
____________________________________________
****
*Takana Utsuki
Apa yang telah terjadi pada Dylan-san? Aku tidak tahu. Saat kami melihatnya, dia sudah terjatuh begitu saja di depan pintu belakang dekat dapur. Sungguh! Ini bukan salahku, kan?
Onee-chan membalikkan tubuh Dylan-san lalu mengangkat sedikit. Matanya mengernyit dan ia juga menahan rasa sakit yang ia rasakan di dadanya.
"Apa yang terjadi? Kau kenapa, Dylan?" tanya Onee-chan cemas.
Matanya sedikit terbuka. Melirik ke kakaknya dan berkata, "Kak, sepertinya aku kumat lagi." Nada suaranya terdengar pelan.
Onee-chan menggeleng pelan. "Kau harus minum obatmu lagi. Ayo ke kamarmu!"
Onee-chan mengangkat dan membantu Dylan-san berdiri kembali. Lalu ia merangkul Dylan-san sampai ke kamarnya. Aku dan Onii-chan mengikuti mereka berdua dari belakang.
Di kamar, Onee-chan mendudukkan Dylan-san ke atas tempat tidurnya. Setelah itu, Onee-chan membuka beberapa lemari di dalam kamarnya. Dylan-san sendiri masih saja memegang dadanya. Apakah benar-benar terasa sakit?
Onee-chan ternyata mencari kotak obat. Dan akhirnya, ketemu juga! Onee-chan mengangkat kotak obat itu ke atas tempat tidur Dylan-san dan meletakkannya di samping Dylan-san duduk.
Perlahan, Onee-chan membersihkan debu yang menempel di kotak obat itu dan berpikir, "Obat Dylan pasti sudah habis. Karena, sudah lama aku tidak membelikannya. Semoga saja masih ada sisah."
Setelah membersihkan kotaknya itu, ia pun membuka kotak obatnya dan terkejut. Karena, di dalam kotak itu masih tersedia banyak plastik bungkusan kecil berisi obat berbentuk kapsul berwarna merah. Obat itu milik Dylan-san yang berguna untuk mencegah gejala penyakit Anemia-nya. Begitu, sih setahuku.
Sebagian obatnya ada yang sudah kadaluarsa, dan ada juga yang masih baru dan bisa diminum. Onee-chan beruntung ia bisa mendapat obat yang masih bagus untuk Dylan-san itu. Tapi, ia juga merasa geram pada Dylan-san karena....
"Dylan! Kenapa obatmu masih banyak? Apa selama ini kamu jarang minum obat?!" tanya Onee-chan sedikit membentak.
"Aku malas meminumnya." Itulah jawaban Dylan-san dengan santainya.
"Kenapa? Apa kau tidak mempedulikan keadaanmu?!"
"Aku tidak tahu." Mata Dylan-san melirik ke arah lain dan tidak melirik ke kakaknya lagi.
"Ah, sudahlah! Sekarang minum obatnya. Jangan sampai menunggu jantungmu berhenti berdetak. Kakak tidak ingin hal itu terjadi!" Ocehan Onee-chan semakin keras. Ia pun membuka bungkusan itu, lalu memberikan satu buah kapsul merah itu pada Dylan-san. Dylan-san menerimanya dengan malas. Ia memasukan kapsul itu ke dalam mulutnya, lalu meneguk segelas air putih yang ada di atas mejanya.
Setelah itu, Dylan-san hanya terdiam saja. Lalu, tak lama kemudian, tangan kanan yang memegang dadanya itu beralih ke kepalanya. Ia mencengkram kuat rambutnya itu, mengeluh kesakitan pada kepalanya. Wajahnya seketika terlihat pucat. Aku jadi khawatir dengan keadaannya!
"Dylan, kau tidak apa-apa, kan?" tanya Onee-chan cepat.
"I, iya! Aku baik. Aduh...."
"Ya sudah kalau begitu, kau beristirahatlah dulu!" Kata Onee-chan sambil membaringkan tubuh Dylan-san secara perlahan, lalu ia juga menyelimutinya dengan selimut tebal miliknya. Selimut yang hangat sepertinya.
Lalu setelah itu, Onee-chan meraba kening Dylan-san. Ia tersentak dan langsung mengibaskan pelan tangannya. "Panas sekali." Itu gumamnya.
