke kantin atau pergi ke tempat lain untuk bermain. Tapi, tidak dengan kelasku. Karena... dari tadi kami masih mengerjakan soal yang diberikan oleh wali kelas kami.
Soal itu sangat sulit. Bahkan, murid terbaik di kelas kami–Adrian Martadinata pun tidak bisa mengerjakannya. Wali kelas baru kami memang kejam. Dia memberikan soal untuk anak kuliahan, sementara kami masih saja kelas 3 SMA. Walaupun, waktu kuliah sebentar lagi, tapi tidak sepantasnya beliau memberikan soal yang sulit seperti ini. Seharusnya kan, soal yang sudah pernah kami pelajari belum lama ini.
Sungguh! Kepalaku pusing sekali. Aku baru mengerjakan 2 soal, dan itu juga aku mengerjakannya dengan asal. Ah, malah perutku juga lapar. Haduh, sudahlah... aku akan silang saja semuanya. (Soalnya berisi pilihan ganda) tapi sangat sulit.
****
"Haduh..." Keluh kakakku saat berada di kamarnya. Dia sedang duduk di pinggir ranjangnya setelah ia selesai membersihkan kamarnya.
"Hmm... Aku penasaran dengan keadaan Ethan. Dia masih belum menghubungiku." Gumam Kak Fely sambil mengelus-elus dompet miliknya dengan jempol kanannya. "Apa mungkin aku harus menemuinya? Aku takut dia kenapa-napa. Aku takut dia benar-benar dalam bahaya karena Ibunya yang kejam." Kak Fely melanjutkan.
Dia terlihat cemas dengan keadaan Ethan. Karena, terakhir kali mereka bertemu, Ethan sedang dimarahi dengan kasar oleh Ibunya. Dan Kak Fely sendiri merasa takut kalau Ibunya Ethan itu akan memperlakukan anaknya lebih dari sekedar dipukul.
Kak Fely meletakan kembali dompetnya di atas meja kamarnya, lalu ia pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengambil jaket miliknya yang ia gantungkan di tembok, lalu kembali mengambil dompetnya dan pergi keluar kamar dengan terburu-buru.
"Hah, aku akan pergi. Hanya untuk memeriksa keadaannya saja. Aku sangat khawatir sekali." Kata kakakku dalam hati.
"Fely? Kau mau ke mana?" tanya Tanaka. Dia sedang tiduran di atas sofa sambil menonton televisi.
"Oh, aku ingin keluar sebentar." Jawab kakakku.
"Ya, ke mana? Kenapa terburu-buru sekali?"
"Aku ingin menemui Ethan sebentar saja." Kakakku kembali menjawab dan langsung pergi begitu saja. Tanaka hanya terdiam. Pandangan matanya masih menatap Kak Fely yang pergi meninggalkannya.
"Fely-chan terlihat gelisah. Loh? Tidak biasanya. Dia kenapa, ya?" pikir Tanaka dalam hati.
Kak Fely mulai menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumahnya menuju ke jalan aspal di depannya. Kak Fely terus menyusuri jalan lurus itu, sesekali berbelok, dan lurus lagi. Sampai akhirnya, dia kembali ke rumah Ethan.
"Ini kan rumahnya? Aku tidak salah jalan?" gumamnya. Kak Fely mengangguk, lalu mematikan mesin mobilnya.
Blam!
Kak Fely kembali menutup pintu mobilnya setelah ia keluar dari dalamnya. Ia menyimpan kunci mobilnya ke dalam saku jaketnya, lalu berjalan perlahan mendekati gerbang rumah Ethan.
Pintu gerbangnya tidak terkunci. Kak Fely bisa mendorongnya. Ia pun masuk ke halaman rumah Ethan. Berjalan santai sampai di depan teras dan pintu depan rumah Ethan.
"Ethan ada di rumah, tidak, ya? Kok rumahnya sepi sekali." Ujar Kak Fely dalam hati.
Kak Fely pun mulai mengetuk pintunya. Pada awalnya, dia agak ragu. Tapi ia mencoba untuk memberanikan diri.
TOK TOK...
"Hmm... tidak ada jawaban. Apa aku coba sekali lagi?"
