Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 68– Supermarket (2)



"Nah, ayo, habisi mereka semua!"


Fely menonaktifkan perisainya, lalu dengan cepat Irvan menendang Oni itu sampai terpental jauh dan menabrak tempat buah-buahan. Setelah ada kesempatan, Fely dan Bell pun pergi. Begitu juga dengan Takana yang masih berlarian di sekitar sana hanya untuk mencari Dylan. Sepertinya memang tidak mudah dan yang ia khawatirkan, takutnya Dylan sudah lebih dulu tertangkap oleh Oni.


"Dylan-san, bertahanlah, aku datang! "


...****************...


"Eh? Ada apa di depan?"


Dylan mendengar suara keributan dari luar pintu. Saat ini dirinya sedang berada di toilet untuk mencuci muka. Ia ingin menenangkan diri di sana, tapi malah mendengar suara gaduh dari depan. Jadi ia pun memutuskan untuk keluar.


Namun saat membuka pintu, Dylan dikejutkan oleh seekor Oni besar yang lewat di sana. Ia pikir, makhluk itu tidak melihatnya, jadi ia akan keluar secara diam-diam. Sebelum itu ia menoleh ke arah Oni tadi yang lewat ke sebelah kanannya. Saat dicek, Oni tersebut telah hilang.


Merasa sudah aman, Dylan pun buru-buru keluar dari kamar mandi. Tapi mendadak benturan keras dari samping menghantam dirinya sampai tubuh Dylan menabrak rak makanan. Dengan cepat ia membuka mata, lalu kembali berdiri dan lari tanpa tujuan. Ternyata ada Oni lain yang melihatnya dan menyerangnya. Dylan tidak tahu ada berapa banyak Oni di gedung itu. Yang penting sekarang ia lari saja dan mencari teman-temannya yang lain.


Dylan tidak lupa jalan. Ia akan kembali ke tempat penyimpanan minuman dingin karena di sana lah teman-temannya berkumpul tadi. Kalau tidak ketemu, ia akan langsung keluar dari gedung supermarket itu tanpa mempedulikan yang lain.


Dylan memasuki tempat penyimpanan peralatan dapur. Dari sana, ia melihat kilatan cahaya seperti ada seseorang yang sedang bertempur di sana. Dylan akan menghampiri tempat itu untuk meminta bantuan. Lagipula sekarang Oni yang mengejarnya sudah tak terlihat di belakang. Mungkin makhluk itu kehilangan jejak Dylan.


"Ta–Taka–"


Dylan yakin cahaya yang dia lihat itu adalah Mana dari Takana. Tapi saat ingin memanggil temannya itu, Dylan terkejut dengan kehadiran Oni di depannya yang tiba-tiba muncul dari atas rak-rak di sampingnya. Oni Itu juga menjatuhkan beberapa barang termasuk pisau yang nyaris mengenai Dylan kalau lelaki itu tidak cepat pergi dari tempatnya.


Dylan kembali berlari ke arah sebaliknya. Oni Itu tentu tidak ingin kehilangan Dylan lagi. Jadi ia menjatuhkan rak di sana untuk menghentikan Dylan. Lelaki itu mempercepat larinya sebelum rak-rak besi di sana akan menimpanya.


Oni yang berada di atas rak pun melompat dan menghalangi jalan Dylan lagi. Sekarang tak punya banyak waktu, Dylan sudah terjebak. Dengan cepat ia melindungi kepala dan sekuat tenaga ia akan menahan rak yang ingin jatuh menimpanya. Tapi rak tersebut terlalu berat. Dylan sampai jatuh terduduk untuk menahannya, sementara ia juga harus berusaha menghindari cakar si Oni yang ingin menyerangnya lewat celah yang ada.


"Ugh, TA–TAKANAAAA!!" Dylan berteriak. Berharap orang yang dipanggilnya itu akan datang. "A–aku sudah gak kuat–"


"Khiiik!"


Suara jeritan dari Oni pun terdengar. Seketika tangan panjang dengan cakar yang berusaha menyerang Dylan itu pun berubah menjadi abu. Lalu tak lama, ada seseorang yang mengangkat rak di hadapan Dylan dengan mudahnya. Orang itu adalah Takana sendiri.


