Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 44~ Elthan Syahputra, part 3



BUAK!


"FELY!" teriak Ethan saat melihat Ibunya telah memukul Kak Fely dengan menggunakan tongkat baseball yang Ibunya bawa itu. Setelah pukulan yang menghantam kepalanya itu, Fely pun langsung terjatuh di hadapan Ethan.


Ethan memberontak. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dan berharap agar dirinya bisa membantu Kak Fely.


DUK!


Ibu Ethan mendorong dan menahan anaknya di tembok. Lalu tongkat baseball yang digenggam Ibunya itu mengarah ke Ethan dan menekan dahinya. Ibunya mendekatkan wajahnya pada Ethan, lalu membisikkan sesuatu.


"Ethan sayang, kenapa Lo gak pernah bilang pada gue kalau Lo punya teman cewek yang kaya raya seperti dia?" tanya Ibu Ethan pelan. Lalu, Ibu Ethan mengangkat rambut yang menutupi wajah Kak Fely. Lalu setelah itu, tangan kanan Ibunya menarik Tangan Kak Fely, dan kembali berdiri.


"JANGAN SENTUH DIA!" bentak Ethan.


Ibunya hanya tersenyum sambil menyipitkan matanya. "Huh? Kenapa gak boleh? Ibu lo ini akan mengubah hidup kita dengan cara memanfaatkan cewek ini."


"Kubilang, jangan sentuh dia! Jauhkan tangan kotorku darinya!" bentak Ethan lagi. Kali ini, dia mulai berekspresi wajah marah.


BUK!


"Berani-beraninya Lo ngebentak gue, hah?! Mau gue siram air panas lagi, Lo?" balas Ibunya, lalu menginjak perut Ethan.


"Ugh! Aku tidak takut!" Ethan kembali berbicara keras pada Ibunya. Lalu dengan cepat, ia mencoba untuk berdiri. Walaupun kedua kakinya diborgol, tapi Ethan masih bisa untuk bergerak–melangkahkan kakinya. Ia menabrak tubuh Ibunya sampai Ibunya itu terjatuh dan melepaskan Kak Fely.


"Fely! Aku akan menolongmu!" Ethan menghadapkan tubuhnya ke arah Fely.


"Seharusnya, kau yang menolong dirimu sendiri!" Ibu Ethan kembali bangkit, lalu dengan cepat dia mendorong Ethan sampai tubuhnya membentur rak buku yang ada di ruangan itu. Kaki rak buku itu pun patah karena memang bahan kayunya sudah lapuk. Kemudian, rak buku itu jatuh dan menimpa Ethan yang ada di bawahnya.


Ethan masih bisa bertahan. Hanya saja, tubuhnya terasa sakit dan ia tidak bisa bergerak setelah tertimpa rak buku itu. Tak lama setelah itu, Ibu Ethan datang menghampirinya. Beliau berdiri di hadapan Ethan sambil tersenyum sinis. Ia memegang tongkat baseball itu lagi.


"Jangan suka sok jadi pahlawan, ya? Sekarang... lebih baik Lo mati aja!" bentak Ibunya dengan tertawa jahat. Lalu Ibu Ethan mengangkat tongkat baseball-nya ke atas, lalu mengayunkannya dengan cepat.


BUAK! BUK!


****


Chapter 44: [ Elthan Syahputra, part 3 ]


****


*Ethan Syahputra


Kalian tahu? Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayangi? Pasti sakit sekali. Apalagi, kalau kehilangan dan ditinggalkan untuk selamanya.


Namaku Elthan Syahputra. Saat aku berumur 15 tahun, kedua orang tuaku pisah. Aku pun ikut dengan ayahku dan meninggalkan Ibu kandungku. Hingga berselang beberapa bulan, aku dikejutkan dengan kabar tentang Ayahku yang akan menikah lagi dengan wanita lain.


Yaitu, dengan wanita yang sampai sekarang ini telah menjadi Ibuku. Lebih tepatnya, Ibu tiri ku.


