Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 23~ Kenangan untuk bangkit kembali!



____________________________________________


****


STAP! STAP!


Tanaka Utsuki. Seorang lelaki yang merupakan saudara kandung Takana Utsuki. Dia berhasil menyelamatkan adiknya yang sedang dalam bahaya itu. Dan sekarang, dirinya sedang melompat-lompat dari satu pohon ke beberapa pohon yang lain sambil menggendong adiknya.


"Takana-Chan..., kenapa semenjak kau pergi ke negara ini, kekuatanmu jadi menurun. Takana yang kukenal dulu, adalah seorang Oniroshi yang paling kuat. Apa yang terjadi padamu? Baru kali ini aku melihatmu kalah dalam pertarungan melawan Oni." Batin Tanaka cemas.


Tanaka masih saja memanggil adiknya dengan akhir kata "-chan". Padahal kata itu untuk perempuan. Setahuku sih seperti itu. Eh, tapi sebenarnya juga boleh. Hanya dengan syarat, kata "-chan" itu digunakan untuk orang yang sudah sangat dekat/akrab. Tidak peduli orang itu laki-laki atau perempuan.


"Eh, oh iya! Sebelum aku pulang, aku harus mencari Fely-chan dahulu. Sekarang, di mana dia?" gumam Tanaka.


Ternyata, tadinya Tanaka bersama dengan kakakku. Tapi, sekarang dia sendiri malah kehilangan kakakku. Entah ke mana dirinya (Kak Fely) saat ini.


****


POV DYLAN–


BYUUUR....~


Kesedihan, kebencian, kehinaan, kedengkian, bahkan kekecewaan, semua telah tercampur dalam jiwaku yang hampa. Bersatu menjadi satu kumpulan yang penuh seperti lautan dalam.


Saat ini, aku terbawa masuk ke dalam lautan itu. Entah kapan aku bisa keluar dari lautan yang sangat dalam ini....


Andai saja ada seseorang yang menarik tanganku dan membantuku keluar dari dalam lautan ini. Adakah seseorang yang akan menyelamatkanku?


****


Chapter 23: [ Kenangan untuk bangkit kembali! ]


****


Ugh! Aku tidak bisa bernafas di dalam laut yang gelap dan dalam ini. Tubuhku semakin tertarik ke dalamnya dan sebentar lagi akan sampai di dasar laut dan aku tidak akan bisa keluar lagi.


Seseorang tolong aku! Apa aku akan mati di sini? Di sini, aku hanya merasakan rasa sakit di dadaku karena kesulitan untuk bernafas. Tapi, rasa sakit di lukaku sebelumnya tidak terasa lagi. Lukaku menghilang!


Eh?! Tunggu dulu!


Aku kembali membuka mataku. Sebenarnya, aku ada di mana? Apa aku sudah berada di alam lain saat ini?


Tapi, di sini aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa melihat beberapa gelembung yang keluar dari mulutku. Mungkin, itu hanya beberapa nyawaku yang sebentar lagi akan habis dalam hitungan menit jika gelembung itu tidak keluar lagi.


Hah, aku akan pasrah saja, dan membiarkan ajal menjemputku dengan cepat....


"Dylan! Dylan-san! Dylan-san jangan menyerah begitu saja!"


Eh! Aku terkejut dan langsung membuka kembali mataku dengan cepat. Aku mendengar suara seseorang yang dekat sekali denganku. Aku mengibaskan kedua tanganku untuk tetap bertahan dan mengambang di tempat gelap yang kusebut lautan dalam ini.


Tubuhku seperti melayang di udara. Tapi, hanya saja, aku tidak tahu ini ada di mana. Semuanya gelap sekali. Dan lagi-lagi, yang kulihat hanya gelembung yang keluar dari mulutku dan sedikit bersinar.


"Si, siapa kau?"


Eh? Ternyata di sini aku masih bisa mengeluarkan suaraku! Tidak mungkin....


"Apakah Dylan-san ingin menyerah di sini?"


