
"Persiapkan dirimu, Fely untuk pertempuran dan berhati-hatilah." Sambil menatap langit, Tanaka maju dua langkah ke depan. Lalu kembali menunduk. Tak lama, tubuhnya mengeluarkan cahaya biru.
Ia menempelkan kedua tangan di depan wajah, memejamkan mata. "Epontaruu!" Setelah mengucapkannya, Tanaka membentangkan tangan dengan cepat dan seketika sebuah katana berapi biru muncul di hadapannya. Tanaka mengambil senjatanya dan seketika cahaya biru yang mengelilinginya pun hancur menjadi serpihan kaca.
"Tanaka sampai mengeluarkan senjatanya?! Apa sesuatu yang menakutkan akan muncul?" batin Fely cemas. Karena tak biasanya jika Tanaka ingin bertarung harus sampai mengeluarkan senjata elemennya. Ia menduga kalau Tanaka merasakan kekuatan yang besar akan muncul. Tapi Fely sendiri tidak merasakan apapun selain kekhawatiran.
Semua orang yang ada di perumahan itu memutuskan untuk berdiam diri di dalam rumah karena mereka anggap akan terjadi badai yang besar. Jadi dengan bebas, Tanaka bisa menggunakan kekuatannya di lingkungan sekitar tanpa ada orang lain yang tahu.
"Dia ada di sekitar sini." Tanaka bergumam. Ia sudah siap untuk menarik katananya dari dalam sarung besi. Begitu musuhnya muncul, ia akan langsung menebasnya.
"Eh siapa?" Fely masih belum tahu dengan musuh yang dimaksud Tanaka itu. Karena lelaki itu masih belum memberitahunya secara detail.
Sampai tak lama kemudian suara petir menyambar kembali terdengar. Seketika itu juga, Tanaka menegaskan pada Fely untuk berjaga-jaga karena kekuatan besar itu akan segera tiba.
Sebuah kilat berwarna merah muda pun muncul dan menyambar pohon mangga yang tertanam di depan rumah Fely. Setelah kilat itu muncul, ledakan kecil pun muncul di sekitar pohon mangga tersebut.
Fely mundur ke belakang karena takut. Sementara Tanaka sudah siap untuk menghadapi seseorang yang baru saja tiba. Sosoknya masih tertutup oleh asap akibat ledakan tadi. Sampai tak lama kemudian, setelah asap itu menghilang, sosok tersebut dapat terlihat.
Fely yang melihatnya pun terkejut. Ia ingin menghembuskan napas lega karena yang muncul.hanya seekor kucing hitam. Tapi setelah ia melihat pohon mangga yang hancur tanpa sisah selain beberapa daun-daunnya di dekat kucing itu, Fely mulai merinding. Ia menduga kalau kucing itu, bukanlah kucing biasa.
"Sudah aku duga. Kau lagi ternyata." Ujar Tanaka sambil tersenyum. Ia ternyata menyambut hangat pendatang baru itu. Tapi tetap saja katananya masih disiapkan.
Kucing hitam itu terlihat tersenyum. Lalu asap hitam mengerumuni tubuhnya. Asap itu semakin besar dan tinggi. Sampai tak lama kemudian, sosok asli dari kucing itu pun terlihat.
Dia ternyata adalah seorang Onirida yang pernah bertarung dengan Tanaka dan Takana saat mereka masih berada di Jepang. Onirida itu memiliki fisik seperti manusia, tapi bertelinga dan berekor seperti kucing. Memakai pakaian serba hitam dan bersenjata pedang cahaya yang menyala yang jika diayunkan, dapat membelah tanah hingga sepuluh meter jauhnya. Elemennya adalah kegelapan dan petir.
"Hai, Tanaka. Sudah empat tahun lamanya ya kita tidak berjumpa." Onirida itu meneleng dan tersenyum. Ia terlihat ramah. Sikapnya agak tenang seperti Tanaka. "Sudah lama aku mencarimu semenjak kau kabur dari labku. Ternyata tinggal di sini, ya?"
Onirida itu mengalihkan pandangan ke arah Fely. Ia melebarkan mata lalu melambai kecil pada wanita itu. "Oh? Dia istrimu sekarang?"
"Eh?! Tidak!" Fely dan Tanaka menjawab kompak dengan pipi yang sedikit memerah. Tanaka menggeleng cepat, lalu bertanya, "Ah, sekarang untuk apa kau datang ke dunia ini, hah?!"
"Aku dapat perintah kalau di bumi ini para Oniroshi berkumpul di sekitar sini. Yah~ Aku kan mau mengalahkan mereka dan sepertinya ... makhluk-makhluk di sini bisa kujadikan pengikutku."
"Ooh ... Masih belum kapok juga ya?" Tanaka bergumam.
