
CLING~ CLING~
"Terima kasih. Silahkan datang kembali, ya~"
Aku dengan Takana akhirnya keluar dari dalam toko buku setelah aku mendapatkan komik yang kuinginkan. Aku juga sudah membeli komik itu dengan harga 22 ribu. Sumpah! Diskon yang tadi bikin aku muak saja. Masa cuma dikurangin harga sampai 3 ribu saja. Kan gak guna mereka memberikan diskon pada buku komik seperti itu.
Pantas saja tidak ada yang mau beli.
Ah sudahlah... yang penting sekarang aku sudah mendapatkan komik terbitan terbaru ini. Ini buku ke-5 yang aku beli. Seri ke-4 kemarin ada gambar si karakter yang mirip seperti Takana. Nama di buku komik adalah Kyota Hiroshi. Dia juga seorang transgender seperti Takana. Karakter yang menipu. Penampilannya mirip seperti anak cewek, tapi sebenarnya dia berjenis kelamin cowok.
Hah... untuk kedepannya, aku tidak ingin berhadapan dengan orang yang menyamar seperti lawan kelaminnya. Contohnya orang seperti Takana. Aku tidak ingin bertemu dengan orang baru yang seperti dia.
Tapi untungnya, Takana sudah kembali seperti anak laki-laki yang imut. Ah, entah kenapa aku ingin memberi pujian pada Takana kalau dia itu imut. Tapi... emang fakta, sih...
Wajahnya memang terbilang imut untuk anak berumur 15 atau 16 tahun. Aku lupa dengan umurnya. Tapi dia masuk kelas yang sama denganku.
"DYLAN-SAN! AWAS!"
Aduh! Takana tiba-tiba saja mendorongku dengan kuat sampai terjatuh. Tapi saat tubuhku menyentuh tanah, tiba-tiba ada beberapa jarum suntik yang melesat cepat ke tempatku berdiri tadi. Tapi karena jarum itu tidak mengenaliku, malah mengenai karyawan toko buku yang sedang berdiri di depan pintu.
Aku memperhatikannya. Jarum itu menusuk perutnya, tapi orang itu seperti tidak merasakan apa-apa. Padahal ada jarum besar yang menusuknya. Apakah dia tidak merasa sakit atau kenapa, gitu?
Berarti... jika aku yang kena, tidak akan terjadi apa-apa, dong. Takana ini! Bokongku sakit karena terjatuh tadi. Karena yang mendarat duluan itu bagian belakangku.
"Ada Oni di sini." Takana bergumam. Lalu ia menoleh ke arahku dengan cepat. "Dylan-san! Apa kau melihat Oni itu?"
"Eh? Mana tau aku!" Aku membentak kesal. Lalu kembali berdiri dan memungut buku komik yang terlepas dari tanganku saat aku terjatuh. "Aku mau pulang!"
"Jangan Dylan-san! Jangan pergi dulu. Di luar sana ada–"
GDBUK!
"KYAAAA! Seseorang panggil ambulan!"
Aku terkejut. Begitu juga dengan Takana. Kami berdua menengok ke belakang. Melirik ke arah pintu depan toko. Di sana aku melihat ada satu karyawan toko yang sudah terjatuh di depan pintu. Dan... dari mulutnya itu ia memindahkan banyak darah. Dia kan... karyawan toko yang terkena tembakan jarum tadi.
Semua orang jadi panik yang melihatnya. Mereka langsung mengerumuni orang itu dan menolongnya sampai ambulan datang.
"Dia sudah mati."
"Eh? Kena–UWAAAA!"
Aku terkejut. Kupikir yang berujar tadi itu si Takana. Tapi ternyata Irvan. Anak tanpa ekspresi itu tiba-tiba saja muncul di sampingku. Karena kaget, aku langsung berteriak dan menjauh darinya.
"Tidak usah kaget."
"Gimana gak kaget?! Kau datang tiba-tiba tanpa tanda!" Aku membentak Irvan. Ia hanya mundur satu langkah dariku, tapi ekspresinya itu tidak pernah berubah. Ia tidak berkata apa-apa setelah aku membentaknya.
