
Dylan kembali masuk ke dalam. Di dapur, ia mengambil minuman dingin, lalu pergi ke ruang tamu. Saat melewati pintu dapur, Dylan terkejut dengan sebuah kursi kecil yang melayang ke arahnya. Ia tak sempat menghindar, tapi untungnya ada Lea yang sempat menangkap kursi tersebut.
"Untung gak kena." Gadis yang lebih pendek dari Dylan itu hanya menangkap kursinya dengan satu tangan. Lalu menurunkan tangan dan duduk di atas kursi tersebut.
Dylan hanya melirik sejenak ke gadis itu, lalu kembali meliril ke depan. Matanya membesar karena kaget melihat ruangan itu jadi berantakan karena ulah dua Oniroshi yang terlihat sedang berkelahi tanpa menggunakan kekuatannya. Tanaka dan Zai saling memukul. Sepertinya mereka sedang berebutan sesuatu.
Sementara Asuka yang merupakan guru dari Zai hanya diam saja di samping pertempuran itu. Dia duduk bersila, santai di depan meja sambil menyeruput teh. Sementara Irvan masih tidur di atas sofa dan Bell dan Divan berusaha untuk memisahkan keduanya.
Dylan tidak suka melihat ruangan itu berantakan. Bisa-bisa ia disuruh kakaknya untuk membersihkannya, walau bukan ia penyebabnya. Jadi Dylan pun berjalan cepat menghampiri Asuka, lalu bertanya, "Hei, kenapa kau diam saja dan malah santai d sini?!"
"Oh? Ada yang bisa aku bantu?" Asuka melirik ke Dylan.
Dylan ingin menjawab, tapi tiba-tiba ada sebuah bantal yang mengarah padanya. Ia menghindari itu, lalu dengan cepat menjawab, "Cepat bantu pisahkan kedua cowok itu, dong! Jangan diam saja!"
"Ah, biarkan lah ... Sudah biasa. Mereka memang seperti itu. Kalau ketemu, bawaannya berantem mulu." Balas Asuka, lalu kembali menyeruput tehnya.
"Tapi kan ini rumahku! Aaaah!" Dylan sudah mulai kesal. Ia mengambil pisau yang terletak di atas meja, lalu mengarahkannya pada Tanaka dan Zai. Ia mengancam mereka berdua dengan pisau itu agar keduanya berhenti bertengkar.
Kalau tidak dihentikan, bukan satu ruangan saja yang berantakan. Bisa-bisa satu rumah Dylan jadi berantakan.
"Stop! Stop! Apa yang kalian perebutkan, sih?! Pacar?!" bentak Dylan, lalu mendorong Tanaka dan Zai agar saling menjauh. Sementara ia berada di tengah-tengah keduanya. "Cari rumah lain yang bisa kalian berantakin sana! Kalau di sini, aku juga yang repot!"
"Dia duluan yang mukul aku!" Zai menunjuk ke Tanaka dengan penuh emosi.
Tanaka yang tak terima pun membalasnya. "Aku hanya menepuk pelan tangannya agar tidak mengambil kue di atas meja. Eh dia malah balas nampar aku. Kurang ajar!"
"Hah?! Lagipula kenapa kau melarangku untuk memakan kue itu?!"
"Karena kue itu hanya untukku! Kau sudah makan banyak tadi!"
"Alah! Aku masih lapar! Jadi kue itu milikku!"
"Tidak ada! Pokoknya kue itu punyaku!"
"Jadi mereka hanya berebutan kue?" batin Dylan geram. Ia telah berhasil menghentikan perkelahian keduanya, tapi sekarang kedua lelaki itu malah berisik saling adu mulut. Hal itu membuat Dylan jadi tambah kesal. Ia pun membentak keduanya sampai mereka berhenti bicara.
"Aaah! Kue mana sih yang kalian perebutkan?!" tanya Dylan dengan membentak.
"Yang itu–" Keduanya saling menunjuk ke atas meja depan sofa. Ternyata kue yang mereka maksud telah hilang dari piringnya. Lalu mata mereka melirik ke Irvan yang mengelap mulutnya dengan tisu. Lalu dengan cepat, mereka berdua pun menghampiri Irvan.
"Kau makan kuenya, ya?!" tanya Tanaka dan Zai secara bersamaan. Mereka menggertak Irvan. Tapi lelaki itu hanya memasang wajah biasanya, lalu kembali mengelap mulutnya yang terdapat noda krim bekas kue yang dimakannya.
Melihat kuenya sudah tidak ada, Tanaka dan Zai hanya pasrah saja. Karena keduanya tidak ada yang mendapatkan kue itu, mereka pun saling berjabat tangan sambil tersenyum.
"Maafin aku, ya? Hehe ...." ucap Zai sambil menggaruk kepala.
Tanaka mengangguk. "Iya, gak apa-apa. Kalau aku kurang keras mukulnya bilang aja, ya? Tar ku pukul lagi."
"Iya, gak apa-apa, kok! Tanganku juga masih gatal sebenarnya. Tapi sudah gak lagi."
