
Pukul sebelas malam, pintu kamar Fely akhirnya terbuka. Takana yang ketiduran sambil bersandar di pintu itu pun terkejut dan langsung berdiri. Tapi karena mendadak, ia jadi pusing dan hampir saja jatuh. Jadi ia menopang tubuhnya di dinding samping pintu.
"Eh, maaf, Takana. Kau baik-baik saja?" tanya Fely setelah melihat wajah Takana yang terlihat lemas. Padahal dia cuma mengantuk saja.
Takana tersentak, lalu menggeleng cepat sambil menepuk-nepuk pipinya agar tidak ngantuk lagi. Setelah itu ia bertanya, "Bagaimana keadaan Onii-chan?!"
Fely melirik ke Asuka, lalu kembali ke Takana. "Hmm ... dia baik, kok! Sekarang masih istirahat aja."
"Sebenarnya ... apa yang terjadi padanya?"
"Emm ... besok kita bicarakan, ya? Sekarang ayo tidur dulu. Udah semakin malam. Semuanya juga butuh istirahat!" Fely mengajak Takana ke ruangan lain untuk menemaninya tidur bersama yang lain.
Sementara itu Asuka yang masih di depan pintu pun memperhatikan makhluk kecil berbentuk seperti otak yang ada di telapak tangannya. Saat makhluk itu bergerak sedikit, Asuka langsung menutupnya dengan telapak tangan lain, lalu pergi dari tempat depan kamar Fely. Ia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
Keesokan harinya, Dylan bangun lebih awal. Ia sengaja memasang alarm tepat pada pukul lima dini hari karena pada hari liburnya ini, Dylan berniat akan melatih dirinya untuk terbiasa dalam berolahraga di pagi hari.
Tak hanya sendiri. Ia juga mengajak Takana untuk ikut latihan bersamanya. Dylan turun dari tempat tidurnya, lalu membangunkan Takana yang tidur di bawah dengan kasur lantai. "Na. Takana! O–oy! Bangun bentar, deh!"
"Ng ... Dylan-san ... ini masih terlalu pagi." Takana hanya menggerakkan tubuh, tapi masih belum membuka mata. Jadi terpaksa Dylan pun menggenggam kedua tangan Takana dan menariknya untuk diajak bangun.
"Cepatlah ... hari ini kita mau latihan bareng!"
"Latihan?!" Takana langsung bangun duduk dan mengejutkan Dylan yang sedang menariknya. "Latihan untuk apa? Kenapa mendadak?!"
"Ah tenang aja. Untuk awalan, kita latih daya tubuh dulu sama kelincahanmu. Aku sih niatnya mau jalan pagi hari ini." Dylan menghampiri lemari, lalu membuka pintu paling bawah. Ia mengeluarkan sepatu yang biasa ia gunakan untuk olahraga di sekolah. Lalu ia pergi ke meja belajar, mengecek baterai ponselnya.
Setelah mengambil ponsel, Dylan juga mengambil earphone–nya lalu mengulurkan tangan pada Takana yang masih duduk di atas kasurnya. "Ayo! Kita akan berlatih untuk jadi yang terkuat juga!"
"Wah, Dylan sudah berubah ternyata!" Baru pertama kali Takana diajak Dylan untuk pergi bersama. Kali ini ia sangat senang menerima tawaran itu. Tapi saat ingin meraih tangan Dylan, tiba-tiba Dylan kembali menurunkan tangannya.
"Udah-udah. Buruan! Bisa bangun sendiri, kan?" ucap Dylan yang kembali bersikap dingin. Lalu ia menghampiri pintu sambil membawa barang kecilnya. Karena Dylan meminta Takana untuk cepat bangun, maka dengan segera lelaki imut itu pun langsung berdiri di belakang Dylan.
Dylan membuka pintu kamarnya. Mereka berdua terkejut melihat Fely dan Lea sudah berada di depan pintu. "Nee ... kalian berdua pasti mau olahraga pagi, kan?" tanya Fely dengan penuh semangat.
"Iya, terus?" Dylan menaikan sebelah alisnya.
"Aku juga ingin melakukannya sekalian mau melatih kalian berdua!"
