
"GROOAAR!!" Gadis kecil itu membuka mulutnya sangat lebar dan besar beserta gigi-gigi runcingnya sampai terlihat. Ia ingin langsung melahap tubuh Tanaka. Tapi karena reflek lelaki itu lebih cepat, Tanaka menahan mulut makhluk itu dengan gagang sapu, lalu meninjunya sampai keluar dari warung makan.
Orang-orang di sekitar termasuk pemilik warung terkejut melihat monster itu. Tanaka meminta semuanya untuk pergi menjauh. Tapi agar lebih aman lagi, Tanaka ingin mengurus Oni itu di suatu tempat yang bebas agar tidak ada manusia lain yang akan terluka.
Oni Itu kembali bangun, lalu menghancurkan gagang sapu yang menahan mulutnya. Setelah itu, ia melirik ke Tanaka, tapi mendadak sebuah tendangan keras menghantam wajahnya lagi sampai akhirnya tubuh monster itu pun terlempar ke udara.
"Sapunya nanti aku ganti. Sekarang permisi dulu!" ujar Tanaka sebelum ia pergi menyusul Oni Itu untuk menghajarnya di suatu tempat. Ia melompati beberapa rumah warga dan pohon. Lalu ia memilih kawasan yang sepi untuk menghadapi si gadis Oni yang kini telah berubah bentuk menjadi sosok yang Tanaka kenal.
Oni Itu terjatuh di halaman rumah kosong. Lalu tak lama, Tanaka datang dan mendarat di hadapannya. Ia melihat Oni Itu mengerang kesakitan di lantai dengan luka parah di kepalanya. Padahal itu baru kekuatan kecil yang dikeluarkan Tanaka.
Tanaka memperhatikan fisik Oni tersebut lebih detail. Ia benar-benar yakin pernah melihat wujudnya dan pernah ia lawan dulu. Tapi agak lupa. Sampai-sampai ia menduga kalau makhluk itu adalah manusia yang dirasuki Oni. Maka dari itu untuk sekarang, Tanaka jadi ragu ingin membunuhnya langsung.
"Hei, hei, masih hidup, gak?" Tanaka menyentuh tubuh Oni itu. Karena tidak ada respon selain getaran dari tubuh makhluk itu, ia membalikkan tubuh si Oni dan terkejut melihat kepalanya kembali berubah menjadi sosok anak kecil.
Itu wujud gadis yang tadi. Tanaka tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Tapi saat ia lihat, gadis itu menangis karena kesakitan. Lalu secara tak sengaja, ia mendengar suara makhluk itu bergumam, "T–tolong ... tolong aku ...."
Tanaka jadi tidak tega untuk menyerangnya lagi. Sepertinya Oni yang ini adalah spesies yang lebih lemah dari yang lain.
"A–ada yang bisa aku bantu?" Tanaka menawarkan diri. Ia benar-benar iba dengan makhluk itu selagi si Oni tidak menyerangnya lagi.
Namun tak lama Tanaka menawarkan bantuan, tiba-tiba saja ia mendengar suara gemuruh dari perut besar si Oni. Lalu tak lama, makhluk itu melirik ke Tanaka dan kembali berujar dengan nada pelan. "Aku ... lapar."
"Ee?"
...****************...
Di gedung rumah sakit, para Oniroshi masih memburu Oni yang berkeliaran di sana. Sementara Dylan dan Takana masih sibuk mencari keberadaan kakaknya yang entah ada di mana. Dylan terus mencari sambil meneriaki namanya, sementara Tanaka dan Zai akan melindunginya jika ada Oni yang menyerang. Tapi walau sudah diteriaki, Dylan masih belum mendengar jawaban dari kakaknya.
Dylan berhenti di depan sebuah lorong lantai dua. Di sana ia melihat ada tiga ruangan dan lorong itu buntu. "Ayo coba periksa yang di sini." Dylan menunjuk ke arah lorong itu lalu mengajak Takana dan Zai untuk ikut dengannya.
Masing-masing dari mereka akan memeriksa pintu yang ada di lorong tersebut. Saat Dylan memeriksa di bagian pojok, ia terkejut karena ada Oni yang keluar dari dalam sana dan menyerangnya.
Dylan mundur ke belakang. Tapi karena terlalu mendadak, ia malah tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. Untungnya Takana sempat datang dan menghabisi makhluk itu dengan bola apinya. Setelah itu ia membantu Dylan berdiri kembali.
