Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 24~ Friends Monster



____________________________________________


****


Entah kenapa Dylan tidak ingin bergerak untuk melepaskan pelukan mereka padanya. Ia mendadak sangat menyukai pelukan hangat mereka. Terlihat seperti keluarga.


Lalu setelah itu, mereka bertiga pun melepaskan pelukannya dari Dylan. Mereka menunjukkan ekspresi bahagia mereka pada lelaki itu. Tapi Dylan tetap membalasnya dengan ekspresi biasa. Cuek, dingin dan pelit senyum.


Lalu Fely memegang kedua pundak Dylan dan ia berkata, "Kakak senang kau masih hidup, Dylan."


"Yaah..., sebenarnya apa yang telah terjadi?" Dylan memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu dengan kejadian yang sudah menimpanya.


"Kau sekarat tadi. Nyaris saja meninggalkan kami." Yang menjawab pertanyaannya itu adalah Tanaka.


"Eh? Hmm..., kenapa aku bisa seperti itu? Apa kalian bisa jelaskan padaku?"


"Eh, Dylan, kamu pasti capek, kan? Sekarang, ayo kita pulang saja dan membicarakan soal ini di rumah saja, ya? Ayo!" ajak Fely, lalu mendorong tubuh Dylan secara perlahan.


"Hm! Lagi-lagi dia mengubah topik pembicaraannya. Sebenarnya, Kak Fely itu malas menjelaskan atau memang dia tidak ingin menjelaskan semuanya padaku. Dan, rahasia yang dia sembunyikan masih membuatku penasaran dan ingin kucari tahu."


Namun kali ini, Dylan akan menurut saja pada Kakaknya. Ia akan ikut pulang dengannya dan si kembar bersaudara itu.


Sebelum ia melangkahkan kaki, Dylan sempat teringat sesuatu. Sepertinya ada barang yang tertinggal dan sepertinya, ia juga melupakan hal lain.


"Tunggu! Biar kuingat dahulu. Sebelum aku hampir mati karena monster guruku itu, aku mengikuti kegiatan apa, ya? Intinya, aku juga bersama dengan teman-teman sekelasku! Dan saat itu, aku membawa barang-barang berharga di tasku. Ah iya! Study tour-nya! Aku harus kembali ke tempat perkemahan kami, lalu mengambil tasku. Karena, di dalam tas, aku membawa banyak barang berharga. Seperti komik, bajuku, dan yang paling penting adalah Laptopku!"


Tentu saja laptopnya adalah benda yang paling berharga. Ia harus kembali ke sana. Tapi setelah ia memperhatikan sekitar, ia tidak tahu sedang berada di mana. Sepertinya, tempat itu jauh dari perkemahannya. "Bagaimana ini? Apa aku minta antar dengan Kak Fely saja? Tapi, memangnya dia mau?"


Dylan memutuskan untuk menggunakan cara rahasianya saja agar kakaknya mau mengantarnya kembali ke teman-teman dan mengambil tasnya. Dylan hanya ingin mengambil Tas itu saja. Sesudah itu, ia juga akan pulang. Ia tidak ingin berlama-lama dengan teman-temannya lagi.


Dylan pun menarik kerah belakang kakaknya. Fely yang terkejut langsung menengok ke belakang. "Ada apa, Dylan?"


"Eh, itu .... Tasku masih ada di tempat perkemahan. Kakak mau antar aku ke sana lagi, gak?"


"Baiklah. Ayo!"


"Eh, tumben sekali dia langsung menerimanya. Ah, padahal aku ingin nge-prank dia. Tapi sayangnya tidak bisa." Dylan merasa gagal. Tadinya jika kakaknya menolak, ia akan pura-pura mati lagi sampai semuanya panik.


Tapi ya sudahlah. Sekarang yang penting, kakaknya mau mengantarnya kembali ke tempat perkemahan sekolah.


Mereka pergi dari tempat itu. Kedua saudara Takana dan Tanaka juga mengikuti mereka dari belakang. Selalu. Seperi biasa. Mereka jadi seperti pengawalnya Dylan saja.