"Aha ha ha ..." Keduanya tertawa riang, lalu saling merangkul. Mereka akrab kembali.
Dylan yang melihatnya hanya bisa meneleng heran. Saat ia ingin bertanya, Asuka sudah menjawabnya duluan. "Mereka memang biasa seperti itu. Biarkan saja."
"Apakah Tanaka dan Zaidan sudah lama saling kenal?" tanya Dylan.
"Mereka teman masa kecil."
"Hmm ...." Dylan mengangguk paham. Lalu lirikan matanya mengarah ke Fely dan Takana yang baru masuk dari pintu depan. Saat Dylan menatap Takana, lelaki itu langsung bersembunyi di belakang tubuh Fely. Ia juga melihat wajah Takana yang ketakutan saat menatapnya.
Seketika, Dylan jadi teringat dengan perkataan Asuka saat di halaman belakang tadi. "... Kau telah membuat Takana ketakutan dan hilang rasa percayanya padamu ...."
Dylan tidak peduli dengan apa yang dikatakan wanita itu. Dia justru bersyukur kalau Takana jadi takut padanya dan ingin jauh-jauh darinya. Tapi ia tidak ada niat untuk membunuh siapapun.
"Ah, Dylan. Kakak mau ke rumah sakit dulu, ya?" Fely mengambil tasnya, lalu kembali memakai sepatu di depan pintu.
"Eh? Mau ngapain?" tanya Dylan.
"Ada seseorang yang mau aku jenguk."
"Oke, sekarang aku sendirian bersama dengan beberapa orang yang masih asing di dekatku." Keluh Dylan dalam hati. Ia ingin sekali ikut dengan kakaknya, tapi tak ada yang menjaga rumah. Jadi terpaksa ia harus berada di tempat tinggalnya sekalian mengawasi beberapa Oniroshi yang menetap di rumahnya untuk sementara.
Setelah Fely pergi, Bell dan Irvan juga izin mau pulang ke rumah mereka. Jadi setelah mereka berdua pergi, Dylan menempati sofa yang sebelumnya diduduki Irvan. Di sana ia menghela napas berat dan berharap tidak ada masalah di rumah selagi Fely pergi.
Setelah ia mengambil remot dan menyalakan televisi, tiba-tiba ada yang memainkan rambutnya. Ia menduga kalau pelakunya adalah Takana. Tapi setelah mendongak, ternyata itu Tanaka.
"Apaan? Jangan ditarik-tarik!" Dylan menepis tangan Tanaka dari rambutnya, lalu berdiri dari tempatnya. Tanaka hanya tersenyum sambil memejamkan mata. Lalu tanpa merubah ekspresi, ia bertanya, "Kau dengan adikku sedang bermusuhan, ya?"
"Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Hmm? Jadi kau tidak marah pada Takana, ya?" Tanaka mengangguk, lalu ia menunjukkan sosok Takana yang ternyata bersembunyi di belakang tubuhnya. Ia membujuk adiknya untuk mendekati Dylan. "Ayo, tuh. Dylan gak sedang marah padamu sebenarnya. Kenapa kau takut padanya?"
"Dia ... tidak suka lagi pada Takana." Takana mengetuk kedua jarinya sambil menunduk. Ia masih tak berani mendekati Dylan. Bahkan menatapnya pun masih takut. "Kalau aku dekat-dekat ... nanti aku dibunuh dia."
"Hah?!" Tanaka langsung melirik tajam ke Dylan. Tatapannya itu membuat Dylan takut dan dengan cepat menyangkal perkataan Takana kalau ia tidak ada niat untuk membunuh siapapun. Ia buru-buru mengatakannya sebelum suasana jadi tambah mengerikan karena aura negatif dari Tanaka.
"Tapi Dylan-san bilang, kau tidak mau menjadi Darlingku," ujar Takana lagi. Kali ini, ia memberanikan diri untuk menatap Dylan. "Kalau kamu gak suka, aku tidak akan bisa melawan Oni lagi tanpa bantuanmu."
Dylan menghela napas berat, lalu menyentuh leher belakangnya. Lalu ia berjalan mendekati Takana. Lelaki itu tetap bersembunyi di belakang kakaknya, tapi karena niat Dylan bagus, Tanaka membujuk adiknya untuk menghadap Dylan karena sepertinya, ada yang ingin Dylan katakan.
"Takana, aku tau kau menyebalkan, tapi kau telah mengubah hidupku jadi lebih baik. Ya ... walau gak bagus banget. Tapi sejak aku bertemu denganmu, sekarang aku mendapat tujuan hidupku dan mulai sekarang aku tidak akan nolep lagi." Dylan berjongkok di depan Takana, lalu mengulurkan tangannya. "Sebagai Darling yang baik, aku akan ikut bersamamu. Karena kau adalah Teman Pelindungku."
Mata Takana membulat saat mendengarnya. Ia pun mulai menatap Dylan dan terkejut saat melihat lelaki itu tersenyum samar, walau tak terlihat mencolok. Dylan mendekatkan uluran tangannya, lalu mengangguk pelan. "Aku ingin kau menjadi temanku sekarang. Tolong, ya?"