Tak lama setelah kemunculan Irvan, aku mendengar suara tapak kaki yang datang dari belakang. Ternyata orang yang datang itu adalah si Bell. Dia terlihat terkejut saat matanya melirik ke arah pintu depan toko yang terdapat mayat si karyawan yang sudah meninggal itu.
"Uwaaah! Ada yang meninggal di sana! Kenapa kalian semua tidak membantunya." Bell juga ikut-ikutan jadi panik. Padahal dia baru datang, tapi sudah berisik saja.
"Kita baru saja sampai, Bel." Ujar Irvan.
"Nah! Seharusnya Dylan sama Takana nih yang sudah datang dari tadi!"
Loh kok nih cewek malah membentak aku, sih?!
"Berisik lah!" Aku membentak balik. "Aku mau pulang sekarang!" Aku berbalik badan, lalu melangkah pergi dengan cepat. Menjauh dari Takana, Irvan dan Bell. Mereka berdua tetap diam, kecuali Takana yang berlari mengikutiku.
"Seharusnya kau hati-hati kalau tidak ingin bernasib sama seperti orang yang mati itu." Irvan berujar lagi dengan nada menyindir. Aku kaget mendengarnya. Ku hentikan langkahku, lalu berbalik badan.
"Apa maksudmu?"
"Di sekitar sini ada Onirida. Seorang Oni penembak jitu. Dari senjatanya itu, terdapat peluru jarum besar. Jika kena, kau bisa mati dalam hitungan menit." Jelas Irvan.
"Onirida? Apaan lagi itu?" tanyaku heran. Entah kenapa aku ingin mengetahui beberapa julukan penjahat Oniroshi ini.
"Oni tingkat tertinggi." Irvan menjawab.
"Berarti ... dia bosnya?"
"Iya."
Jadi... itu sebabnya Takana mendorongku untuk terhindar dari jarum raksasa yang mematikan itu, ya? Hmm... haruskah aku berterima kasih pada Takana?
Ah, nanti saja. Kelamaan. Aku ingin pulang dan aku akan bersembunyi di dalam rumah saja.
"Dylan, jika kau pergi, maka kau bisa terkena tembakan jarum itu dan mati." Irvan memperingatiku. Aku tidak percaya dengan perkataannya. Tapi setiap aku ingin pergi, Takana selalu menghalangi jalanku dan menarik-narik tanganku agar diriku tetap berdiri di tempat dan tidak beranjak ke manapun.
"Dylan-san jangan pergi! Ramalan Irvan itu selalu benar!" Takana merengek padaku. "Jangan pergi, Dylan-san! Jangan pergi! Aku tidak mau kehilanganmu!"
"Takana apaan, sih?!" Aku membentaknya, lalu kuhempaskan tanganku untuk melepaskan tangannya Takana. "Memangnya kau percaya dengan ramalan?"
"Aku percaya kalau Irvan sudah mengucapkannya. Karena... kekuatan Oniroshi Irvan itu adalah meramal kematian!" tegas Takana.
"Ah, sudahlah... aku tidak percaya dengan yang begituan. Aku duluan!" Aku tidak peduli dengan perkataan mereka. Jika memang benar aku akan mati, maka mati saja sekarang. Aku sudah siap!
Tapi... sedari tadi aku berjalan, tidak ada apapun yang terjadi, tuh!
Aku melirik ke belakangku. Takana juga sudah tidak mengikutiku. Eh? Ini tidak seperti biasanya. Apa dia takut jika jarum mematikan itu terkena dirinya juga kalau dia dekat-dekat denganku?
Ah, baguslah. Dia tidak bisa bikin risih lagi di dekatku. Jadi begini rasanya tanpa Takana. Tenang dan damai. Sekarang aku harus cepat kembali ke rumah!
Jalan di sekitar juga masih dilewati oleh beberapa orang walau tidak banyak. Jadi aku bisa meminta bantuan orang-orang di sekitarku jika aku benar-benar terkena jarum itu. Lagipula, rasanya tidak akan sakit, kan?
