
Kembali ke tempat Tanaka dan Onirida Kucing berada. Di sana, Tanaka sudah tak sanggup berdiri. Tubuhnya lemas semua. Bahkan saat Onirida Kucing mengeluarkan tangan bayang dan mengangkat tubuh Tanaka dengan menggenggam tentakelnya, lelaki itu hanya bisa pasrah.
"Ah, gak bisa apa? Aku mau istirahat aja tidak mudah." Keluh Tanaka yang ingin tidur selalu terusik oleh kelakuan Onirida Kucing pada dirinya.
Onirida Kucing itu memandang wajah Tanaka sambil tersenyum. "Aku menang lagi, dong~ Katanya sudah kuat? Tapi kekuatanmu sama saja seperti dulu."
"Aku cuma lagi malas saja untuk bertarung denganmu. Bosen. Kau mulu, kau mulu yang bertarung denganku." Tanaka mendongak dan akhirnya ia mau bicara dengan menatap lawannya. "Aku tidak mau bertarung dengan pengkhianat sepertimu. Dasar kucing nakal."
"Tch, kau tidak akan mengerti." Onirida Kucing membuang muka, lalu menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Alasan itu lagi ...."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku!"
"Kau sebenarnya memilih keputusan yang salah. Kalau ada masalah, apa salahnya bercerita dengan anggota yang lain?"
"Itu bukan urusanmu!" geram dengan perkataan Tanaka, Onirida Kucing menghempaskan tubuh Tanaka ke tanah sampai tanah di sana retak. Ia sedang tidak ingin mendengarkan siapapun lagi karena tak ada orang yang bisa ia percayai sekarang. Trauma masa lalunya masih ada.
Tubuh Tanaka sudah tak bergerak. Tapi dirinya masih tersadar. Lalu tak lama kemudian, tanah yang ada di bawah Tanaka pun mengeluarkan guncangan hebat sampai membuat Onirida Kucing terjatuh duduk.
Saat merasakan guncangan itu, Tanaka hanya tersenyum lalu mulai menutup mata. "Akhirnya datang juga. Sekarang bisa tidur dengan aman." Gumamnya sebelum berakhir tak sadarkan diri.
"A–ada apa ini?!" Onirida Kucing kembali bangkit, lalu menghindari tanah yang berguncang tersebut. Lalu tak lama kemudian, tanah di sekitar Tanaka menunjukkan retakan yang hebat sampai membuat lubang besar yang membuat tubuh Tanaka terlihat seperti tertelan bumi. Masuk ke dalam tanah.
Onirida Kucing itu terkejut. Ia ingin memeriksa ke dalam lubang itu dan mencari Oniroshi yang berhasil ia kalahkan. Tapi mendadak, lubang itu tertutup dengan tanah kembali. Onirida Kucing telah kehilangan mangsanya. Ia menjadi sangat geram dan akan menghabisi siapapun orang yang telah mengganggunya.
Tak kunjung bertemu dengan si penyerang tersembunyi itu, Onirida Kucing malah diserang oleh badai pasir yang mendadak muncul. Badai itu membuat pengelihatannya kabur. Saat membuka mata, rasanya sangat perih. Jadi daripada jalan di daratan, Onirida Kucing memutuskan untuk melompat tinggi dan menghindari badai tersebut.
Dari atas langit, ia melihat sesosok manusia yang berada di tengah-tengah badai tersebut. Onirida Kucing kembali mendarat ke tanah, lalu tak lama badai pasir itu pun perlahan menghilang dan membentuk bola yang semakin lama, ukurannya semakin kecil. Sosok yang Onirida Kucing lihat itu pun mulai kelihatan jelas.
Ternyata orang itu adalah sesosok pemuda seumuran Tanaka yang merupakan seorang Oniroshi berelemen Bumi dan Angin. Tak hanya itu. Ternyata ada seorang gadis yang ikut bergabung juga. Gadis remaja yang manis si pengguna elemen alam dan kemampuannya bisa berkomunikasi dengan hewan. Saat ini, gadis itu sedang menunggangi seekor harimau yang dapat ia jinakkan dengan mudah.
