Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 45– Fely dan Ethan



Seseorang dibalik pintu adalah... Tanaka Utsuki. Lelaki itu tiba-tiba muncul di sana. Tanaka mengangkat tangannya, lalu menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut yang ia keluarkan. Lalu tak lama kemudian, Tanaka pun pergi dengan cepat menjauh dari kamar Kak Fely. Dia kenapa? Apa dia merasa tidak enak karena telah mengganggu hubungan kakakku dengan laki-laki itu? Atau jangan-jangan... Tanaka cemburu?


Ah, itu tidak mungkin! Lelaki seperti dia mana mungkin menyukai cewek seperti kakakku itu. Pasti tidak mungkin.


Kembali lagi di dalam kamar kakakku. Beberapa detik kemudian, Ethan melepaskan pelukannya dari Kak Fely. Mereka mengakhiri kecupan yang mereka lakukan sejak Kak Fely mendengar ada suara tapak kaki dari depan kamarnya.


"Eh? Kenapa Fel?" tanya Ethan bingung. Kak Fely tidak menjawab. Ia meminta Ethan untuk tetap duduk di tempatnya, sementara dirinya ingin pergi untuk memeriksa keadaan di depan kamarnya.


Saat Kak Fely membuka pintu kamar semakin lebar, ternyata ia tidak menemukan sesuatu di sana. Lalu karena merasa semuanya aman, Kak Fely pun kembali menutup pintunya rapat-rapat. Ia menekan saklar yang ada di samping pintu untuk menyalakan lampu. Karena setelah Kak Fely mematikan lampunya, seketika keadaan kamar menjadi sangat gelap.


Setelah dinyalakan, seluruh perlengkapan dan barang-barang yang ada di dalam kamar itu dapat terlihat dengan jelas. Ethan turun dari tempat tidur karena ia melihat sesuatu yang telah menarik perhatiannya. Ethan menghampiri lemari yang penuh dengan boneka menyeramkan milik kakakku itu.


"Fel? Kau... kau yang telah mengoleksi semua ini?" tanya Ethan tidak percaya.


Kak Fely mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia berjalan pelan menghampiri Ethan dan berdiri di sampingnya. Menghadap ke depan lemari boneka. "Aku sudah memiliki mereka sejak lama."


Ethan mengangguk. Lalu pandangannya mengarah ke Kak Fely. "Kenapa kau suka mengoleksi yang seperti ini? Kan agak menyeramkan, loh!"


"Hehe... bukan apa-apa. Hanya sebagai hobi saja. Hmm... aku pikir boneka-boneka ini bagus, kok!"


Ethan tersenyum samar. Ia menggeleng pelan, lalu kembali melihat beberapa koleksi Kakaku itu. Tak lama ia tertawa kecil dan bergumam. Sontak Kak Fely langsung menengok ke arahnya. "Eh, ada apa denganmu?"


Ethan tersentak. Ia menjawab cepat. "Ah, bukan apa-apa, kok! Haha...."


"Ah, dasar!"


[ Chapter 45–Fely dan Ethan ]


"Oh, ngomong-ngomong... kenapa aku bisa ada sampai ke sini, ya? Dan... oh iya! Kau kan terluka!" Ethan terkejut. Ia menyentuh kedua pipi Kak Fely dengan ekspresi wajah cemas. "Kau baik-baik saja, kan?"


Kak Fely tersenyum. Tangannya mengelus tangan Ethan yang sedang menyentuh pipinya itu. "Aku baik, Ethan. Tenang saja. Kau tidak usah cemas."


Ethan menghembuskan nafas lega. Lalu ia menuruni tangannya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia duduk di pinggirannya. Kak Fely juga ikut duduk di samping Ethan.


"Tapi... terakhir kali aku melihatmu... kau...."