Aku hanya bisa tersenyum saat ikut hadir untuk menyaksikan pernikahan Ayahku yang kedua kalinya. Senyum yang dipaksa. Berpura-pura senang dan bahagia di hadapan semua orang. Tapi sebenarnya, aku tidak suka dengan hubungan baru Ayahku dengan wanita itu. Karena dari awal... aku sudah menganggap kalau wanita itu adalah wanita yang tidak baik untuk Ayahku yang telah memiliki hati yang tulus.


4 tahun kemudian–setelah pernikahan Ayahku....


4 tahun sudah berlalu. Berbagai masa dan kenangan telah ku lewati dengan Ayah dan Ibu baruku.


Kini umurku sudah 19 tahun. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahku dan langsung saja mencari pekerjaan untuk menghidupi keluargaku dan membantu ayahku.


Pada awalnya, aku senang karena dapat pekerjaan baru yang kuinginkan. Yaitu, menjadi pelayan di sebuah restoran terkenal. Walaupun hanya seorang pelayan biasa, tapi setidaknya aku bisa mendapatkan penghasilan lebih yang ternyata melebihi penghasilan Ayahku.


Setiap bulan, aku akan memberikan setengah dari hasil kerjaku untuk ayahku. Hanya untuk Ayah! Aku tidak ingin memberikan wanita yang sudah kuanggap Ibu baruku itu. Karena, dugaanku selama ini memang benar. Dia itu wanita yang tidak baik dan rakus akan harta benda.


Setiap penghasilan milik ayahku, Ibu tiri ku dengan enaknya mengambil semua hasil dari kerja keras ayahku. Aku merasa kesal. Sesekali aku ingin memperingati wanita itu untuk tidak seenaknya mengambil milik ayahku. Tapi karena Ayahku selalu bersifat ikhlas dan sabar pada sikap Ibu tiri ku, aku pun jadi mengurungkan niatku untuk memarahi wanita itu.


Aku harus menahan diriku!


1 tahun kemudian... Aku kembali kehilangan orang tercintaku. Pas sekali di hari ulang tahunku, ayahku mengalami kecelakaan maut yang tragis. Kecelakaan itu pun telah merenggut nyawanya.


Setelah ayahku pergi untuk selamanya, Ibu tiri ku semakin menguasai semua harta peninggalan ayahku. Ibuku menggunakan semua harta itu untuk hal-hal yang tidak benar. Sampai akhirnya, semuanya pun habis hanya karena dipakai untuk berjudi.


Perjudian terakhir Ibuku itu, telah menguras banyak uang. Karena ia kalah dalam permainannya. Lalu, apakah Ibuku akan diam? Tidak.


Dia ingin sekali memenangkan permainan haram itu dengan teman-temannya. Sampai akhirnya, sertifikat rumah pun jadi korban. Pada awalnya, aku tidak terima kalau Ibuku akan menjual rumah orang tua kandungku. Tapi, apa boleh buat, aku diancam Ibuku. Kalau aku ikut campur dan selalu menasehatinya, maka ia akan mencari uang dengan pergi ke Dukun, yang akan membutuhkan lebih banyak korban. Bisa jadi, korbannya adalah aku, atau yang lebih parahnya lagi, kedua orang tuaku yang telah meninggal. Mungkin kalian akan mengerti? Ya begitulah Ibuku.


Setelah rumah lamaku dijual, aku dengan Ibuku pun membeli rumah baru yang lebih sederhana dan murah. Lalu, sisah uangnya akan Ibuku gunakan untuk memenangkan permainannya dan minum bersama teman-temannya.


Aku hanya bisa menunggu di rumah. Sampai hampir tengah malam, akhirnya Ibuku pulang. Aku sudah menunggunya di depan pintu. Entah apa yang merasukiku, karena saat itu aku merasa rindu dengan Ibuku.


