
Tap tap
Seseorang sedang berjalan di koridor yang gelap dan hanya ada cahaya dari obor yang tertempel di dinding. Tak hanya sendiri. Orang itu juga membawa seekor makhluk kecil menyerupai tupai berkepala kucing yang bisa bicara dan memiliki sayap seperti kelelawar.
Orang itu pun berhenti di depan pintu yang dipenuhi oleh stiker hati. Ia mengetuk pintu tersebut dan seketika pintu itu terbuka dengan sendirinya. Orang itu pun masuk dan menghampiri sebuah singgasana besar dengan boneka kelinci lucu yang menghiasi ruangan tersebut.
Tak lama, seorang lelaki bertubuh kekar dan besar pun muncul dari balik singgasana tersebut. Tatapannya tajam dan wajahnya yang mengerikan. Dia bukan manusia, melainkan Onirida. Fisiknya bertanduk, bermata empat, dan berekor.
Namun bukan sosok itulah sang pemimpin dari tempat tersebut. Melainkan sosok anak kecil yang digendong Onirida bertubuh besar. Dia seorang gadis kecil yang manis dengan pita boneka di rambutnya.
orang yang baru datang itu sampai di depan garis pink. Lalu makhluk kecil yang dibawanya pun turun dari atas pundak orang itu. Mereka berdua menunduk hormat pada sang pemimpinnya.
"Kak Vann udah datang!" Gadis itu turun pelan-pelan dari tempat duduknya yang besar. Dibantu oleh pengawalnya. Lalu ia melompat-lompat kecil menghampiri lelaki yang ia panggil dengan nama Vann tersebut. "Gimana laporanmu? Gimana? Gimana?"
Vann hanya diam saja. Tapi makhluk kecilnya itu menjawab, "Para Oniroshi itu menghilang bersama Lucid dan Lucia. Sepertinya mereka dibawa ke suatu tempat untuk bertarung."
"Oh! Ternyata rumor tentang Oniroshi yang mempunyai kekuatan teleport ke dunia lain itu memang ada!" Gadis itu turun dari atas kepala Vann, lalu ia berdiri di hadapan lelaki itu. Seketika wajahnya berubah, menjadi mengerikan. "Kak Vann~ Aku mau Oniroshi itu bagaimanapun caranya!"
Setelah itu, wajahnya kembali ceria. Ia meneleng sambil tersenyum. "Boleh, ya?"
Vann hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Sebenarnya ia tidak bisa bicara, tapi makhluk kecilnya itulah yang akan mengucapkan apa yang ingin Vann katakan. Makhluk itu bisa tahu apa isi hati Vann.
Makhluk hitam itu membungkuk dan berkata, "Dengan senang hati, akan kami lakukan. Anda harus terlihat senang selalu, Eilena-sama."
Gadis yang bernama Eilena itu tersenyum. Ia terlihat sangat senang sampai melompat-lompat. Ia pun kembali ke atas singgasananya dan duduk di sana. "Aku tunggu kabar baiknya~"
...****************...
Vann dan Makhluk Hitam keluar dari ruangan itu. Makhluk Hitam terbang di samping Vann, lalu hinggap di pundak lelaki itu. Vann mengeluarkan tabletnya. Ia bermain game di dalam tablet tersebut. Game di mana ia akan menjalankan sebuah karakter yang sama persis seperti makhluk hitam miliknya.
"Kalau udah begini, gimana cara menemukan Oniroshi itu, ya? Kita aja gak tau siapa pemilik kekuatan yang diinginkan Eilena-sama." Ujar si Makhluk Hitam.
Sambil tetap fokus ke gamenya, Vann menjawab dalam hati. "Kucing itu udah masuk kayaknya. Dia yang bakal bekerja."
"Ah ya benar! Ayo kita ganggu manusia~"
"Aku lelah. Kau saja sendiri."
"Ah ayolah~" Makhluk itu menarik-narik rambut Vann dengan kakinya sambil terbang. Terpaksa, Vann harus menurutinya. Mereka akan kembali ke hutan sebelumnya, sekalian mengganggu makhluk hidup lain yang bisa mereka temukan.
...****************...
"Aoi Tama!"
Takana menembakkan bola apinya ke arah Lucia. Sementara Lucia mengarahkan beberapa bom mochinya ke Takana. Takana mundur cepat ke belakang untuk menghindari setiap ledakan tersebut. Sambil sesekali ia menyerang kembali dengan mana-nya.