"Ma–makasih." Ucap Dylan pada Takana setelah ia berdiri. Lalu ia kembali memeriksa ruangan yang terdapat Oni nya tadi. Di dalam sana tidak ada siapa-siapa lagi selain beberapa bercak darah di lantai.
Dylan menghembuskan napas berat. Kakaknya tak kunjung ketemu. Hal itu membuatnya tambah cemas. Ia kembali berbalik badan. "Apa di ruangan lain Kak Fely tidak ada?"
"Hmm ... kalau ada sih sudah aku tarik keluar." Jawab Zai, lalu menyentuh dahi sambil memejamkan mata. "Kayaknya di lantai sini sudah semua. Tidak ada Oni lagi."
"Bagaimana keadaan yang lainnya?" tanya Takana cepat. "Apa semua Oni sudah diselesaikan?"
"Bentar, bentar ... Tidak ada di manapun kecuali masih ada satu ekor di lantai paling atas."
"Di atap gedung?" tanya Dylan.
"Iya ... itu sepertinya bagian Lea." Zai kembali membuka mata, lalu berjongkok di tempat. "Hah, sekarang kita bisa istirahat di sini."
"Eh, istirahat? Kakakku bagaimana?!"
"Itu si urusan kalian. Coba ke lantai tiga dan temui Lea di sana." Zai mengibaskan tangan, lalu mendorong tubuh Dylan keluar dari ruang pasien yang ada di hadapannya. Setelah itu ia mendekati satu ranjang di sana. "Tidur bentar, ah~"
"Tch," Dylan berdecih melihat kelakuannya, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlari keluar dari lorong itu dan mendekati tangga menuju lantai tiga. Takana juga tetap mengikutinya dari belakang. Sampai akhirnya mereka tiba di lantai yang dituju.
Kata Zai, di sana sudah tidak ada Oni lagi selain di bagian atap. Kalau begitu untuk ruangan-ruangan di lantai tiga akan Dylan periksa satu-satu. Ia takut gadis Oniroshi yang berada di tempat itu sebelumnya tidak bisa mencari dengan benar.
Dylan mulai memeriksa ruangan sepi di sana. Takana juga ingin membantu. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena ia merasakan kekuatan besar dari atasnya. Lalu tak lama, ia mendengar suara Lea dari dalam pikirannya. Itu sepertinya sinyal tanda bahaya yang dapat dikirim ke para Oniroshi lewat otak mereka. Sehingga mereka dapat tahu di mana anggotanya yang sedang membutuhkan bantuan.
Kali ini, sinyal itu datang dari Lea. Takana tidak tahu apa yang terjadi pada teman kecilnya itu. Ia pun memanggil Dylan, lalu menarik tangannya untuk segera pergi ke atap. Mereka kembali ke tangga dan saat di sana juga ada Zai yang ingin pergi ke lantai paling atas. Yaitu bagian atap luar gedung rumah sakit.
"Kak Zai! Lea ...."
"Iya aku tau. Sekarang ayo bergegas." Zai pastinya juga mendapat sinyal yang sama. Jadi ia langsung pergi untuk melihat keadaan temannya. Dylan yang tidak mengetahui apapun hanya bisa mengikuti mereka.
Saat tiba di tempat tertinggi dari gedung itu, Zai membuka pintu atap. Mereka bertiga terkejut melihat Lea bersimbah darah di tengah-tengah tempat itu. Gadis itu masih kuat berdiri. Hanya saja, tenaganya hampir habis. Semuanya menghampirinya, lalu melirik ke sesosok Oni dengan tinggi dua meter sedang berdiri tak jauh dari sana.
Tak hanya itu. Mereka juga melihat tubuh Fely tergeletak tak sadarkan diri di belakang makhluk itu. Untungnya pinggiran atap gedung diberi pagar pembatas yang tinggi. Jadi mereka tidak akan mudah terjatuh dari ketinggian.
"I–itu kakak!" Dylan menunjuk. Ia ingin segera menyelamatkannya. Tapi Takana sudah duluan pergi untuk menjemput wanita itu sekaligus menyerang Oni tersebut.
"Aoi Tama!" Takana melemparkan beberapa bola apinya ke arah Oni itu. Dirasa serangannya berhasil, Takana langsung melesat cepat menghampiri Fely dan akan membawanya ke tempat aman. Tapi entah bagaimana, mendadak muncul serangan yang menghantam tubuh Takana sampai lelaki itu terpental ke arah lain.
