
****
KRIIING... KRIIING....
"Bell sekolah sudah berbunyi. Tapi, kenapa Takana masih belum datang? Dia telat tagi kah?" gumam Irvan dalam hati sambil merogoh tasnya untuk mencari buku pelajaran pertama.
Seorang guru baru telah masuk ke kelas mereka. Guru yang akan menggantikan Bu April.
"Selamat pagi, anak-anak. Ibu akan menjadi guru baru kalian. Salam kenal. Nama Ibu, Bu Risna."
Jadi ternyata nama guru baru itu Bu Risna. Dylan berharap semoga dia guru baik hati. Tidak seperti Bu Aprilia. Ia berharap juga kalau semoga saja guru itu juga tidak berubah menjadi monster. Nanti sama seperti Bu April.
Semua anak menyapa guru itu. Bu Risna tersenyum lebar sambil mengangguk. Lalu, ia pun duduk di tempatnya. Mengambil buku absen dan membukanya. "Hmm..., apa sekertarisnya sudah mengabsen?" tanya Bu Risna.
Sekertaris di kelas Dylan bernama Allani Putri. Nama panggilannya adalah Allan. Ia duduk di barisan tempat Dylan, di kursi paling depan. "Sudah, Bu!" Ia menjawab.
"Ohh..., siapa yang tidak masuk hari ini?" tanyanya lagi.
"Dy–"
WHUUUSSSSH....
"KYYAAAA!"
"Aduh!" Jerit Dylan saat tubuhnya terbentur meja sendiri.
Seketika, kelas jadi sedikit terkejut saat tiba-tiba saja hembusan angin kencang muncul. Hembusan angin itu berasal dari pergerakan Tanaka saat ia sedang berlari secepat kilat.
"Tanaka itu memang menyebalkan!" Geram Dylan dalam hati. Lelaki mata satu itu sudah menggendong Dylan dan Takana untuk menghantar mereka ke sekolah dengan kekuatan berlari super cepatnya itu.
Saat sampai di sekolah, tepatnya di kelas, dia malah menjatuhkan tubuh Dylan begitu saja sampai lelaki itu tertabrak mejanya sendiri. Sedangkan Takana? Takana sudah duduk di kursinya sendiri dengan selamat. "Ini tidak adil! Kenapa hanya aku saja yang merasa sakit di sini?! Tanaka! Aku akan membalasmu lain waktu!"
Dylan langsung berdiri kembali dan duduk di tempatnya dengan cepat sebelum semua murid di kelas ini memperhatikannya. Eh, tapi ternyata sudah terlambat. Mata mereka sudah terpaku pada Dylan.
"Hmm..., sepertinya aku mulai dibicarain lagi, nih!" batin Dylan yang merasa tidak enak dengan suasana kelas.
"Dylan? Kenapa kau tiba-tiba ada di situ?" tanya si Sekertaris Allan dengan ekspresi terkejutnya.
"Aku dari tadi di sini, kok!" Jawab Dylan lalu membuang muka.
Semuanya terdiam. Lalu, mereka akhirnya mulai mengalihkan pandangannya dari Dylan. Mereka kembali menatap guru baru di depan kelas.
"Oh, kamu baru datang, ya? Siapa namamu?" tanya Bu Risna.
Tatapannya mengarah ke pada Dylan. Ia sedikit terkejut. Lalu ia membenarkan posisi duduknya sambil menjawab, "Dylan Leviano." Singkat dan jelas.
Bu Risna mengangguk. Lalu, ia pun kembali menatap buku absen yang ia pegang itu. "Dylan masuk, ya?" Tangan kanannya yang memegang bolpoin berwarna merah itu mulai menuliskan sesuatu di buku absen. Ternyata, hanya menulis satu titik di dalam kolom absen namanya.
Setelah itu, Bu Risna mulai memanggil murid-murid di kelas itu satu persatu. Sementara mereka semua memberitahu nama mereka masing-masing, Dylan menggunakan waktu seperti ini untuk memikirkan tentang beberapa kejadian aneh yang menimpanya.
Tanpa ia sadari, ternyata dari tadi si Takana selalu menatap ke arahnya. Dylan akhirnya bisa merasakan keberadaan cowok Shota itu sudah berada dekat di samping. Dengan cepat, ia pun melirik tajam ke arahnya.
Takana terkejut. Ia membenarkan posisi duduknya lalu membuang muka darinya. "Dylan-san seram sekali, sih kalau sudah seperti itu." Takana bergumam.
Dylan tersentak saat mendengar gumamannya itu. Tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya.
