
____________________________________________
****
"Ng?"
Dylan membuka mata. Melihat langit-langit kamarnya. Ia pun bangun. Melihat ke sekitar dengan bingung. Lalu ia merasakan sesuatu. Ada yang aneh dengan keadaan yang sekarang.
Dylan pun turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah pintu depan. Lalu tak sengaja, saat ia lewat di depan cermin besar di lemari, ia sempat melirik ke arah cermin itu dan terkejut.
Lelaki itu menyentuh kedua pipinya dan sesekali mencubitnya. "Ini asli." Ia bergumam, lalu tersenyum senang. Sepertinya wujud Dylan yang kali ini bukanlah Dylan yang sesungguhnya. Ternyata itu adalah Takana.
"Aku sudah berada di dalam tubuh Dylan-san. Waaa! Itu artinya, aku sudah berhasil memasuki tubuh Dylan-san dan Dylan-san nya sendiri berhasil menjadi Darling-ku dong? Yes! Menyenangkan sekali bisa menjadi Dylan-san!
"Kyaaaa..., aku menyukainya!"
Takana masih menatap cermin. Melihat wajah Dylan. Ia kembali tersenyum pada cermin itu. Saat Takana perhatian, Dylan itu ternyata lebih cakep kalau sedang senyum. Tapi kalau Dylan sendiri tidak pernah tersenyum pada orang lain, maka Takana sendiri saja yang akan membuat dunia menjadi tersenyum dengan menggunakan tubuh Dylan.
"Dengan tubuh ini, aku jadi terlihat lebih tinggi, ya? Hehe ... Tidak pendek seperti diriku dulu. Aaah! Aku sangat menyukai tubuh ini!"
****
Chapter 18: [ Darling Takana, part 2 ]
****
"Haha..., aku sangat senang pagi ini! Bisa memiliki tubuh Dylan-san dan berhasil memiliki seorang Darling seperti Irvan-san."
Saat keluar dari kamar, Takana sudah berlarian di ruang tamu, sampai ke dapur. Saat di dapur, ia melihat ada Fely yang sedang memasak untuk sarapan pagi.
"Pagi, Onee-chan!" sapa Takana sembari menduduki kursi di depan meja makan. Ia tersenyum pada Fely. Tapi wanita itu sendiri malah menatapnya dengan tatapan bingung sambil menelengkan kepala.
"Dylan sudah bangun? Eh? Tidak seperti biasanya. Ada yang aneh denganmu?"
"Aneh gimana? Aku sangat bersemangat hari ini! Huwoooo!" Takana mengangkat kedua tangan ke atas sambil bersorak dengan bahagianya. Tapi setelah itu, ia kembali melirik ke Fely. Tak lama, wanita itu memasang wajah terkejut. Lalu dengan cepat, Fely menghampiri Takana yang masih dalam wujud seperti Dylan. Dia meraba-raba kening sosok adiknya.
"Dylan? Kau tidak sakit kan? Apa yang telah merasukimu sampai kamu bersikap seperti ini?" tanya Fely. Wajahnya jadi terlihat cemas.
"Apa yang Onee-chan katakan? Aku sehat, kok! Sehaaat!"
"Hei! Hei! Ada apa sih? Pagi-pagi sudah teriak-teriakan. Mau dipukul, hah? Berisik tahu!" Itu suara Tanaka terdengar membentak. Tapi Takana tidak tahu kalanya sedang memarahi siapa.
"Pagi, Onii-chan!" sapa Takana sambil melambai pada Tanaka yang baru keluar dari kamar Fely. Ternyata semalam, lelaki itu tidur di sana.
"Ah, ternyata yang ribut itu kamu, ya, Takana?"
Seketika, Fely kembalk terkejut saat mendengar perkataan Tanaka. "Eh? Takana? Jadi ini Takana?" Fely mencubit pipi Takana. Lebih tepatnya, pipinya Dylan, tapi jiwanya Takana.
