Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 56– Musuh yang Kuat



"Khu khu ... sekarang sini anak-anak manis~ Main sama kakak~"


Oni yang bernama Lucid Itu pun mulai mengayunkan cambuknya. Takana dan Irvan menghindar sambil mendorong darling mereka masing-masing. Ayunan cambuk tersebut berhasil menghancurkan dinding kelas sebelah sampai isi kelas itu terlihat.


Takana dan Dylan terkejut melihatnya. Lalu saat ada kesempatan, Irvan mengajak Bell ke pojokan dan mulai menciumnya. Cahaya biru mulai menyinari tubuh mereka berdua dan secara perlahan, tubuh Irvan menghilang menjadi debu kecil yang terbang merasuki tubuh Bell.


"Bell, aku meminjam kekuatanmu." Ujar Irvan setelah ia merasuki gadis itu. Mereka berdua telah bergabung dan sekarang, tubuh Bell bergerak atas kemauan dari Irvan sendiri. Lalu setelah itu, ia berteriak memanggil Takana dan mengangguk padanya.


Takana membalas anggukan tersebut, lalu Takana kembali mengeluarkan apinya dan membakar satu kursi, setelah itu menendang kursi tersebut sampai ke Lucid. Saat waktunya tiba, Irvan melemparkan bola air ke arah kursi tersebut dan seketika kumpulan asap tebal pun terbentuk. Asap itu menganggu jarak pandang si Lucid.


Lucid menyingkirkan kursi yang habis terbakar, dan menghilangkan kumpulan asap tersebut. Setelah asapnya hilang, ia tidak melihat dua Oniroshi incarannya. "Ah, mau main petak umpet, ya? Kalau begitu, aku yang jaga~"


...****************...


Di lain tempat, Dylan, Takana dan Irvan yang berada dalam tubuh Bell pun berhasil melarikan diri. Sekarang mereka sedang berlari di lorong sambil sesekali melawan murid lain yang kerasukan. Takana dan Dylan hanya bisa melawan dengan kekuatan fisik karena jika menyerang menggunakan powernya, orang-orang itu bisa mati. Jadi untuk memulihkan mereka, Irvan cukup menyiram tubuh mereka dengan air.


Akhirnya lantai tiga berhasil mereka tinggalkan. Di lantai dua juga ada beberapa orang yang kerasukan. Begitu melihat Takana dan Irvan, para makhluk itu pun langsung menyerang. Dengan cepat, Irvan membasmi mereka dengan membuat ombak dan membanjiri satu lorong di sana dengan air. Semuanya kebasahan termasuk Takana dan Dylan.


Namun tak lama kemudian, air-air itu pun menghilang. Mereka bertiga kembali berlari menuju tangga berikutnya. Tapi saat tiga langkah menuruni tangga, tiba-tiba Lucid muncul dan langsung mengayunkan cambuknya ke arah mereka.


Takana dan Irvan terkejut. Mereka tidak sempat mengeluarkan pelindung dan akhirnya terkena pukulan keras dari cambuk tersebut. Untungnya tak mengenai ujung kapaknya. Kalau kena, mungkin tubuh mereka berdua bisa langsung terbelah.


Dylan yang ada di belakang juga ikut terhantam oleh tubuh Takana. Akhirnya mereka bertiga pun terlempar ke belakang dan menabrak jendela beserta temboknya sampai hancur. Tubuh mereka terjun bebas dari lantai dua dan mendarat ke atas semak dan kebun sekolah. Kalau Dylan jatuh ke atas pohon dan almamaternya tersangkut dahan pohonnya.


Irvan langsung bangkit dan membantu Takana berdiri. Lalu mereka berdua kembali dikejutkan dengan suara ledakan dari lantai dua. Ternyata Lucid menghancurkan dinding lantai dua depan tangga tadi dan membuat lubang besar di sana. Pelakunya pun keluar dengan melompat dari lubang tersebut.