Tak hanya sendiri. Takana juga dibantu oleh Lea. Mereka bekerja sama untuk mengalahkan Lucia. Sementara Lucid sibuk meladeni Zai dan Tanaka. Tapi karena lawannya adalah Oniroshi terkuat, Lucid jadi tidak bisa bertahan lama dan memilih untuk terus menghindar karena Tanaka terlalu brutal.
"Woy, iblis! Mau ke mana, kau? Tadi sok gaya banget mau lawan-lawan, ya?" Tanaka terus menembakkan bola apinya pada Lucid. Lalu ia melesat cepat sampai tanah yang diinjaknya hancur, lalu seketika tubuhnya muncul di depan Lucid.
Iblis itu terkejut dengan kehadirannya. Dengan cepat, Tanaka langsung meninju wajah makhluk itu sampai terpental jauh. Lucid tidak terjatuh. Ia menggunakan cambuk ularnya sebagai penyeimbang tubuh, lalu kembali berdiri tegak. Ia mengelap darah di bibir, lalu menyiapkan senjata kembali.
Namun saat menatap ke tempat lawannya, ia tak melihat Tanaka di manapun. Lucid melirik sekitar. Sampai akhirnya, ularnya dapat melihat Tanaka sudah berada di belakang tuannya. Dengan cepat, Lucid berbalik badan lalu menyilangkan tangan ke depan.
Tanaka kembali memukul iblis itu dengan tinju berapi. Lucid berusaha menahannya, tapi pada akhirnya ia terpental kembali dan tak kuat menahan serangan dari Tanaka. Tubuh Lucid menabrak salah satu pohon. Ia segera bangkit, lalu memanfaatkan beberapa pohon di sana untuk tempat bersembunyi.
"Nee~ Jangan main petak umpet, dong." Tanaka meneleng sampai poni panjang yang menutupi mata kanannya terbuka dan mata bolongnya yang mengeluarkan darah pun terlihat. Lelaki itu menyeringai, lalu berlari cepat menghampiri tempat persembunyian Lucid.
Saat sampai di sana dalam hitungan detik, Tanaka tak melihat siapapun. Ia menoleh dan akhirnya menemukan Lucid sedang mencoba untuk melarikan diri sambil menyiapkan senjatanya.
"Jadi kau mau bermain kejar-kejaran denganku, ya?" Aura biru menyelimuti tubuh Tanaka. Lelaki itu menyilangkan tangan ke depan, lalu mengucapkan jurusnya. "Kuikku Irashu." Aura biru tersebut membentuk menjadi sebuah gumpalan cahaya yang kemudian berubah bentuk menjadi elang berapi.
"Ayo kejar dia! Kejar!! Haha!" Tanaka tertawa kegirangan melihat lawannya dikejar-kejar oleh elang api miliknya. Lalu tak lama kemudian, kepala Zai muncul dari bawah tanah samping Tanaka.
"Oy, aku kapan nyerangnya? Kau terlalu serakah!"
"Diam kau, tikus tanah!" Tanaka menginjak kepala Zai sampai temannya itu terpendam ke dalam tanah. Karena kesal, Zai membuat lobang di tanah yang dipijak Tanaka dan alhasil, lelaki itu terjatuh ke dalam lubang tersebut.
Tanaka ingin balas menyerang, tapi temannya itu sudah tidak ada di dekatnya. Ternyata Zai keburu kabur duluan dengan melewati jalur bawah tanah. "Tanaka ngamuk, ngeri cuy."
Asuka melirik sekitar. Ia melihat Takana dan Leaa yang masih melawan Lucia. Wanita itu tersenyum, lalu menunjuk ke arah yang dilihatnya. "Lebih baik kau bantu mereka saja. Tanaka bisa menghadapi satu orang. Jadi kau bantu mereka aja."
"Huff ... membosankan–"
"Hati-hati!!"
"Aaakh!!"
"Eh?!" Asuka dan Zai mendengar suara Fely, lalu disusul dengan teriakan seseorang di belakangnya. Asuka berbalik badan dan Zai langsung melompat ke belakang.
"Kau?!" Zai melotot melihat makhluk lain yang tiba-tiba datang. Makhluk itu adalah si Onirida Kucing Hitam, musuh bebuyutannya Tanaka. Ia melihat Fely melindungi Dylan, Fely dan Irvan dengan perisainya.
"Shikoo!!" Asuka terkejut melihat seorang Oniroshi baru yang bernama Shikoo ditusuk pedang tepat di perutnya oleh Onirida Kucing. Wanita itu langsung menyiapkan busur dan menembakkan anak panah ke arah si Onirida.