****


Chapter 24: [ Friends Monster ]


****


"Nah, Dylan. Di sini, kan?"


Mereka akhirnya sampai. Mereka berdiri di samping bus pariwisata milik sekolah. Dari dekat bus itu, Dylan bisa melihat kembali tenda besar tempat Takana dan Dylan tidur semalam.


Dylan pun menghampiri tenda itu dengan berlari kecil. Hanya ia sendiri saja. Sementara yang lainnya akan menunggu di dekat bus.


Ia melihat keadaan di sekitar tenda itu sangat berantakan. Tidak seperti tadi pagi.


Kasur-kasur yang mereka tiduri semalam pun masih tergeletak di sana. Dylan tidak peduli. Yang penting sekarang, ia bisa menemukan tasnya lagi.


Dylan memasuki tenda besar itu. Karena yang ia tahu, tempat untuk menaruh tas itu kan di dalam tenda. Ternyata benar. Dylan bisa menemukan semua tas teman-temannya. "Tapi kok aku tidak bisa menemukan tasku sendiri, sih? Eh?! Di mana tas itu? Bisa gawat kalau tasnya hilang!"


Dylan yang panik pun kembali keluar dari tenda itu. Melirik ke sekitar. Ia mulai merasakan sesuatu. Lagi-lagi perasaan tidak enak yang datang. Ia merasa ada yang aneh di tempat itu.


Tadi pagi, tempat itu terlihat ramai karena ada pengunjung lain dan juga banyaknya teman-temannya. Tapi sekarang, tidak ada siapapun di sana. Tidak mungkin mereka semua sudah pulang, kan? Masa mereka pulang begitu saja setelah membuat kekacauan di tempat itu. Lagi pula, Bus pariwisatanya juga masih ada di sana.


BRUK!


"A–aduh! Eh?"


Dylan terkejut. Tiba-tiba saja, dari samping ada sebuah benda melayang mengenai kepalanya. Ternyata benda itu adalah tasnya sendiri. Akhirnya, ia bisa menemukannya. Senang sekali rasanya.


Setelah menggendong tasnta, Dylan pun menengok ke arah datangnya tas itu tadi. Ternyata yang memberikan tas itu adalah si Adrian–ketua kelas 3-A. Tapi ada yang aneh.


"Eh?! Eeeehh?!"


Dylan kembali dikejutkan dengan tampangnya terlihat menyeramkan. Wajah pucat itu dan mata kuning itu. Tatapan tajam. Sepertinya, Dylan pernah melihat tampang wajah seperti itu. Wajah itu seperti Bu April mode monsternya.


"Dylan.... Bunuh. Bunuh...."


"Eh?!" Dylan mundur perlahan. Menjauh dari Adrian yang sudah berubah menjadi seperti Bu April itu. Lalu, ia pun kembali dikejutkan dengan kehadiran anak lain di belakangnya. Dylan melirik ke sekitarnya. Semakin ketakutan dan kaget. Karena di sekelilingnya, sudah dipenuhi oleh monster yang mirip seperti teman-temannya!


"Apa yang telah terjadi? Dunia semakin aneh saja!" Dylan menganggap kalau semua itu adalah mimpi. Tapi ternyata memang kenyataan.


"Bunuh. GRAAAWW...."


"Dylan! Awas!"


Tubuh Dylan tiba-tiba melayang dengan cepat ke udara. Lagi-lagi, ia menempel di sebuah tentakel hitam lengket itu. Ada seseorang yang telah menangkapnya.


"Dylan. Tadi itu hampir saja."


Dylan kembali diturunkan ke tanah. Ternyata, Tanaka lah yang telah menangkapnya dengan tentakelnya dan mengeluarkan Dylab dari kumpulan monster-monster itu.


Dylan berada dekat dengan Fely saat ini. Sementara, di hadapannya, ada Tanaka yang masih mengeluarkan tentakelnya yang menggeliat itu. Matanya melirik ke arah Fely.


Lalu ia pun juga melirikkan mataku ke arah Fely. "Kak, sebenarnya apa yang telah terjadi saat ini?!" Lelaki itu bertanya. Tapi dugaan Dylan, mungkin saja, kakaknya tidak akan menjawabnya.