"Oh." Dylan tetap cuek, lalu memperhatikan layar ponselnya. Setelah itu tanpa berkata apapun, ia berjalan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tapi Takana tetap di tempatnya sambil memperhatikan kedua teman perempuannya.
"Eh, kalian terlihat semangat sekali?" tanya Takana heran. Sebelumnya kalau tiap pagi, ia tidak pernah melihat Fely yang ingin berolahraga di luar. Apalagi di pagi hari saat langit masih rada gelap.
"Oh tentu saja. Sudah lama aku tidak berolahraga lagi semenjak pulang ke sini. Untungnya Lea mengajakku." Jawab Fely.
"Oh? Lea sering olahraga pagi juga?"
Lea dengan tatapan datarnya hanya mengangguk. Lalu tak lama ia menjawab pelan. "Sudah sering. Disuruh Asuka."
"Hoo ... kalian rajin, ya? Pantesan aja kalian tumbuh menjadi Oniroshi yang kuat!"
"Oke Takana, sekarang kamu cepat bersiap-siap dulu, gih! Setengah enam, nanti kita berangkat, ya?"
"Oh? Mau ke mana kita, Onee-chan?"
"Jalan-jalan di komplek aja." Jawab Fely, lalu ia pun tersenyum samar. "Sekalian ... mau menguji kekuatan kalian berdua."
...****************...
Setelah Dylan, Takana, Fely dan Lea pergi ke luar, pintu kamar Fely terlihat terbuka. Lalu tak lama, ada seseorang yang keluar dari dalam sana dengan berjalan sempoyongan. Ternyata itu Ethan. Sosoknya baru terlihat setelah ia tersorot lampu di depan kamar. Tubuhnya masih melemah, tapi ia berusaha untuk tetap berjalan.
Tangan kanannya ada bekas jahitan dan masih belum sembuh. Lelaki itu ingin pergi mencari bantuan untuk menolongnya. Ia sebenarnya takut dengan tempatnya saat ini dan memilih untuk keluar dari sana sendirian. Tapi saat langkahnya sampai di ruang tamu, ia terkejut melihat Asuka berada di depan pintu ruangan lain di sana.
Asuka menatap dingin pada lelaki itu. Ethan yang melihatnya jadi merinding dan ia lebih baik cari aman daripada membuat dirinya terluka lagi. Jadi ia hanya diam di tempat sambil memperhatikan tampang Asuka tersebut.
"Bisa kita bicara?"
Tanpa berlama-lama, Ethan langsung mengangguk pelan dan menerima ajakan tersebut. Mereka berdua langsung memilih ruang tamu sebagai tempat untuk mengobrol. Sebelum dimulai, Asuka meminta Ethan untuk duduk di sofa dulu karena ia terlihat masih tidak berenergi sama sekali.
Ethan tahu tempatnya saat ini. Tapi ia tidak tahu dengan wanita yang baru ditemuinya. Ia tak pernah melihat wanita itu selain Fely. Ethan melihat tangan kanannya ada bekas luka besar, tapi sudah ditutup dengan benang berwarna merah. Saat ia menyentuh luka itu, ia meringis sakit.
"Eh, masih belum sembuh?" Asuka pun kembali dari dapur. Ia membawa dua cangkir teh hangat, lalu meletakkannya di atas meja. "Coba tenangin diri dulu. Aku tau kau syok."
"Eh, memangnya ... apa yang sudah terjadi?" tanya Ethan gugup. Ia berusaha untuk tidak melihat Asuka karena penampilan wanita itu terlalu terbuka.
"Oh? Kau tidak ingat, kah?"
Ethan menggeleng. Yang ia ingat adalah perlakuan Asuka padanya semalam telah membuatnya takut dan kesakitan setengah mati. Semalam adalah hal mengerikan yang pernah ia alami selama hidup.
"Hmm ... kalau kau tidak ingat, mungkin yang lainnya juga akan begitu."
"Anu ... boleh aku pergi dari sini?" tanya Ethan pelan. Ia terlihat gemetar dan matanya masih tak berani menatap wanita di hadapannya.