"Hei, kau dulu juga kalah, kan?!" Onirida itu membalas.
"Yah ... aku tidak bisa bertarung bebas sambil melindungi adikku." Tanaka mencari alasan lain dan ia tidak ingin mengingat dirinya yang lemah dulu. "Tapi sekarang ... aku dan temanku akan menghabisimu dengan cepat!"
"Ah, tunggu!" Fely menyela saat Tanaka dan Onirida itu ingin saling menyerang. Mereka berdua pun berhenti dan melirik ke wanita itu. Fely melirik ke si Onirida. "Apa ... kau akan menyerang para Oniroshi seorang diri?"
"Seorang diri? Mana mungkin aku kuat~"
"Eh?! Apa maksudmu ... ada Onirida lain yang akan tiba di sini?"
"Iya ada, dong! Tidak mungkin aku menyerang seorang diri."
"Tapi kan yang muncul di sini hanya kau seorang." Tanaka meneleng heran. Ia tidak merasakan kehadiran Oni/Onirida lainnya di dekatnya, selain si Onirida kucing itu. Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu yang gawat. "Apa jangan-jangan ...!!"
"Ada apa Tanaka?" tanya Fely yang jadi cemas saat melihat ekspresi wajah Tanaka yang berubah drastis.
"Fely!" Tanaka menoleh menatap wanita itu dengan wajah serius. "Cepat kau pergi ke sekolah! Lindungi Tanaka dan Dylan di sana!"
"Apa?!"
"Ah~ Jadi kau sudah menyadarinya, ya?" Onirida itu menyeringai. Lalu ia tertawa kecil dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Tapi sudah terlambat ... karena kedua temanku itu sudah tiba di sana~"
"Sialan! kenapa aku tidak menyadarinya?!" batin Tanaka geram. Lalu ia meminta Fely untuk segera bergegas pergi. Sementara dirinya akan menyingkirkan musuh masa kecilnya itu.
Fely mengangguk, lalu ia pergi dengan berlari cepat melewati jalan tercepat menuju ke sekolahan. Yaitu melewati atap rumah dan gedung yang ada di sekitarnya.
Tapi saat berada di atas sebuah apartemen, Fely melihat dua sosok monster yang merupakan oni suruhan si Onirida kucing tadi untuk menghalangi Fely.
Fely pun menggenggam tingkat itu dan seketika cahaya hijau yang menyinari tubuhnya pun hancur menjadi serpihan kaca. Setelah itu, Fely berlari menghampiri dua Oni yang menghalangi jalannya sambil menyerang dengan cahaya sihir yang keluar dari tongkatnya.
..."Semoga aku bisa cepat dan tidak terlambat!"...
...****************...
Saat di sekolah, kelas Dylan masih fokus dengan ujian mereka. Apalagi dengan Dylan sendiri yang terlihat kesulitan dengan kertas ujiannya. Ia juga masih merasa kesal dengan jadwal ujian yang tidak sesuai dan juga mata pelajarannya berbeda dengan apa yang sudah ia pelajari.
"Duh, fisika sialan! Bola ngegelinding aja dihitung! Biar apa, sih?!" kesalnya dalam hati. Lalu ia melirik ke arah Takana yang duduk di meja sampingnya. Di sana ia melihat lelaki itu seperti tak ada kendala dalam mengerjakan soalnya.
"Kok dia bisa tahu jawabannya, sih? Apa soal punya dia lebih mudah dari punyaku?" Dylan jadi penasaran dengan Sola ujiannya Takana. Ia mengintipi teman di sampingnya, dengan berhati-hati tanpa ketahuan guru pengawas.
Namun saat ia hampir berhasil melihat, tiba-tiba saja angin kencang muncul dari jendela di sampingnya yang terbuka. Seketika kertas ujian Dyaln yang ada di atas meja pun berterbangan dan jatuh ke lantai.
"Ck, kenapa jatuh, sih?" Dylan beranjak dari kursi lalu pergi ke dekat pintu belakang kelas karena kertasnya jatuh sampai ke sana. Tapi setelah Dylan mengambilnya, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari luar.
Seketika semua murid pun terkejut dan langsung ingin melihat keluar jendela. Tapi tak lama kemudian, terdengar suara ledakan lagi yang lebih keras dan seketika jendela di samping tempat duduk Dylan pun hancur akibat ledakan tersebut.
Semua murid yang ingin mendekati jendela langsung jatuh terduduk karena terkejut dan takut. Lalu mereka semua pergi ke pojokan dengan pintu keluar kelas. Untungnya tidak ada yang terkena serpihan kaca yang pecah itu. Sebagian dinding di dekat jendela itu juga hancur.