"Iya. Ini menunjukkan hasilnya. Dylan berhasil menjadi Darling-nya Takana. Saat ini, Takana sedang berada di dalam tubuh Dylan." Jelas Tanaka.
"Eeeh?! Kalau ini Takana, lalu di mana adikku? Hei, Takana! Kau sembunyikan adikku di mana, hah?" Fely menarik-narik rambut Takana.
"Tenang saja. Dylan masih berada di dalam dirinya. Tapi, ia sedang dalam keadaan tak sadar saat Takana sedang menggunakan tubuhnya itu." Jelas Tanaka lagi.
Fely melepaskan rambut adiknya, lalu ia menghembuskan napas lega. "Huh, aku pikir, kau itu memang Dylan. Kaget aku saat melihat Dylan yang tiba-tiba jadi periang seperti ini."
Takana tertawa kecil. Lalu kembali menengok ke arah kakaknya. Ia bertanya, "Onii-chan? Apa Dylan-san telah menjadi Darling-ku?"
"Tentu saja sudah. Buktinya, kau sudah bisa mengendalikan tubuh Dylan, kan?"
Takana mengangguk cepat. "Iya, Onii-chan!"
"Sudahlah kalau begitu. Takana, kau ingin sarapan dahulu atau mandi dulu?" tanya Fely pada Takana.
"Anu ... aku mandi dulu saja, deh!" Takana mengeluarkan senyum khasnya pada Fely. Lalu dengan baik hatinya, Onee-chan membalas senyumnya sambil mengangguk.
Setelah mandi, baru ia akan sarapan bersama.
****
Takana kembali ke kamar Dylan. Di kamarnya itu, ia sedang duduk-duduk di pinggir tempat tidurnya sambil menengok ke kanan kiri. Ia memperhatikan sekitar ruangan itu.
Lalu, ia melirik ke arah jam Beker milik Dylan. Sekarang pukul setengah 7. Setelah melihat jam itu, ia jadi teringat sesuatu. Sesuatu yang sering ia dan Dylan kerjakan setiap jam segini. Tapi ia melupakannya.
Takana pun kembali meletakkan jam beker itu ke atas meja di samping tempat tidur. Setelah itu, matanya melirik ke satu benda yang ada di depan meja.
Sebuah tas ransel besar yang terisi banyak barang sehingga tas itu terlihat mengembang. "Tas itu untuk apa? Kok aku lupa, ya? Dylan-san menyiapkan tas itu untuk apa?" batin Takana.
"Ah! Aku akhirnya ingat! Tas itu adalah tas yang akan Dylan-san bawa untuk pergi jalan-jalan bersama teman-teman sekelasnya. Dan jalan-jalannya itu hari ini!"
"Oh tidak! Bagaimana aku bisa melupakannya?!"
Takana harus cepat bersiap. Jangan sampai terlambat ke sekolah. Kalau tidak, ia akan tertinggal Bus pagi ini.
****
*Tap ... tap ... tap!
"Onee-chan! Onii-chan! Aku berangkat dulu, ya?" teriak Takama sambil memakai sepatunya. Ia masih memasuki tubuh Dylan dan juga memakai baju sehari-hari milik Dylan. Karena hari ini kan sekolahnya akan pergi ke luar kota, jadi memakai pakaian bebas.
"Baiklah! Semua sudah siap. Ittekimasu!" teriaknya setelah memakai sepatu Dylan.
"Tunggu, Takana-Chan!"
Takana terkejut. Tiba-tiba saja, Tanaka memanggilnya. Ia pun berbalik badan. kakaknya itu berjalan menghampiri. "Nee! Kau tidak keluar dari tubuh Dylan dulu, ha?"
"Tapi Takana-Chan, sekarang ini, Dylan akan pergi dengan teman-temannya, kan? Kalau kau tetap di dalam tubuh Dylan bisa bahaya dan kau sendiri juga akan dicurigai oleh teman sekelas." Kata Tanaka.
Takana jadi bingung dengan perkataannya. "Maksud Onii-chan apa, ya?"