Karena wilayahnya yang dekat dengan hutan, kekuatan gadis itu jadi meningkat. Ia dengan harimaunya berlari cepat menghampiri si Onirida Kucing, lalu gadis itu mengarahkan tangannya ke depan dan seketika tanah kembali bergetar.
Merasakan hal buruk akan terjadi, Onirida Kucing memutuskan akan pergi dari tempat itu. Tapi mendadak ia merasa ada yang menyentuh pundaknya. Saat ia menoleh ke belakang, makhluk itu melihat seorang pria yang melambaikan tangan padanya, lalu dengan cepat meninju wajahnya sampai tubuhnya terjatuh ke bawah.
Lalu tak lama kemudian, segerombolan akar berduri keluar dari dalam tanah dan langsung melilit seluruh tubuh Onirida Kucing. Makhluk itu memberontak untuk melepaskan diri. Tapi semakin banyak ia bergerak, maka rasa sakitnya akan bertambah akibat tertusuk duri-duri di akar tersebut.
Merasa dirinya telah tertangkap dan ia tak bisa melawan karena sudah terluka parah, Onirida Kucing itu memutuskan untuk melarikan diri. Ia masih tidak mengetahui info apa-apa dari kedua Oniroshi yang baru ia jumpai. Maka dari itu, ia akan mundur dulu.
"Kalian menang hari ini. Tapi aku tidak akan menyerah untuk membalas kalian!" teriak Onirida Kucing, lalu tubuhnya mengeluarkan banyak gumpalan asap hitam dan seketika, tubuhnya pun menghilang bersama asap-asap tersebut.
Si gadis dan Pria Oniroshi itu menghela napas lega, lalu saling menatap dan tersenyum senang. Lalu tak lama kemudian, seseorang keluar dari dalam hutan. Orang itu adalah Fely yang sedang mengobati Tanaka dengan benang merahnya.
"Dia sudah pergi?" tanya Fely sambil celingak-celinguk mencari sosok berbahaya tadi.
Pria Oniroshi mengangguk. Lalu si Gadis di sampingnya melambai tangan pada Harimau yang sudah membantunya. Hewan buas itu pun pergi ke habitatnya.
"Anu ..." Fely sendiri juga baru bertemu dengan dua orang itu. Ia jadi tidak tahu harus memanggilnya dengan panggilan seperti apa. Jadi untuk mempermudahnya, kedua Oniroshi itu pun mulai memperkenalkan diri.
"Aku Zaidan. Lalu ini temanku Lea." Pria itu juga memperkenankan gadis yang jauh lebih muda darinya. Gadis itu hanya melambai, lalu berkata, "Teman Zai, adalah temanku juga. Salken."
"Ah, salken juga. Panggil aja aku Fely. Ngomong-ngomong ... kalian berdua hebat sekali!"
"Ya karena kami dilatih oleh guru kami." Jawab Zain sambil menggaruk kepala. Lalu dilanjut Lea. "Ngomong-ngomong ... apa kalian melihat guru kami? Kami keluar dari tempat persembunyian untuk mencarinya."
"Guru bilang, dia merasakan kekuatan yang hebat di luar. Jadi ia memutuskan untuk pergi."
"Tapi tak kunjung kembali."
"Aku jadi khawatir!"
"Aku juga!"
Zai dan Lea terlihat kompak dalam berbicara. Mereka seperti anak kembar. Fely yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk saja. Sebenarnya ia juga tidak paham. Lalu tak lama kemudian, seseorang di belakang Fely menghampiri Zai dan Lea. Keduanya terkejut melihatnya.
"Eh?! Divan?" tanya Zai dengan ekspresi terkejut. Lalu Lea juga ikutan dan lagi-lagi mereka berdua mengucapkan pertanyaan yang sama. "Kok kamu ada di sini?"
"Eh? Kalian saling kenal?" tanya Fely.
Zai dan Lea mengangguk kompak. Lalu gadis itu menjawab, "Dia kan darlingnya guru kami."
Lalu tak lama, ia kembali membukanya dan memberikan pertanyaan lagi pada ketiga teman barunya. "Anu ... sebenarnya guru kalian itu siapa dan dia ada di mana?"
