Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 35~ Kucing Hitam, part 2



Aku menunjukkan tulisan berdarah berbahasa Jepang itu pada kak Fely dan yang lainnya. Setelah mereka melihat tulisan itu, seketika ekspresi mereka jadi kaget. Terkejut sekaligus ketakutan. Ada apa dengan mereka?


"E, eh! Dylan? Sejak kapan tulisan ini muncul di jendelamu?" tanya Tanaka penasaran.


"Sejak tadi pagi. Saat aku bangun tidur." Jawabku pelan. "Hmm..., apa ada sesuatu yang muncul sebelum tulisan ini?" tanya Tanaka lagi.


Aku berusaha mengingat. Lalu, tak lama kemudian, aku kembali mendongak. Menjawab pertanyaan Tanaka itu tanpa melirik ke arahnya. "Iya. Seekor kucing hitam yang masuk ke dalam kamarku. Aku mengejar kucing itu sampai hewan itu memberantakan tempat tidurku. Tapi pada akhirnya, aku berhasil menangkapnya. Dan saat aku melepaskan kucing hitam itulah, tulisan ini muncul." Jelasku.


"Kucing hitam... kucing hitam? Eh? Apa jangan-jangan...." Tanaka bergumam. Tapi, ia juga sedikit terkejut dengan pemikirannya.


"Ada apa, Tanaka?" tanya Fely.


Tanaka kembali mendongak. Lalu, dengan cepat, ia menggosokkan tangan kanannya di jendelaku untuk menghapus tulisan darah itu. "Dia kembali menunjukkan sosoknya lagi." Tanaka bergumam setelah ia berhasil menghapus coretan itu.


"Onii-chan? Ada masalah apa?" tanya Takana penasaran.


"Takana, Kucing hitam itu muncul lagi!" Tanaka memegang pundak Takana dengan cepat, lalu menggoyangkannya panik.


"Kucing hitam?" Takana menelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak ingat?! Yang dulu itu, loh!"


Takana berpikir sejenak. "Kucing hitam yang dulu... Eh?!" Takana juga ikut terkejut seperti kakaknya. Ada apa dengan mereka itu?


Takana juga menggenggam pundak kakaknya lalu menggoyangkannya seperti Tanaka yang melakukan hal yang sama pada adiknya beberapa menit yang lalu. Mereka berdua malah merengek. Eh? Kok jadi aneh gini, ya? Dan seketika, rasa penasaran yang penuh dengan tanda tanyaku muncul di benakku. Mereka ini kenapa? Dan kenapa mereka sangat terkejut saat aku mengatakan Kucing hitam? Apa yang mereka takutkan dari kucing itu? Apa karena mitosnya? Atau hal lainnya?


"Kalian kenapa? Apa yang kalian takuti dari Kucing Hitam itu?" tanya Kak Fely yang berusaha untuk menenangkan mereka berdua.


"Kucing Hitam itu berbahaya!" Tanaka sedikit membentak.


"Kucing itu harus kita hindari!" Takana melanjutkan.


"Memangnya ada apa dengan kucing itu?" tanya Kak Fely.


"Apa kalian takut dengan kucing itu?" Aku juga ikut bertanya. Kali ini, aku akan bersikap untuk lebih serius. Karena, tampang kedua kakak beradik ini tidak seperti biasanya. Hanya karena seekor kucing saja, mereka sudah dibuat ketakutan.


"Bukan takut. Tapi hanya waspada saja." Kata Takana.


"Iya. Karena kami, tidak ingin kejadian seperti yang dulu terulang lagi." Tanaka sedikit menundukkan kepalanya.


"Memangnya, kejadian apa itu?"


Hmm..., kakakku sepertinya mulai penasaran, nih. Sama sih aku juga. Sebenarnya, kejadian seperti apa sampai-sampai membuat mereka ketakutan seperti itu?


"Aku akan menceritakannya!"


****


Chapter 35: [ Kucing Hitam, part 2 ]


****


Tak!


"Ini dia. Silahkan di makan dulu Mie instan yang ku buat sendiri. Semoga suka. Ini sarapan pagi untuk kalian!" Kata Kak Fely sambil meletakan beberapa mangkuk berisi makanan berkuah itu di atas meja makan.