"Aku bilang jangan cemaskan itu, Ethan." Kak Fely menyela. "Aku baik, kok! Saat itu... aku masih tersadar. Dan... saat aku melihat keadaanmu yang sudah penuh dengan luka, aku pun langsung bergegas untuk membantumu. Maaf, sebelum itu aku sempat memukul ibumu sampai terjatuh."


"Ah, tidak apa-apa. Aku pasti... sudah banyak merepotkanmu." Ethan bergumam. Kak Fely tersentak. "Eh, eh! Tidak kok. Aku senang bisa membantumu. Kan... kau sedang dalam bahaya. Masa mau aku diamkan saja."


"Tapi tetap saja. Aku ini... memang lelaki yang lemah!"


"Ethan jangan bicara seperti itu! Aku yakin kau pasti bisa kuat, kok. Kau itu lelaki yang hebat yang akan membuatku bisa bahagia di masa yang akan datang."


"Fely...?" Ethan tersipu. Pipinya memerah. Ia berusaha untuk menutupi setengah wajahnya itu dengan lengannya. Tapi ternyata Kak Fely masih bisa melihat ekspresi yang Ethan keluarkan itu.


"Eh...? Kau kenapa? Wajahmu memerah! Apa kau demam? Kau pasti sakit lagi, kan?" tanya Kak Fely. Ia terlihat panik dan merasa cemas dengan keadaan Ethan.


Dengan cepat Ethan menjawab, "A–aku baik-baik saja! Jangan khawatir!" Setelah itu, Ethan membuang muka dari Kak Fely. Di belakangnya, Kak Fely hanya bisa tersenyum sambil menahan tawa karena ekspresi Ethan yang lucu itu.


"Nah, mulai sekarang, bagaimana kalau kau... tinggal di rumahku saja?"


Ethan terkejut mendengarnya. Lalu dengan cepat, ia langsung berbalik badan. Menatap Kak Fely dengan ekspresi tidak percaya. "A–aku? Tinggal di rumahmu? Ta–tapi kenapa?" tanya Ethan.


"Ya... karena... aku hanya merasa kasihan saja padamu. Jika kau kembali ke rumahmu, maka kau akan kena masalah oleh ibumu lagi."


Ethan terdiam sambil menundukkan kepalanya. "Tapi... sekarang bagaimana dengan keadaan Ibumu?" tanyanya pelan.


"Emm... ibumu baik-baik saja. Tapi... maaf! Aku telah membuatnya terluka dengan pukulanku saat hendak menolong dirimu."


"Ah, begitu." Ethan berpikir sejenak. Pada awalnya, dia tidak ingin tinggal satu rumah dengan Kak Fely. Ia juga tahu kalau satu rumah itu dihuni oleh banyak lelaki. Sementara, di rumahku ini hanya kak Fely saja yang memiliki gender perempuan.


Ethan memikirkannya di dalam hati. "Jika aku tinggal di sini, aku akan semakin membuatnya kerepotan denganku. Aku tidak ingin membebani hidupnya lagi. Tapi... jika aku pulang... ibuku akan...."


"Bagaimana Ethan? Kau mau, kan?" tanya Kak Fely mengejutkan Ethan yang sedang berpikir. Lelaki itu terkejut dengan pipi yang memerah. Ia menjawab, "A–aku mau. Tapi–"


"Ah, senang sekali! Tidak pake tapi tapian, ya? Sekarang juga, kau akan tinggal di rumahku saja! Haha... senang sekali~" Girang kakakku sambil memeluk dan menggoyangkan tubuh Ethan. Ethan sendiri juga merasa senang karena bisa terus bersama dengan Kak Fely. Tapi tetap saja dirinya masih merasa tidak nyaman dengan rumahku. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.


"Dylan-san, mau main denganku, tidak?" tanya Takana yang sedang duduk di atas tempat tidurku.


Saat ini aku sedang berada di dalam kamarku sendiri bersama dengan Takana juga. Aku sedang membaca komik di tempat belajarku. Dan Takana... dia terus saja mengoceh di atas tempat tidurku.