Di waktu yang sama, seorang gadis dari sekolah lain sempat lewat di depan kelas Dylan. Mata gadis itu melirik ke arahnya, lewat jendela kelas. Tatapan matanya benar-benar mengarah pada Dylan.
"Apa yang dia lakukan di situ? Menatapku? Tapi kenapa?"
"Dylan...." Gadis itu bergumam di depan sana sambil terus memperhatikan lelaki itu.
****
Chapter 37: [ Pacar Kei ]
****
KRIIING.... KRIIING....
Jam istirahat-
Saat mendengar bel 2 kali itu, seketika semua murid langsung pada berisik. Mereka membereskan peralatan menulis dan buku-buku mereka ke dalam tas dengan cepat. Lalu setelah itu langsung berlari ke luar kelas.
Takana sedang duduk anteng di tempatnya. Sementara, Dylan sedang menghapus papan tulis di depan kelas. Karena hari ini adalah hari Rabu, waktunya ia piket di kelas ini.
Di kelas hanya tersisah 4 orang anak. Yaitu si Takana, Irvan dan Bell. Termasuk dirinya juga. Irvan dan Bell sedang berbincang bersama. Takana sedang bengong. Dylan merasa bosan jika berlama-lama di dalam kelas. Kalau begitu, setelah ia menyelesaikan tugas bersih-bersih di kelas, ia memutuskan akan langsung pergi dari kelas itu.
"Hah, akhirnya selesai juga. Tapi, ini baru menghapus papan tulis dan membersihkan meja guru. Lebih baik, sisahnya untuk yang belum piket saja, deh!" Dylan meletakkan penghapus papan tulis ke atas meja.
"Nah, sekarang, aku ingin keluar kelas dan pergi ke kantin untuk mencari makanan." Tapi sebelum kakinya melangkah mendekati pintu kelas, seseorang baru saja datang ke kelasnya secara tergesa-gesa.
Seorang gadis yang ia lihat di depan jendela tadi. Ia terlihat tergesa-gesa, tapi saat matanya melirik ke arah Dylan, seketika dia langsung tersentak dan sedikit tersenyum. Lalu berjalan perlahan menghampiri Takana.
Sepertinya gadis itu tidak asing di mata Dylan. Gadis berambut pendek coklat. Sepertinya pernah ia lihat. Oh, apa mungkin gadis itu adalah teman Takana yang kemarin bertemu dengannya.
"Ah sudahlah, perutku sudah keroncongan. Aku lapar sekali. Karena sarapan tadi pagi tidak aku habiskan. Aku ingin ke kantin!"
****
"Halo, Takana!" sapa seorang gadis berambut pendek yang menghampiri meja Takana. Takana tersentak dengan kehadiran gadis itu. Ternyata, dia Lisa.
"Ah, Lisa-san? Ada apa?" Takana menyahut.
Lisa menarik satu kursi dari tempat lain, lalu meletakkannya di samping Takana. Ia duduk di kursi itu. "Takana, kau itu sangat dekat dengan Dylan, kan? Kalian mempunyai hubungan penting, tidak?" tanya Lisa-san.
Takana sedikit terkejut. "Eh, kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ah, hehe... aku hanya ingin tahu saja."
"Oh. Kami hanya teman saja." Jawabnya jujur. Tapi sebenarnya, mereka tidak benar-benar berteman karena Dylan sendiri masih belum menerima Takana sebagai temannya.
"Oh hanya teman!" Lisa senyum-senyum sendiri setelah mendengar jawaban Takana itu. Takana menelengkan kepala dan kembali bertanya, "Memangnya ada apa?"
"Umm, Takana? Maukah kamu membantuku?"
"Eh? Boleh. Bantu apa?"
"Umm..., kamu mau tidak..." Dia ragu sekali. Hal itu membuat Takana jadi semakin penasaran.
"Aku... hanya ingin kamu memberitahu aku tentang Dylan. Itu saja, hehe..." Lisa terkekeh dengan pipinya yang sedikit memerah.
"Eh? Tentang dia? Memangnya kenapa? Kok mendadak?"
"Karena, Takana. Sebenarnya aku ...."
****
"Hah, makanannya mahal sekali. Menyebalkan!"
Lagi-lagi Dylan hanya membeli permen saja. Karena, makanan di kantin itu mahalnya super sekali. Mungkin, ia hanya bisa membeli satu makanan dan uangnya langsung habis begitu saja.
"Sekarang, aku mau ke mana, ya? Kembali ke kelas? Tapi ngapain? Apa aku pergi ke tempat lain saja? Taman? Taman sekolah terlalu ramai. Aku butuh tempat yang sepi." Gumam dalam hati Dylan mencari tempat yang nyaman untuknya.