"Ah, kamu tidak tahu?" Zai bertanya balik, tapi Lea menjawabnya. "Dia kan Oniroshi terkuat dari yang lainnya!"
"Eh?! Lalu sekarang di mana dia?"
"Hmm ... saat di kota tadi aku merasakan auranya. Tapi sejak ke sini, sudah tidak merasakannya lagi. Ini aneh." Divan menyentuh dagu.
"Dia ... ada di sekolah," Tanaka yang sedang tidur di belakang Fely mulai mengeluarkan suaranya. Semuanya tidak tahu apa yang dikatakan Tanaka itu benar atau tidak. Tapi setelah Fely ingat-ingat, ia seperti melupakan sesuatu yang penting.
"Oh, iya! Dylan!!" Fely mengingat keadaan adiknya yang sedang dalam bahaya di sekolah. Ia pun mengajak semuanya untuk segera pergi ke sekolah adiknya untuk membantu semua orang di sana. Fely berharap, adiknya masih baik-baik saja di sana. Karena ia tahu kalau kedekatan Dylan dengan Takana itu sangat berdampak buruk untuk adiknya.
...****************...
Saat di sekolah, Oni Lucid masih sibuk melawan Irvan dalam mode badasnya. Mereka solo dan tak ada yang membantunya. Yang lain hanya bisa memperhatikan perubahan drastis yang terjadi pada Irvan. Lelaki itu terlihat hebat di mata Takana dan ia benar-benar kagum dengan kekuatan baru temannya itu.
Irvan menggunakan kekuatan penuhnya dengan skill dan sesekali menyerang dengan fisik menggunakan senjatanya. Kini, ia telah benar-benar membuat Lucid kewalahan dan saat ini, Oni Itu sudah mulai terluka parah akibat serangan dari Irvan yang brutal.
Lelaki itu tidak bisa diam sebelum lawannya benar-benar tumbang. Dia terus saja menyerang dan mengenai lawannya. Tapi Lucid sendiri tidak bisa mengenai Irvan karena lawannya itu bergerak secepat kilat karena bantuan dari elemen petirnya.
Setelah membuat lawannya terjatuh karena kurang keseimbangan, Irvan pergi menghadap ke depan Oni Itu, lalu menggunakan kedua kerisnya untuk melakukan serangan terakhir. Mata pisaunya ia gesekan dan seketika muncul aliran listrik yang kuat menyelimuti senjata dan tubuh si penggunanya.
"Naizashi." Irvan mengucapkan nama jurusnya, lalu dengan secepat kilat, tubuhnya menghampiri Lucid Lalu menghilang dan muncul lagi dengan posisi di belakang lawannya.
Semua orang yang melihat itu masih terdiam memandang. Tubuh Lucid tak terjadi apa-apa. Tapi mendadak, Oni Itu merasakan rasa perih yang luar biasa lalu tak lama, tubuhnya pun terbakar oleh aliran listrik yang kuat mengenai tubuhnya. Ternyata tanpa ia sadari, sebuah keris Irvan telah menancap di punggung belakangnya dan menyalurkan kekuatan listrik yang hebat itu.
Tak hanya itu, tangan kanan Lucid menyentuh dadanya dan seketika mulutnya mengeluarkan darah, ditambah dengan luka robek yang besar di sana. Tubuhnya telah dibanjiri darah dan tak lama, makhluk itu langsung terjatuh di tempat. Semua orang terkejut melihatnya, termasuk adiknya Lucid yang marah melihat kakaknya sekarat.
Auranya mulai kuat Lalu dengan cepat ia mengeluarkan banyak Mochi Bom yang sudah ia bentuk, lalu melemparkannya ke arah Irvan. Lelaki berambut kuning kebiruan itu langsung melirik tajam ke Lucia. Ia langsung bergerak cepat ke arah lawan berikutnya. Bahkan sangking cepatnya, Lucia sampai tak bisa melihat pergerakannya dan tiba-tiba sudah muncul di belakangnya.