Seketika setelah serangan itu, Dylan langsung menyentuh dada. Rasa sakit yang Takana terima dapat ia rasakan juga pada jantungnya. Tapi karena rasa sakit yang Dylan terima adalah setengah dari sakitnya Takana, maka untuk serangan tadi, rasa sakit yang ia terima hanya berselang beberapa detik saja.
Takana kembali bangun dan terkejut melihat Oni tadi masih bisa berdiri tanpa cidera sedikitpun. "Se–seranganku tidak kena, apa tidak berdamage?" batinnya.
Sementara kedua Oniroshi itu bertarung, Dylan membantu Lea berdiri lalu pergi ke tempat aman. Mereka berdiri di depan pintu atap. Di sana, Lea dapat bernapas secara teratur dan ia bisa memulihkan energinya di sana. Sambil beristirahat, gadis itu bertanya, "Kau darlingnya, kan? Berikan dia suport!"
"Hah? Bagaimana caranya?" Dylan baru pertama kali menggunakan teknik Penggabungan Jarak Jauh. Jadi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat Takana sedang bertarung. Dirinya berperan penting untuk Takana. Tapi ia sendiri masih belum tau tugas-tugasnya.
"Kau bisa memberikan Brave Aura untuk Tuanmu. Skill itu menambahkan ATK Tuanmu. Lalu jika Tuanmu sekarat, kau bisa memberikan pertolongan pertama dengan cepat. Kalau tidak salah ada juga nama skillnya ...." Jelas Lea pada Dylan.
Lelaki itu hanya menggeleng pelan, lalu bergumam dalam hati, "Beneran kayak di dalam game. Tapi ... bagaimana cara aku menggunakan skill itu, ya?" Dylan menatap kedua tangannya. Lalu mendadak ia kembali merasakan sakit pada jantungnya. Secara perlahan ia melirik ke Takana.
Ternyata tuannya kena serang lagi. Melihat Dylan yang kesakitan, Lea kembali bicara padanya. "Tersiksa, kan? Ya begitulah ... tapi seharusnya kau cepat bantu Tuanmu agar cepat selesai."
"Ah berisik! Aku tidak tau caranya. Setidaknya kau ajari aku, dong!" bentak Dylan geram. Ia akan memikirkan caranya. Tapi ternyata Oni Itu sudah dikalahkan oleh Zai duluan.
BRUK!
Tubuh Oni Itu terhempas membentur pagar pembatas akibat pukulan keras dari Zai. Lalu untuk mengakhirinya, ia menggunakan serangan utama yaitu berupa gerombolan tanah halus yang muncul dari tangannya, lalu membentuk sebuah batu runcing yang akan ia tembakkan langsung ke jantung si Oni.
"Nah sekarang rasakan sensasinya!" Zai menembakkan batu runcing tersebut sebelum Oni Itu kembali bangkit. Namun sebuah cahaya perisai berwarna hijau telah menghalanginya. Lebih tepatnya menghalangi serangan itu sehingga si Oni terlindungi.
Seketika setelah cahaya itu muncul, semua mata langsung tertuju ke sudut bangunan. Mereka melihat Fely yang berdiri di sana sambil menyentuh perutnya. Ia terlihat kesakitan pada bagian itu, tapi dirinya masih berusaha untuk tetap berdiri. "Ja–jangan bunuh dia!"
"Apa maksudmu? Dia itu Oni dan kau mau melindunginya?" tanya Zai tak percaya.
Fely menggeleng cepat. "Dia bukan Oni. Akan aku selesaikan ini." Fely kembali mengeluarkan kekuatannya. Beberapa benang merah keluar dari tiap ujung jarinya, lalu dengan cepat benang-benang itu menangkap si Oni dan melilitnya. Lalu tak lama, Fely mengalirkan sengatan listrik lewat benang-benang tersebut untuk melumpuhkan lawannya. Mungkin kalau terkena manusia biasa bisa mematikan.
Tak lama setelah sengatan tersebut, kulit Oni Itu terkelupas sampai sesosok tubuh manusia terlihat. Fely langsung berlari menghampirinya dan menangkap tubuh orang itu lalu memeluknya. Ia kembali melirik ke Zai dan berkata, "Lihat? Dia bukan Oni. Dia ..."
Fely tidak bisa mengatakannya di depan semua orang tentang status hubungan orang itu dengannya. Ternyata tubuh manusia itu adalah Ethan.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu." Zai menonaktifkan kekuatannya, lalu menyentuh leher belakang dan membuang muka.
