
****
Jam istirahat–
BRAK!
"Takana! Jadi, kau itu laki-laki ternyata?!"
Tiba-tiba saja seorang murid di kelas Dylan menggeprak meja Takana. Takana yang sedang memakan bekalnya pun terkejut dan tersedak.
"Ah, iya! E–emangnya kenapa?!" jawab Takana cepat.
"Kami semua yang ada di kelas ini kena trap tahu! Aku pikir, kamu itu perempuan. Eh, ternyata laki-laki!" Orang itu membentak Takana.
Dylan melihat ekspresi Takana yang ketakutan. Sepertinya anak itu tidak suka dibentak-bentak. Memang iya, sih.
"Tapi Takana..., kamu lebih imut seperti ini. Hehe..., kamu anak SMA, tapi sikapmu masih seperti anak kecil." Anak itu sedikit terkekeh. Entah ia meledek Takana apa memang itu pujian untuk Takana.
"Ah, makasih!"
"Eh, makasih? Tentu saja!" Anak itu tersenyum pada Takana.
Wajah Takana sedikit memerah. Karena saat ini, seseorang yang ada di hadapannya itu adalah seorang perempuan cantik. Dia bernama Nisa Belliana. Panggilannya Bell. Anak itu memang cantik. Dia sekelas dengan Dylan. Tapi jarak tempat duduknya dengan Takana sangat jauh.
Bell duduk di kursi paling depan. Di pojok dekat dengan pintu kelas. Sementara, Takana di belakang. Intinya, dia duduk di samping tempatnya Dylan.
"Hei, kamu menarik sekali, loh! Kamu orang Jepang ya? Orang luar negeri dong pastinya! Waah..., keren!" Bell mengelus-elus rambut Takana sambil memainkannya. Bell melompat-lompat kegirangan. Gadis itu memang yang paling ceria di kelas.
Takana hanya bisa mengangguk. Lalu setelah itu, ia kembali memakan bekalnya. Tapi tiba-tiba saja Bell menjulurkan tangannya ke hadapan Takana. Sekali lagi, Takana kembali terkejut.
"Takana, ayo kita berteman!"
Mata Takana tersentak saat mendengar Bell berkata seperti itu. Bahkan Dylan sampai menoleh ke Takana. "Berteman? Apa aku tidak salah dengar?"
Takana sepertinya senang sekali. Dia mengangguk cepat. Lalu mereka berdua pun berjabat tangan. Bell kembali melompat-lompat kegirangan, lalu sekali lagi ia mendekatkan kepalanya di hadapan wajah Takana. Agak sedikit mendekat.
"Baiklah teman baru, sekarang, aku mau ke kantin. Apa kamu mau ikut?" ajak Bell dengan lirih.
Takana menolaknya dengan lembut. "Tidak. Aku sedang memakan bekalku."
"Oh, baiklah! Aku duluan, ya? Dadah!" Bell berbalik badan, lalu berlari keluar kelas sambil melambai tinggi pada Takana. Takana juga melambai sambil tersenyum.
"Aku sudah punya teman lagi. Tapi..., oh iya! Aku lupa bertanya namanya. Tak apa lah, aku bisa bertanya lain waktu." Takana pun menengok ke arah Dylan. Ia tersenyum pada lelaki itu. "Sekarang, Dylan-san? Kapan kamu mau menerima aku sebagai temanmu?"
Tanpa mempedulikan tatapan mata Takana yang melirik ke arahnya, Dylan pun langsung beranjak dari tempatnya. Ia akan pergi ke kantin sekarang.
Melihat Dylan pergi keluar kelas, Takana langsung membereskan tempat bekalnya. Lalu setelah itu, ia pun mengejar lelaki itu. Sepertinya Takana mau mengikutinya lagi. Sampai akhirnya dia bisa mengejar Dylan.
****
Chapter 13: [ Bahaya yang mengintaimu dari belakang! ]
****
"Tadi katanya mau makan bekal di kelas?" tanya Dylan pada Takana yang ada di sampingnya.
"Anu, aku sudah kenyang. Aku juga ingin pergi ke kantin." Jawab Takana sambil mengetukkan kedua jari telunjuknya ke depan.
"Kalau mau ke kantin, kenapa kau tidak ikut dengan Bell saja tadi!?"
"Eh, Bell? Siapa itu Bell?"
"Haduh..., dia itu anak perempuan yang minta pertemanan denganmu tadi."
"Oooh...."
"Jadi namanya Bell, ya? Tapi kok singkat sekali." Pikir Takana.
Lalu Dylan melihat ada Kei yang sedang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja muncul dari balik dinding di lorong ke kelas teratas.
"Eh, Dylan. Kebetulan sekali! Hei, apa kau melihat pacarku?" tanya Kei.
"Aku bukan pacar Kei-san lagi!"