"He, hei! Siapa kau?! Tunjukkan dirimu!" teriakku sambil celingak-celinguk mencari seseorang yang tak kukenal. Bahkan, aku sendiri tidak bisa melihat orang itu.


"Aku di sini."


"Di, di mana?!"


"Aku akan mendatangimu!"


Ah, itu dia. Aku melihat ada bayangan putih yang bersinar datang kepadaku dari kejauhan. Aku sedikit mensipitkan mataku untuk melihat lebih jelas sosok bayangan putih yang menghampiriku.


I, itu.... Itu ternyata Takana Utsuki?!


"Halo, Dylan-san!"


Suaranya sedikit samar. Tapi, aku bisa mengenal sosok putih bercahaya itu. Aku mengenal postur tubuhnya. Tapi, aku tidak bisa melihat wajahnya. Benarkah itu Takana?


"Dylan-san..., kembalilah ke atas sana. Berusahalah!" Ujar sosok putih yang menyerupai Takana itu.


"Hei, sebenarnya ini di mana? Dan kau itu siapa?!" bentakku.


"Anggap saja ini dunia mimpimu. Dan anggap saja, aku ini adalah makhluk khayalanmu."


"Apa? A, aku tidak mengerti dengan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Akan aku tunjukkan sesuatu padamu." Kita panggil saja sosok itu Takana. Sosok Takana itu menempelkan jarinya ke udara. Lalu, muncul gelombang kecil yang sedikit bergetar. Dan tak lama kemudian, muncul sebuah layar yang memperlihatkan beberapa gambaran.


Kali ini, dia menunjukkan gambaran bergerak yang muncul di layar ajaib itu. Gambaran itu menunjukkan sosok Kak Fely yang sedang menggendong seseorang di pinggir sungai. Eh, ternyata orang itu adalah..., diriku sendiri!


"Ah, kenapa ada aku di sana?" tanyaku pada sosok Takana yang sedang melayang di sampingku.


"Perhatikanlah dahulu. Baru setelah ini, aku akan menjelaskannya padamu."


Aku hanya diam saja. Lalu, mataku kembali melirik ke layar tersebut.


Di dalam sana, Kak Fely sedang melakukan sesuatu kepadaku. Dia sedang.... Eh! Kakakku sedang menjahit perutku yang sedikit terbuka itu?! Darahnya sudah dibersihkan, dan sekarang, apakah dia ingin menyembuhkan ku hanya dengan benang berwarna merah?


Aku terus menyaksikan gambaran itu. Tak lama kemudian, Kak Fely memotong ujung benangnya. Sepertinya, dia sudah selesai. Luka di perutku juga sudah tertutup sepenuhnya. Sekarang, apa yang akan dilakukan kakakku?


Setelah Kak Fely kembali menggulung benangnya dan memasukannya kembali ke dalam kotak yang ia bawa, Kak Fely membaringkan tubuhku di atas rumput di pinggir sungai. Lalu, dia duduk bersila di sampingku. Tubuhnya menghadap ke arahku. Lalu, ia menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada, sedikit menunduk sambil memejamkan mata. Ia sedikit bergumam. Apa yang Kakakku lakukan? Aku tidak tahu.


Lalu, setelah ia melakukan itu, ada sesuatu yang membuatku terkejut. Tiba-tiba saja, benang yang mengikat kulit di perutku itu mengeluarkan cahaya merah yang terang. Terangnya sampai menutupi layar gambaran itu. Aku tidak bisa melihat apa-apa karena tertutup cahaya merah itu.


Tapi, hanya dalam hitungan beberapa detik saja. Tak lama, cahaya itu kembali menghilang. Benang merahnya menghilang dan..., berkas jahitan dan berkas luka di perutku juga menghilang!


Eh, apa-apaan ini?! Kakakku berhasil menyembuhkan ku? Dan sekarang, apa yang dia lakukan?


"Dylan? Kau sudah bisa bangun sekarang?"


"Nah, itulah suara bisikkan kakakmu yang berhasil memasuki dunia mimpimu." Sosok Takana itu kembali berujar.


