Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 42~ Elthan Syahputra



____________________________________________


****


"Anu... aku juga minta maaf untuk kejadian ini. Semuanya salahku. Maaf." Ucapku dengan suara agak dibesarkan sedikit. Serontak, semuanya menengok ke arahku.


"Dylan-san...?" Takana bergumam.


"Kakak, kumohon jangan pergi meninggalkanku lagi. Aku takut. Aku sangat takut tanpa kakak." Lanjutku.


Kak Fely membesarkan matanya. Lalu, ia pun kembali berdiri dan mendekati diriku yang masih berdiri di depan kulkas. Ia mengelus rambutku. "Apa maksudmu? Kakak tidak pernah meninggalkanmu, kok." Ujar kakakku lirih.


Aku pun kembali mendongak menatap kakakku. "Tapi tadi kakak meninggalkan Dylan. Tadi kakak tidak ada di rumah. Aku mencari kakak."


"Kakak hanya keluar sebentar saja. Soalnya, tadi Ethan tersesat saat ia ingin main ke rumah kita. Makanya, kakak pergi untuk menjemputnya."


"Lalu, kakak tadi naik mobil sama siapa? Sama cowok. Tadi aku melihatnya. Cowok itu berbeda dengan kakak yang itu."


"Oh... tadi itu cuma temannya Ethan saja. Haduh, gimana ceritainnya, ya?" Kakakku menggaruk kepalanya karena bingung. "Hah, gini saja. Tadi, Kak Ethan ingin ke sini bersama dengan temannya naik Taxi. Lalu, karena ada barang Ethan yang tertinggal, ia pun kembali pulang ke rumahnya untuk mengambil barang itu. Jadi, terpaksa kakak harus menunggunya di pinggir jalan bersama dengan temannya. Saat taxi yang membawa Ethan itu kembali, kami baru menuju ke rumah." Jelas kakakku.


Aku mengangkat alis sebelahku dan lembu bertanya, "Lalu sekarang di mana temannya Ethan?"


"Hei, kamu panggil dia kakak, dong." Bisik kakakku. Ia pun menghembuskan nafas, lalu tersenyum padaku. "Oh, saat di mobil, temannya itu mendadak tidak ingin ikut ke rumah kita bersama dengan Ethan. Entah kenapa, kakak tidak tahu. Tapi intinya, Dylan..." Kakakku menyentuh kedua pipiku dengan lembut. "... kakak tidak akan pernah meninggalkanmu." Ia tersenyum. Lalu, telunjuknya itu mencolek pipiku dengan gemas.


Aku mengangguk paham. "Yaa... aku mengerti. Aku pikir, kakak marah padaku."


"Eh, marah kenapa?"


"Ya..., marah karena aku sudah membentak kakak tadi."


"Huh, iya. Kakak cuma sedikit kesal, gak marah. Habisnya kamu kalau disuruh minum obat itu susah sekali, sih!" gerutu kakakku.


"Ya... intinya aku minta maaf, ya?" Aku tidak percaya ingin melakukan ini. Tapi, tanpa ku sengaja tubuhku mendekat pada kakakku lalu memeluk dan kedua tanganku dilakukan pada pinggangnya.


Kakakku membalas pelukannya. "Iya, tidak apa-apa." Jawabnya lirih.


Semuanya kembali seperti semula. Sekarang, dapur kembali bersih dan kami semua pun melanjutkan makan malamnya.


****


Chapter 42: [ Elthan Syahputra ]


****


"Haduh kenyang, haha.... Fely, masakan mu enak banget." Kata Ethan senang. Ia pun bersandar di kursi yang ia duduki sambil mengelus perutnya yang sedikit gemuk itu.


"Ah, terima kasih. Ternyata kamu bisa menghabiskan semua makanannya, ya?"


Ethan terkejut. Lalu secepatnya ia pun kembali duduk dengan tegak dan melihat ke sekeliling meja. "Ah, maafkan aku! Semuanya sudah ku habiskan. Haduh, aku terlalu rakus."


"Tidak apa-apa." Kak Fely mengibaskan tangan kanannya sambil tertawa kecil. "Aku justru sangat berterima kasih karena kamu sudah mau menghabiskan semua makanannya. Karena, semua orang di rumah ini memiliki ***** makan yang rendah. Jika semua makanan yang tadi tidak habis, maka akan terbuang percuma." Jelas kakakku.