Saat aku melihat si Karyawan yang meninggal itu. Sebelumnya dia juga terkena jarum itu tapi tidak merasakan apa-apa. Hanya tiba-tiba dia terjatuh saja setelah beberapa menit.
Jadi... setelah aku sadar kalau ada jarum yang berhasil menusukku, maka aku akan langsung berteriak minta tolong pada orang-orang di sekitarku ini. Hah, aku akan aman sepertinya.
"Sejauh ini semuanya baik-baik sa–"
PSYU! ..... ***!!
"Eh?" Aku melirik ke samping tubuhku. Kulihat lengan atasku ada sesuatu yang menempel di sana. Ternyata saat aku memeriksanya, ada jarum besar yang berhasil menusuk lengan atasku. "Ti–tidak terasa apa-apa, kan?"
Aku meremehkan jarum itu. Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba saja muncul rasa sakit di tanganku. Aku terkejut. Dengan cepat, aku langsung mencabut jarum itu dan menjatuhkannya ke jalan. Tapi tiba-tiba saja, tubuhku juga ikut terjatuh. Entah kenapa, tubuhku terasa lemas dan sulit untuk digerakkan.
Oh tidak! Apakah ramalan Irvan itu benar? Aku... aku akan mati di sini?
Ta–tapi... setelah aku tersungkur seperti ini, kenapa tidak ada orang lain yang peduli dan mau menolongku? Seakan mereka tidak melihatku seperti ini. Eh? Tidak mungkin setelah aku tertembak jarum itu, aku langsung menghilang dari dunia ini? Makanya semua orang tidak bisa melihatku?
Di atas trotoar jalan, aku menidurkan kepala dan tubuhku di sana sambil mengerang kesakitan karena tanganku yang terkena jarum tersebut. Aku tidak mengerti. Kenapa hanya aku? Sebelumnya... si Karyawan itu terkena jarum yang sama tidak merasakan apa-apa. Tapi... kenapa saat aku yang kena, aku langsung merasakan sakit perih yang luar biasa seperti ini?
Tubuhku terasa akan meleleh seakan tubuhku seperti terkena api yang panas sekali. Aduh! Takana... aku... memerlukan bantuan... mu....
****
*Takana Utsuki
"Eh? Takana. Ramalannya berubah." Ujar Irvan tiba-tiba. Saat ini, kami bertiga sedang berlari untuk mencari Dylan-san. Karena aku khawatir sekali dengan keadaannya. Andai saja aku mengikuti dia pergi. Tapi... karena Dylan-san tidak mengizinkan aku untuk mengikutinya, maka apa boleh buat.
"Ramalannya berubah jadi apa?" tanyaku bingung. Kami menghentikan langkah sejenak untuk mendengar penjelasan dari Irvan.
Irvan menyentuh kepalanya, lalu memejamkan mata. "Si... Dylan sudah terkena tembakan jarum itu. Tapi dia masih bisa diselamatkan."
"Ka–kalau begitu kita harus cepat! Aku akan menyelamatkannya!" tegasku. Aku tidak sabar untuk menemui Dylan-san. Dia sudah terkena jarum itu. Tapi dia ternyata masih bisa menahannya. Darling-ku memang hebat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bell. Ternyata darling-nya Irvan juga mencemaskan Dylan-san.
"Dia pingsan di pinggir jalan. Hanya tidak sadarkan diri. Tapi dia belum mati saat ini." Jawab Irvan.
"Ah, tidak boleh terjadi! Aku akan pergi untuk menolongnya!" Aku kembali berlari lagi untuk menyelamatkan Dylan-san. Aku akan membantunya. karena dia adalah darling-ku!
"Van! Apakah masih ada waktu untuk menyelamatkan Dylan?" tanya Bell. "Apakah Takana bisa menyelamatkannya?"
Irvan menggeleng. "Tidak. Bukan Takana yang bisa menyelamatkannya. Tapi... ada seseorang yang akan datang menghampiri Dylan."
*
*
*
To be Continued-