Dirinya mendarat di hadapan Takana dan Irvan. Ia hanya tersenyum senang, lalu tanpa berpikir panjang, Oni Itu kembali menyerang Takana dan Irvan dengan brutal. Kedua Oniroshi itu pun menghindarinya dan balas menyerang dengan fisik terlebih dahulu, karena mereka tidak ingin banyak membuang energi.


Takana dan Irvan bekerja sama untuk mengalahkan Lucid yang jauh lebih kuat dari mereka.


...****************...


Kembali ke atap apartemen. Fely masih sibuk menyerang dengan tongkatnya dan sesekali menghindari dua Oni berukuran sedang dan kecil yang menghalanginya.


Sudah banyak sihir yang ia gunakan, tapi karena pertahanan kedua Oni Itu kuat, mereka jadi sulit untuk dilukai. Jadi terpaksa, Fely harus menggunakan kekuatan fisik dan energi cahayanya untuk menyerang. Saat ini juga, wanita itu telah terlihat kelelahan dan energinya hampir habis.


"Aaah! Aku sudah muak dengan kalian!" Fely mengeratkan pukulannya sekali lagi, lalu menendang Oni Itu dan melompat ke belakang. Ia sedikit menjauh untuk memberikan ruang baginya agar ia mudah menggunakan energinya.


"Akaiito!" Fely mengeluarkan banyak benang merah bercahaya dari dalam tubuhnya, kemudian benang-benang itu langsung menjulur ke arah dua Oni di hadapannya. Benang-benang tersebut bergerak sesuai dengan arahan dari Fely dalam pikirannya.


Benang-benang tersebut melilit kedua Oni Itu dan menjatuhkan mereka. Lalu setelah kedua makhluk itu tak bisa bergerak untuk beberapa saat sebelum benangnya hancur, Fely kembali mengeluarkan tongkatnya lalu mulai merapal.


Matanya terpejam dan ia mulai fokus. Lalu tak lama kemudian, dua lingkaran sihir bercahaya muncul di bawah kakinya dan yang berukuran lebih besar muncul di bawah dua lawannya. Setelah lingkaran sihir itu berubah warna menjadi putih, Fely kembali membuka mata dan langsung membanting tongkatnya.


"Oni no Wana!" teriaknya menyebutkan nama skill sihirnya. Seketika itu juga, lingkaran sihir besar yang diinjak dua Oni Itu pun meledak sampai sebagian gedung di bawahnya ikut hancur. Kulit baja yang menutupi tubuh Oni Itu juga ikut hancur


Setelah ledakan tersebut, Fely langsung terjatuh duduk. Ia benar-benar kelelahan setelah mengeluarkan kekuatan yang besar. Secara perlahan, Fely kembali mendongak untuk melihat keadaan dua Oni tersebut. Biasanya, setelah terkena serangan tadi, makhluk-makhluk itu bisa langsung mati dan hancur menjadi abu.


Namun yang Fely lihat sekarang agak berbeda. Ia awalnya melihat serpihan debu berwarna hitam yang terbang tertiup angin. Tapi di samping atap bangunan yang hancur, ia melihat tubuh manusia dewasa dan satu seorang anak muda.


Setelah melihat sosok itu, Fely terkejut dan kembali berdiri. Ia berlari kecil untuk melihat kedua wujud asli dari Oni tadi. Saat didekati, pengelihatan Fely ternyata tidak salah. Ada dua tubuh manusia utuh yang tergeletak tak sadarkan diri di sana.


Namun yang membuat Fely terkejut adalah sosok si pria yang wajahnya tak asing di matanya. Tak lain, manusia dewasa itu adalah Ethan, lelaki yang dicarinya setelah tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Lalu di sampingnya itu ada seorang gadis muda berambut coklat pendek.


Mereka berdua terlihat tidak berbusana sama sekali. Untuk sementara, Fely menggunakan jaketnya untuk menutupi tubuh keduanya. Lalu ia menggunakan benang-benang merahnya untuk membuat sebuah kain.