TOK TOK TOK....
"Permisi!"
CKLEK! KRIIEEETT....
Kak Fely terkejut. Pintu rumah Ethan akhirnya terbuka. Dan seseorang yang membukakan pintu itu ternyata adalah Ibunya Ethan yang galak.
"Siapa Lo?" tanya Wanita paruh baya itu dengan nada dingin.
"Ah, maaf. Saya temannya Ethan. Hanya ingin berkunjung. Apakah Ethan ada di rumah?" tanya Kak Fely ragu.
Ibu Ethan terdiam sejenak. Matanya melirik ke sekujur tubuh Kak Fely. Kak Fely berpenampilan rapih hari ini. Lalu, mata Ibu Ethan mengubah pandangannya beralih ke mobil sedan berwarna putih milik Kak Fely yang terparkir di depan gerbang rumahnya. Lalu, tak lama kemudian, Ibu Ethan pun mengangguk dan membuka pintu lebar-lebar untuk mempersilahkan Kak Fely masuk.
"Baiklah, kau boleh masuk."
Kak Fely membungkuk hormat, lalu kembali berdiri tegak. "Ah, terima kasih banyak." Ucapnya senang karena dirinya telah diperbolehkan masuk oleh Ibu Ethan yang telah ia anggap galak itu. Ia pikir, Ibu Ethan tidak akan membiarkan dirinya masuk, tapi ternyata dia salah.
Dalam rumah Ethan cukup sederhana. Kak Fely duduk di sofa usang dekat pintu depan. Sofa yang sudah berobek-robek dan beberapa per-nya juga sudah ada yang menonjol keluar. Tembok rumahnya juga sudah banyak yang retak. Tapi, lantai rumahnya masih terlihat bagus dan kebersihannya juga lumayan terurus.
"Emba, mau saya ambilkan minum?" Eh, kok tiba-tiba nada bicaranya jadi sopan begitu?
Kak Fely menggeleng pelan dan tertawa kecil. "Tidak, Tante. Saya hanya ingin melihat keadaan Ethan saja. Eh, ngomong-ngomong, di mana dia?" tanya Kakakku.
"Oh, Ethan? Dia ada di kamarnya. Mau saya hantar?"
"Oh, boleh. Terima kasih." Kak Fely mengangguk, lalu ia pun beranjak dari sofa dan berjalan pergi mengikuti Ibu Ethan.
Ada sebuah ruangan yang ditutupi dengan pintu berwarna coklat muda. Ibu Ethan memasukan kunci ke lubang yang ada di kenop pintunya. Lalu, pintu pun dapat dibuka. Ibu Ethan mempersilahkan Kak Fely untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Kak Fely mengangguk. Tapi ia masih merasa heran. "Kenapa kamar Ethan dikunci dari luar?" pikirnya dalam hati.
Kak Fely mengintip ke dalam ruangan yang merupakan kamar Ethan itu. Kak Fely terkejut sampai ia membesarkan mata birunya. "E, Ethan!" teriak Kak Fely sambil berlari menghampiri Ethan.
Letak tubuhnya Ethan saat ini berada di sudut pojok kamarnya. Dan... keadaanya sangat mengenaskan. Tubuh dan tangannya diikat ke belakang dengan menggunakan tali. Kakinya diborgol. Dan... tubuhnya penuh luka. Apalagi wajahnya.
Kak Fely menemukannya sedang tergeletak di lantai. Ethan masih tersadar, tapi nafasnya agak terengah-engah. Kak Fely pun membangunkan posisi Ethan menjadi duduk di pinggir tembok.
"Fe, Fely? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ethan pelan.
"Aku hanya ingin menemuimu. Oh Tuhan! Apa yang telah terjadi pada dirimu? Siapa yang telah berbuat seperti ini padamu?" tanya Kak Fely cepat. Ia merogoh tasnya untuk mengambil cutter kecil yang selalu ia bawa untuk memotong tali yang mengikat tubuh Ethan itu.
"A, aku... Eh?!"
Ethan terkejut. Matanya terbuka lebar dengan ekspresi kagetnya. Karena... di belakang Kak Fely, ia melihat....
Sosok Ibunya!
BUAK!
To be Continued-