"Di mana tempat yang sepi, ya?" Dylan melirik ke sekitar mencari tempat yang ia inginkan.
"Yoo~ Dylan! Kita bertemu lagi di sini!"
Dylan sedikit kaget dan secepatnya menengok ke belakang. Ternyata itu si Kei lagi. "Maaf, anda siapa, ya?" Dylan mulai memasang wajah cueknya.
"Jahat kau tidak kenal aku!" Kei sedikit memukul pundaknya.
"Apa-apaan sih? Dia jadi sok akrab padaku. Padahal terakhir kalinya, bukankah dia benci padaku?"Batin Dylan.
"Hei, Dylan! Ayo. Aku akan meneraktirmu di kantin. Pasti mau, kan?"
"Terserah kau saja."
Jadi, Dylan memutuskan untuk ikut dengan Kei kembali ke kantin lagi. Karena dia yang akan membayar makanannya, jadi ia santai saja.
"Bagaimana makanan yang kau pesan itu? Enak?" tanya Kei saat kami sudah menemukan tempat untuk makan dan duduk di sana.
"Entahlah. Aku belum mencicipinya. Tapi mungkin saja ini enak. Karena gratis." Jawab Dylan dingin.
"Haha..., kau ini!"
Tak lama setelah ia tertawa sampai puas, dia kembali menatap Dylan. Kali ini tatapannya sedikit agak serius. Tatapannya membuat Dylan jadi tak ***** makan. Jadi ia pun berhenti makan dan memandang Kei.
"Eh, Dylan! Mau gak? Kamu bantu aku?"
"Bantu apaan?"
"Bantu ajarin aku cara menembak cewek biar cewek itu mau menerimaku"
"Apa kau sudah menemukan cewek yang kau suka itu?" tanyanya.
"Sudah, hehe.... Ayolah. Bantu aku! Sekali saja."
Dylan memasang wajah melas. Ia menganggap Kei sedikit menyebalkan. "Kenapa dia cuma ingin meminta bantuan ku untuk hal cinta? Padahal aku sendiri tidak mengerti soal yang begituan. Tapi karena Kei sudah meneraktir aku maka terpaksa aku harus membantunya." Dylan tak punya pilihan lain.
"Bagaimana, Dylan? Kumohon bantu aku!" Kei kembali memohon lagi.
Dylab memutar bola mata malas, lalu mengangguk pelan. "Iya. Iya. Bawel!"
Kei kembali tersenyum lebar karena senangnya. Lalu, ia pun melompat-lompat kegirangan. Dylan jadi merasa malu melihatnya seperti itu. "Hei! Bisa kau kendalikan sikapmu yang kekanak-kanakan itu, tidak?!" bentaknya yang tiba-tiba karena merasa kesal.
Seketika Kei langsung tersentak kaget. Ia pun akhirnya teridam dan mengangguk paham. "O, oke, oke! Sekarang, bagaimana rencanamu?" bisiknya.
"Rencana apaan?"
"Rencana untuk menembak cewek yang aku suka."
"Ooh..., hmm.... Coba kalau kau merayu si cewek itu saja." Saran pertama dari Dylan.
"Merayu? Bagaimana, ya? Aku tidak pede. Coba kamu contohkan padaku."
Dylan menghela napas berat. Lalu, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan kantin.
"Hei, kau mau ke mana?" teriak Kei di belakangnya. "Makananmu belum abis, loh!".
"Aku ingin menunjukkan padamu bagaimana cara merayu dan memuji cewek. Sampai mereka mau menerimamu."
"Oh, oke!"
****
Dylan dan Kei kembali ke kelas 3-A. Di sana masih terlihat wajah orang yang sama. Yaitu, Takana, Irvan dan Bell. Mereka masih di tempat yang sama dan tidak ada perubahannya. Sepertinya, mereka betah sekali menetap di kelas yang penuh dengan setannya itu.
"Eh, Dylan? Kenapa kau mengajakku ke kelasmu?" tanya Kei bingung.
"Tunggu dulu sebentar."
Dylan tidak menghampiri mejanya. Tapi, ia menghampiri meja si Irvan. Karena saat ini ia akan meminta bantuan lelaki itu dan yang lainnya untuk menjadi peran.
"Irvan. Maukah kau membantuku?"
"Ada apa, Dylan?" Wajahnya tidak pernah berubah. Tetap datar dan terlihat sedikit polos. Tanpa ekspresi intinya.
"Kau bisa memuji cewek?"
"Bisa saja. Memuji siapa?"
"Aku mau kau memuji Bell. Ini hanya percobaan."
"Eh? Apa itu? Takana juga mau lihat, dong!" Shota itu lagi berlari menghampiri Dylan.