Tanaka menghela napas, lalu ia kembali menatap adiknya. "Begini, ya, Takana. Nih, sekarang ini, seharusnya Dylan dan kamu sendiri harus pergi Study tour, kan? Dan kalian satu kelas, kan?"
Takana mengangguk. "I–iya. Terus?"
"Nah, masalahnya kalian berdua itu sekelas. Jika salah satu dari kalian tidak ada, maka itu akan menyebabkan kecurigaan pada teman-temanmu. Temanmu pasti akan mencari tubuh Takana yang asli jika Takana terus berada di dalam tubuh Dylan. Mengerti?" Jelas Tanaka.
Takana akhirnya mengerti. Ia pun membesarkan matanya, dan mengangguk. "Oooh! Seperti itu! Benar juga, ya. Hmm..., baiklah. Aku akan keluar sekarang!"
Takana terdiam sejenak. Sementara, Tanaka masih menatapnya. "Eh, aku tidak tahu bagaimana cara keluarnya!" Takana menggeleng setelah beberapa detik terdiam seperti batu.
"Hah, sepertinya, aku harus ajarkan padamu, deh!" Tanaka menggeleng. Lalu, ia pun mengangkat satu telunjuknya sambil tersenyum ke arah adiknya. "Tapi tenang saja, kok! Caranya mudah. Kamu harus tetap fokus saja. Beritahu saja pada hatimu, kalau dirimu itu ingin segera pergi meninggalkan tubuh Darling-mu."
Takana mengangguk paham. Lalu, ia pun mulai menutup mata. Berbicara dalam hati. "Aku ingin keluar dari dalam tubuh Darling-ku. Aku mohon. Aku mohon...."
Tidak ada apa-apa yang terjadi. Takana pun kembali membuka mata. Ia melihat wajah Tanaka yang sedikit terkejut saat melihatnya. Ia juga jadi agak sedikit panik.
"Onii-chan! Aku tidak bisa. Kenapa aku masih ada di dalam tubuh Dylan-san?"
"Eh? Ini aneh! Kenapa kalian masih belum berpisah juga? Ada apa?"
"Entahlah, Onii-chan! Bagaimana ini?"
TOOOT... TOOOT....
Takana terkejut saat mendengar suara klakson mobil dari depan pintu. Dengan cepat, ia pun membuka pintu rumah. Ternyata di depan, sudah ada mobil bus pariwisata yang datang dari sekolah untuk menjemputnya.
"Bagaimana ini? Mobilnya sudah datang, dan aku masih belum keluar dari dalam tubuh Dylan-san. Apa yang harus aku lakukan?"
"Ah, Dylan! Kau sudah siap? Ayo naik, sini!" teriak gurunya Dylan. Itu gurunya Dylan yang bernama Bu Aprilia. Tapi Takana selalu memanggilnya Aprilia-sensei.
"I–iya. Sebentar lagi!" Setelah Takana berteriak, ia pun kembali menutup pintu, lalu berbalik badan menghadap ke arah Tanaka. "Onii-chan? Aku harus bagaimana?" tanyanya. Hatinya masih belum tenang.
"Hmm ... bagaimana kalau seperti ini saja. Kau berpura-pura menjadi Dylan untuk sementara. Bersikap seperti dia, berperilaku seperti dia juga. Pokonya, harus seperti Dylan. Jangan sampai semua orang curiga denganmu!" usul Tanaka.
"Lalu, bagaimana kalau mereka menanyakan tentang keberadaan ku?"
"Bilang saja, kalau Takana sedang sakit. Dia tidak bisa mengikuti acara pergi bersamanya. Begitu saja. Intinya, tugasmu sekarang adalah berusaha untuk menjadi seperti Dylan saja, ya?"
Takana mengangguk paham. "Hmm ... baiklah, kak! Akan aku usahakan."
