Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 32~ Monster lain muncul kembali?!



____________________________________________


****


*Takana Utsuki


"Tunggu! Ini kan aneh. Kenapa hanya temanmu yang namanya Dylan itu saja yang tidak mengalami kejadian seperti yang dialami teman satu kelasnya? Semuanya mengalami hal yang sama. Tapi, kenapa Dylan tidak?" pikir Lisa-san sembari bertanya padaku.


Aku menggeleng pelan. Lalu, menempelkan kedua telunjukku ke depan dan menjawab, "Karena, Dylan-san selalu dekat dengan tasnya. Dia tidak mau tas kesayangannya itu hilang. Karena pada saat itu, dia membawa banyak barang yang berharga baginya. Apalagi, dia membawa laptopnya sendiri. Kan kalau hilang bisa bahaya. Makanya, dia selalu mendekatkan tas itu dengan dirinya."


Aku sampai capek menjelaskan itu semua. Ah! Apakah Mereka semua akan percaya? Semoga saja mereka percaya! Ayo dong! Jawab! Kenapa mereka hanya diam saja?


Aku mulai takut.


"Oooh...."


Aku sedikit terkejut karena mereka tiba-tiba mengeluarkan suaranya serontak yang terdengar keras. Mereka mengangguk-angguk. Sepertinya mereka paham dan percaya denganku. Huh, syukurlah....


"Yah, seharusnya aku juga pegang tasku sendiri, ya? Mungkin karena aku terlalu ceroboh." Ujar Kiky-san sambil terkekeh.


"Iya." Lisa-san juga tertawa kecil. "Untuk apa Dylan membawa banyak barang seperti itu?"


"Haha..., entahlah. Mungkin untuk menghibur dirinya." Jawabku.


"Oh iya. Dia kan anak No life. Tidak mungkin bisa jauh dari laptop atau komputer atau ponselnya." Kata Kiky-san.


Kali ini aku hanya mengangguk saja. Sebenarnya, aku agak sedikit kesal sih, kalau Dylan-san dikatain anak No life. Ah, tapi biarkanlah. Kiky-san mungkin hanya bercanda.


"Oh iya kalian semua, sebentar lagi ujian akhir semester satu akan dimulai, loh!" Kiky-san kembali membuka mulutnya lagi.


Aku terlihat biasa saja. Karena aku tidak mengerti. Ulangan itu apa? Dan saat ku perhatikan tampangnya Lisa-san, dia terlihat kaget. Memangnya menakutkan, ya?


"Wah! Kapan dimulainya?" tanya Lisa-san dengan suara yang agak dibesarkan.


"Minggu depan! Waktunya sebentar lagi, loh!" jawab Kiky-san.


"Wah! Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu datang juga!"


"Kenapa kau malah menantikannya? Ulangan kali ini susah, loh!"


"Biarkan saja. Aku sudah tidak sabar ingin belajar dan mendapat peringkat terbaik satu sekolah lagi!"


"Kamu enak. Kamu kan pintar anaknya."


"Haha..., kalau mau, aku bisa belajar denganmu, kok!"


"Benarkah? Yeay!"


Kali ini akulah yang menyimak. Sungguh! Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan. Karena, aku tidak tahu apa itu artinya Ujian? Ulangan? Semester? Atau yang lainnya yang sedang dibicarakan kedua perempuan di depanku ini.


"Hei, Takana! Apa kamu mau belajar bersama kami juga?" tanya Kiky-san mengejutkanku yang sedang melamun.


Aku tersentak. "Hah? Belajar untuk apa?"


"Untuk Ulanga Akhir Semester satu. Kan biasa disingkat dengan UAS1. Begitu, sih kalau tidak salah." Jawab Kiky-san.


"Tunggu sebentar. UAS satu itu apa, ya?" Aku menelengkan kepalaku.


Mereka berdua saling menatap bingung, lalu kembali menengok ke arahku. Lisa-san akan menjawab, "Itu adalah Ujian di mana semua murid di sekolah ini akan diberikan soal mata pelajaran tanpa melihat ke buku dan menyontek dengan teman. Pokoknya, soal itu harus kita sendiri yang mengerjakannya!" jelas Lisa-san.