Tak butuh waktu lama, Fely akhirnya menyiapkan kain tersebut. Ia menggunakan kain itu untuk menyelimuti, sekaligus menutup tubuh si gadis. Sementara jaketnya ia pakaikan untuk Ethan.


Fely tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi saat ini. Ia benar-benar bingung. Kedua Oni yang ia kalahkan, tiba-tiba saja berubah wujud menjadi manusia.


Fely menyentuh kepalanya yang pusing, lalu bergumam, "Apa sebenarnya ... Oni tadi itu adalah ... mereka? Apa Ethan adalah Oni?"


"Tidak. Mereka tetaplah manusia biasa."


Fely terkejut mendengar suara seorang lelaki dari belakangnya. Lalu ada yang menyentuh kepalanya juga. Dengan cepat, Fely menoleh ke belakang dan langsung menepis tangan orang itu.


Di sana, Fely melihat ada seorang pria tampan yang umurnya perkiraan lebih tua darinya. Dia memakai pakaian Butler. Agak tinggi, rambut pirang acak-acakan, mata kuning dengan tatapan dingin.


"Si–siapa, kau?" tanya Fely gugup dan tetap berwaspada. Tapi kalau ia perhatikan, lelaki itu seperti manusia biasa. Jika dia seorang Oniroshi, seharusnya ia memiliki bola mata biru. Tapi yang ia takuti kalau ternyata pria itu adalah salah satu dari Oni lainnya.


"Aku kehilangan Nona muda. Apa kau melihatnya?" Tak dijawab, pria itu justru bertanya tentang hal yang tidak Fely ketahui sambil celingak-celinguk.


"Ha?"


...****************...


Di lain tempat, Tanaka dan si Onirida kucing itu saling beradu senjata mereka. Tanaka dengan katana apinya dan kucing itu dengan pedang cahayanya. Kekuatan mereka seimbang. Tapi ternyata power yang paling berdamage adalah elemen Tanaka, tapi defense nya sangat lemah. Begitu juga dengan lawannya.


Tanaka berhasil memancing Onirida itu ke tempat yang jauh dari pemukiman dan manusia. Yaitu berada di dalam hutan. Di sana juga terdapat beberapa rumah terbengkalai dan dataran tinggi yang luas tak jauh dari hutan tersebut. Tempat yang cocok untuk pertarungan mereka.


Tanah sekitar tempat itu juga sudah rusak akibat pertempuran mereka. Tapi karena kekuatan mereka seimbang, jadi akan sulit bagi mereka untuk saling menjatuhkan. Bahkan Tanaka sudah menggunakan banyak power, tapi serangannya selalu ditangkis oleh pedang kucing itu.


Keduanya kembali beradu pedang di atas tanah. Tapi saat keduanya sedang menahan pedang, Tanaka menggunakan kakinya untuk menendang kucing itu menjauh darinya. Mereka berdua pun mundur memberi jarak. Napas keduanya mulai terengah-engah dan mereka menopang tubuhnya dengan senjata masing-masing.


Tanaka tersenyum tipis. "Ini berkat dirimu. Tanpa melakukan latihan pun, aku sudah bisa mencapai kekuatan level 14. Itu nyaris setara dengan batas maksimal kekuatan Oniroshi lainnya."


"Itu luar biasa, kawan." Onirida Kucing memutar pedangnya, lalu menengadah tangannya. Seketika bayangan hitam pun muncul dan semakin membesar. Makhluk itu menyeringai. "Tapi ... apakah hanya sekedar nomor level itu kau bisa mengalahkanku?! Kage no Katachi!"


Bayangan hitam besar dari tangannya itu pun melayang ke udara, lalu mendarat di hadapannya dalam bentuk kucing raksasa. Ukuran tingginya, sama seperti Onirida itu.


"Habisi dia!" Onirida itu menunjuk ke arah Tanaka sambil berteriak. Seketika bayangan kucing itu pun langsung melesat cepat untuk menyerang Tanaka menggunakan cakarnya yang besar.


