Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 33~ Pink



____________________________________________


****


"Onii-chan! Onii-chan bangun!" teriak Takana sambil menggoyangkan tubuh Tanaka berkali-kali untuk membangunkannya.


Aku hanya terdiam saja di sini. Sebenarnya, perasaanku juga sedikit khawatir dengan keadaan Tanaka. Ah, tapi apa boleh buat, aku masih terjebak di atas tempat tidurku sendiri. Jadi aku diam saja. Anggap saja aku lagi menonton drama lewat lubang besar yang tadinya adalah jendelaku.


"Ah! hah... hah...," Eh?! Ada seseorang yang datang ke kamarku. Seketika, aku langsung menengok ke samping kiriku. Menengok ke pintu kamarku. Aku terkejut sekaligus senang karena yang ada di depan sana itu ada kakakku.


Eh? Tapi apa dia memang kakakku? Nanti aku kena trap lagi. Siapa tahu saja dia monster yang lainnya.


Hmm..., tapi setelah ku perhatikan, sepertinya dia memang benar kakakku. Saat datang ke kamarku, dia terlihat seperti orang yang kelelahan. Nafasnya terengah-engah dan... eh! Kakakku terluka. Aku melihat darah keluar dari lengan atasnya.


Lukanya itu ia baluti dengan benang merah yang keluar dari jari-jari dan telapak tangannya. "Dylan!" Ia menengok ke arahku dengan ekspresi wajah cemas.


Aku tersentak kaget saat dia meneriakiku. Kak Fely kembali berdiri tegak. Lalu, benang merah yang membaluti lengan atasnya yang terluka itu, ia lepaskan kembali. Lalu, dia berjalan menghampiriku.


"Dylan. Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil menarik dan menghancurkan lendir membeku yang menahan tubuhku itu. Pada akhirnya, tubuhku bisa bebas dan aku bisa bangun lagi dari tempat tidurku.


Lalu, tanpa berkata apa-apa, setelah Kak Fely melepaskanku, ia pun berjalan cepat menghampiri Takana dan Tanaka yang ada di luar sana.


"Takana, coba minggir sebentar! Aku akan memeriksa keadaan Tanaka." Ujar kakakku. Takana mengangguk. Lalu, ia kembali membaringkan kakaknya itu di atas rumput halus halamanku.


Kak Fely mulai mengeluarkan kekuatannya berupa beberapa benang merah yang menjulur dari jari-jarinya itu. Benang-benang merah itu menyentuh tubuh Tanaka dan bersinar.


Takana memperhatikan Kakakku. Begitu juga dengan diriku yang masih penasaran dengan kerja dari benang merah andalan kakakku itu.


Lalu tak lama kemudian, seketika pandangan kami beralih ke arah lain setelah kami mendengar suara seseorang yang memanggil Takana. Setelah ia mendengar suara itu, Takana jadi terkejut. Terkejut karena ia tahu suara yang telah memanggil namanya itu adalah temannya. Takana takut kalau teman-temannya itu akan mengetahui kejadian ini.


"Onee-chan! Cepat bawa Onii-chan masuk ke dalam saja!" perintah Takana sambil berbisik.


"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Kak Fely heran.


"Ada temanku! Ah, sudahlah. Bawa saja ke kamar kakak!"


"Ba, baiklah!"


Dengan cepat, Kak Fely mengangkat tubuh Tanaka hanya dengan beberapa utas benang merahnya saja. Lalu, ia pun mulai beranjak. Masuk lewat pintu depan dan menghilang dari pandanganku.


"Takana! Oy!"


Aku kembali menengok ke Takana. Lalu, di sampingnya itu muncul dua orang. Dua anak perempuan. Salah satunya adalah teman sekelasku. Itu pasti si Kiky. Dan yang satunya lagi... Eh?!


Eh! Perempuan berambut pendek coklat?! Sungguh! Itu dia! Manusia monster yang menyerangku tadi. Sosok manusianya mirip sekali seperti anak itu!