"Oh jadi begitu." Aku mengangguk paham.


"Eh? Bagaimana kau tidak tahu? Apa selama ini kau tidak pernah ikut ulangan di sekolah?" tanya Kiky-san bingung.


"Hehe..., maaf. Aku tidak pernah sekolah soalnya." Jawabku dengan tertawa kecil dan ekspresi malu ku.


"Ehh? Apa yang terjadi?! Kenapa kau tidak pernah sekolah?!"


"Ah, itu... aku sulit menjelaskannya."


"Oh baiklah! Tapi ketahuilah. Kau harus belajar, Takana. Karena ulangan itu sangat sulit."


"Eh? Benarkah?"


"Iya. Makanya kita harus belajar. Ayolah. Kita belajar bersama saja, yuk!" ajak Lisa-san.


Aku hanya mengangguk senang untuk menerima ajakan mereka. Belajar, ya? Itu seperti membaca buku Oniroshi di perpustakaan Jepang dan menghafal power yang tertera di dalam buku itu untuk aku latih. Sepertinya akan menyenangkan!


"Hei? Kita akan belajar di mana, nih?" tanya Kiky-san.


"Bagaimana di rumah Bu April. Dia kan guru yang pintar!" jawab Lisa-san.


Seketika aku terkejut saat mendengar kata 'Bu April' itu. Maksudnya apakah Aprilia-sensei si Onirida yang kemarin itu? Dia kan sudah mati!


(Onirida, istilah baru yang artinya pemimpin setan. Yaitu, bos dari para Oni yang memimpin dan ia lah yang bisa mendatangkan Oni sebagai perajuritnya.)


"Eh? Jangan di rumah Bu April. Kan dia sudah keluar dari sekolah ini. Dia tidak mengajar di sini lagi." Kata Kiky-san.


"Eh? Pindah sekolah?" Batinku heran.


"Benarkah Bu April itu pindah? Kata siapa, kamu?" tanya Lisa-san tidak percaya.


"Kan Bu April sendiri wali kelasku. Tadi pagi, wali kelas kami yang baru datang dan beliau pun mengumumkan berita itu dan ia juga mengatakan kalau guru baru itu lah yang akan menjadi pengganti Bu April." Jelas Kiky-san.


Lisa-san hanya mengangguk. Oh, syukurlah mereka tidak tahu kalau Aprilia-sensei itu telah tiada karena sudah dibunuh oleh Onii-chan. Onii-chan sengaja membunuh guru itu, karena dia memang monster yang menyamar sebagai wanita cantik.


Sepertinya, di luar sana, tidak hanya Aprilia-sensei saja yang menjadi Onirida. Pasti, ada orang lain lagi yang akan menyerang kami para Oniroshi dan merebut seluruh dunia. Aku harus selalu waspada. Karena, mereka bisa menyamar menjadi apa saja. Dan aku juga harus selalu melindungi Dylan-san.


****


Chapter 32: [ Monster lain muncul kembali?! ]


****


*POV DYLAN LEVIANO


*** kumohon jangan pergi meninggalkanku sendirian!


Maaf Dylan, ini memang sudah jalanku. Mungkin kita akan berpisah di sini dan tidak akan bisa bertemu lagi.


Tidak ***, kau tidak boleh pergi! Aku akan menahanmu! Kita sudah berteman lama, dan sekarang kau meninggalkanku begitu saja? Ingatlah persahabatan yang sudah kita bangun sejak kecil!


Tidak, Dylan. Aku harus pergi mengejar Orang tuaku. Maaf kalau aku berbuat seperti ini. Maafkan aku!


Eh? Tunggu ***, jangan pergi. Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kau pergi! *** sebenarnya aku....


CKIIIT... BRUAK!


*Suara tabrakan mobil


Eh?! I–ibu? Ayah? Tidak! Jangan mereka juga. Jangan... kumohon! Setelah aku kehilangan ***, aku juga tidak ingin kehilangan mereka! Tidak. Jangan! Jangan ambil mereka! Jangan bawa pergi orang yang kusayangi! Jangan lagi! Aaaaaa....