"Dy–Dylan-san di sini! Aku akhirnya menemukanmu!"


Dylan kembali berdiri secara perlahan, lalu menyentuh lengan kirinya. Bagian sana mulai sakit karena benturan pertama tadi, ditambah ia harus menahan beban yang berat. "Di mana yang lainnya?"


"Mereka sedang melawan Oni."


"Kenapa mereka bisa tiba-tiba muncul?" tanya Dylan, lalu mengambil sebuah panci sebagai alat pertahanan dirinya. Ia juga tidak ingin membebankan Takana.


"A–aku tidak tahu, Dylan. Tapi karena aku sudah menemukanmu sekarang, ayo aku pinjam kekuatanmu dan kita lawan Oni bersama Irvan."


"Eh, Irvan sekarang sedang solo?!"


"I–iya. Aku harap dia masih kuat."


"Ah, ayolah!" Dylan mengulurkan tangan pada Takana. Takana pun menggenggamnya, lalu seketika dari dadanya muncul rantai bercahaya yang menusuk dada Dylan. Seketika itu juga, mata Dylan pun berubah biru seperti Takana. Lalu mereka berdua pergi untuk membantu Irvan menghabisi Oni yang berbuat kerusuhan di tempat itu.


...****************...


BUK! BUAK!!


Di tempatnya, Irvan meluncurkan beberapa pukulan keras dengan kepalan tangannya yang sudah dikelilingi oleh aura embun air. Membuat tangannya tak terasa sakit saat memukul, tapi begitu berdamage saat terkena lawannya. Setelah terkena pukulan tersebut, Oni Itu langsung terjatuh. Kemudian tanpa membuang waktu, Irvan menginjak bumi dan seketika muncul batang air mancur yang deras sampai dapat menusuk tubuh Oni itu dan mati.


Irvan terus menggunakan trik tersebut untuk melawan Oni lainnya juga. Sepertinya dia bisa menanganinya sendirian dengan mudah. Tapi karena ada masalah pada perutnya saat ini, membuat Irvan jadi tak bisa bergerak bebas. Ia terus mengeluh dalam hati kalau perutnya sakit. Sekarang masih ada 5 Oni yang tersisah.


Irvan terkepung di sana. Napasnya mulai terengah-engah. Ia mengelap keringat di dagu. Ia akan menyelesaikannya sekarang juga. Ia mulai menutup mata dan fokus, lalu ia melompat tinggi sambil berputar dan mendaratkan kedua kaki dan satu tangan kanan secara bersamaan. Hentakan kakinya membuat lantai di sekitarnya retak dan dari tangan kanannya itu mengeluarkan pola lingkaran berlambang embun yang tak lama kemudian dari sana muncul ombak besar yang membuat para Oni di sekelilingnya jadi terpental ke segala arah.


Semua Oni telah dilumpuhkan. Sekarang saatnya serangan terakhir untuk penyelesaian. "Mizu–"


"Biar aku saja, Van!" Takana akhirnya muncul. Ia melompat di atas Irvan, lalu mendarat di atas lemari pendingin. Di sana Takana melemparkan beberapa bola api ke sasarannya yaitu para Oni yang telah terjatuh. Setelah terkena serangan itu, para Oni pun berubah menjadi abu.


"Fiuh, maaf aku datang telat, Van."


"Kau baik-baik saja, kan?"


Irvan mengangguk. "Mules dikit."


"Udah semua, kan?" tanya Dylan.


"Iya, gak ada lagi." Jawab Takana. Lalu ia berkacak pinggang. "Aku heran, kenapa mereka bisa tiba-tiba datang, sih?"


"Kayaknya mereka tau kita di sini." Jawab Fely yang baru datang. Semua orang telah dievakuasi dan tidak ada korban jiwa, hanya ada beberapa yang terluka. Tapi semua itu sudah ditangani oleh polisi setempat. "Kalau begitu, kita pulang aja, deh. Belanjanya lain kali saja."


"Asik~ makan mie lagi!" Takana terlihat senang. Tapi tidak dengan Dylan. Sebenarnya ia tidak terlalu suka makanan berkuah termasuk sayur. Daripada tidak makan, terpaksa ia akan makan apa aja yang ada di rumah.