Kami semua sudah duduk di kursi masing-masing. Aku dan Takana juga sudah siap dengan seragam sekolah kami. Kami berdua memang harus bersiap terlebih dahulu sebelum Tanaka menceritakan kejadian yang ia maksud itu padaku dan Kak Fely. Agar tidak terlambat pergi ke sekolah.


"Wah! Sarapannya kok pake Ramen?" tanya Takana senang.


"Ini hanya mie instan biasa! Bukan ramen. Jangan bawa-bawa tentang Jepang jika berada di dekatku!" bentakku tiba-tiba pada Takana.


Lalu, seketika, siku kakakku menyenggol tubuhku dengan keras. Aku melirik sinis ke kakaku. "Jangan seperti itu, Dylan." Bisik kakaku. Aku memutar mataku malas, lalu membuang muka dan sesekali menyesap kuah Mie-nya.


Takana hanya terdiam saja. Kak Fely pun tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Haha..., maafkan adikku! Oh iya. Soal kejadian yang ingin kalian ceritakan padaku itu? Bagaimana?" tanya Kak Fely penasaran.


"Yaa..., kejadiannya sekitar 4 tahun yang lalu...."


****


Flashback- cerita Tanaka di masa lalu~


11 tahun yang lalu, pada tanggal 20 April, tepatnya di hari ulang tahun Takana Utsuki. Takana dan Tanaka merayakan hari jadi itu di rumah mereka yang ada di Jepang. Saat itu, mereka memang sudah menjadi Oniroshi, ya!


Takana merayakan ulang tahunnya hanya bersama dengan kakaknya saja. Saat itu masih damai-damai saja, sih....


Tapi, pada saat sedang memakan kue ulang tahunnya, Takana melihat ada seekor kucing hitam yang sedang duduk di jendela rumahnya. Kucing hitam bertubuh agak kecil dengan kalung lonceng bulat.


Takana menyukai kucing itu. Ia pun menghampiri, lalu mengelus kepala kucing itu. "Onii-chan, dia imut sekali!"


(Author: *Intinya mereka menggunakan bahasa Jepang, ya? :'))


"Iya. Tapi, Takana-Chan, biarkan saja kucing itu. Kamu kan lagi makan, terus megang-megang kucing yang kotor. Sini Takana. Habiskan dulu makananmu!" teriak Tanaka.


"Tapi, Onii-chan, setelah aku menghabiskan makanannya, Takana-Chan mau memainkan kucing ini lagi, ya?"


"Iya. Sudahlah, cepat sini!"


"Aku datang!" Sebelum Takana pergi, dia ingin memainkan kucing itu sebentar lagi saja. Ia menarik-narik kumis kucing itu lalu mengelus-elus kepalanya. Tapi, karena (mungkin) kucing itu sudah merasa geram atau tidak nyaman dengan perilaku Takana padanya, secara mendadak, kucing itu mencakar tangan Takana dan mendesis keras.


"Aduh!" Takana menjerit. Seketika, suara erangan Takana itu pun telah mengundang kakaknya untuk datang menghampirinya. "Takana? Apa yang kau lakukan?" tanya Tanaka cemas.


"Aku dicakar kucing itu! Sakitt...."


"Kan sudah Onii-chan bilang, jangan mempermainkan kucingnya dengan kasar. Kamu nakal, sih! Cup~ Ini cuma luka kecil saja, kok. Sekarang, sini... coba aku obati-"


"Chiissss...."


Kucing itu kembali mendesis kencang. Lalu, ia melompat cepat ke arah Tanaka. Tanaka terkejut. Ia menarik adiknya untu menghindar bersama. Eh, kucing itu kenapa, sih?!


Setelah menginjak lantai, kucing itu kembali menegakkan keempat kakinya. Tatapan mata kuningnya itu tajam sekali. Lalu, kucing itu mengeluarkan asap hitam. Semakin banyak dan aura yang dirasakan Tanaka dan Takana pun semakin kuat. Terlihat mengerikan.