"Oh, Kiky-san, Lisa-san? Kalian sudah sampai. Halo!" sapa Takana sambil melambai kecil.


"Ya!"


Oh, jadi namanya Lisa? Eh?! Apa mungkin aku salah lihat atau perempuan itu hanya mirip dengan sosok manusia monster itu? Apa jangan-jangan dia memang monster yang tadi?!


"Eh, kalian mau apa ke sini?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada kedua perempuan yang belum terlalu kukenal itu.


"Kami ingin belajar bersama. Takana lah yang telah mengundang kami!"


Aku tersentak. Lalu menatap tajam pada Takana. Takana menyebalkan! Dia telah membawa kedua temannya untuk berkunjung di rumahku. Bukan berarti aku tidak ingin menerima mereka, tapi bagaimana, ya?


Tamu itu sangat berisik bila berada di rumah orang lain. Tingkahnya itu seperti sedang berada di dalam rumah sendiri. Terkadang, aku suka merasa risih.


"Takana! Kenapa kau membawa teman-temanmu untuk bermain di rumahku?!" bentakku pada Takana.


"Ah, maaf, Dylan-san. Aku tidak izin dulu padamu. Tapi, mereka ini ingin belajar bersama denganku bukan ingin bermain." Jelas Takana.


"Ah, tapi tetap saja-"


"Ooh! Jadi ini yang namanya Dylan, ya?"


Ini siapa lagi? Tiba-tiba menyela perkataanku. Ternyata orang itu adalah Lisa, si perempuan berambut pendek coklat yang mirip dengan monster itu.


"Dylan. Aku baru melihatmu di sini. Katanya kau sedang sakit karena tidak masuk sekolah tadi. Hei, aku mengucapkan cepat sembuh, Dylan!" Lisa tersenyum di hadapanku.


Eh! Seketika aku langsung terkejut. Karena, senyuman Lisa itu mirip sekali seperti anak berambut pendek coklat yang ada di mimpiku! Tampang wajahnya itu, sangat imut dan terlihat cantik.


"Eh! Aduh!" Tiba-tiba saja aku merasakan sakit di kepalaku. Aku mengingat kembali sesuatu. Lagi-lagi bayangan anak perempuan itu!


"***Dylan, aku suka bermain dengan Dylan!"


"Dylan, semoga kita bisa bersama selamanya, ya?"


"Kita bersama. Karena aku.... Me- Nn***..."


"Aduh!" Diriku jadi sempoyongan. Lalu tiba-tiba saja tubuhku meras ingin jatuh. Tapi, aku menahannya dengan bersandar di tembok dekat dengan lubang di kamarku. Lalu Sambil memegang dan sesekali menggenggam rambutku, aku mengeluh sakit kepala lagi.


Takana menghampiriku dengan cepat. Ia menyentuh kedua pipiku, lalu sedikit mengangkat sampai wajahku menghadap ke wajah Takana. "Dylan-san! Kau baik-baik saja, kan?" tanyanya dengan ekspresi cemas.


"Tidak. Aku hanya sakit sedikit saja. Ah, aku akan istirahat sekarang." Ujarku pelan. Lalu aku pun kembali melangkahkan kakiku secara perlahan. "Takana, jangan berisik! Begitu juga dengan kalian berdua. Anggap saja rumahku itu adalah tempat asing untuk kalian. Jangan anggap rumah sendiri dan seenaknya bebas di rumah orang lain." kataku tanpa menengok ke lawan bicaraku. Lalu, setelah itu aku memasuki rumahku lewat pintu depan. Karena di dalam, aku akan tiduran di atas sofa saja karena percuma jika aku tidur di kamarku dengan keadaannya yang sedang kacau begitu.


Takana kembali melirik ke temannya setelah ia puas menatap diriku yang sedang menjauhi dirinya itu. Ia tertawa kecil dan berkata, "Eh, maaf untuk yang tadi, ya? Dylan-san memang sedang sakit. Dia jadi ngomong yang gak enak pada kalian."