****


"JANGAN Bawa ... mereka... hah, hah...."


Eh? Mimpi itu lagi! Akh! Kenapa mimpi itu selalu muncul di saat aku sedang tidur dengan tenang. Mimpi buruk yang terus menerror ku. Mimpi masa lalu yang suram.


Hah, aku tahu kalau masa laluku memang tidak sepenuhnya bahagia. Tapi, anak perempuan berambut pendek berwarna coklat itu selalu terbayang di pikiranku dan dia juga ada di dalam mimpiku. Siapa anak kecil itu? Apa hubunganku dengannya?


Apa mungkin aku bertanya pada kakak saja?


BRAK!


"Dylan! Kau baik-baik saja? Ada apa denganmu?!"


Aku kaget saat tiba-tiba kakak ku datang mendobrak pintu kamarku dan berteriak padaku. Aku pun mensipitkan mataku. Menatap tajam pada Kakakku. "Kakak sedang apa?! Aku sampai kaget!" bentakku.


"Justru aku yang kaget! Kenapa kau tiba-tiba berteriak, hah? Sampai terdengar ke depan, loh!" Kakakku membalas bentakanku. Setelah itu, ia terdiam sejenak. Lalu tak lama kemudian, ia berjalan cepat ke arahku. Kakakku berdiri tepat di samping tempat tidurku. Aku mensipitkan mataku lagi padanya. Mau apa lagi dia?!


Tapi, seketika, mataku dibuat terbuka lebar karena terkejut saat melihat tampang kakakku. Tampang yang menyeramkan dan matanya itu berubah menjadi kuning? Eh! Itu kuning. Mata yang sama seperti Bu April. Mata yang akan merubah manusia menjadi monster! Tidak! Apa selama ini, Kakakku adalah monster juga?!


"Eh?!" Aku kembali terkejut. Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan kakakku dari luar kamar. Aku akan pergi untuk menyusul kakakku yang mungkin saja sedang dalam bahaya!


Secepatnya, aku langsung turun dari tempat tidurku. Tapi, saat langkahku ingin mendekati pintu, tiba-tiba saja, sesuatu telah melilit kakiku dan membuat tubuhku terjatuh ke lantai.


Kepalaku menengok ke belakang. Aku melihat sosok kakakku yang menyeramkan itu berdiri di belakangku. Dan lagi-lagi makhluk itu juga memiliki tentakel hitam yang sama seperti monster Bu April.


Saat ini, tentakel itu melilit kaki kananku. Kalau hanya satu kaki saja, sepertinya aku masih bisa untuk bangkit lagi. Aku akan mencoba untuk berdiri lagi. Tapi tiba-tiba saja, tubuhku terangkat ke udara. Ternyata monster itu telah mengangkatku dengan tentakelnya. Kepalaku sedikit terbentur langit-langit kamarku. Lalu, dengan cepat ia menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidurku. Untung di tempat tidur yang empuk, jadi aku tidak bisa merasa sakit.


Tapi, aku tetap tidak boleh diam di sini. Aku harus segera pergi dari kamarku ini. Ah! Ternyata tidak bisa. Sialan! Beberapa tentakelnya itu melilit tubuhku yang lainnya. Aku terbaring di atas tempat tidurku sendiri dalam keadaan terikat dengan tentakel hitam menjijikkan ini.


Ah! Bagaimana ini?! Tampang kakakku yang menyeramkan itu telah membuatku takut dan jantungku berdetak dengan cepat. Aku mulai gemetar.


Tak lama, kulit wajah monster kakakku itu mulai mengelupas dan hancur. Muncullah wajah baru. Sudah kuduga! Monster itu hanya meniru kakakku saja.


Tapi, wajah aslinya itu telah membuatku terkejut. Karena, wajah menyeramkanya itu adalah sosok anak perempuan berambut pendek coklat yang muncul di mimpiku! Mirip sekali. Hanya saja, matanya itu kuning.


Kepala monster itu semakin dekat ke arahku. Lalu, perlahan, aku bisa melihat kulit di pinggiran bibirnya itu kembali mengelupas. Saat ini, dia mau apa?!