"Oh, apa benar tidak apa-apa?" tanya Ethan sedikit ragu.


"Iya."


"Oh, baiklah kalau begitu." Ethan mengangguk. Lalu, ia pun mengeluarkan ponsel dan memainkannya. Kak Fely sedikit mendekat pada Ethan karena ia juga ingin melihat isi ponsel Ethan. Dia hanya ingin tahu saja, sebenarnya sekarang ini si Ethan sedang bermain apa di ponselnya, gitu.


Takana yang sedang meminum Jus Mangga itu tiba-tiba saja terkejut saat Tanaka menyenggol lengan kirinya. Dengan cepat, Takana pun menengok ke arah kakaknya. Tanaka sedikit mendekatkan kepalanya pada Takana untuk membisikkan sesuatu.


"Eh, apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan laki-laki yang bersama Fely-chan itu?" bisik Tanaka.


Takana menjawab pelan. "Ah, memangnya kenapa, Nii-chan?"


"Ah, tidak. Aku hanya ingin tahu saja. Kenapa mereka bisa dekat sekali."


"Aaahh..., Onii-chan cemburu, ya?" Takana mensipitkan matanya sambil tersenyum ke arah kakaknya.


"Eh?! Tidak. Tidak. Bukan itu. Ah, sudahlah." Tanaka kembali ke tempatnya. Dia terdiam sambil memainkan sendok yang ia pegang. Lalu tak lama kemudian, ia menyentakan matanya karena mengingat sesuatu. Tanaka kembali mendekat ke Takana.


"Hei, ada satu lagi yang ingin kuberitahu padamu." Bisik Tanaka.


"Apa Onii-chan?" Takana menengok.


"Apa kau tidak merasa ada yang berbeda dari cowok yang bersama Onee-chan mu itu?" Tanaka kembali berbisik.


"Beda apanya, Onii-chan?"


"Lihat matanya. Masa dia memiliki mata berwarna kuning. Kan kau tahu sendiri kalau warna kuning itu adalah mata... Oni?"


Tanaka terkejut setelah mendengar perkataan kakaknya. Lalu, ia pun melirik ke arah Ethan yang sedang bermain dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. "Onii-chan benar." Kata Takana dalam hati. Ia mempercayai perkataan Kakaknya.


"Onii-chan benar. Matanya berwarna warni." Bisik Takana.


"Iya, kan? Benar. Kenapa bisa seperti itu, ya?"


"Ayo tanya saja."


"E, eh Takana, tung-"


"Onii-san! Onii-san yang ada di dekat Onee-chan!" Takana berseru keras pada Ethan. Ethan dan Kak Fely terkejut, lalu pandangan mereka langsung ke arah Takana. Begitu juga dengan diriku.


(*Onii-san\= Panggilan Kakak (laki-laki) muda yang belum terlalu dikenal.)


Ethan celingak-celinguk kebingungan. Lalu, matanya melirik ke arah Kak Fely. "Eh, dia manggil siapa?"


Kak Fely mengangkat kedua bahunya dan menggeleng. Lalu, ia pun menatap ke Takana. "Takana? Ada apa?"


Takana menunjuk ke Ethan. "Itu dia."


Ethan tersentak kaget saat Takana menunjuk dirinya. "Eh? I, iya? Aku kenapa?"


"Aku mau tanya. Kenapa mata Onii-chan kok warna warni begitu?" tanya Takana.


Ethan menunjuk ke matanya. "Oh, mataku?"


Takana mengangguk. "Iya. Kenapa warnanya beda-beda?"


"Oh... entahlah. Memang seperti ini." Jawab Ethan. "Ini asli mataku. Aku tidak memakai Eyeliner, loh."


"Hmm... apa matamu itu terkena penyakit Heterochromia? Eh, sebenarnya bukan penyakit, sih... hanya istilah untuk kelainan warna mata. Gitu, hehe...." Kak Fely menimpali.


"Eh? Ternyata kau tahu, ya?" Mata Ethan melirik ke Kak Fely yang ada di sampingnya.