"Sulit untuk dijelaskan, Dylan. Tapi, sekarang kau harus tetap bersama kakak saja di sini agar lebih aman." Ternyata Fely masih mau menjawabnya. "Tapi Dylan, ada yang ingin kakak beritahukan padamu."


"A–apa itu?" Tanpa sengaja, Dylan mengerutkan kening.


"Ini adalah rahasia kakak yang selama ini Kakak sembunyikan darimu dan sebuah rahasia yang ingin sekali kau ketahui." Fely terdiam sejenak. Mengatur nafas, lalu kembali membuka mulutnya lagi. "Ka–kakak ini adalah seorang Oniroshi."


Dylan tersentak. Mata kakaknya seketika berubah menjadi warna biru. Oniroshi. Sepertinya Dylan pernah mendengar kata itu. Tapi ia tidak tahu artinya.


"Apa itu artinya?" tanyanya penasaran.


"Pembunuh Setan. Kakak ini adalah seorang pembunuh setan yang bertugas untuk..., ya... membunuh setan. Setan seperti mereka itu." Kakaknya menunjuk ke arah kelompok monster yang berbentuk seperti teman-teman Dylan itu.


"Eh, kak! Mereka itu teman sekelasku. Jangan bilang kalau mereka itu setan, loh!" bentak lelaki itu tiba-tiba. Tapi setelah itu, ia sedikit bergumam kecil. "Yaa..., tapi sikap mereka itu seperti setan kalau di kelas."


"Ya. Mereka itu memang setannya. Setan seperti itu disebut dengan 'Oni'. Oni Itu adalah makhluk yang berbahaya dan menyeramkan. Merasuki tubuh manusia untuk berbuat kerusuhan. Intinya, peringatan dari kakak, kau harus tetap berhati-hati. Karena, saat ini, Oni sedang berkeliaran di mana-mana. Jangan sampai kau tertangkap oleh salah satu dari mereka." Jelas Fely.


Dylan hanya bisa mengangguk saja. Padahal ia sendiri juga masih belum mengerti. Setan? Oni? itu apa bedanya? Bahkan ia sendiri pun tidak tahu bentuk asli mereka.


"Hanya itu saja?" Dylan kembali memasang wajah dinginnya sambil menatap Fely.


"Fely-chan! Cepatlah. Katakan saja dan cepat bantu aku!" teriakan Tanaka membuat Fylan dan Fely jadi terkejut.


"Ha? Jadi, ada lagi yang ingin kakak beritahu padaku?"


Fely hanya terdiam saja. Dia menelan ludah sedikit dan lagi-lagi dia berekspresi seperti itu. Tegang dan terlihat malu-malu gimana gitu. Wajahnya sedikit memerah. "Apa yang ingin dia katakan, sih? Apa jangan-jangan, ada hubungannya dengan hal itu?"


"Dylan. Kamu harus tahan ini, ya? Sebenarnya, kamu itu telah menjadi Darling-nya si Takana. Dan sekarang juga, kalian harus...."


"Kelamaan, ah! Cepat!" Tanaka kembali berteriak lagi.


Seketika Fely pun tersentak. "Kau harus mencium Takana! Eh?" Setelah mengatakan itu, Fely langsung menutup mulutnya. Dia menggeleng pelan dengan pipinya yang sedikit memerah.


Dylan juga terkejut mendengarnya. "Ha?! Mencium?! Ya–yang benar saja, Kak!" Lelaki itu berjalan mundur menjauh dari kakaknya yang sudah ia anggap tak waras. Tentu saja Dylan tidak ingin melakukannya. Apalagi dia juga benci pada Takana.


"Ano..., Dylan-san?" Suara Takana. Dylan melihat sosok Shota itu muncul dari balik pohon yang ada di belakangnya. Secepatnya, ia pun langsung menjauh sedikit dari pohon itu.


"Apa yang kau inginkan?! Jangan harap kau bisa dapatkan ciuman itu dariku! Tidak akan!" bentak Dylan pada Takana.


"E–eh..., Dylan, kau tidak boleh seperti itu!" tegas Fely.