"Ahaha..., tidak apa-apa. Namanya juga orang sedang sakit. Pastinya suka seperti itu." Kiky menggeleng pelan sambil terkekeh.


"Oh iya! Ayo kita mulai saja sekarang. Kalian boleh masuk. Tapi jangan berisik, ya?"


"Oke!"


"Hmmm..., kenapa Tuan memintaku untuk mundur tadi? Padahal Oniroshi yang muncul cuma ada 2 orang sepertinya. Siapa Oniroshi lainnya selain mereka berdua?"


Eh, monster itu muncul lagi? Dan sekarang dia berdiri di atas genting rumahku. Sedang apa dia? Kalau jatuh nanti, baru tahu rasa! Eh, tapi setelah ia mengatakan itu, monster itu pergi melompat dan menjauh.


****


Chapter 33: [ Pink ]


****


*Takana Utsuki


Di dalam, aku melihat kamar Dylan-san masih terbuka. Aku sedikit melirik ke dalamnya. Ternyata, Dylan-san tidak ada di kamarnya. Tapi, aku melihat tv di ruang tamu menyala. Tapi di sana tidak ada yang menonton. Kalau begitu, aku akan mematikannya.


"Eh, Kiky-san, Lisa-san! Kalian duduk di sofa ini dulu, ya? Tunggu sebentar."


Mereka berdua mengangguk. Lalu, duduk di tempat yang sudah ku sediakan. Mereka berdua mulai membuka buku mereka. Lalu, aku kembali melangkahkan kakiku ke arah TV yang menyala itu.


Aku akan mematikan TV-nya. Tapi, ternyata di depan Tv itu ada Dylan-san yang sedang tertidur di atas sofa panjang di depan Tv. Baiklah, aku akan berusaha untuk tenang dan tidak membangunkan Dylan-san.


Aku sudah melirikkan mataku ke sekitar. Nah! Itu dia. Akhirnya aku menemukannya. Remote itu ternyata ada di bawah sofa yang ditiduri Dylan-san. Aku pun membungkuk untuk mengambil remote yang ada di bawahku itu.


Saat tanganku ingin meraih remote itu, tak sengaja mataku melirik ke arah Dylan-san yang sedang tertidur di atas sofa di samping tubuhku saat ini.


Matanya ia tutupi dengan tangan kanannya. Dan tangan kirinya itu ia letakan di atas perutnya. Ah, kenapa ia menutupi wajahnya, sih? Karena..., aku tahu kalau wajah Dylan-san yang sedang tertidur itu sangat menggemaskan! Aku ingin mengangkat tangan kanannya itu.


Ugh! Aku tidak tahan lagi. Gemas sekali rasanya. Tanganku mulai mengarah ke Dylan-san. Apa aku berani untuk mengangkat tangan kanannya itu? Ah, sepertinya aku harus memeriksa kerangsangan tubuh Dylan-san dulu, deh!


Kalau saat ku sentuh dia tidak gerak, maka berarti Dylan-san telah terlelap. Tapi, jika dia bergerak, berarti Dylan-san masih belum nyenyak dan masih bisa merangsang sentuhan tanganku.


Pertama, aku menyentuh sedikit perutnya dengan telunjukku. Tidak ada pergerakan. Lalu, aku akan mencoba menepuk tangan kirinya. Dan tetap tidak ada pergerakan. Sepertinya akan aman, hehe....


Tanganku mulai beralih ke tangan kanannya Dylan-san. Menggenggam pelan, lalu menggerakkannya secara perlahan. Sedikit mengangkat. Dan wajahnya mulai terlihat. Ah, tuh kan! Imut sekali, loh!


Tangan kanannya itu aku arahkan ke perutnya dan meletakkannya di sana bersama dengan tangan kirinya. Huh, aman!


Wah, Kawaii banget, sih! Tapi... bibirnya itu terlihat lebih menggemaskan. Emm..., boleh ku sentuh sedikit, tidak? Ah! Wajahku sepertinya akan memerah, nih!