"Ah, iya. Hanya sedikit saja." Kak Fely tertawa.


"Yaa... ini juga aku dapatkan belum lama bulan ini." Kata Ethan sambil meraba mata kanannya yang berwarna kuning.


"Eh? Belum lama?" Tanaka mengangkat sebelah alisnya sambil meneleng bingung.


"Iya. Dulu, mataku ini berwarna Ungu keseluruhan. Tapi, semenjak kecelakaan itu, aku tiba-tiba saja jadi dapat mata warna kuning begini di mata kananku." Jelas Ethan.


"Eh? Hanya karena kecelakaan bisa merubah matamu? Aneh...." Gumam Takana.


"Memangnya apa yang telah terjadi?" Kak Fely kembali bertanya.


"Haha... hanya kecelakaan mobil biasa saja. Dan dokter rumah sakit bilang, kalau mataku ini terdapat benturan yang cukup parah, jadi berubah warna gini. Memang aneh. Aku juga bingung. Tapi, tidak apa. Mataku tidak berbuat masalah lagi. Tapi, semenjak mata kuning ini muncul, aku jadi tidak bisa berkendara lagi." Jelas Ethan.


"Eh? Kenapa?" Aku terkejut. Terkejut karena, tiba-tiba saja Takana, Tanaka dan Kak Fely bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Mata ini mengganggu pengelihatanku. Saat aku melihat dengan mata kanan, jadi buram sekali. Lalu, kalau sedang berkendara itu sangat sulit saat melihat ke jalanan. Aku takut. Sudah sering aku hampir melakukan kesalahan yang sama seperti dulu dalam menyetir." Jelas Ethan.


"Kalau buram, kau bisa memakai kacamata, kan?" tanyaku dingin.


"Berisik!"


Ethan menggeleng pelan. Lalu, ia menghembuskan nafas pelan. "Huh, aku sudah coba tapi tidak bisa. Entah kenapa mataku ini. Ah, sudahlah... yang penting aku masih bisa melihat sekarang."


Semuanya mengangguk. Kecuali aku. Setelah berbincang sedikit, semuanya jadi terdiam kembali. Mungkin sudah kehabisan topik pembicaraan. Aku juga bosan mendengarnya. Dari tadi, aku hanya menyimak saja.


Tak lama kemudian, mataku kembali melirik ke arah lain. Aku melirik ke arah Ethan. Karena, dia baru saja melakukan sedikit pergerakan pada tubuhnya. Ethan mengangkat tangan kirinya dan melirik ke jam yang ada di pergelangan tangannya itu.


Ia memasang wajah terkejut. Ia kaget saat melihat waktu di jam tangannya. Hari sudah semakin larut. Lalu dengan cepat, Ethan pun berdiri dari kursinya setelah ia kembali menyembunyikan jam tangan dibalik lengan bajunya yang panjang.


"Ethan? Kau mau ke mana?" tanya Kak Fely. Ia juga berdiri mengikuti gerak gerik Ethan.


"Sudah larut malam. Aku harus cepat pulang.' Jawabnya cepat.


Tingkahnya terlihat gelisah. Aku melirik ke jam dinding yang ada di tembok dapur. "Baru jam sembilan kurang," Aku bergumam, lalu kembali menatap Ethan. "Kenapa dia terlihat gelisah begitu? Jam segini itu belum terlalu larut, loh." Aku melanjutkan gumaman ku.


"Ah, sudah, ya? Terima kasih untuk makanannya." Ethan sedikit membungkukkan badannya pada kami semua, lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya. "Aku akan pulang sekarang!"


"Tunggu dulu!" Kak Fely menarik tangan kanan Ethan. Seketika, langkah lelaki itu terhenti.


"Ada apa?" tanya Ethan pada Kak Fely.


"Aku akan menghantarmu pulang." Jawab Kak Fely.


"Ah, tidak usah," Ethan menggeleng pelan. "Aku bisa menunggu Angkot atau transportasi lainnya."


"Mana ada malam-malam begini Angkot lewat. Sudahlah... aku akan menghantarmu. Ayo!" Kak Fely kembali menarik tangan Ethan, lalu berbalik badan dan melambai padaku, Takana dan Tanaka yang masih duduk di atas kursi dekat dengan meja makan. "Aku izin keluar sebentar, ya?"