"Justru seharusnya kakak yang bilang tidak boleh pada Takana. Masa aku dengan dia ciuman. Kan tidak boleh." Gerutu Dylan.


"Tapi Dylan-san, ini terpaksa. Karena kau sudah menjadi Darling-ku." Ujar Takana.


"Apa sih maksudnya? Memangnya apa tujuan dari perciuman itu?!"


"Untuk mempersatukan kekuatan kita!"


"Ha? Bagaimana bisa?"


"Hmmm..., gimana ya?"


BUK!


"SUDAH CEPAT LAKUKAN SAJA! LAMA SEKALI DARI TADI!"


Tanaka mendorong tubuh Dylan langsung ke dekat si Takana. Dylan yang terkejut langsung bertindak cepat untuk melepaskan tubuhnya dari si Tanaka itu.


Sebenarnya cowok mata satu itu ingin memaksa Dylan untuk melakukannya. Tapi karena Dylan terlalu banyak memberontak, jadi si Tanaka tidak bisa berbuat apa-apa lagi padanya. Dylan memang menolak keras untuk melakukan hal itu dengan Takana!


Tapi karena memang terpaksa, Takana dengan beraninya mendekatkan wajahnya pada Dylan. Dia tidak menciumnya, melainkan memeluknya dengan erat. Lalu tak lama kemudian, Tanaka pun melepaskan tubuh Dylan.


"Eh?!" Setelah selesai, Dylan melihat tubuh Takana mengalirkan cahaya yang terang. Lalu tak lama kemudian, tubuhnya itu terpecah belah menjadi kumpulan cahaya biru yang melayang di langit. Kejadian seperti itu pernah Dylan lihat saat 2 hari yang lalu kalau tidak salah.


Malam itu, Dylan dan Takana tak sengaja melakukan hal seperti tadi. Tapi untung saja, bibir Takana itu hanya menempel di dahinya. Tapi, walau tidak di bibir, tetap saja Takana keasikan ******* bibirnya sendiri di dahi Dylan.


Lalu setelah itu, tubuh Takana juga memancarkan sinar dan terpecah belah seperti saat ini juga dan seterusnya, kumpulan cahaya itu akan melayang, lalu Dylan tidak tahu lagi. Karena saat cahaya itu muncul, tiba-tiba saja pandangannya jadi gelap.


"Sudah, Takana-Chan, cepatlah! Aku akan kembali melawan Monster itu lagi. Kau juga, Fely-chan. Ayo bantu aku!" Tanaka lagi-lagi melesat dan menghilang dengan cepat.


Fely menjawab, "Iya." Lalu setelah itu, ia juga melakukan hal yang sama seperti Tanaka.


Dylan terkejut melihat kakaknya yang juga memiliki kekuatan seperti Tanaka. Ia bahkan tidak pernah melihat kakaknya yang seperti itu. Di langit, Fely mulai mengeluarkan cahaya berwarna merah dari dalam tubuhnya. Lalu kedua tangannya itu, ia arahkan ke depan. Tapi lebih tepatnya ke arah teman-temannya Dylan yang menjadi monster.


"Aaaa- akh!"


Dylan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ia melihat tubuhnya sudah dipenuhi oleh cahaya biru seperti Takana itu. Ia tidak sempat melihat kumpulan cahaya biru yang terbentuk dari tubuh Takana itu. Karena, tiba-tiba saja pandangannya gelap lagi dan ia tidak bisa melihat apapun, bahkan merasakan tubuhnya lagi.


****


Takana Akhirnya masuk ke tubuh Dylan. Sekarang Takana akan menggunakan tubuh Dylan itu untuk membantunya bertempur dan membantu kedua kakaknya.


Semakin lama, jiwa mereka semakin bersatu dengan baik. Takana juga sudah bisa menguasai tubuh Dylan-san sepenuhnya.


Sekarang, saatnya menggunakan kekuatannya. Takana menganggapnya menyenangkan. Ia sekarang akan datang untuk membantu kedua kakak-kakak itu untuk mengalahkan semua Oni yang berani merasuki tubuh temannya Dylan!


****


To be Continued-