Eh?! Aku terkejut! Apa-apaan ini?!


Tiba-tiba saja, lehernya memanjang mengarah kepadaku. Saat kepalanya itu sudah dekat dengan wajahku, tiba-tiba saja mulutnya itu terbuka sangat lebar dengan beberapa gigi runcing yang penuh dengan tetesan darah.


Seram sekali!


Saat ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Apakah mulut besar monster itu akan melahap kepalaku dan menghancurkannya menjadi bubur di dalam mulutnya, lalu menelan kepalaku dan mencernanya?


Entahlah. Di saat seperti ini, siapa yang akan menyelamatkanku lagi. Percuma saja jika aku berteriak, tidak ada siapapun yang akan mendengarnya.


Lidah hitamnya yang penuh lendir itu mulai menggeliat. Mendekat ke wajahku. Aku semakin jijik saja. Tentakelnya benar-benar menjijikan! Lendirnya yang lengket itu telah membuatku ingin muntah!


Aku akan mengizinkan monster itu untuk mengoyak kepalaku. Tapi, jangan sampai lidahnya itu menjilati wajahku. Tidak bisa kubiarkan!


"TOLONG AKUUU!"


Ah! Tanpa sadar aku pun berteriak. Ikh! Lidahnya semakin mendekat. Aku tidak tahan lagi!


"TOLONG! TOLONG AKU! TIDAAAK!"


Akh! Percuma saja Dylan, tidak akan ada yang menolong–


JLEB!


"GRAAAA!"


Eh? Apa yang terjadi? Aku melihat monster itu tiba-tiba saja terpental ke arah pintu kamarku. Di lantai, ia mengerang kesakitan. Siapa yang telah menyerangnya tadi?


"Berani juga kau mendatangi rumah kami!"


Suara itu! Aku mengenal suara itu. Dengan cepat, aku menengok ke arah jendela yang ada di samping dekat dengan lemariku. Di sana aku melihat ada Tanaka yang sedang jongkok di jendela yang terbuka itu sambil menjulurkan beberapa tentakelnya.


Monster itu kembali bangun. Matanya menatap tajam ke arah Tanaka. Tapi tak lama kemudian, ia malah melirik ke arahku. Ah, oh tidak! Apa yang akan dia lakukan?! Aku harus cepat pergi dari sini sebelum monster itu menahanku lagi.


Eh! Tunggu dulu! Ah! Aku masih belum bisa bergerak karena lendir yang menempel di tubuhku itu benar-benar lengket. Aku seperti terjebak di jebakan tikus yang ada lem perekatnya.


Tidak! Bagaimana ini?! Monster itu kembali menjulurkan tentakelnya ke arahku.


"Jangan kau sentuh dia!" teriak Tanaka. Ia juga menjulurkan tentakelnya ke arah monster itu. Tanaka berhasil mendapatkan kakinya. Lalu dengan cepat, ia menarik paksa monster itu keluar lewat jendela dan menjauh dariku.


Jendelanya hancur saat terkena benturan dari tubuh monster yang lumayan besar itu. Bahkan, sangking besarnya lubang yang dibuat monster itu di jendela kamarku, aku sampai bisa melihat halaman depan rumahku dari tempat tidurku.


Di depan sana, Tanaka sedang bertarung dengan monster itu. Aku hanya bisa diam saja menatapi ketegangan yang dilakukan Tanaka dengan monster itu. Pertarungan mereka sangat sengit.


Tanaka terus menyerang dengan senjatanya. Dan monster itu dengan tentakel dan mulut besarnya itu.


Serangan Monsternya tidak pernah mengenai Tanaka sedikit pun. Karena, Tanaka menggunakan kekuatan kecepatan kilatnya. Tapi, Tanaka sendiri selalu berhasil menyerang lawannya itu.


Sepertinya, monster itu bukan tandingan untuk Tanaka. Aku tidak percaya mengatakan ini, tapi ini terpaksa karena aku ingin Tanaka menang melawan Monster itu.