"A–aku tidak kuat lagi. Kumohon jangan siksa aku dan biarkan aku pergi!" Sekarang sikapnya jadi penuh dengan kegelisahan.
"Oh soal semalam?" Asuka meneleng, lalu menaruh cangkir tehnya kembali ke atas meja. Lalu ia beranjak dari sofa menuju ke sofa di seberang tempat Ethan duduk. Saat Asuka mendekat, dengan cepat Ethan langsung menjauhinya. Ia takut dengan wanita itu dan ingin segera melarikan diri darinya.
Namun Asuka keburu menangkap tangannya dan memeluknya dengan erat. Entah kenapa Ethan merasa tenang setelah dipeluk. Apalagi saat dada Asuka menyentuh kepalanya dan berbisik padanya dengan lembut. "Maaf, ya? Aku sengaja melakukannya untuk menyelamatkanmu."
"Menyelamatkan ... ku?" Ethan bergumam. Ia tak percaya dengan perkataan tersebut. Padahal semalam, ia benar-benar kesakitan. Rasanya lebih sakit dari disiksa oleh ibunya sendiri. Karena semalam, Asuka menahannya di kasur, lalu merobek lengan kanannya dengan pisau bedah sampai dalam dan menarik sesuatu dari sela-sela dagingnya.
"Tapi kau melukaiku!" Ethan mendorong Asuka, lalu berdiri dengan cepat dan jalan mundur tiga langkah menjauh. Tapi tak lama, ia kembali terjatuh karena kakinya yang masih terasa sakit dan lemas.
"Aku terpaksa. Proses operasi semalam harus dilakukan dalam keadaan sadar. Jadi terpaksa aku tidak membiusmu terlebih dahulu." Balas Asuka dengan lembut sambil tersenyum.
Ethan tak kuat lagi membayangkannya. Bahkan sampai sekarang ia masih merasakan sakit di lengannya, walau tidak sesakit yang semalam. Ia menyentuh pelan lengannya itu, lalu bertanya, "Untuk apa kau melakukan operasi mengerikan itu padaku?"
"Kau tenanglah dulu. Akan aku jelaskan. Kalau mau ... kau boleh bersandar di sini." Masih dengan posisi duduk di sofa, Asuka bergeser dan mendekati Ethan, lalu menyentuh atas dadanya yang besar. Belahannya terlihat jelas di mata Ethan, membuat pipi lelaki itu sedikit memerah. Tak sengaja, matanya juga memperhatikan bagian belakang wanita itu dan bibirnya yang seksi.
Asuka berdiri dari sofa, lalu berbisik pada lelaki itu tepat di telinganya. "Sebagai permintaan maaf, kau boleh bermain denganku." Wanita itu meniup telinga Ethan dengan napas hangatnya.
Dengan cepat, Ethan mendorong Asuka lagi, lalu menggeleng cepat. Ia membuang semua pikiran fantasinya, lalu mendekati sofa yang lain. "Tidak, tidak. Aku di sini saja. Sudah, cepatlah cerita!"
Asuka tersenyum, lalu kembali duduk di sofa. Begitu juga dengan Ethan. Asuka mulai memberitahukan satu hal. "Sebenarnya kami baru saja mengeluarkan satu Sel Siluman dari dalam dirimu."
"Eh? Apa itu?"
"Makhluk kecil yang mengendalikan otakmu dan merubahmu menjadi monster." Jawab Asuka. lalu ia menunjukkan sesuatu pada Ethan. Sebuah makhluk kecil yang disebut dengan nama 'Sel Siluman' diletakan di dalam tabung kecil. Ada tiga buah makhluk di sana. "Kira-kira ... seperti inilah bentuknya. Cukup kecil, bukan?"
Ethan memperhatikan bentuk makhluk kecil itu, terlihat salah satunya masih bisa bergerak. Lalu ia kembali bertanya, "Jadi karena makhluk ini ada di dalam tubuhku, kau mengeluarkannya secara paksa. Tapi kenapa dia bisa masuk ke tubuhku?"
"Untuk itu aku juga masih menyelidikinya. Maka dari itu aku ingin memberikanmu beberapa pertanyaan mengenai hal ini." Asuka menatap serius, lalu menyandarkan diri di sofa. "Aku harap, kau mau menjawabnya dengan jujur."