"Kepo amat dia. Tapi, bagus juga. Dia bisa ikutan juga menjadi perannya." Batin Dylan.
"Takana. Apa kau bisa memuji anak cewek?" tanya Dylan.
"Eh? Anak perempuan?"
"Iya."
"Ooh..., bisa, kok!"
"Baiklah. Sekarang, kita semua akan membantu Kei untuk mendapatkan pacar barunya. Pelatihan pertama, Kei harus bisa merayu dan memuji seorang cewek sampai si cewek itu mau menerimanya." Jelas Dylan. Lalu ia menghadap ke arah Bell. "Sekarang, Bell, kamu duduk diam di sini, ya? Setelah itu, Irvan yang pertama akan datang menghampiri Bell dan mulai memujinya. Setelah itu baru si Takana, dan juga aku."
Semuanya mengangguk paham. Lalu, percobaan ini pun dimulai!
Pertama, si Bell akan duduk dengan tenang di atas satu kursi. Lalu, tak lama kemudian, Irvan datang menghampiri Bell. Dia tidak tersenyum atau tidak menunjukkan ekspresi lainnya. Wajahnya tetap itu-itu saja. Seakan ia sedang memakai topeng yang sama setiap harinya.
Irvan mengulurkan tangannya dan berkata, "Bell, kamu itu adalah seorang perempuan yang cantik. Remaja yang berhati mulia dan bersih. Sangat baik dan manis sekali jika tersenyum."
"Aouh! Irvan kau bisa saja, kyaaa!"
"Tuh, kan? Seperti itu saja, seorang cewek bisa langsung bahagia." Ujar Dylan. Peran Irvan sudah selesai. Sekarang, giliran Takana.
"Sekarang Takana! Takana!"
"Iya iya. Sudah sana!"
Takana berdiri di hadapan Bell. Ia sedikit membungkuk lalu kembali berdiri tegak. Melipat tangannya ke belakang dan memasang wajah imutnya. "Bell-chan, wajahmu imut sekali. Terkadang aku suka memperhatikanmu. Sikapmu juga baik dan aku sangat menyukainya. Bell-chan? Aku mau jadi pacarmu."
Pipi Bell memerah. Ia pun menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya dan senyum-senyum sendiri. Ia malu sekaligus tersipu. "Hmm..., gimana, ya? Takana? Kamu terlalu imut buat aku. Jadi, aku tidak mungkin bisa menolakmu. Kyaaaaa!"
"Takana hebat." Ujar Irvan biasa saja sambil menepuk tangannya pelan. Dia niat memuji, tapi lemes amat kelihatannya.
"Wah! Bell-chan menerimaku, Yeay!" girang Takana.
"Eh, sekarang giliran Dylan." Kata Kei mengejutkan Dylan.
Dylan menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya. "Aku tidak ikutan, ah! Aku tidak bisa bucin-bucinnan. Sekarang lanjut saja. Kamu langsung saja, Kei. Sudah mengerti, kan?"
Kei mengangguk cepat dan penuh percaya diri. "Iya. Baiklah." Kei menghadap ke Bell yang masih duduk di tempatnya. "Aku bisa melakukannya!"
"Umm..., cewek... eh! Maksudnya Bell-chan. Bell, rambutmu yang dikuncir dua itu terlihat imut sekali. Apalagi dengan kucuran berpita ungu atau pink lah namanya. Kau terlihat cantik. Postur tubuhmu... juga bagus dan aku menyukainya. Jadi, cewek, eh! Bell-chan? Maukah kau menjadi pacarku?" Kei berharap si Bell akan senang jika ia memujinya seperti itu. Tapi ternyata....
"Tidak mau!"
"Eh?!"
"Kamu memuji fisikku saja. Aku tidak suka. Seharusnya kamu menunjukkan hati dan perasaanmu yang sebenarnya! Pokoknya ku tidak suka padamu!" Bell menolaknya. Seketika, hati Kei terasa sakit. "Jadi seperti ini rasanya ditolak cewek. Haduh..." Gumam Kei lemas. Rasa kepercayaan dirinya memudar.
"Bell suka emosian dibicarakan tentang fisik dan penampilannya." Kata Irvan.
"Hah..., aku harus bagaimana, nih?" keluh Kei.
"Bagaimana kalau Takana saja yang menggantikan Bell-chan! Takana mau dipuji juga!"
"Baiklah. Sekarang giliran Takana." Ujar Bell senang, lalu bangkit dari kursinya.
Dylan jadi penasaran, bagaimana ekspresi Takana saat mendapatkan pujian dari Irvan dan Bell?
*
*
*
To be Continued-