Kei terkejut. Ia mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang berbicara dengannya. "Eh? Suara itu seperti Takana. Tapi di mana dia?" Kei kembali menatap Dylan.
Dylan menghembuskan napas pelan, lalu melirik cepat ke arah Takana yang ada di sampingnya. Kei pun juga melirik ke Takana. Ia terkejut.
"Eh? Jadi kamu Takana? Hei, apa kamu potong rambut? Terlihat lebih cantik!" Kei tersenyum manis pada Takana.
Wajah Takana memerah. Ia pun mulai berbicara keras pada Kei. Tapi, bukan dengan nada membentak. "A–aku ini memang Takana. Dan..., Kei-san! Aku ini laki-laki."
"Ahaha..., kau tidak bisa menipuku Takana! Mana mungkin seorang perempuan bisa berubah jadi laki-laki." Ternyata Kei masih belum percaya dengan kata-kata Takana.
"Beneran, Kei! Aku ini memang laki-laki."
"Eh?!" Kei memasang wajah terkejutnya.
"Dan mulai sekarang... Kei-san jangan berpacaran denganku lagi, ya!" lanjut Takana.
"Aaaaaa?! A–aku pikir, kau ini perempuan! Jadi kau ini memang laki-laki?! Ti–tidak mungkin! Aku salah! Aku salah!" Kei bertingkah aneh. Dia terlihat panik dengan pipinya yang memerah. Lalu dengan perasaan malu, ia pun langsung berlari meninggalkan Dylan dan Takana. Untung tidak ada murid lain di lorong itu yang melihat tingkah Kei.
"Ehe...." Dylan menundukkan kepala, lalu menempelkan tangan kanannya di bibir.
"Eh?" Dengan cepat, Takana menengok ke arah lelaki itu. "Dylan-san baru saja tertawa?"
Dylan tersentak. Ia langsung menurunkan tangan dan menegakkan tubuhnya. "Eh, tidak, kok! Ah, sudahlah...." Kemudian ia kembali melangkah. Takana juga begitu.
Di kantin, Dylan tidak membeli apapun. Ia hanya membeli beberapa permen di ibu kantin. Permen untuk cemilan nanti malam saat sedang menonton Anime. Seperti biasa.
Dylan kembali melirik ke Takana. Dia tertawa kecil sambil bergumam-gumam. "Mulai deh tingkahnya yang gak jelas itu."
Dylan membeli banyak permen hari ini dan ia tidak ingin membaginya dengan siapapun. Mode pelitnya sedang aktif entah kerena apa.
Setelah Dylan dan Takana pergi meninggalkan kantin, ada seorang murid yang menatap mereka dari tempat duduknya di pinggir taman sambil membaca buku. Orang itu menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dan ternyata, setelah ia menutup bukunya, wajah orang itu dapat terlihat. Ternyata, dia adalah Irvan si anak baru di kelas.
"Salah satu dari mereka sedang dalam keadaan yang tidak aman!" gumam lelaki itu, lalu beranjak dari tempatnya.
****
Perjalanan pulang-
"Dylan-san..., aku boleh minta permen yang tadi, tidak?" pinta Takana sambil tersenyum ke arah Dylan.
Dylan menggeleng lalu mengerutkan kening. "Cish! Kenapa kau tidak beli sendiri saja tadi?! Aku tidak mau membaginya. Permen-permen ini untuk aku jadikan cemilan saat nonton Anime nanti malam."
Takana menundukkan kepalanya. "Huh, baiklah kalau begitu."
Dylan pun kembali melirikkan matanya ke jalan yang ada di depan. Mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah dan saat ini, mereka sedang menuju ke halte bus untuk mendapatkan kendaraan menuju ke rumah.
Tak lama kemudian, Dylan melihat halte Bus itu. Hampir dekat. Tapi tiba-tiba saja, dari balik semak, muncul seseorang. Dylan dan Takana sangat terkejut.
Ternyata orang itu hanya si Irvan. Dia masih memakai seragam sekolah yang lama miliknya. Pantas saja anak itu terlihat asing di mata Dylan hanya karena dia memakai seragam sekolah yang berbeda.
"E–eh! Kamu kan Oni yang kemarin! Mau apa?!" bentak Takana sambil menunjuk kasar pada lelaki itu.
Wajahnya masih terlihat datar dan warna kulitnya itu putih pucat. Lalu, ia pun mulai membuka mulutnya. "Kalian ini mau ke mana?"
"Mau pulang. Memangnya kenapa?" tanyak
Dylan balik.
"Tidak apa-apa. Oh iya, Takana? Maukah kau bertarung denganku?"
"Eh?!" Takana terkejut.
Dylan menduga kalau perbincangan ini pasti akan membosankan. Ia ingin pergi duluan saja. Tapi sebelum itu, Dylan mengeluarkan buku Novelnya dari dalam tas. Lalu membuka halamannya. Mencari halaman yang sudah ia tandai saat terakhir kali membacanya.