Aku terdiam sejenak. Menatap wajah Dylan-san yang ada di hadapanku itu. Lalu, tanpa kusadari, kepalaku mulai mendekat ke wajah Dylan-san. Aku mulai membuka sedikit mulutku. Kumohon, biarkan aku menyentuh bibirnya itu sedikit saja!


"Ngghh...."


Eh! Aku terkejut. Tiba-tiba saja kepala Dylan-san bergerak dengan sendirinya. Lalu, dengan cepat, aku pun mundur ke belakang untuk menjaga jarak dari Dylan-san.


Setelah terkejut dengan pergerakan Dylan-san, diriku kembali dikejutkan dengan kehadiran Onii-chan yang ada di atas kepala Dylan-san. Pantas saja Dylan-san menggerakkan tubuhnya. Karena ia merasa tidak nyaman saat Onii-chan memainkan jambul milik Dylan-san itu. Ah! Onii-chan mengganggu moment ini saja!


"Takana-Chan? Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan lagi." Kata Onii-chan dengan senyumnya itu. Heh, sepertinya dia meledekku.


"Ah, sudahlah lupakan yang tadi! Jangan dibicarakan." Aku membuang muka dari Onii-chan. Dan tiba-tiba saja pipiku sedikit memerah lagi. Karena malu, aku pun menutupi setengah wajahku dengan tangan kiriku.


"Memangnya kamu mau ngapain, sih, tadi?" tanya Onii-chan. Ia berhenti memainkan jambul Dylan-san, lalu kembali berdiri dan berjalan ke arahku.


"Ah, sudah kubilang jangan bicarakan soal itu. Dan jaga rahasia ini dari Dylan-san, ya?" bisik ku.


Onii-chan mengangguk dan tertawa kecil. "Iya, deh. Iya. Tenang saja, haha...."


"Oh iya, apa Onii-chan sudah baikan sekarang? Memangnya apa yang telah terjadi pada Onii-chan, tadi? Aku khawatir sekali, loh!"


"Kata Fely-chan, aku baik-baik saja, kok! Kan kau tahu sendiri, Onii-chan mu ini kuat, loh."


"Ah, iya, haha..., Onii-chan benar!"


"Nah, sekarang, ayo kita tinggalkan Dylan beristirahat di sini. Kamu juga ada teman di depan sana yang sedang menunggumu, kan?"


Oh iya! Aku lupa dengan Kiky-san dan Lisa-san yang ada di ruang tamu. "I, iya. Onii-chan. Aku akan segera pergi."


"Ya. Aku juga ingin memperbaiki lubang besar di kamar Dylan dulu."


"Oke!"


****


*Dylan Leviano


"Dylan. Dylan, woy bangun!"


"Ng?"


"Bangun! Sudah sore. Kamu harus makan dan minum obat lagi!"


Ah, suara kakakku berisik sekali. Bukan hanya suaranya, tapi tangannya yang jahil itu. Ia membangunkan aku dengan cara menarik-narik jambulku. Kan sakit, loh!


"Ah, kakak! Berhenti menarik rambutku!" bentakku padanya. Lalu, aku pun bangun dan terduduk di pinggir sofa. Yah, ternyata tadi aku memang ketiduran di sofa ini saat menonton Tv.


"Dylan, kau itu tidur apa mati, sih? Kau tidur dari Takana pulang sekolah sampai sore begini? Lama sekali, loh! Aku bahkan kesulitan untuk membangunkanku dari tadi. Apa kau bisa tidur dengan nyenyak di saat keadaan rumah lagi seperti ini?" ocehannya membuatku semakin pusing saja. Ah! Tapi, kalau aku melihat ke sekeliling rumahku....


Eh! Rumahku telah berubah!


"Ka, kakak! Apa ini rumah kita?"


"Iya. Tentu saja. Masa kau tidak mengenal rumahmu sendiri, sih!"


"I, iya aku tahu! Tapi kok... warnanya jadi pink begini, siiiih?!"


"Karena pink itu indah!"


"Kenapa harus warna pink, sih?! Kan masih banyak warna lainnya, loh!"