Setelah sekian lamanya Takana mengajak Dylan untuk menjadi temannya, tapi selalu ditolak. Sekarang akhirnya, Takana mendapatkan jawaban yang sangat diinginkannya. Ia jadi terlihat ceria kembali lalu dengan cepat menggenggam tangan Dylan.
Namun tak lama setelah itu, tiba-tiba saja cahaya biru menyinari tubuh keduanya. Tanaka terkejut melihatnya dan cahaya tersebut juga menarik perhatian yang lainnya. Asuka tahu apa yang terjadi dan ia hanya memandangnya dengan senyuman.
"Mazeru." Secara tak sengaja, Takana berujar lalu seketika sebuah rantai yang keluar dari dalam tubuhnya melesat cepat menusuk jantung Dylan. Lelaki itu hanya kaget dan tidak merasakan sakit. Lalu tak lama, cahaya dan aura biru itu menghilang. Begitu pula dengan rantai tersebut.
Dylan menyentuh dadanya. Ia merasakan ada yang berbeda pada dirinya sekarang. Takana tetap ada di depannya. Ia juga terlihat kebingungan. "A–apa yang terjadi?" gumam Dylan sambil menatap kedua tangannya.
"Kalian kenapa bergabung sekarang?" tanya Divan setelah menghampiri keduanya.
Dylan dan Takana meneleng. "Eh? Bergabung?"
"Loh? Apa selama ini, kalian belum mencobanya?" Lelaki itu melirik ke Takana. "Kau juga tidak pernah bertarung dengan Darlingmu?"
"Ah, aku pernah ... tubuh kami menyatu kayak aku yang memasuki tubuh Dylan." Jawab Takana. Lalu Dylan melanjutkanna. "Prosesnya agak aneh. Tapi aku melakukannya secara tak sadar. Tapi kalau sekarang ... apakah kami sudah bergabung seperti saat ingin bertarung?"
"Tenang saja. Kalian hanya sedang melakukan Teknik Penggabungan Jarak Jauh." Asuka beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri Dylan dan Takana yang masih kebingungan. "Hmm ... yang sering kalian lakukan itu mungkin Penggabungan Secara Langsung. Tapi ada yang berbeda dari Jarak Jauh ini.
"Takana bisa menjauh dari Dylan sampai maksimal satu kilometer. Kalau kelebihan, nanti otomatis, tubuh Takana akan tertarik ke darlingnya. Lalu ..." Asuka berdiri di hadapan Takana. Lalu dengan cepat ia memukul perut lelaki itu sampai terdorong dan jatuh ke belakang.
Takana yang kesakitan pun menggenggam perutnya, lalu menatap ke Asuka. "A–apa yang kau lakukan?"
"Ugh," Setelah Takana, Dylan juga merasakan sakit yang sama. Tapi tak sesakit seperti Takana. Takana kembali bangun lalu kembali menghampiri Dylan dengan cepat.
"Maaf, Takana. Aku hanya mencontohkan." Asuka tertawa kecil. Lalu ia merangkul Dylan yang ada di sampingnya. "Pokoknya kalau dalam penggabungan seperti ini, kalian berdua akan saling merasakan sakit yang sama. Mau itu mental atau fisik. Jika Tuanmu menerima luka, maka darlingnya dapat merasakan luka tersebut sebesar 50% dari luka yang diterima Tuannya.
"Maka dari itu ... kalian berdua harus kuat selalu. Bukan hanya Takana. Tapi Darling juga memiliki tugas. Yaitu sebagai supporter untuk Tuannya. Kau bisa saja mengeluarkan sihir pemberi buff untuk Tuanmu agar dia jadi lebih kuat."
"Seperti di game saja." Gumam Dylan dalam hati. Lalu ia melirik ke wanita itu dan bertanya, "Jadi ... yang selama kami lakukan ini adalah Teknik Penggabungan yang salah?! Sumpah. Aku baru tau kalau ada cara lain seperti ini."
"Hmm ... gabungan yang caranya ciuman, ya?" Asuka bergumam sambil menyentuh bibir. Lalu ia kembali melirik ke Dylan. "Itu sih boleh-boleh aja. Sama seperti Irvan dan Bell. Tapi kan ... mereka sepasang lawan jenis. Sedangkan kalian berdua lain lagi ceritanya."
"Haha ... memangnya tidak ada yang memberitahumu tentang teknik lain dari penggabungan selain harus berciuman?" tanya Zai yang tak bisa menahan tawanya.
"Kata Tanaka ... kami hanya bisa seperti itu."
"Dan kau percaya? Nyahaha ...."
"Eh? Taka–" Dylan menoleh ke belakang. Sebelumnya, lelaki bermata satu itu berdiri di sana. Tapi sekarang sudah menghilang entah ke mana tanpa Dylan sadari.
Karena merasa dibodohi oleh lelaki itu, Dylan jadi tambah kesal dan langsung berteriak untuk menguapkan amarahnya. "DASAR MATA SATU SIALAAAAAN!!"
*
*
*
To be continued–