Aku sudah menyiapkan teh hangat untuk Ibuku dan sudah diletakan di atas meja dapur. Ibuku mulai membuka pintu. Aku terkejut. Terkejut karena melihat penampilannya yang sangat kacau. Rambut acak-acakan dan keadaan setengah sadar karena habis mabuk. Sungguh! Aku benar-benar kasihan melihatnya. Kapan dia bisa menghentikan tindakannya?


"Ibu? Ibu baik-baik saja?" tanyaku lirih padanya. Aku pun semakin melangkah, semakin mendekat ke Ibuku.


"Sial..." Ibuku mulai bergumam. Lalu, langkahnya mulai oleng dan tubuhnya pun bersandar di tembok dekat pintu. "Aku kalah lagi! Sial! Sialan!"


"Eh? Ibu kenapa?" Aku semakin kaget saat melihat tingkah Ibuku yang sepertinya sudah kesal itu. Dia semakin mengacak rambutnya, lalu berusaha untuk berdiri dengan benar. Ibuku menatap tajam padaku.


"Ethan? Apa kau tahu? Gue kalah lagi! Kapan gue akan menang?!" bentak Ibu padaku. Aku tersentak. "Ibu... sebaiknya Ibu jangan bermain judi lagi. Itu tidak baik. Percuma saja. Tidak ada hasilnya, kan, Bu?" Kali ini aku akan menasihatinya lagi.


BUK!


"Ngomong apa Lo?!" Ibuku kembali membentakku. Lalu, dia mendorong tubuhku sampai terjatuh.


"Ibu?"


"SINI LO!" Dengan cepat, Ibuku menjambak rambutku, lalu mendekatkan wajahku ke hadapannya. "Ethan tahu, gak, sih?! Ibu tuh lagi kesal. Kau jangan menambahkan emosi Ibu!"


"A, aku tidak berniat untuk membuat Ibu marah, kok! Aku hanya ingin membuat Ibu sadar kalau semua yang telah Ibu lakukan itu salah!"


"Udah gue bilang dari dulu, jangan suka sok nasehatin gue, ya?! Gue tuh lebih dewasa dari Lo. Dan Lo sekarang sudah berani tidak sopan, ya? Membentak gue?! Siapa Lo?" Karena sudah termakan oleh emosinya, Ibuku pun membenturkan kepalaku ke dinding, lalu menariknya lagi.


Aku tidak mengerti apa yang Ibuku katakan. Tapi, sesuatu yang ia bilang menyenangkan itu adalah dengan cara memperlakukanku dengan kasar.


Setelah ia mengatakan itu, Ibuku menjatuhkan tubuhku ke lantai, lalu kakinya mulai melayang. Dengan cepat, Ibuku menginjak-injak tubuhku. Aku hanya bisa melindungi kepalaku dengan kedua lenganku dan pasrah di lantai.


Aku tidak tahu. Kenapa Ibuku tega sekali melampiaskan semua emosinya padaku?


Tidak hanya hari itu, tapi di hari-hari berikutnya, Ibuku selalu bersikap kasar dan menyiksaku. Dia terlihat bahagia sekali saat melihatku kesakitan.


Kadang, Ibuku suka mencelupkan kepalaku ke dalam bak berisi air penuh sampai aku lemas karena kehabisan nafas. Setelah Ibuku menyadari kalau diriku telah tidak bergerak lagi, Ia akan menarik dan mengeluarkan kepalaku dari air. Lalu meninggalkanku tergeletak begitu saja di kamar mandi sampai akhirnya, aku harus menyadarkan diriku sendiri.


Berbagai macam hal yang menyakitkan telah ia perbuat padaku. Sampai akhirnya, tubuhku tidak bisa menahannya lagi. Saat Ibuku menyabet diriku dengan ikat pinggang, aku tak sengaja menggerakkan tanganku lalu menampar pipi Ibuku.