Ujian pun terhentikan. Sebagian murid terlihat panik. Tapi guru di depan kelas berusaha untuk menenangkan mereka lalu menuntun mereka semua ke pintu keluar kelas. Tak lama juga, bel peringatan pun berbunyi panjang. Sepertinya ada masalah besar di sekolah. Dylan tidak tahu apa itu, tapi Takana terlihat waspada.
Anak itu meninggalkan mejanya dan pergi menghampiri Dylan dengan cepat. "Dylan-san, kau baik-baik saja, kan?"
Dylan hanya mengangguk. Lalu dalam hati ia bergumam, "Untung saja aku tidak sedang di mejaku. Tapi ... ledakan apa tadi? Terr*ris, kah?!"
"Takana. Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Dylan dengan berbisik. Takana menggeleng. Tapi perasaannya mengatakan kalau ia harus segera menjauh dari sekolah itu. "Dylan-san! Ayo kita pergi dari sini!"
"Eh? Kenapa, Takana?"
Takana tak ada waktu untuk memberitahunya. Ia langsung mengajak Dylan pergi lewat pintu belakang yang ada di dekat mereka. Tapi saat ingin membuka pintu itu, tiba-tiba saja ada yang menggedor-gedor pintu itu.
Saat Dylan mengintip lewat jendela di samping pintu. Ia terkejut ada seorang murid lain yang terlihat panik dan menangis ketakutan. Dia meminta pintu kelas Dylan dibukakan untuknya masuk. Ia terlihat seperti dikejar oleh sesuatu.
Karena merasa kasihan, Dylan pun membukakan pintunya. Orang itu terlihat senang. Tapi saat ingin masuk, tiba-tiba saja tubuhnya ditangkap oleh sebuah tentakel hitam dan langsung menarik orang itu ke suatu tempat dan menghilang. Dylan dan Takana sangat terkejut. Dylan pun kembali menutup pintu dan menguncinya.
Lalu ia mendengar teriakan anak perempuan di kelasnya yang juga kaget melihat hal yang sama saat ingin membuka pintu kelas yang di depan. Semua temannya tidak berani membuka pintu karena di depan sana, mereka melihat ada seorang siswa yang bertingkah aneh dan fisiknya juga mengerikan.
Matanya hitam legam keseluruhan dan saat di dekat dengan manusia normal, makhluk itu langsung menganga dan mengeluarkan sebuah tentakel dari dalam mulutnya.
Takana menganggap makhluk yang ada di depan kelas itu adalah Oni. Dengan tangannya, ia memojokkan Dylan untuk melindunginya. Untungnya teman sekelasnya pada tidak ada yang berani membuka pintu agar makhluk itu tidak masuk. Sekarang mereka semua terjebak.
"Takana! Ada yang menyerang sekolah kita!" Bell terlihat menghampiri Takana dan Dylan dengan tergesa-gesa. Dia ingin menunjukkan sesuatu pada Takana. Mereka pun mendekati jendela yang hanya pecah kacanya saja, lalu Bell menunjuk ke arah gedung kedua sekolah. Yaitu menunjuk ke bagian atapnya. Di sana ia melihat ada dua orang misterius yang berdiri di sana.
"Apa yang Takana lihat sekarang?" Dylan jadi penasaran. Ia ingin bergegas menghampiri Takana. Tapi pandangnya sempat melirik ke kursi yang diduduki Irvan. Yang membuatnya terkejut adalah lelaki itu masih sibuk mengerjakan soal ujiannya dalam keadaan seperti ini. "Semua orang panik dan dia masih sibuk sama ujiannya?!"
"Bell-chan ... ciri-ciri mereka kok mirip seperti iblis yang pernah kau ceritakan tadi pagi, ya?" Setelah memperhatikan, Takana pun bertanya untuk memastikan. Bell sendiri tidak bisa melihat jelas sosok tersebut. Bahkan sebuah mochi kecil melesat ke arah mereka berdua saja, Bell tidak melihatnya.
Namun Takana yang melihat itu langsung menarik tangan Bell untuk pergi menjauh dari jendela. Lalu Takana berteriak pada semuanya untuk menjauh dari jendela semua. Kemudian setelah mochi kecil itu menyentuh bangunan kelas, tiba-tiba saja benda itu pun meledak dan menghancurkan dinding kelas tersebut.
Beberapa anak yang tak sempat menghindar pun terkena ledakan tersebut dan terluka. Termasuk Bell juga. Takana melihat kaki gadis itu terluka karena tertimpa puing-puing bangunan. Tapi saat Takana memeriksa keadaannya, tiba-tiba saja Bell langsung menggigit leher Takana dan menyerangnya. Kemudian anak-anak yang terkena ledakan tadi juga jadi ikut bertingkah aneh seperti Bell.
*
*
*
To be continued–