Disaat keadaan sudah benar-benar aman, Dylan berlari menghampiri kakaknya. "Dasar! Ke mana saja, kau?!" bentak Dylan geram.
"Kan aku mau ke rumah sakit. Tadi kan udah izin." Fely menjawab santai.
"Bu–bukan itu maksudku!"
"Sudahlah ... sudah ... yang penting sekarang semuanya sudah selamat, kan?" Suara Asuka terdengar. Saat Dylan mencari-cari sosoknya, ia akhirnya menemukan wanita itu sedang duduk di atas pagar pembatas.
"Lagi-lagi kau telat datangnya! Apa gunanya kau jadi guru?! Kami dalam bahaya di sini!" bentak Dylan yang kesal. Dylan tak pernah melihat wanita itu bertarung dan ia selalu datang disaat pertarungan sudah selesai. "Untung seorang Oniroshi terkuat, seharusnya kau membantu yang lainnya juga!"
"Dylan-san! Yang sopan sama sensei!" tegas Takana.
"Ah sudahlah! Mendingan pulang–"
Saat Dylan melangkah ke depan, tiba-tiba di hadapannya muncul dinding es yang besar. Lalu tak lama sebuah ledakan terjadi di hadapannya. Ledakan itu membuat orang di sekitar terpental sejauh beberapa meter. Sebagian dari gedung itu juga mulai retak. Entah bagaimana dengan keadaan di sekitar ledakan tadi. Mungkinkah hancur?
"Ugh ... sakitnya double!" Dylan baru sadar kalau dirinya masih melakukan Teknik Penggabungan dengan Takaka. Makanya luka yang diterima Tuannya dapat ia rasakan, ditambah dengan lukanya sendiri.
"Apaan yang meledak itu?!"
Para Oniroshi kembali bangkit. Di hadapan mereka, semuanya melihat dinding es yang dibuat Asuka masih berdiri kokoh. Lalu tak lama, dinding tersebut menghilang dan dapat terlihat sosok Tanaka yang menyeramkan bersama dengan tentakelnya yang menggeliat. Ia menginjak atap yang nyaris roboh karena terkena ledakan tadi.
Wajah lelaki itu terlihat lebih menyeramkan dari biasanya. Matanya berubah kuning dan urat nadi keluar di sekitar mata bolongnya. Zai yang merupakan teman dekatnya mencoba untuk memeriksa keadaannya. Tapi saat baru bergerak sedikit, kepala Tanaka langsung mengarah pada orang itu lalu dengan secepat kilat ia menghilang dan muncul di belakang Zai secara mendadak.
Tanaka memukul tubuh Zai dari belakang sampai lelaki itu terpental dan membentur pagar pembatas sampai retak. Lalu setelah itu, Tanaka menjulurkan dua tentakel ke arah temannya untuk menyerangnya lagi. Tapi untungnya dinding es muncul di hadapan Zai untuk melindunginya. Asuka melompat dari tempatnya dan mendarat ke atas dinding es buatannya. Ia menatap tajam pada Tanaka yang terlihat seperti bukan dirinya.
Divan menghampiri Zai untuk memeriksa keadaannya. Lelaki itu terluka di bagian kepala akibat benturan keras tadi. Ia mengaku kalau dirinya baik-baik saja dan masih bisa ikut bertarung. Tapi Asuka menegaskan untuk jangan mengeluarkan kekuatannya lagi karena musuh kali ini selevel dengan wanita itu.
Dylan dan Takana menjauh dari Tanaka yang mengamuk. Begitu juga dengan Fely yang masih membawa tubuh Ethan di pelukannya. Lalu Lea menarik Fely dan Ethan dengan tanaman merambat dan membawa mereka berdua ke tempat yang aman. Para Oniroshi berkumpul bersama dan berwaspada dengan sosok Tanaka yang mengerikan.
"O–Onii-chan!" Takana tak percaya dengan kehadiran sosok kakaknya yang telah melukai teman-temannya. Asuka meminta semuanya untuk menjauh dan jangan ikut bertempur. Karena kali ini ia akan menunjukkan kekuatannya untuk melindungi para muridnya.
Di atap gedung lain yang bersebrangan dengan gedung rumah sakit ada seseorang yang mengamati para Oniroshi di sana. Orang itu duduk di pinggir gedung sambil mengayunkan kedua kakinya. Ia tersenyum.
"It's show time!"
*
*
*
To be continued–