Sepertinya, Dylan-san mendengar gumaman Onee-chan nya. Matanya melirik ke arah kakaknya dan sesekali ia memejamkan matanya sambil menahan rasa sakitnya. Wajahnya benar-benar sudah seperti orang mati dan tubuhnya lemas sekali. Aku merasa cemas sekali karena Darling-ku sedang sakit parah. Aku menganggapnya begitu. Tapi, mungkin saja Dylan-san hanya demam dan kelelahan. Jangan sampai ada hal buruk yang menimpa dirinya.
Aku meminggir. Memberikan jalan untuk Onee-chan yang berjalan cepat keluar kamar Dylan-san. Ia pergi ke dapur. Lalu tak lama kemudian, sosoknya kembali lagi memasuki kamar. Ia membawa wadah kecil berisi air dingin dan saputangan kecil.
Onee-chan memeras saputangan yang absah itu, lalu menempelkannya ke dahi Dylan-san. Sepertinya, Dylan-san sedang di Ashukusuru. Tapi, biasanya kalau dalam bahasa Indonesia itu artinya Kompres. Mungkinkah begitu?
Setelah Onee-chan meletakan saputangan yang dingin dan sedikit basah itu, keadaan Dylan-san jadi lebih baik. Sepertinya enak dan nyaman. Kok aku juga mau seperti itu, ya? Hehe....
"Beristirahatlah dulu dan selalu minum obatmu secara teratur!" bisik Onee-chan pada Dylan-san.
Dylan-san hanya mengangguk saja. Lalu tak lama kemudian, ia kembali menutup matanya. Seketika, tubuhnya tidak bergerak lagi. Yang bisa kulihat hanya pergerakan nafas di perutnya yang sepertinya sudah bisa bernafas secara normal. Syukurlah, dia baik-baik saja. Semoga cepat sembuh, Dylan-san!
****
Chapter 30: [ Sakit ]
****
KRIIEEETT...
Onee-chan menutup pintu kamar Dylan-san secara perlahan. Di dalam kamarnya, Dylan-san sudah tertidur dengan tenang. Kami semua membiarkan Dylan-san untuk berada di dalam kamarnya sampai ia kembali sehat lagi dan bisa bermain denganku. Tapi, semoga saja setelah Dylan-san sembuh, ia mau bermain denganku.
Pagi ini baru jam 7. Di luar, hujan sudah berhenti tapi kenapa langitnya masih gelap? Aku merasa ada yang aneh dengan langitnya hari ini. Tapi, aku masih menduganya kalau iklim alamnya memang sedang musim hujan dan langit selalu mendung berawan hitam seperti saat ini.
Aku sedang menatap keluar jendela yang ada di ruang tamu. Menatap langit gelap itu. Akan ada pertanda apa ini? Aku merasakan sesuatu.
"Takana-Chan ke sini sebentar!"
Aku terkejut. Tiba-tiba saja, Onii-chan memanggilku. Aku pun pergi meninggalkan ruang tamu itu dan berjalan menghampiri Kakakku. Eh, tapi di mana dia? Aku tidak menemukan dirinya. Tapi aku hanya bisa mendengar suaranya saja.
Ah itu dia! Ternyata dia sedang duduk di pinggiran jendela yang terbuka sambil menatap langit gelap di depan sana. Angin kencang berhembus memasuki ruangan lewat jendela yang terbuka itu. Aku berjalan mendekati Onii-chan ku.
"Ada apa, Onii-chan?" tanyaku.
"Lihat langitnya. Apa kau sudah menyadari sesuatu?" tanya Onii-chan tanpa menengok ke arahku. Pandangannya tetap terpaku pada langit yang penuh dengan awan hitam di atas sana.
"Iya. Ternyata Onii-chan juga begitu!" aku mengangguk. Lalu, setelah itu aku mengeluarkan kepalaku dari jendela. Mendongak ke atas menatap langit yang buruk itu.
Gelap sekali. Langitnya hanya ditutupi awan saja, kok! Tapi, aku juga masih belum tahu langitnya benar-benar jadi hitam atau memang tetap biru.
"Sepertinya ini 'dia'" Onii-chan mulai bergumam. Aku terkejut dan langsung menengok ke arahnya.
"A, apa? 'Dia' siapa?"
"Si...."
PUK!
"Takana!"
Aku terkejut. Saat aku sedang fokus pada Onii-chan ku, tiba-tiba saja Onee-chan datang menepuk punggungku. Aku berbalik badan menghadap ke arahnya.
"Bikin kaget saja. Ada apa Onee-chan?" tanyaku dengan ekspresi yang masih terlihat kaget.
"Kau bukannya sekolah hari ini!"