"Kenapa gak ambil aja dari sini? Mumpung lagi gak ada orang." Dylan memungut makanan yang belum rusak. Sebagian besar makanan di sana masih bagus, sisahnya rusak karena amukan Oni tadi.


"Gak boleh ngambil kalau belum bayar." Fely merebut makanan dari tangan Dylan, lalu meletakkan makanan itu ke tempatnya. Lalu ia menarik tangan Dylan. "Sekarang ayo pulang."


"Oke, oke. Jangan tarik-tarik, aku bukan anak kecil!" Dylan menarik tangannya dari kakaknya, lalu mengantungkan tangannya. Ia jalan duluan, salu tak lama berbalik badan. "Kak, aku mau ke toko buku. Anterin, yuk!"


"Oh, kalian sudah mau pergi? Kalau begitu kami duluan, ya?" Bell melambai. Mereka berdua memutuskan untuk pulang dan saat sore hari, mereka akan mampir ke toko lain untuk membeli buah.


Setelah Bell dan Irvan pergi, Dylan, Takana dan Fely juga pergi. Tapi mereka mau ke toko buku dulu karena permintaan Dylan.


...****************...


Saat tiba di sana, Dylan langsung menghampiri tak tempat buku komik. Takana juga mengikutinya. Sementara Fely di depan kasir ingin berbicara dengan teman lamanya yang merupakan seorang kasir di sana.


"Ternyata buku yang liris hari ini banyak juga." Gumam Dylan sambil mencari buku yang ia cari di satu rak. Tak menemukannya di sana, Dylan pun pindah tempat mencari ke rak yang lain.


Lalu tak lama kemudian, Takana yang habis melihat-lihat dari rak kelima pun datang menghampiri Dylan sambil menunjukkan sesuatu. "Dylan-san! Buku yang ini ada gambar yang mirip kayak aku dulu. Lihat! Aku masuk ke buku!"


Dylan pun memerhatikan buku yang dipegang Takana itu. Lalu ia merebutnya. Ternyata buku yang ditemukan Takana adalah buku yang ia cari-cari. "Darimana kau dapat ini?"


Takana menunjuk ke rak kelima tempat ia melihat-lihat tadi. "Ada banyak di sana. Mau beli semua, kah?"


"Ya enggak lah! Buat apaan?"


"Hoo ... Tapi buku itu kayaknya seru. Kalau Dylan-san suka, pasti asik ceritanya, ya? Apalagi di sana kok ada gambar aku?"


Dylan memperhatikan sampul buku komik itu. Ternyata karakter yang mirip dengan Takana di jilid sebelumnya telah menjadi karakter penting dalam komik. Makanya sampai masuk ke cover.


"Hanya kebetulan. Komikusnya gak sengaja gambar karakter yang mirip kayak kamu, kali."


"Tapi pas aku liat komik itu, aku jadi ingat dengan temanku dulu. Dia ... suka banget gambar. Tapi sekarang, dia sudah meninggal karena insiden 10 tahun lalu."


Dylan terkejut mendengarnya. "Eh? Kejadian pas kapan? Apa kalian para Oniroshi memiliki masa lalu yang suram?"


"Hehe ... bukan begitu, Dylan-san." Takana menggeleng cepat, lalu tersenyum kecil. "Ah, lupakan saja. Ayo kita pulang. Onee-chan sudah menunggu." Lalu ia pergi duluan ke kasir.


Dylan juga akan pergi dari tempat itu. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang sampai buku yang dipegang Dylan terjatuh. Begitu juga dengan buku si gadis kecil yang menabrak Dylan.


"Ah, ma–maaf!" ucap gadis itu cepat dan langsung mengambil bukunya kembali, lalu pergi.


Dylan pun mengambil kembali bukunya yang jatuh, lalu menatap si gadis kecil yang menabraknya tadi. Tapi begitu dilihat, anak itu menghilang. Dylan pun memerhatikan bukunya. "Ada apa dengan anak itu? Untungnya gak ketuker bukunya."


*


*


*


To be continued–