Sungguh! Aku tidak sengaja. Tapi karena tamparan itu, telah membuat Ibuku semakin marah. Lalu, ia pun menarik tanganku dan menyeretku sampai ke kamarku. Di tangannya, dia menggenggam sebuah Cutter kecil.


Cutter itu, ia sabetkan pada tanganku sampai mengeluarkan darah. Aku hanya bisa berteriak kesakitan. Tapi, aku tidak akan membiarkan Cutter itu mengenai nadiku. Dengan cepat, aku pun mendorong Ibuku, lalu setelah itu, aku beranjak dari tempat tidur sambil menggenggam tanganku yang berdarah. Aku berlari secepatnya keluar dari kamarku dan juga dari rumahku.


Tapi ternyata, Ibuku tidak mengejarku. Aku merasa sudah aman. Tapi, fisikku masih belum aman. Karena tanganku terus mengeluarkan darah dan kakiku sedikit agak sakit dan langkahku mulai pincang.


Aku akan pergi untuk meminta pertolongan. Tapi, apa dayaku saat itu sedang malam hari. Tidak ada seorang pun yang lewat. Lalu, aku melihat ada rumah seseorang yang terlihat masih menyalakan lampu di dalamnya. Aku pikir, rumah itu pasti masih ada orang yang belum tidur.


Aku akan menyebrang. Akan pergi ke rumah itu. Tanpa melirik ke kanan kiri, aku pun mulai menyebrang. Karena aku pikir, malam-malam begini pasti tidak akan ada orang yang melintas. Tapi ternyata aku salah. Tiba-tiba saja, cahaya yang silau muncul semakin cepat ke arahku. Saat di situlah, aku langsung tidak bisa merasakan tubuhku lagi. Bahkan, aku juga sudah tidak merasakan sakitnya luka yang ada di tanganku....


****


*Dylan Leviano


"Akh! Tidak! Jangan apa-apakan aku! Uwaaa!"


Eh? Aku terkejut. Tiba-tiba saja, seorang pemuda yang ada di depanku ini berteriak. Pemuda itu adalah Elthan Syahputra. Dia teman kakakku yang sekarang ini sedang menumpang di rumahku hanya untuk mendapatkan perawatan medis dari kakakku.


Hampir saja gelas yang kupegang ini terjatuh. Laki-laki itu benar-benar telah membuatku kaget saja. Aku pikir, dia masih tidur dengan tenang, tapi tiba-tiba saja dia terbangun dan berteriak.


"E, eh? Kamu... ah, aku di mana?" tanya Ethan lemas padaku.


Aku berdiri di samping ranjang yang ia tempati. Itu ranjang kakakku. Dan sekarang ini, aku sedang menaruh segelas air untuknya. Makanya aku datang ke kamar kakakku karena terpaksa.


"Kau di rumahku." Jawabku cuek. Lalu setelah itu, aku pun kembali berbalik badan dan berniat akan meninggalkan kamar kakakku.


Tapi, langkahku terhenti saat Ethan memanggil namaku. Eh? Bagaimana dia bisa tahu namaku? Oh iya. Mungkin karena diberitahu oleh kakakku.


"Ada apa?" aku kembali menengok ke belakang. Menatap Ethan dengan ekspresi biasa.


"Anu, Fely, kakakmu di mana dia? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ethan dengan ekspresi cemas.


"Ha? Kakakku pasti baik-baik saja, lah! Itu dia lagi-"


"Ethan! Oh, syukurlah!"


Aku kaget. Tiba-tiba kakakku datang dan langsung menyenggol tubuhku untuk memberikan dia jalan. Ia berlari tergesa-gesa ke dalam kamarnya hanya untuk menemui laki-laki yang baru dikenalnya itu.


Karena tidak mau mengganggu moment mereka berdua, aku pun pergi meninggalkan kamar Kak Fely.


"Ethan? Kau akhirnya sadar juga. Aku sudah menunggu lama untuk melihatmu membuka mata. Aku sangat khawatir sekali, karena sudah dua hari ini kamu tertidur melulu. Padahal, semua lukamu udah aku obati." Ujar Kak Fely dengan nafas yang sedikit terengah-engah.