Kami semua yang ada di dapur mengangguk. Kak Fely tersenyum sambil memejamkan matanya. Lalu, ia mengajak Ethan untuk pergi ke garasi rumahku.


Di dalam garasi itu ada mobil milik Kak Fely. Sebenarnya, mobil itu milik almarhum dan almarhumah kedua orang tuaku. Sebelumnya, mobil itu sudah rusak parah akibat kecelakaan yang dialami kedua orang tuaku. Tapi, karena Kak Fely ingin selalu menyimpan mobil itu sebagai kenangan, ia pun mengeluarkan uang banyak miliknya untuk memperbaiki mobil itu sampai jadi baru lagi. Kak Fely pun menggunakan mobil itu untuk dirinya berpergian. Sampai sekarang, mobil itu masih terlihat bagus karena terawat.


Kak Fely membuka pintu garasi depannya lebar-lebar. Lalu, setelah itu ia kembali berjalan mendekati mobil. Dia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Begitu juga dengan Ethan. Sebelum jalan, mereka menggunakan sabuk pengaman terlebih dahulu.


Lalu setelah semua persiapan selesai, Kak Fely menghidupkan mobil itu, lalu menjalankannya keluar dari halaman rumahku.


Kembali ke dapur-


Setelah mendengar suara mobil yang perlahan memudar, Tanaka menghembuskan nafas panjang dan menggeleng. Takana yang melihat kakaknya bersikap seperti itu, ia pun langsung bertanya, "Onii-chan? Dooshite?" (Kakak? Kenapa?)


Tanaka kembali menggeleng dan menjawab, "A, nanimonai" (Ah, tidak apa-apa)


Setelah menjawab itu, Tanaka pun melirik ke arahku. Ia beranjak dari kursinya, lalu mendekati diriku. Aku menatapnya dengan ekspresi biasa. Dia mau apa dekat-dekat denganku?


"Ano..., Dylan? Em... aku mau tanya, apa kau tau sesuatu?" tanyanya (Tanaka) ragu-ragu.


"Sesuatu seperti apa?" Aku menaikan sebelah alisku.


"Emm..., soal orang yang pernah dekat dengan kakakmu. Apa kau pernah melihatnya dekat dengan laki-laki, atau kau tahu kalau dia pernah punya pasangan, gitu?"


Eh? Kenapa Tanaka tiba-tiba menanyakan hal seperti itu padaku? Jelas aku tidak tahu tentang kehidupan kakakku semenjak ia pergi meninggalkan kota untuk bekerja. Aku harus jawab apa?


****


BRRMMM....


"Em..., Fely? Aku... sudah banyak merepotkanmu. Sebaiknya, kamu jangan menghantarku sampai rumah, deh. Nanti, kamu pulangnya kejauhan." Kata Ethan tanpa menatap ke Kak Fely yang ada di sampingnya.


"Ah, tidak apa-apa. Aku akan menghantarmu sampai rumah. Masa aku akan menurunkan mu di pinggir jalan. Haha...." Kak Fely terkekeh. Tapi, pandangan matanya masih fokus ke jalanan gelap yang ada di depannya. "Eh, ngomong-ngomong, di mana rumahmu?"


"Hmm... tidak jauh, sih.... Dekat dengan pasar." Jawabnya pelan.


Sesekali, Kak Fely melirik ke Ethan. Ia merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Ethan yang sekarang jadi lebih pendiam dan semenjak ia tahu waktu menunjukan pukul 9 kurang di jamnya, seketika dia jadi panik. Sebenarnya ada apa?


"Hmm... Ethan? Apa kau ada masalah?" tanya Kak Fely.


Ethan pun tersentak. Lalu, dengan cepat, ia menengok ke Kak Fely. "Eh? Tidak ada. Semua baik-baik saja." Setelah Ethan mengatakan itu, ia kembali memutar kepalanya. Sekarang, dia malah menatap ke jendela kaca mob dan membelakangi Kak Fely.


Kak Fely melirik ke Ethan. Ia masih bingung dengan sikap pemuda yang ada di dekatnya itu. Awal-awal, Ethan terlihat ceria tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?