Tanaka tak terkejut melihat makhluk itu. Ia tersenyum, lalu menghindarinya dengan gerakan kilat. Setelah posisinya berada di belakang mahluk bayang itu, Tanaka melompat lalu menyilangkan kedua tangan. Tubuh Tanaka pun kembali diselimuti oleh cahaya biru.


"Hi no Ikimono!" Ia meneriaki jurusnya, lalu menghempaskan kedua tangannya ke depan dan dengan seketika terbentuklah seekor burung elang yang terbentuk dari kumpulan energi apinya. Ia memunculkan Makhluk Api tersebut untuk bertarung dengan si Makhluk Bayangan.


Lalu setelah itu, Tanaka kembali bergerak secepat kilat dan mendadak muncul di hadapan si Onirida Kucing. Makhluk itu terkejut dengan kehadiran Tanaka di hadapannya. Ia ingin menyiapkan senjata, tapi Tanaka sudah duluan mengayunkan katananya yang dicampur dengan jurus energinya.


"Kuikku Irashu."


SRING!


Darah bermuncratan dari luka sobek di perut Onirida Kucing. Luka dalam yang diakibatkan oleh tebasan katana Tanaka tersebut, telah membuat makhluk itu terjatuh. Tapi tak lama, ledakan besar pun terjadi di belakangnya, lalu secara mendadak, sebuah bayangan berbentuk kristal melesat cepat dan menusuk perut Tanaka sampai tembus ke belakang.


Ternyata bayangan tersebut berasal dari sisah wujud si Kucing raksasa yang berhasil bertahan dari serangan Elang Api Tanaka.


Keduanya kini impas. Mereka berdua telah terluka parah, tapi Tanaka masih sanggup berdiri sambil memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah. Tanaka berjalan pelan menghampiri si Onirida Kucing yang terduduk di tanah.


"Kau sudah kalah. Ada kata-kata terakhir?" Tanaka mengarahkan katananya ke leher si Onirida.


Onirida Kucing memuntahkan sedikit darah lalu tersenyum tipis. "Belum lagi, Tanaka ..."


Tanaka terkejut melihat kumpulan asap hitam yang tiba-tiba muncul mengelilingi lawannya. Tanpa membuang waktu lagi, Tanaka langsung mengayunkan katana nya dan menebas kepala Onirida itu. Kelihatannya berhasil. Kepala makhluk itu terpental dan tubuhnya pun terjatuh.


Namun Tanaka merasakan ada kejanggalan. Makhluk itu tidak mengeluarkan darah dan menebasnya itu terlalu mudah. Tanaka pun mundur untuk menjaga jarak. Lalu tak lama, kepala Onirida itu berubah menjadi kumpulan asap tebal yang melayang di udara. Begitu juga dengan tubuhnya. Saat di udara, asap itu pun lenyap.


Namun tiba-tiba mendadak muncul di belakang Tanaka dan langsung berujud seperti Onirida Kucing. Makhluk itu menyerang Tanaka dengan memukul, sekaligus menyakarnya. Tapi gerakan Tanaka lebih cepat. Lelaki itu langsung melompat tinggi dan menjaga jarak.


"Hah ... sudah kuduga. Kau itu menyebalkan, ya?" keluh Tanaka pada lawan yang ia hadapi. Ia sebenarnya sudah hampir kehabisan energi, tapi karena Onirida itu masih bisa bangkit, terpaksa Tanaka harus melawannya lagi dengan cepat. Jadi mau tidak mau, ia akan mengakhirinua sekarang.


"Sudahlah. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu lebih lama lagi." Tanaka sedikit membungkuk sambil menyentuh pegangan senjatanya. Ia memasang kuda-kuda dan tak lama, tubuhnya yang bercahaya pun melesat cepat menghampiri si Onirida.


Onirida Kucing itu mengeluarkan pedangnya lagi dan menangkis serangan Tanaka. Mereka kembali saling adu kekuatan dengan kecepatannya yang sampai tak bisa dilihat. Benar-benar cepat. Selain katana, Tanaka juga menggunakan empat tentakelnya untuk menyerang. Lebih berguna untuk menusuk lawannya, tapi lemah dalam kecepatan.