Dengan cepat, Irvan menusuk punggung Lucia dengan senjatanya. Wanita itu meringis kesakitan dan langsung menyerang Irvan. Tapi karena serangannya tak pernah kena, ia membentuk satu Mochi Bom dan langsung dilempar di tempatnya. Seketika mochi itu meledak. Tapi hanya mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan.
Setelah cahaya itu menghilang, Dylan dan Bell yang berada dekat dengan gadis Iblis tadi pun terkejut karena tak menemukan keberadaan makhluk berbahaya tadi. Begitu juga dengan Takana di bawah sana. Ia sudah tak melihat tubuh Lucid dan hanya meninggalkan genangan darah segar saja di tengah lapangan.
"Dia ... melarikan diri." Takana bergumam. Lalu ia mendongak dan melihat langit cerah kembali. Tidak berawan gelap seperti sebelumnya dan sepertinya juga, penghalang yang dibuat Iblis kembar tadi telah hilang. Sekarang semua orang bisa keluar dari lingkungan sekolah.
Namun saat Takana perhatian, ada beberapa murid yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah. Sepertinya mereka sudah tidak dirasuki oleh cumi-cumi hitam aneh yang mengganggu pikiran mereka. Namun saat disangka semuanya telah aman, Takana dikejutkan oleh suara ledakan dari atas gedung tiga. Yaitu tempat Dylan dan Bell berada.
Untuk memeriksanya, dengan cepat Takana memasuki bangunan ketiga dan memanjat lantainya sampai ia bisa ke atap.
Saat di atap, ternyata serangan tadi adalah ulah dari Irvan yang masih menggunakan kekuatan yang sama. Tapi sekarang, dirinya jadi tak terkendali. Semua orang yang masih bernyawa di dekatnya, akan ia lenyapkan sekarang juga. Dylan dan Bell tidak tahu apa yang sudah terjadi pada temannya itu.
"I–Irvan? Kau baik-baik saja, kan?" Saat Bell ingin menyentuh lelaki itu, tiba-tiba saja Dylan mendorongnya karena Irvan ingin menyerang Bell juga. Mereka berdua terjatuh bersama dan mulai terpojok. Sementara di hadapan mereka, Irvan tatapan wajah mengerikan pun mulai menyiapkan senjatanya.
"Naiza–"
"Eit, eit, eit ... tidak secepat itu~"
Suara seorang wanita pun terdengar. Lalu tiba-tiba beberapa dinding es muncul di hadapan Dylan dan Bell seakan ingin melindungi mereka.
Irvan menghentikan serangannya setelah melihat dinding es tersebut. Sekarang hawanya menjadi sangat dingin dari sebelumnya. Irvan melirik ke sekitar dan ia merasakan kekuatan yang besar di dekatnya. Namun belum sempat ia mengetahuinya, mendadak muncul bongkahan es dari bawah kakinya dan langsung menjebaknya. Setengah tubuh Irvan diselimuti es beku dan ia tidak bisa bergerak ke mana-mana. Senjatanya juga terjatuh dari genggamannya. Lelaki itu hanya bisa memberontak.
Dylan penasaran dengan asal dari serangan es tersebut. Lalu tak lama, ia mendengar suara telapak kaki yang berjalan mendekatinya. Dari arah samping kanan, Dylan melihat seorang wanita dewasa berpakaian serba putih mendekati Irvan yang masih terjebak di dalam es. Lalu wanita itu menyentuh tengkuk Irvan dan menatap wajahnya.
"Kau sudah sampai batasmu. Jadi jangan memaksakan diri, ya?" Wanita itu menusuk pelan leher Irvan dengan kukunya yang panjang. Lalu tak lama, tubuh Irvan mulai tenang. Wanita itu melepaskannya dan memeluk tubuh lelaki itu. Membaringkannya di tempat dan membiarkan pahanya menjadi bantal untuk Irvan istirahat.
Tak lama setelah itu, pintu atap pun terbuka. Takana akhirnya tiba. Napasnya terengah-engah karena berlari menaiki tangga. Tapi setelah melihat wanita serba putih itu, matanya langsung terbelalak kaget dan menunjuk.
"Ka–kau kan ... ONIROSHI TERKUAT YANG MASIH HIDUP!"
*
*
*
To be continued–