"Eh?" Kak Fely terkejut. Ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Kak Fely kembali melirik ke jalan, lalu melirik ke Ethan lagi. Ternyata Kak Fely melihat ada luka memar yang ada di punggung bawah leher Ethan. "Luka apa itu? Apa yang telah terjadi padamu, Ethan?" pikir Kak Fely dalam hati.


****


"Ah, sudah sampai. Ini rumahku." Ujar Ethan.


"Oke."


Kak Fely mengangguk. Lalu, ia pun menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Ethan. Lalu, setelah mesin mobil mati, Ethan dan Kak Fely keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan mendekati pagar rumah Ethan.


"Jadi ini rumahnya? Kenapa sangat sederhana? Eh? Maaf!" Batin Kak Fely. "Haduh, kamu tidak boleh bicara seperti itu, Fely!"


Perlahan Ethan membuka pagar rumahnya. Lalu, kepalanya kembali menengok ke Kak Fely yang ada di belakangnya. "Eh, untuk hari ini terima kasih banyak, ya?" Ethan tersenyum.


"I, iya. Terima kasih kembali. Sudah, ya? Aku akan kembali ke-"


"PULANG JUGA LO AKHIRNYA!"


Kak Fely terkejut saat mendengar suara seseorang yang berteriak dari dalam rumah Ethan. Ethan juga terkejut. Lalu, seketika, ia memasang raut wajah yang penuh dengan ketakutan.


BRAK!


Mereka berdua kembali dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dengan cepat. Lalu, dari dalam rumah Ethan, keluar sosok wanita yang umurnya jauh lebih dewasa dari Ethan.


"Ah, itu pasti Ibunya Ethan." Gumam Kak Fely.


Wanita itu berjalan cepat mendekati Ethan. Ethan melangkah mundur ke belakang secara perlahan. "Ma, maafkan aku Ibu. Aku tidak...."


"TIDAK APA LO?! UDAH MALAM BEGINI MASIH SAJA KELUYURAN, YA?! ANAK L*KN*T! AYO MASUK LU! MASUK SINI!"


Kak Fely terkejut saat melihat Wanita yang Ethan panggil ibunya itu telah memperlakukan Ethan dengan kasar. Pada awalnya, Ethan ditampar, lalu tangannya itu ditarik paksa oleh Ibunya untuk masuk ke dalam rumah.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Ethan pun menghilang dari pandangan Kak Fely setelah ia memasuki rumahnya. Kak Fely menggeleng pelan dan bergumam, "Apa itu Ibunya? Tapi kejam sekali. Ah! Tidak. Tidak. Semoga tidak begitu. Ah, aku harap, Ethan akan baik-baik saja."


Kak Fely kembali memasuki mobilnya, lalu ia menjalankan mobilnya itu dan pergi menjauh dari rumah Ethan.


****


BRUK!


"A, aduh!"


"Lihat jam, dong Lo! Kalau main tuh jangan sampai larut seperti ini!"


BUK! BUK!


"Akh! Maafkan aku Ibu! Aduh!"


"Kamu itu selalu saja menyusahkan orang tuamu sendiri! Sekarang bangun, sini!" Wanita itu menarik kerah baju Ethan dengan kasar, lalu kembali membentaknya. Ethan hanya bisa merasakan sakitnya. Karena dari tadi, Ibunya itu terus memarahi dirinya dan... memukuli Ethan dengan gagang sapu.


"Ini belum seberapa! Lo harus diberi pelajaran agar bisa menurut pada orang tua lo! Sekarang, lo gue hukum dan akan gue tahan lu biar gak bisa keluar rumah lagi!" bentaknya kasar. Ethan menggeleng pelan agar Ibunya itu tidak menyiksa dirinya lagi. Tapi ternyata, Ibunya tidak bisa mengerti perasaan anaknya. Dan malam ini juga, Ibunya itu selalu bersikap keras pada Ethan sampai akhirnya....


"Aku minta maaf...." Kata terakhir Ethan sebelum ia menutup matanya. Tubuhnya tergeletak di lantai tidak berdaya dan tidak bisa digerakkan lagi....


To be Continued-


Bonus: Aku dapet Fanart, nih!