Tanaka juga mengangguk. "Iya. Aku dengan Fely-chan akan mencari jalan untuk memisahkan kalian berdua ke tubuh kalian masing-masing. Kau juga tenang saja, Kakak dengan Fely-chan akan pergi menyusulmu juga untuk berjaga-jaga."
"Baiklah, kak! Kalau begitu, aku pergi dulu, ya? Sampai jumpa!"
"Hai!"
****
"Dylan? Kenapa kamu lama sekali?" tanya Aprilia-sensei dari depan pintu mobil. Takana menatapnya cuek seperti yang biasa Dylan lakukan. Lalu, ia pun menjawab dengan nada dingin. "Ada barang yang tertinggal." Setelah itu, ia main lewat saja, sembari menaiki 2 anak tangga kecil untuk menaiki mobil bus itu.
Saat di dalam Bus, semuanya terlihat sedang duduk dengan tenang. Tapi sebagian juga ada yang sedang bercanda. Lalu, ia pun melangkahkan kaki untuk mencari tempat duduknya.
Tapi ternyata, semuanya sudah penuh. Takana sempat menemukan satu bangku kosong. Ia akan pergi ke bangku itu, tapi tiba-tiba saja, seseorang telah menghalangi bangku tersebut.
"Anak no life tidak boleh duduk di sini! Aku ingin tidur nanti. Kau pasti akan mengganggu!" bentaknya.
"Baiklah, aku akan mengalah." Takana membiarkannya. Lalu ia kembali melirik ke sekitar. Semua bangku benar-benar sudah terisi penuh. Tidak ada yang tersisah untuknya. Lalu, ia melihat ada Irvan-san di sana. Ia menghampirinya untuk mendapatkan tempat duduk.
Tapi ternyata dia sudah duduk berdua dengan Bell juga.
"Eh? Dylan! Maaf. Aku tidak ada tempat lagi." Ucap Bell.
Takana tertawa kecil. "Ahaha..., tidak apa-apa, kok!"
"Eh, Dylan? Kau barusan tertawa?" Bell yang terkejut, menatap serius pada Takana. Takana pun tersentak. Lalu seketika, ia langsung berdeham dan kembali memasang wajah jutek Khas Dylan lagi.
"Eh, tidak. Ah! Sudahlah!" Dengan cepat, Takana membuang muka, lalu kembali melangkah.
Di Bus ini tidak tersedia tempat duduk untuknya. Takana kecewa sekali. Seharusnya mereka menyediakan jumlah tempat duduknya sesuai dengan jumlah anak murdinya.
"Dylan, ayo sini! Kamu sama Ibu saja, nak!" teriak Aprilia-sensei yang berada di depan pintu. Ia membiarkan Takana duduk di tempat duduknya. Yaitu, 2 bangku yang letaknya di samping sopir Bus-nya.
Takana pun melangkah menghampiri bangku itu. Lalu ia duduk di dekat jendela mobil. Ia ternyata duduk di bangku paling depan dan yang lebih malunya lagi, ia duduk di samping wali kelasnya sendiri. Padahal, Takana belum terlalu akrab dengan guru itu.
"Ah, sudahlah ... Yang penting, aku bisa mendapatkan tempat duduk yang bagus untukku."
"Oke, pak! Semuanya sudah ada. Sekarang, kita langsung jalan saja." Ujar Aprilia-sensei kepada Pak Sopirnya.
Pak sopir itu mengangguk. Lalu, ia pun menarik persenelingnya, lalu menginjak pedal gas. Sketika, mobil Bus-nya mulai bergerak dan berjalan menyusuri jalan beraspal.
Takana akan pergi bersama semua teman sekelasnya. Sekarang, tugasnya adalah untuk menjaga kepribadian Dylan.
"Huh, ini sungguh sangat sulit. Aku tidak bisa tersenyum untuk satu hari saja. Bahkan, aku pun tidak bisa kalau tidak tersenyum dalam waktu 3-5 menit. Dylan-san ... kapan kau akan menjadi anak yang ceria lagi seperti dulu?"
****
To be Continued-