"Hakka Nokogiri!" Tanaka meneriaki jurusnya, lalu memberikan sedikit darahnya dengan menggesekkan ujung jari telunjuknya ke mata pisau katana tersebut. Lalu setelah itu, tubuhnya pun berputar cepat sambil mengayunkan senjatanya. Serangan itu pun langsung ia luncurkan untuk mengalahkan lawannya.


Sementara si Onirida Kucing yang masih tak mau kalah pun juga ikut mengeluarkan jurus. "Shadow Surasshu." Makhluk itu mengangkat pedang dengan dua tangan, melakukan kuda-kuda lalu menghilang seperti bayangan dan secara mendadak muncul di dekat Tanaka dengan serangannya. Makhluk itu terus menerus mencoba untuk mengalahkan Tanaka dengan kecepatannya dalam menggunakan pedang.


Namun serangannya tak ada yang kena karena Tanaka terlalu cepat. Sedangkan Tanaka sendiri juga hanya bisa melukai lawannya sedikit karena tubuh lawannya itu dipenuhi asap yang membuat dia tak bisa terluka. Begitu diserang, tubuhnya akan langsung menghilang seperti bayangan yang mempermainkannya.


Keduanya pun berbalik badan lalu menyerang dengan senjatanya masing-masing. Setelah keduanya saling menangkis, mereka melompat ke belakang untuk menghindar. Lalu saat di udara, mereka berdua pun menembakkan powernya.


"Hakyu!" Tanaka mengumpulkan energi, kemudian melemparkan sebuah bola api biru raksasa yang bergejolak sangking panasnya.


"Hakai Seishin!" Sementara si Onirida kucing menembakkan dua roh gelap berbentuk kepala kucing yang melesat cepat mendekati bola api Tanaka.


Kedua serangan itu bertabrakan dan menyebabkan ledakan besar sampai pohon di sekitarnya (sejauh puluhan meter) tumbang karena akarnya tak kuat menahan kecepatan angin dari ledakan tersebut. Tanah di sekitar juga hancur dan membentuk kawah berukuran besar.


Setelah Tanaka menahan tubuhnya agar tidak terbawa angin kencang tadi, ia langsung mendongak melihat apakah serangannya berhasil atau tidak?


Setelah asap di sekelilingnya menghilang, Tanaka terkejut melihat cahaya ungu yang terbang cepat ke arahnya. Tak sempat menghindar dan akhirnya cahaya itu pun menabrak dan meledak di dekatnya. Membuat tubuh Tanaka terpental ke belakang sejauh lima meter.


Onirida Kucing pun muncul. Ia tersenyum senang saat melihat tubuh Tanaka sudah tak bisa bangun lagi. Makhluk itu pun menghampiri Tanaka, lalu menginjak tubuhnya tepat di luka parah yang diterima Tanaka pada perutnya.


Onirida Kucing berkacak pinggang. "Aku yang menang." Lalu ia menendang kepala Tanaka sampai lelaki itu tak bergerak lagi. Onirida Kucing meluncurkan sebuah cahaya ungu yang terang ke langit dan cahaya itu meledak seperti kembang api.


*


*


*


Seseorang dari sekolah melihat kembang api kecil itu. Orang itu ... lebih tepatnya Oni lain yang sedang nongkrong di atap satu gedung sekolah bersama dengan senapan laras panjangnya pun bergumam, "Cepet juga dia selesainya. Sepertinya permainan ini cukup mudah. Aku bahkan belum menyerang sama sekali ... tapi dia sudah mau menyelesaikannya ...."


Oni itu mirip seperti Lucid, hanya saja dia berkelamin betina. Dia adalah adik Lucid yang bernama Lucia. Dari atas sana, ia melihat pertarungan kakaknya dengan Takana dan Irvan hampir selesai. Lawannya sudah terlihat tak mampu untuk melawan lagi.


*


*


*


To be continued–