"Untuk apa kita bertarung?" tanya Takana.
"Aku hanya ingin menguji kemampuanmu saja. Kau ini pasti seorang Oniroshi, kan?" tanya Irvan balik.
Takana terkejut. Lalu tangan kanannya itu mulai meraba. Lalu dengan cepat, Takana menengok ke samping kanannya. Ia terkejut, karena ia tidak menemukan Dylan di sana.
Saat Takana sibuk dengan Irvan, Dylan lebih baik meninggalkan mereka berdua. Mungkin akan membosankan juga jika Ia mendengarkan pembicaraan mereka yang pastinya tidak masuk akal.
Dylan sudah berdiri di depan halte bus sambil membaca buku. Takana melihatnya dari tempatnya berdiri. Tadinya ia akan menghampiri lelaki itu. Tapi sebelum Takana menyebrang, mobil Bus itu pun sudah sampai dan berhenti di depan haltenya. Dylan langsung menaiki Bus itu, lalu seketika, Bus itu pun langsung jalan karena tidak ada penumpang lain di halte itu selain Dylan.
Takana tidak sempat menyebrang dan tidak sempat mengejarnya. "Yaah..., Dylan-san sudah pulang duluan. Hm! Aku terlalu lambat, sih!" Takana merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Sekarang, kau mau ikut aku?"
Itu suara Irvan lagi. Takana terkejut. Tiba-tiba saja, laki-laki itu berada di belakangnya dan berbisik.
Lalu karena merasa tidak nyaman, Takana pun melarikan diri. Dia melompat tinggi ke dahan pohon di sampingnya, lalu melompat lagi sampai ke atap rumah warga di sana. Ia langsung berlari cepat menjauh dari Irvan.
"Belum saja aku selesai bicara. Dia sudah kabur duluan." Irvan bergumam pelan. Lalu ia pun juga melompat tinggi mengikuti Takana. Sepertinya, Irvan itu memang bukan anak biasa.
"Takana pasti menemukan kendaraan lain. Ah, sudahlah..., lagian dia kelamaan, ya sudah aku tinggalin saja!" kata Dylan dalam hati saat di dalam bus.
****
WUUUSHH....
"Ah, dia masih mengikutiku dari belakang! Kenapa dia bisa mengikuti gerakan ku? Siapa dia?! Aku harus bagaimana?" Pikir Takana.
Takana terus melompati atap-atap rumah warga. Sampai akhirnya, ia sampai di hutan kota. Di sana, ia berdiri di atas dahan pohon. Melirik ke sekitar untuk mencari keberadaan si Irvan.
"Ternyata laki-laki itu sudah kehilangan jejakku." Takana bergumam lega. Lalu, ia akan berbalik badan. Tapi tiba-tiba saja, Irvan muncul dari belakangnya. Wajahnya yang datar itu telah membuat Takana terkejut sampai terjatuh dari atas dahan pohon yang ia injak tadi.
Irvan pun juga turun dari atas pohon. Ia berjalan pelan menghampiri Takana.
"Siapa kau sebenarnya?! Apa yang kau inginkan?!" bentak Takana.
"Aku juga seorang Oniroshi sama sepertimu. Sekarang, aku ingin memberitahu sesuatu yang penting padamu. Tapi kamu malah lari." Kata Irvan, lalu mengelus belakang lehernya.
"A–apa yang ingin kau beritahu padaku?" Takana kembali berdiri.
"Ini masalah tentang Oni!"
"Eh?"
****
Akhirnya sampai. Dylan turun dari bus itu. Lalu setelah itu, ia pun menyebrangi Zebra cross dan berjalan di pinggir trotoar.
Rumahnya hampir sampai. Dylan hanya tinggal melewati tempat sepi itu. Saat ia lewat di sana, ia juga akan melewati gang kecil. Tidak terlalu kecil juga. Mungkin hanya muat untuk satu motor.
Tapi, saat berada di dalam gang itu, Dylan merasakan sesuatu. Sesuatu yang mengikutinya dari balakang. Tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya dan tetap fokus membaca buku.
Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba Dylan mendengar suara langkah kaki dari jalan di depannya. Ia pun mendongak dan terkejut. Ternyata, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat ada 2 orang dewasa berbadan besar yang menghalangi jalannya.
Perasaan Dylan mulai tidak enak. Ia pun mundur secara perlahan ke belakang. Lalu ia dikejutkan oleh langkah kaki lainnya dari belakang juga. Dylan menengok dan ternyata yang benar saja. Ada 2 orang dewasa lagi yang menghalangi jalan keluarnya.
"Ada masalah apa lagi ini?!" Keluh kesah Dylan dalam hati.
To be Continued-