"Eh? Suara Kakakku bisa masuk ke sini?"


"Iya. Sekarang, coba kau dengarkan suara isakkan kakakmu. Dan coba kau lihat kembali ke layar itu."


"Eh?" Aku terkejut. Di lihat dari gambar bergerak dalam layar itu, aku melihat Kakakku yang sedang menutup mata dengan kedua tangannya. Dari sela-sela jarinya itu, mulai meneteskan air bening. Apakah itu air mata?


"Dylaaan! Kumohon bangunlah! Kakak tidak sanggup kehilangan dirimu! Tidak. Bangun! Aku tidak kuat lagi hidup seperti ini. Aku sudah kehilangan ayah dan ibu. Dan sekarang, aku tidak mau kehilangan dirimu juga. Dylan, apa kamu mau pergi meninggalkan kakak juga?!"


Aku kembali mendengar suara kakakku. Suaranya semakin keras dan terdengar suara kakakku yang sedikit berteriak. Di lihat dari layar, dirinya juga sedang menangis sambil memukul-mukul rumput yang ada di sampingku. Entah ia geram atau apa? Tapi, dadaku terasa sakit saat aku melihat ekspresi kakakku yang langka sekali. Baru pertama kalinya aku melihat ekspresinya yang seperti itu!


"Kakakku. Apakah dia benar-benar...."


"Iya. Dia sangat menyayangimu. Dia tidak mau kehilangan adiknya yang paling berharga baginya." Ujar sosok Takana yang menyela perkataan ku. "Sekarang, kembalilah padanya."


Ikh! Sudah lama sekali, kakakku meninggalkanku sendirian di rumah. Bahkan, dia sendiri tidak pulang untuk menemui ku di hari ulang tahunku. Dia adalah Kakak yang menyebalkan. Aku selalu menganggapnya begitu.


"Tidak. Aku lebih baik mati saja di sini!" Aku sudah memilih keputusanku.


Tapi ternyata, sosok Takana itu menolak permintaanku. "Tidak bisa seperti ini, Dylan-san! Khawatirkan keadaan duniamu, masa depanmu. Langkahmu untuk bangkit kembali masih ada dan kau masih memiliki banyak waktu."


"Tetap saja. Jika aku bangkit kembali, itu sudah tidak bisa kulakukan. Semua akan sia-sia. Karena, dari awal, aku tahu kalau aku itu adalah anak yang gagal!"


"Jangan seperti ini, Dylan-san! Selagi kau masih ada kemauan, maka kau bisa mewujudkan keinginanmu. Kau hanya perlu bangkit kembali dari rasa keputusasaanmu!" Tegas sosok Takana itu. "Dan satu lagi, pikirkan perasaan orang-orang di sekitarmu!"


"Eh, apa maksudmu?"


"DYLAN-SAAAAN! Huwaaaa! Onee-chan, kenapa bisa seperti ini?! Dylan-san benar-benar mati?"


Eh, di layar itu, aku diperlihatkan dengan sosok Takana yang ada di dunia. Aku melihat dirinya berlari menghampiriku dan dia langsung menangis sambil memelukku. Begitu pula dengan Kak Fely yang menangis semakin keras. Dan..., Tanaka juga menangis?


Aku tidak percaya ini. Aku pikir, mereka semua tidak bakal peduli padaku. Tapi ternyata, mereka masih bisa menangis di hadapanku?


"Lihat sendiri, kan? Semua orang itu masih punya rasa peduli padamu. Itu baru saja mereka bertiga. Karena mereka melihat keadaan dirimu. Coba kalau orang lain yang melihatmu seperti itu juga. Mereka juga pasti akan menangis."


"Ah, ta, tapi aku...."


"Dan jangan lupa dengan kenangan dari memorimu, Dylan-san! Lihatlah ini."


SSWOOOSH....


A, apa ini?!