Tak lama kemudian, asap hitam itu pun menjadi besar dan lebih besar. "Eh? Kucing apa itu? Apa dia berubah bentuk menjadi monster atau tubuhnya yang semakin membesar?" batin Tanaka berkecamuk.


"Nyaaaww~ Haha... ternyata kalian juga bersembunyi di tempat ini?"


Tanaka dan Takana terkejut. Mereka membesarkan bola matanya, menatap ke sosok manusia setengah kucing yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka. Seorang lelaki dewasa menggunakan jubah hitam besar. Tangannya tebal dengan cakar seperti kucing. Ekor dengan rambut yang lebat seperti kucing anggora. Dua telinga kucing yang pasti ada di atas kepalanya. Siapa sebenarnya dia?


"Si, siapa kau?!" bentak Tanaka. Sementara Takana hanya gemetar ketakutan sambil memeluk Tanaka.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku ini. Yang penting sekarang, aku bisa menemukan kalian!"


"Apa yang kau mau dari kami?!"


"Cish! Kau pasti Oni yang jahat. Aku tidak akan membiarkanmu. Kami para Oniroshi lah yang akan membunuh kalian. Para Oni!" bentak Tanaka. Lalu, setelah itu ia melepaskan pelukan adiknya. "Takana, kau pergilah dari sini! Cepat! Onii-chan akan melawan Oni ini!"


Takana menggeleng cepat. "Tidak, Onii-chan! Aku tidak ingin meninggalkan Onii-chan!"


"Takana! Cepat pergi. Aku akan menyusulmu nanti! Cepat!"


BUK!


"Onii-chan!" teriak Takana saat melihat Kakaknya itu diserang oleh si manusia kucing itu. Tapi, untungnya Tanaka sempat menangkis serangan itu dengan lengannya yang kuat.


Tanaka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia merasa tangannya itu akan terbakar. "Takana. Cepat kau lari!" Tanaka membalas serangan si manusia kucing itu. Ia melemparkan beberapa bola api biru. Tapi ternyata, dengan kekuatan kegelapan yang dimiliki kucing hitam itu, ia dapat menyerap serangan Tanaka dan memantulkannya kembali ke Tanaka.


Tanaka berguling ke kanan dengan cepat untuk menghindar dari bola api yang ia buat sendiri itu. Bola api itu menabrak dinding rumah dan menyebabkan kebakaran.


"Onii-chan! Takana-Chan juga ingin menyerang dia!" Takana berlari mendekati Kakaknya. Ia berdiri di hadapan Onii-chan nya itu. Lalu, ia juga mengumpulkan kekuatan sampai menjadi beberapa gumpalan kecil yang akan ia lemparkan pada musuh di depannya itu.


"Jangan, Takana-Chan! Kau itu masih pemula." Larang Tanaka.


Tapi, Takana tidak mendengarkan kakaknya itu. Sebelum ia melemparkan serangannya, Takana berkata, "Tidak apa-apa, Onii-chan! Latihan yang kemarin itu, aku sudah terlihat hebat, kan?"


Takana kembali menatap manusia kucing itu. Ia pun mulai mendorong bola api yang ia buat itu ke arah Manusia kucing itu. Tapi, si Manusia Kucing itu masih bisa menghindar karena serangan Takana sangat kecil dan jika terkena pun tidak akan ada apa-apanya.


"Heh? Hanya itu? Sekarang rasakan ini! Sword nekoito!" Manusia kucing itu mengangkat tangannya ke depan, lalu seketika muncul sebuah senjata berupa pedang panjang dengan corak tapak kucing di mata pisaunya. Warnanya pink dan kuning. Terlihat lucu, tapi sangat mematikan.


Manusia kucing itu mengangkat pedangnya, lalu menghempaskannya ke arah Takana. Tapi, Takana hanya diam saja di sana dengan ekspresi terkejut. Tapi untungnya Tanaka berhasil mendorong adiknya itu untuk menghindar.


Ayunan dari pedang itu mengeluarkan garis cahaya berwarna ungu. Setelah garis ungu itu menabrak dinding rumah Takana dan Tanaka, tiba-tiba saja dindingnya terbelah dan mengeluarkan ledakan kecil. Seketika semuanya merasakan guncangan. Rumahnya akan hancur!