Oh iya sekolah! Aku lupa. Sekarang mumpung masih jam tujuh lewat. Seharusnya kelas sudah masuk. Tapi, semoga saja diundur sedikit waktunya. Jadi, masuk kelas jam 8 saja.
"Gomennasai! (Maafkan aku!) Aku akan bersiap sekarang!" Dengan cepat aku berkata seperti itu. Dan dengan cepat juga aku pergi ke kamar mandi, berganti pakaian, lalu kembali lagi ke hadapan kedua kakakku.
"Aku sudah siap! Tapi..., mungkin saat ini, aku akan terlambat!" panikku.
"Tenang saja, Takana-Chan. Onii-chan mu yang baik ini akan menghantarkanmu dengan cepat!" Kata Onii-chan dengan senyum khasnya itu. Ia beranjak dari jendela, lalu menghampiriku. Ia menepuk kepalaku dan berkata, "Kau tidak akan terlambat jika ada aku. Ayo cepatlah!"
Aku mengangguk pelan. Onii-chan berjalan mengarah ke pintu depan dekat dengan ruang tamu. Aku juga mengikutinya dari belakang. Onee-chan melambai padaku dan mungkin juga pada Onii-chan. "Semoga harimu menyenangkan, Takana!" ia berteriak menyemangati ku.
Aku sekolah hanya seorang diri saja. Dylan-san sedang sakit. Jadi, di sekolah nanti, aku mau bermain dengan siapa? Kan teman terbaik yang ku punya cuma Dylan-san saja. Walaupun dia sendiri belum menerima diriku sebagai temannya, sih....
"Takana-Chan, ayo naik ke punggungku." Ajak Onii-chan sambil menunjuk ke belakangnya dengan posisi jongkok.
Aku menelengkan kepalaku. "Onii-chan sedang apa? Bukankah kita naik mobil?"
"Sudahlah naik saja."
"Naik saja cepat!"
"Huh, terserah lah." Onii-chan mau ngapain, sih?
Aku mendekati tubuhnya. Memeluk belakang dan mengalungkan tanganku di lehernya. Onii-chan mulai mengangkat tubuhku. Lalu, berdiri. Ia menggendongku di belakangnya.
"Kau sudah siap?" bisik Onii-chan.
"I, iya. Ayolah cepat. Nanti aku terlambat!"
"Oke."
Eh?! Tunggu dulu! Aura ini, kan..., Eh! Jangan bilang kalau Onii-chan akan menggunakan powernya!
"Cho no Hayakushu!"
ZWUUUUNG....
"Kyaaaaa!"
Power lari secepat kilat yang biasa disebut dengan Cho no Hayakushu itu telah membuatku terkejut dan hampir terpental dari tubuh Onii-chan. Sungguh cepat. Tapi, menurut Onii-chan ku, biasa saja! Aaaa-! Aku tidak tahan lagi. Hembusan anginnya menabrak wajahku!
****
Tapi, untungnya aku sampai ke sekolah hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari satu menit saja, kok! Haduh, kekuatannya sih memang menakjubkan, tapi sudah membuatku pusing dan sekarang rambutku semakin acak-acakan, kan!
Aku turun dari atas punggung kakakku. "Takana-Chan, di sini kan sekolahmu?"
Tanpa berkata apa-apa, aku menengok ke belakang. Aku terkejut! Karena gedung sekolah yang ada di hadapanku ini bukanlah gedung sekolah yang biasa ku masuki dengan Dylan-san!
Secepatnya aku menengok ke Onii-chan lagi sambil mengibaskan tanganku ke depan dan menggeleng cepat. "O, Onii-chan! Ini bukan sekolahku!"
"Eh? Benarkah?" Ia membesarkan matanya karena terkejut juga. Lalu, ia sedikit berpikir dan tak lama kemudian, kepalanya kembali menengok ke arahku. "Takana-Chan, ayo naik lagi. Kali ini, beritahu aku nama sekolahmu yang benar!"
"Iya, baiklah!"
Haduh, terpaksa aku harus menaiki punggungnya lagi dan merasakan pergerakan Cho no Hayakushu yang super cepat dan super tidak enak itu.
ZUUUNGG....
****
Di sekolah-
"Hari ini Takana tidak masuk? Dia kenapa?" tanya Irvan-san pada dirinya sendiri di dalam hati. Matanya terpaku pada kursi kosong milikku dan Dylan-san yang ada di kelas.
Guru yang ada di depan baru mengabsen murid-murid yang ada di kelas. Lalu tak lama kemudian....
WUUUUSHHH!