"Dylan-san? Main yuk sama aku!" tegur Takana lagi. Anak Jepang itu memang menyebalkan. Menganggu aku saja.


Dengan perasaan kesal, aku pun menjawab, "Mainlah sendiri! Aku sedang sibuk, tahu!"


"Tapi Dylan-san... Takana tidak ada teman di sini."


"Ya sudah baguslah! Jadi kau main sendiri saja sana!"


"Kan aku maunya main sama kamu, Dylan-san!"


"Kenapa harus aku, sih?"


"Kan kamu doang teman aku."


"Aku bukan temanmu!"


"Dylan-san!" Takana membentak. Lalu ia pun turun dari tempat tidurnya dan langsung menarik-narik tanganku. "Dylan-san ayo main! Main! Main! Main sama Takana, Dylan-san!"


"Takana! Diamlah, aku sedang belajar untuk ujian nanti!"


"Dylan-san sedang baca komik tuh. Bukan belajar namanya!"


"Ya... aku kan sedang bosan. Jadi aku baca komik dulu, lah!"


"Kalau sedang bosan, lebih baik Dylan-san main sama Takana aja ayuk! Dylaaann... main sama Takana ayuk!" Takana semakin merengek padaku. Aku berusaha untuk melepaskan tangannya dari tubuhku. Tapi ternyata tidak mudah. Dia benar-benar menyebalkan sekali! Menggangguku saja bisanya. Dia pasti akan diam jika aku menerima ajakannya. Selalu seperti itu!


Aaah! Apa boleh buat! "Baiklah, Takana! Ayo kita main bersama."


Takana melepaskan ku. Ia tersenyum senang dan meloncat kegirangan. "Yeay! Yeay! Dylan-san mau main sama aku, horeee!"


"Iya, iya! Tapi jangan permainan yang aneh-aneh, ya?"


"Iya, baiklah!"


"Sekarang apa yang ingin kau mainkan? Cepat!"


"Bagaimana kalau kita main–"


TRING!


Aku mendengar suara nada dering dari ponselku. Takana menghentikan perkataanya. Aku ingin memeriksa ponselku terlebih dahulu. Saat aku membuka layarnya, aku melihat ada satu notifikasi yang muncul di layar utama.


Saat kubaca tulisan di notifikasi itu, aku terkejut sekaligus senang. Karena... ada pemberitahuan kalau buku komik yang Kusuka baru saja terbit dengan seri terbaru di toko buku yang ada di dekat sekolahku.


Aku akan langsung membelinya!


"Anu Takana... kita hentikan dulu mainnya sekarang," ujarku pelan sambil memakai jaketku untuk bersiap pergi ke luar. Setelah itu, aku memasukan poselku ke dalam jaket dan langsung pergi beranjak dari tempatku.


"Dylan-san mau ke mana?! Kita tidak main, nih?" Takana memasang wajah sedih yang imut itu. Aku menengok ke arah Takana dan menjawab, "Nanti saja mainnya. Aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu!"


"Kalau begitu, aku mau ikut, ya?"


"Ah, tidak usah! Kau akan merepotkan aku nanti! Jangan ikut ah!" Aku melarang Takana. Seketika Takana langsung terdiam. Tapi tak lama kemudian, ia kembali mendongak dan memasang wajah yang paling aku benci itu.


Wajah imut Takana dengan mata besarnya yang berkaca-kaca. Meminta permohonan dan pemaksaan padaku. "Dylan-san... biarkan aku ikut~"


Ya ampun! Suaranya imut sekali. Ya Tuhan... aku tidak bisa menahannya! Aku mendesah berat dan mengangguk. "Ikh! Baiklah, kau boleh ikut!"


Sekali lagi, Takana melompat kegirangan. Ia senang sekali. Lalu dengan cepat, ia menghampiriku dan ikut keluar dari kamar bersama dengan diriku.


To be Continued-