"Takana-Chan. Pegangan yang kuat!" Takana pun mengangguk. Ia menuruti kakaknya. Lalu, setelah adiknya itu memeluk Tanaka dengan genggaman yang kuat, Tanaka pun kembali mengeluarkan kekuatannya. "Cho no Hayakushu!"


WUUUSHH....


Tanaka mulai berlari dengan kekuatan super cepat miliknya itu. Kali ini dia akan kabur dulu dari si Manusia Kucing yang menyerangnya itu. Karena, Tanaka tidak ingin Takana ikut-ikutan juga dalam pertarungannya.


Tak lama berlari di tanah, Tanaka pun melompat dan menghentakkan kakinya di dahan pohon yang tinggi. Dari atas sana, ia bisa melihat keadaan desa di Jepang. Ia mencari sosok si Manusia kucing itu. Tapi sayang, sosoknya menghilang.


"Di mana dia?" gumam Tanaka. Matanya terus melirik cepat ke segala arah untuk mencari si Manusia kucing itu. "Apa dia sudah pergi?"


"Onii-chan? Apa kita sudah aman?" tanya Takana setelah ia melepaskan pelukan dari kakaknya.


"Sudah, Takana-Chan. Kau jangan takut. Aku akan melindungimu!"


Takana mengangguk lega. Ternyata Takana percaya begitu saja. Padahal, Tanaka tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Ia sendiri juga tidak tahu di mana Manusia Kucing itu berada.


"Ah, Onii-chan. Itu apa?" Takana menunjuk ke depannya. Tanaka pun menengok ke arah tempat yang ditunjuk Takana itu. Ia terkejut saat melihat ada banyak pohon yang tumbang di depannya. Pohon tumbang itu semakin mendekat. Lalu, tiba-tiba saja pohon yang ada di sekeliling pohon besar yang ditempati Takana dan Tanaka juga ikut rubuh. Sekarang, yang tersisah hanya pohon besar yang ditempati Takana dan Tanaka saja yang masih berdiri.


"A, apa yang telah terjadi?!"


TAK!


Takana dan Tanaka terkejut saat melihat seseorang yang menghentikan kakinya di atas pohon yang sudah tumbang di bawah sana. Ternyata orang itu adalah si Manusia Kucing itu dengan pedang panjangnya. "Apa jangan-jangan, pohon yang tumbang ini adalah ulahnya?!" batin Tanaka kaget.


"Halo~ Kita bertemu lagi di sini, ya?" si Manusia Kucing itu tersenyum. Lalu, ia kembali menghempaskan pedangnya ke depan dan seketika saja batang tebal pohon yang ditempati Takana dan Tanaka itu terbelah menjadi dua. Takana sangat ketakutan karena mereka akan jatuh karena mereka ada di puncak pohon yang lumayan tinggi.


Tanaka ingin pergi ke pohon lainnya, tapi sayang pohon yang lain juga sudah rubuh. Kalau begitu, terpaksa Tanaka dan Takana harus mendarat ke tanah dengan selamat mau bagaimanapun caranya.


HUP!


Mereka berdua terjatuh ke tumpukan pohon-pohon besar itu. Si Manusia Kucing itu pun berjalan perlahan menghampiri tempat mereka terjatuh.


Masih belum ada pergerakan. Sebenarnya, apa yang sedang Takana dan Tanaka lakukan di sana? Apa mereka mati setelah jatuh dari ketinggian pohon besar tadi?


"Hmm... ini aneh. Aku tidak melihat mereka." Gumam si Manusia Kucing itu.


BUAK!


"Akh!" Mulut si Manusia Kucing itu mengeluarkan darah. Perutnya tertusuk kayu runcing yang merupakan serangan mendadak dari Tanaka yang ada di belakangnya. Manusia kucing itu tidak merasakan sakit lagi. Ia hanya tersenyum dan berkata, "Hanya ini saja tidak akan bisa menghentikanku!"


Setelah itu, si Manusia Kucing itu pun menghempaskan pedangnya dengan cepat ke arah Tanaka yang ada di belakangnya. Beruntung, Tanaka sudah menyadari serangan si Manusia Kucing itu. Jadi, ia pun langsung melompat jauh dengan cepat.