"Hei, tenanglah. Aku baik-baik saja, kok!" Ethan tersenyum. Lalu, Ethan kembali terdiam. Tak lama setelah itu, Ethan kembali melirikkan matanya lagi pada Kak Fely.


"Fel, aku mau... hmm... boleh aku mengatakannya?" tanya Ethan ragu-ragu.


"Katakan saja. Semuanya. Aku akan mendengarkanmu." Kak Fely tersenyum. Lalu, ia pun duduk di pinggiran kasur sambil menengok ke Ethan.


Ethan sedikit malu. Wajahnya agak memerah. Ia melirikkan matanya ke bawah, lalu kembali ke Kak Fely lagi, lalu ke bawah lagi. "Ah, aku tidak bisa menatapnya secara langsung. Tapi apa boleh buat, perasaanku mengatakan kalau aku harus mengungkapkan perasaanku pada dia." Batin Ethan.


Karena tampang Ethan terlihat gugup, Kak Fely pun menelengkan kepalanya. Ia merasa heran dengan sikap Ethan. Kak Fely pun memberanikan diri untuk bertanya, "Mau ngomong apa? Lupa, kah?"


Ethan tersentak. Lalu dengan cepat, ia kembali menatap Kak Fely. "Eh! Bukan itu. Tidak... aku hanya... aku, ah! Aku ingin bilang sesuatu, tapi takut kau marah padaku."


Kak Fely mengedipkan mata sebanyak 2x dengan mata besarnya itu, lalu ia tertawa kecil. "Oh, haha... tidak akan marah. Memangnya ada apa, sih?"


"Emm... aku... aku ingin bilang kalau... kalau aku...."


"Kalau apa?"


"Kalau aku... men... men...."


"Kamu menyukaiku, kan? Sama, kok. Aku juga." Kak Fely tersenyum. Tapi ekspresinya itu terlihat kalau dia sedang menahan tawa.


Ethan pun tersentak. Seketika, seluruh wajahnya jadi terasa hangat dan memerah. "Eh, eh? Eh eh!" Ethan sendiri jadi salah tingkah.


"Huf. Kamu sungguh menyukaiku sebagai teman, atau memang lebih?" Kak Fely menghentikan tawanya, lalu menatap serius pada Ethan. Kak Fely masih mengeluarkan senyumnya.


Ethan berusaha untuk bersikap tenang. Ia menghembuskan nafas secara perlahan dan mengangguk. "Yah... lebih. Aku bisa bilang kalau aku mencintaimu. Karena, sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah melihat wanita yang cantik dan memiliki hati yang bersih."


"Oh, Ethan. Aku juga mencintaimu. Karena, dari awal, aku juga sudah menilaimu. Kau adalah tipe cowok untukku. Cowok yang pesabar, pintar dan perhatian. Jangan lupa juga untuk selalu setia, ya?" Kak Fely kembali tersenyum lebar karena ia merasa senang.


Ethan juga begitu. Lalu, ia pun terdiam untuk sejenak dan kembali bicara. "Bisa kita mulai? Aku ingin memulainya dari sini...."


Perlahan, Ethan berusaha untuk bangun dan duduk dengan sempurna. Lalu mendekat ke arah Kak Fely, dan langsung mengangkat tengkuk Kakakku. Kak Fely memasang wajah biasanya dan tersenyum samar. Lalu, mereka berdua pun saling mendekat dan memejamkan mata.


Perciuman yang mereka lakukan. Sepertinya, itu adalah first kiss kakakku. Ternyata ciuman pertamanya telah diambil oleh lelaki yang ia sukai.


Tapi, saat mereka berdua sedang melakukan itu, ternyata di depan kamar dengan pintu yang masih terbuka sedikit, berdirilah seseorang di balik pintu itu....


To be Continued-