...****************...
Di taman, Fely, Takana dan Lea berlari kecil dengan semangat di pinggir jalan. Sementara itu, Dylan masih jauh di belakang dengan keluhannya. Mereka baru berlari dari rumah sampai ke taman, kira-kira hanya 30 meter, tapi Dylan sudah mengeluh kelelahan. Dari tempatnya, ia pun berhenti, lalu memanggil kakaknya.
"Kak! Bisa stop dulu, gak, sih? Bentaran aja, haduh ...."
Ketiga orang yang berlari bersamanya pun juga ikut berhenti. Mereka berbalik badan, lalu menghampiri Dylan yang sudah duduk duluan di sana. Lelaki itu melepas earphonenya, lalu meluruskan kaki.
Setelah Takana sampai di dekatnya, ia pun bertanya, "Eh? Dylan-san sudah lelah duluan? Bukankah tadi pagi, kau yang paling semangat?"
"Dylan, Dylan ... baru segitu aja udah jatuh duluan." Fely berkacak pinggang, lalu menggeleng pelan.
"Berisik kalian."
"Kau sudah minum obatmu, kan? Seharusnya tidak ada masalah."
"Sudah, kak. Tapi gak tau kenapa, kakiku sudah terasa pegal duluan." Dylan memukul pelan kedua kakinya, lalu kembali melirik ke kakaknya.
"Itulah akibatnya ngurung di kamar mulu. Gak pernah olahraga, sih ..."
"Ah, berisik, kak!"
"Ayolah, Dylan-san! Ini baru permulaan, loh~" Takana mengajak Dylan untuk bangun lagi. Ia bahkan sampai menarik tangannya. Karena ajakan dari Takana itu, Dylan akhirnya mau melanjutkan jalan-jalan pagi mereka. Tapi karena sekarang sudah sampai di taman, Fely mengajak semuanya untuk berlatih fisik di kawasan tempat bermain anak di sana.
"Nah, di sini saja. Dylan, kau akan berlatih bersama kakak." Dylan hanya mengangguk, lalu Fely menunjuk ke Lea dan Takana. "Sementara kalian berdua berlatih kekuatan bersama, ya?"
"Oke!" Keduanya mengangguk, lalu mereka pergi ke lapangan yang lain luas. Fely pun kembali fokus pada Dylan. Sebelum memulainya, mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu. Apalagi Dylan yang jarang meregangkan tubuhnya.
Setelah selesai, Fely memeriksa fisik Dylan. Adiknya itu terlihat kurus, tapi dia lumayan tinggi. Ya tingginya setara dengannya. "Kamu kan darlingnya Takana. Hmm ... Lebih baik sekarang dimulai dari latih kelincahan dulu, deh!"
"Eh? Untuk apa?"
"Ya, kalau ada bahaya, kau bisa menghindarinya dengan cepat. Kau tidak perlu kuat dalam fisik jika menjadi darling, hanya perlu kelincahan setahuku." Fely menepuk tangan sekali, lalu meminta Dylan untuk lompat di tempat. Dia juga akan melakukannya. Jadi Dylan pun ikut contoh dari kakaknya.
"Ayo terus, Dylan! Kalau bisa setingginya seperti ini!" Fely mencontohkannya. Ia benar-benar melompat tinggi, lalu salto ke belakang dan mendarat di atas tiang ayunan dengan kedua telapak kaki.
Dylan menganggapnya berlebihan. Lagipula, manusia biasa tidak akan bisa melakukan lompatan setinggi itu. Kakaknya adalah seorang Oniroshi dan pastinya tubuhnya bisa lebih ringan dari manusia biasa, sehingga ia bisa bergerak dengan cepat. Atau bisa saja karena efek dari kekuatannya.
Fely melompat kecil dari atas sana, lalu mendarat di atas ayunan. Sambil berdiri, ia menggerakkan ayunan tersebut. "Oke, Dylan ... sekarang saatnya melatih kecepatan dengan permainan!"
Dylan langsung bergumam dalam hati.
"Firasatku gak enak ...."
*
*
*
To be continued–