Pada akhirnya, setelah mendapat banyak luka dari tusukan tentakel Tanaka, monster itu pun akhirnya terjatuh. Sekarang juga, Tanaka akan langsung mengakhiri hidup monster itu dengan cepat.


Ia berjalan secara perlahan Tanaka berjalan menghampiri monster itu. Ia pikir, Monsternya sudah mulai lumpuh dan tidak bisa bergerak lagi. Tapi, untuk memastikan, Tanaka akan menyentuh monster itu dengan tentakelnya.


"Hmm..., tubuhnya empuk juga, ya? Haha..., buat bantal tidur enak nih. Apalagi, pas lagi tiduran sambil nonton tv." Ujar Tanaka sambil tertawa dan menekan-nekan tubuh Monster yang ia anggap empuk itu.


"Sepertinya, dia memang sudah mati, ya? Baiklah, sekarang juga aku akan–"


GREP!


Tanaka terkejut. Begitu juga dengan diriku yang melihat tentakel Tanaka itu tiba-tiba saja dililit oleh tentakel milik monster itu dengan cepat. Tentakel itu merembet sampai ke tubuh Tanaka. Lalu, pada bagian ujung tentakel itu menyentuh dada Tanaka lalu....


BZZZTTT!


"UWAAAAAKH!"


Eh?! Apalagi itu? Tiba-tiba muncul sengatan listrik yang menyerang Tanaka yang dialirkan dari tentakel monster itu. Listrik berwarna ungu yang akan melumpuhkan lawannya.


Tanaka gemetar dan berteriak kesakitan. Lalu, monster itu pun mengakhiri serangannya. Seketika, Tanaka langsung tertelungkup ke tanah.


PIP!


"Tuan, aku berhasil mendapatkannya lagi." Ujar Monster itu sambil mencengkram kepala Tanaka. Ia berbicara pada orang lain lewat alat komunikasi yang tertempel di telinganya.


[ Bagus. Bawa dia ke sini.]


"Baik."


[Eh! Tapi tunggu dulu!]


"Ada apa, Tuan?"


[ Hei! Cepat kau pergi dari sana!]


"Hah? Ada masalah apa?!"


[ Ada para Oniroshi yang lainnya mulai mendekat ke arahmu! Mundur sekarang! Tinggalkan saja si Tanaka itu!]


"Ah! Ba–baik, Tuan!"


Monsternya melarikan diri? Dia terbang ke langit dengan cepat dan menghilang. Sementara Tanaka masih tertelungkup tidak bergerak di atas tanah halamanku.


Ah! Aku ingin membantu dan melihat keadaanya. Tapi, sayang, aku masih belum bisa bergerak. Dan lebih parahnya lagi, lendir yang lengket ini malah berubah menjadi keras. Kok jadi seperti semen yang membeku saja.


Ah! Payah! Bagaimanapun aku harus segera bebas dari sini!


"ONII-CHAN!"


Eh?! Muncul teriakan Takana? Apa dia sudah pulang?


Ya. Takana sudah berada di depan rumahku. Aku bisa melihatnya. Ia akan menghampiri kakaknya yang sedang tidak berdaya di tanah itu. Tapi, kenapa tiba-tiba langkah Takana terhenti?


"Ah iya! Aku harus masuk lewat pintu depan. Tidak sopan namanya!" ujarnya sambil berlari meninggalkan halaman depan dan anak itu malah memasuki rumahku lewat pintu depan.


Apa yang ada di pikirannya, sih?! Kenapa dia tidak langsung saja lewat halaman itu?


BRAK!


"Onii-chan..., eh?! Eh! Dylan-san juga kena? Apa yang telah terjadi di sini? Semuanya kok berantakan?" tanya Takana panik.


"Ah, ceritanya panjang. Aku tidak bisa menjelaskannya."


"Baiklah kalau begitu."


Hanya itu saja? Takana langsung berlari menghampiri kakaknya. Dia melewati lubang besar yang tadinya itu adalah jendelaku. Tapi hancur karena serangan tadi.


Ah! Kenapa dia tidak melepaskan aku dulu, sih?! Takanaaaa!


To be Continued-