Namun sebelum itu, tiba-tiba tanah bergetar hebat. Langit terlihat terbelah dan kemudian hancur menjadi pecahan kaca. Seketika sekitar mereka jadi gelap gulita.
Lucid dan Lucia bergerak cepat ke arah Onirida Kucing. Tanaka ingin mengejarnya, tapi tak sempat karena ketiga Oni itu keburu menghilang setelah si Onirida Kucing mencabut pedangnya dari perut Shikoo.
Setelah mereka menghilang, daratan hitam yang mereka pijak kembali bergetar. Lalu tak lama, tubuh Takana, Tanaka, Dylan dan Zai mengeluarkan cahaya biru. Mereka awalnya keheranan, tapi mulai terkejut saat melihat perlahan tubuhnya menghilang.
"Eh, kak! Ada apa denganku?!" Dylan ingin menyentuh kakaknya, tapi sudah tidak bisa. Begitu juga dengan Fely yang ingin menyentuh adiknya, malah tembus. Tak lama, orang yang diselimuti cahaya tersebut akhirnya menghilang.
Fely menghilangkan perisainya. "Asuka! Apa yang terjadi?!" Ia menghampiri wanita itu, lalu menutupi luka Shikoo dengan benang merahnya.
"Kalau Shikoo terkena damage, kekuatannya jadi tak terkendali. Dia ... bisa memindahkan orang lain ke tempat manapun termasuk dunia lain yang berbahaya." Jelas Asuka. Lalu tak lama, tubuhnya juga mengeluarkan cahaya biru. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua akhirnya meninggalkan dunia yang gelap itu.
...****************...
Asuka, Fely, Leaa, Shikoo, Irvan dan Bell ternyata kembali ke dunia manusia. Tempatnya juga masih sama. Yaitu di dalam hutan. Tapi di sana tidak ada teman mereka yang lainnya. Sepertinya yang lainnya telah dipindahkan ke dunia lain secara tak sengaja.
"Kira-kira di mana adikku berada sekarang?" tanya Fely cepat. Ia cemas kalau adiknya akan dalam bahaya di tempat lain.
Asuka menenangkan Fely dengan perkataannya. " Dia dikelilingi oleh Oniroshi yang hebat. Jadi tenang saja. Dia bakal aman. Tapi sekarang ... kita harus kembali."
"Tunggu, aku merasakan aura Onirida lain di sini." Jambul tumbuhan yang ada di atas kepala Lea mulai berinteraksi dan bergerak sendiri. Menandakan kalau sekitarnya sedang tidak aman.
"A–ada apa– aw!" Kepala Fely tiba-tiba dipukul seseorang. Proses penyembuhan Shikoo jadi terhenti karena hal itu. Dengan cepat, ia langsung menoleh ke belakang. Di sana hanya ada Bella yang sedang memeluk Irvan. "Bell, kenapa kau memukulku?"
"Eh, sejak kapan?" Bell menggeleng cepat. Ia bersumpah tidak melakukan itu. Tak lama, Fely didorong oleh seseorang sampai terjatuh. Ia terkejut karena tidak melihat pelakunya. "Si–siapa yang melakukannya?! Ayo ngaku!"
"Ada Oni yang tak terlihat. Mungkin itu dia."
"Eh, Irvan! Kau udah bangun? Ada yang sakit?" tanya Bell cepat. Irvan bangun terduduk, lalu menatap Asuka yang berjalan menghampirinya.
"Apa maksudmu Oni yang tak terlihat?" tanya wanita itu.
"Saat Bell diculik, aku sempat diganggu oleh sesuatu yang tak terlihat. Kalau itu hantu, tidak mungkin. Karena aku merasakan aura kuat saat itu. Aku pikir, sesuatu yang tak terlihat itu adalah Oni." Jelas Irvan. Sebelum Asuka membalasnya, tiba-tiba Fely kembali diserang. Hal itu membuatnya terganggu saat berusaha menyembuhkan Shikoo.
"Ugh, siapa, sih?!" Karena kesal, Fely membentuk perisai tak terlihat yang besar. Sampai bisa melindungi semua teman-temannya juga.
"Eh, lindungi Shikoo!" Asuka meminta semuanya untuk bersiap.
"Eh ada apa?" tanya Bell.
"Ada Onirida yang mengincar Shikoo."
Di lain tempat yang jaraknya tak jauh dari para Oniroshi, seorang Onirida duduk di atas dahan pohon sambil mengayunkan kakinya. Dia memegang tab besar yang menjadi senjatanya. Dialah Vann.
"Yah, ketahuan, deh."
*
*
*
To be continued –