Angin berhembus sangat kencang di dalam kelas. Lalu, Irvan-san melihat ada cahaya berwarna merah muda yang melesat dengan cepat dari pintu keluar kelas ke jendela yang ada di dekat kursi milik Dylan-san itu. Seketika, Irvan-san kembali dikejutkan dengan kehadiranku yang mendadak di kursiku.
Semua murid hanya kaget sedikit. Lalu, mereka kembali fokus pada gurunya yang sedang mengabsen di kelas.
Aku menghembuskan nafas lega. Mereka semua tidak mencurigai kehadiranku dan Onii-chan berhasil keluar lewat jendela di dekat kursi Dylan-san itu. Untungnya jendela itu sedang terbuka. Aku berhasil memasuki kelas! Yeay!
"Dylan Leviano?"
"...."
Guru yang di depan itu memanggil nama Dylan-san. Semuanya menengok ke belakang. Ternyata Dylan-san tidak ada.
"Dylan tidak ada?" tanya Guru itu. Lalu, matanya melirik ke arahku. Aku tersentak. Aku pun menjawab, "Dylan-san sedang sakit!"
Guru itu mengangguk paham sambil menulis huruf S dalam kolom kehadiran di absen itu. Lalu, ia kembali melanjutkan absen yang lainnya.
Aku memperhatikan guru itu sambil duduk manis di kursiku. Lalu, tak lama kemudian aku mendengar suara murid lain yang sedang berbisik. Tepatnya, kedua murid itu duduk di depan tempatku. Mereka kalau tidak salah, si Kiky dan Diana.
"Kemarin, Takana yang tidak hadir Study tour. Dan sekarang, si Dylan lah yang gak masuk ke sekolah." Kata Diana.
"Iya. Mungkin, Dylan sakit karena Study tour kemarin. Dan sekarang, Takana yang sudah sembuh akhirnya masuk sekolah." Timpal Kiky.
"Iya. Mungkin saja begitu!"
Pembicaraan mereka diakhiri. Dan sekarang, aku sendirian lagi. Bosan rasanya kalau tidak ada Dylan-san.
"Hei, Takana!"
Secepatnya aku kembali mendongak. Seseorang telah memanggil namaku. Ah, ternyata itu Kiky. "A, ada apa?" sahutku.
"Kau sepertinya sedang sendirian. Di mana si Dylan?" tanyanya.
"Hmm..., Dylan sakit."
"Sakit apa?"
"Demam."
"Oh begitu." Kiky terdiam sejenak. Lalu, ia kembali membuka mulutnya. "Eh, kau pasti kesepian kalau tidak ada Dylan. Jadi, bagaimana kalau kamu main sama aku aja nanti. Mau gak?"
Aku tersentak sekaligus senang. "Eh?! Benarkah?"
"Iya. Nanti kita ke kantin bersama-sama, ya?"
"Ba, baiklah!"
Waaahh.... Aku senang sekali! Akhirnya, mereka yang ada di kelas ini mau bermain denganku. Walaupun tidak ada Dylan-san, tapi setidaknya aku bisa bermain dengan orang lain.
****
Di rumah Dylan-san-
"Nah, Dylan, waktunya membasahi saputangannya lagi." Ujar Onee-chan sambil mengangkat sebuah kain kecil yang sedikit basah itu.
"Terserah saja." Cuek Dylan-san.
"Nah, sekarang kamu makan dulu, ya?"
"Tidak, kak! Aku masih kenyang. Sarapan nasi yang tadi pagi masih tersimpan banyak di dalam perutku."
"Oh, baiklah kalau begitu. Sekarang, kakak akan keluar dulu. Kau tetaplah beristirahat." Sebelum beranjak pergi, ia kembali meraba kening Dylan-san lagi. "Kau sepertinya sudah baikkan. Suhu tubuhmu sudah stabil. Semoga cepat sembuh, ya?"
Onee-chan tersenyum. Lalu, ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk mendekat ke pintu dan keluar dari kamar. Tapi, langkahnya sempat terhenti saat Dylan-san bertanya, "Hei, apa benar kakak ini sudah meninggal?"
Sungguh, Onee-chan sangat terkejut saat mendengarnya. Ia secepatnya berbalik badan, menatap tajam pada Dylan-san. Dylan-san yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya itu jadi terkejut saat Kakaknya menatap dirinya seperti itu.
Tapi tak lama, Onee-chan kembali memasang wajah biasanya. Ia tersenyum dan menjawab, "Kau benar. Kakak memang sudah meninggal!"
To be Continued-