Manusia kucing itu kembali berdiri. Ia mencabut kayu runcing yang menusuk perutnya itu, lalu berbalik badan. Manatap tajam ke arah Tanaka. Lalu, Manusia Kucing itu berlari cepat ke arah Tanaka sambil menodongkan pedangnya itu.


Tanaka memasang pelindung api birunya. Lalu, ia juga berlari ke arah Manusia Kucing itu. Manusia kucing menghempaskan pedangnya ke arah Tanaka. Tapi sayang tidak bisa kerena pelindung api Tanaka itu memang sangat kuat. Lalu, setelah itu Tanaka akan menggunakan kesempatannya untuk memukul Manusia Kucing itu dengan tangannya. Lalu melompat ke belakang untuk menghindar.


"Hei, kau itu curang tahu. Aku saja menggunakan tangan kosong, masa kau pakai senjata, sih? Tidak adil, loh~" ujar Tanaka sambil membuat gumpalan api biru lagi di tangan kanannya.


"Heh, jadi kau tidak ingin aku menggunakan senjata? Oh, tidak masalah!" Manusia kucing itu menghilangkan pedang kucing dari genggamannya. "Sekarang sudah, kan? Ayo kita mulai lagi!"


Tanaka dan si Manusia Kucing itu saling menghampiri. Mereka menyiapkan powernya masing-masing. Tanaka dengan api birunya dan Manusia Kucing dengan bayangan kegelapannya. Setelah mereka berdua saling dekat, mereka pun langsung memberikan serangan pada lawannya.


Ternyata, serangan itu menghilang di tengah setelah sama-sama bertabrakan. Power mereka yang bertabrakan itu telah membuat ledakan kecil yang menyebabkan semua hewan yang ada di hutan itu jadi terganggu. Burung-burung berhamburan di langit dan entah bagaimana dengan hewan darat lainnya.


Tanaka dan si Manusia Kucing itu kembali menyerang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Keributan mereka sangat terganggu. Sampai membuat Takana yang sedang bersembunyi di balik tumbangan pohon itu merasa ketakutan. Ia takut jika kakaknya akan kalah. Tapi, ia percaya pada kakaknya kalau Tanaka itu pasti bisa menang!


Tak lama setelah serangan yang cukup cepat dan mendebarkan itu, Tanaka dan si Manusia Kucing kembali menjauh. Mereka sudah terlihat kelelahan. Sepertinya, kekuatan mereka itu seimbang.


Tapi, si Manusia Kucing itu masih belum menyerah. Dengan cepat, ia meluncurkan serangannya lagi pada Tanaka yang sedang memulihkan energinya itu. Tanaka menangkis serangan si Manusia Kucing itu dengan perisai api birunya. Tapi, tak lama kemudian perisainya itu mati, karena Tanaka sudah mulai kehilangan energinya. Ia harus cepat memulihkannya kembali.


"Wah, kau itu ternyata kuat juga, ya?" ujar si Manusia Kucing itu. "Hmm..., kalau kau dibunuh sekarang sepertinya sayang sekali. Apa aku akan menjadikanmu sebagai bahan percobaanku saja, ya? Mau tidak?"


"Apa maksudmu itu?!"


"Ah, tidak apa-apa. Cuma... ya... memberimu sedikit kekuatan lebih untuk percobaanku dan yang paling enak, pastinya aku akan menyiksamu terlebih dahulu sampai kau mati!"


"Tidak boleh! Onii-chan harus tetap bersama Takana-Chan. Janganlah kau tangkap dia!" Takana dengan cerobohnya tiba-tiba saja keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak.


"Takana-Chan! Apa yang kau lakukan?!" teriak Tanaka. Manusia kucing itu melirik tajam ke arah Takana. Lalu, ia pun tersenyum sambil menyiapkan serangannya lagi di tangannya. "Anak kecil tidak usah ikut campur!"


Si Manusia Kucing itu menyerang Tanaka dengan cahaya hitam yang merupakan racun mematikan yang ia miliki ke arah Takana. Takana tidak sempat untuk menghindar.


DUAR!


"Takana-Chan!"


*


*


*


To be Continued–