"Dylan-san, inilah semua kenanganmu. Kau pikir, hidupmu tidak pernah bahagia? Tapi lihatlah beberapa gambaran ini." Takana meraih satu layar yang berisi gambar fotoku dengan..., orang tuaku. "Lihatlah. Wajahmu bahagia sekali. Kau selalu tersenyum dan ceria. Tidak seperti sekarang."


Benar. Aku sudah terlalu puas dengan kehidupan bahagiaku di saat itu. Aku meraih salah satu dari gambar-garmbar yang melayang di atasku. Aku terlihat seperti anak yang paling ceria. Lalu, apa yang telah membuatku menjadi anak yang seperti ini?


"Dylan-san..., jika kau mau bangkit kembali, maka semua kenangan ini akan terulang kembali di masa yang akan datang. Percayalah padaku. Kau akan merasakan kebahagiaan seperti ini lagi. Tapi, jika kau berhenti sekarang, maka semua kenangan ini akan HANCUR!"


PRANG! PRANG!


Aku terkejut. Tiba-tiba saja, semua layar gambaran tentang masa laluku yang bahagia itu hancur seperti cermin yang pecah.


Aku ingin bahagia seperti dulu lagi. Saat kuingat, Takana yang ada di dunia merasa senang sekali saat melihat diriku yang tak sengaja tersenyum.


Aku ingin merasakan keadaan seperti masa laluku. Apakah sekarang, aku harus kembali kepada Kakakku, Takana dan Tanaka di sana? Jawabanku adalah, Iya!


"Katakan padaku, bagaiman caranya agar aku bisa kembali ke hadapan mereka?"


Sosok Takana itu terlihat tersenyum. Ia sepertinya senang sekali. "Baiklah! Caranya mudah. Kau harus berjuang sendiri. Sekarang, berusahalah untuk berenang sampai ke atas sana! Ayo, semangat lah Dylan-san!"


"Ah, oke! Tidak masalah!"


Aku mulai menggerakkan seluruh kaki dan tanganku. Lalu, dengan mudah, tubuhku bisa bergerak kembali. Lalu, dengan cepat, aku pun berenang ke atas sana. Menuju ke cahaya yang merupakan jalan keluar dari dalam laut hitam yang isinya hanya penderitaanku.


"Sampai jumpa, Dylan-san!"


Di bawah sana, aku melihat Sosok Takana itu melambai padaku. Aku pun mengangguk dan berteriak mengucapkan terima kasih padanya karena telah memberikan diriku banyak dorongan untuk bangkit kembali dari rasa keputusasaanku.


Ini dia! Cahayanya mulai dekat. Semakin terang dan menyilaukan pandanganku. Tapi, aku akan terus maju! Sekarang juga, aku akan keluar dari dalam mimpi burukku!


****


"Dylan-san! Dylan-"


"Ah!"


Cup!


"Eh? Eh? Eeeeeh? EEEEEHHHH?!"


"Wah, romantisnya, hehe...." gumam Tanaka sambil tersenyum dan menelengkan kepalanya.


Waaa! Apa-apaan ini?! Saat aku terbangun, kepalaku secara mendadak langsung terangkat ke atas. Lalu, Takana yang sedang memelukku itu ternyata mencondongkan wajahnya sangat dekat denganku. Lalu, saat aku terbangun tadi, mendadak..., bibirku dengan bibir Takana bersentuhan dan sedikit tertekan!


Aku memberontak agar Takana melepaskan pelukannya. Setelah itu, aku langsung berdiri untuk menjauh dari Takana.


Semuanya menatapku dengan wajah terkejut mereka. Membesarkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka. Wajah mereka sedikit pucat karena habis menangis.


Aku berusaha menyapa mereka. "Ha, hai?"


"Dylan!"


"Waaaa! Dylan-san!"


"Horeee!"


Mereka bertiga langsung berdiri, lalu berjalan cepat ke arahku. Mereka memelukku. Sepertinya, perasaan mereka sedang senang hari ini. Aku bisa merasakannya. Pelukan mereka sangat membuat tubuhku hangat dan nyaman. Apakah, ini tanda-tanda kebahagiaanku?


To be Continued-