Warna pink yang sangat mencolok. Di setiap tembok rumah semuanya sudah berubah jadi warna pink. Dan yang lebih parahnya lagi, ada beberapa tembok yang dihiasi dengan corak berbentuk hati. Et dah! Ini bukannya mempercantik, malah jadi terlihat menjijikkan!


"Kok kamu bertanya 'kenapa harus warna pink, sih?' Kan Pink itu lucu warnanya." Tanaka tiba-tiba saja muncul di belakang sofa dan mengejutkanku.


Aku mengerutkan keningku sambil menatap tajam pada si mata satu di belakangku itu. Lalu, aku pun berdiri dari sofa yang kududuki. "Pasti kau ya yang sudah merubah ini semua!" bentakku.


"Iya~"


"Ikh! Kenapa rumahku dijadikan seperti ini?! Malah cat temboknya berwarna pink merah muda. Menjijikkan!" gerutuku.


"Hei, hei~ Ngomongnya pelan-pelan, dong. Dengar, ya? Warna pink itu kan melambaikan sifat kelembutan dan ketulusan hati, serta saling mempedulikan. Warnanya juga tidak terlalu terang dan imut sekali. Apalagi, warna pink itu pasti disukai oleh banyak wanita." Jelas Tanaka dengan senyum konyol yang suka ia keluarkan itu.


Cish! Apa-apaan lagi? Dia laki-laki, tapi kok suka warna pink! Apa mungkin dia menyukainya karena memang warna pink itu disukai oleh banyak wanita. Lalu, jika dia menyukai warna pink, mungkin dia bisa disukai oleh banyak kaum wanita. Kalau memang pikirannya seperti itu, sih, yah... parah!


Tapi, Takana juga laki-laki dan ia selalu menggunakan baju serba warna pink. Apalagi, dengan sweater pink yang ada gambar kucingnya itu. Apa Takana hanya mengikuti gaya dari kakaknya? Atau ia memang menyukai warna itu dan Tanaka lah yang mengikuti gaya adiknya? Bodo ah! Aku malas memikirkan ini semua. Hanya warna pink saja, kok!


Tidak ada yang lebih buruk dari ini semua, kan?


"Tapi, tunggu dulu. Kalau semua rumah ia cat dengan warna pink. Itu berarti, warna pink ini juga menyebar ke...." pikirku dalam hati sempat terhenti. Lalu, aku pun berjalan cepat ke arah lain. Memasuki sebuah ruangan yang aku sebut dengan kamarku sendiri itu. Aku terkejut. Ternyata dugaanku memang benar!


Kamarku juga dicat dengan warna pink! Dan yang lebih terlihat menjijikkan lagi adalah, kenapa kamarku jadi seperti ini? Jadi lebih ramai dengan hiasan di mana-mana. Hiasan yang membuatku geram. Gantungan hati di setiap sudut tembok dan banyaknya boneka beruang di atas tempat tidurku.


"TANAKA! APA YANG KAU PERBUAT PADA KAMARKUU?!"


"Tenang saja, hanya butuh sedikit renovasi saja, kok! Haha...."


Kakak Takana itu ternyata lebih menyebalkan dibandingkan dengan adiknya! Ingin rasanya aku menghajar dia. Tapi, sayang dia itu orang yang lebih tua daripada aku.


Ah! Masa bodo dengan peraturan 'anak muda dilarang memukul orang tua'! Pokoknya, aku ingin menabrakkan tanganku ke wajahnya itu!


"Setan Tanaka! Sini kau! Akan kurobek wajahmu itu! Sini! Sini kau!" teriakku sambil mengejar Tanaka yang berlari menjauh dariku. Dia terlihat bahagia sekali. Memangnya aku ini mengejar dirinya karena sedang bermain kejar-kejaran, apa?! Sungguh! Aku kesal dan nyaris benci sekali dengannya! Pokoknya, aku tidak akan diam sampai wajahnya hancur!


"Akan ku buat kau menderita, Tanakaaaa!"


To be Continued-